Sorry 11

1628 Words
"Terima kasih Om," Reyna menerima dengan ragu dan pandangan yang masih menunduk. Masih tidak mengerti dengan tindakan Hans, berlebihan untuk sebuah basa basi sepertinya. "Jaga diri baik- baik di sana." Reyna hanya mengangguk. "Rey, buruan!" Rayan memanggilnya. Reyna menatap keluarganya satu persatu, merekam sebanyak- banyaknya keberasamaan hari ini dan terakhir ia menatap Hans yang berdiri menjulang di hadapannya. Tanpa mengatakan apapun Reyna melambaikan tangan sambil tersenyum kemudian berbalik. Di depan sana Rayan menunggunya dengan cemberut. "Lama banget sih, Rey? Kalau liburan kan kita bisa pulang. Gak perlu banyak drama gitu," gerutu Rayan membuat Reyna tersenyum. "Kita gak tahu apa yang akan terjadi nanti, Ray," Reyna menimpali masih sambil tersenyum dan menggamit lengan Rayan agar sahabatnya itu tidak cemberut lagi. 'Tidak Ray, entah berapa lama aku akan pulang. Aku akan merajut masa depan berdua dengan anakku tanpa melibatkan masa lalu. Hatiku lega bebanku serasa terangkat hari ini' lanjut Reyna dalam hati. Hans masih memandangi kepergian Reyna sampai seseorang menepuk pundaknya. "Terpesona dengan anak Abang, Hans?" ternyata Rashad, ayah Reyna yang menghampirinya. "Eh... eng.. enggak Bang," Hans tergagap dan salah tingkah menanggapi godaan Rashad. "Alah gak usah malu- malu, Hans. Bilang aja Reyna berhasil membuatmu move on dari Jessica," Anjas ikut menimpali godaan Rashad membuat Hans mendengus. "Sudah putus?" Rashad terlihat pura- pura kaget," Gak jadi kawin dong? Jomblo sekarang?" Rashad meledek dengan senyum miring. "Kawinnya mah udah, Bang. Nikahnya aja yang belum," merasa punya back up Anjas semakin menjadi. Hans menimpuk Anjas dengan kunci mobil yang diambilnya dari dalam saku. Hal itu disambut tawa oleh dua orang abang dan adik ipar itu. "Kamu telat sih! Harusnya kan, tadi ada adegan pelukan perpisahannya," tak berhenti Anjas terus menggoda Hans. "Kalau mau melamar dia sekarang aja Hans. Biar Abang bisa berpikir agak lama. Kalau nunggu dia pulang kamu keburu tua. Dan saat itu Reyna pasti jadi rebutan," setelah mengucapkan itu Rashad tertawa disusul Anjas membuat Hans semakin muram. 'Apakah mereka masih akan sebaik ini saat mereka tahu apa yang terjadi antara aku dan Reyna?' batinnya. Tak ia pungkiri ia menyukai keluarga mereka. Tidak bergaya hidup mewah meski mereka mampu, tapi mereka selalu mengutamakan keluarga. Dia pernah bermimpi membangun keluarga seperti itu saat menjalin hubungan dengan Jessica. Awalnya Jessica hanyalah gadis sederhana yang bekerja sebagai waitress di sebuah restoran. Insiden kecil mempertemukan mereka sampai akhirnya mereka dekat dan menjadi sepasang kekasih. Sejak saat itu, Jessica sering diajaknya ke pesta- pesta para koleganya hingga dipertemukan dengan seorang fotografer yang melihat bakat modeling di diri Jessica. Dan nyatanya bakat itu memang ada, karena terbukti Jessica menjadi model papan atas sekarang. Hanya yang tidak disangka Hans, Jessica mengkhianatinya. Impiannya untuk membangun sebuah keluarga hancur. Kehidupan Reyna di Ausie berubah total. Waktunya dihabiskan untuk belajar dan belajar karena ia sadar ia akan banyak tertinggal saat ia melahirkan nanti. Reyna menyewa apartemen sederhana yang tentu saja berbeda dengan Rayan dan hal itu membuat Rayan murka saat pertama tahu. Tapi Reyna memberi pengertian bahwa mereka harus benar- benar fokus belajar agar cepat lulus. Kalau berdekatan mereka pasti akan banyak menghabiskan waktu berdua hanya untuk haha hihi. Awalnya Rayan tentu saja membantah tapi Reyna mengancam tidak akan mau lagi berteman dengannya hingga membuat Rayan mau tak mau menyetujui keinginan Reyna. Fine. Wanita selalu menang! Tapi hari ini Rayan benar- benar marah karena alasan yang Reyna utarakan hari itu nyatanya hanya bohong belaka. Memang benar Reyna fokus belajar, tapi alasannya tak mau satu gedung apartemen dengannya adalah bohong. Dia menyembunyikan sesuatu. Dan hari ini Reyna tak bisa mengelak lagi. Saat dirinya baru keluar dari kelas salah satu teman Reyna menelponnya, mengatakan bahwa Reyna pingsan. Dan saat ini dirinya masih menunggui Reyna di rumah sakit. Ia akan meminta penjelasan Reyna atas vonis dokter mengenai penyebab Reyna pingsan. Beberapa saat menunggu akhirnya Reyna sadar dan melihat Rayan duduk di kursi sebelah brangkarnya, mengawasinya dengan tatapan tajam. Reyna tahu pasti Rayan sudah tahu keadaan dirinya yang tengah berbadan dua. "Sorry, Ray. Loe pasti kerepotan karena ngurusin gue. Gue udah gak papa, kalau masih ada kelas loe bisa balik ke kampus. By the way thanks ya." Mendengar kata- kata Reyna, Rayan diam tak menanggapinya. Reyna salah tingkah dengan tatapan dingin yang ia layangkan. "Really?" satu kata dari Rayan membuat Reyna mengernyitkan keningnya tak mengerti. "Setelah gue nungguin loe sadar, kalimat itu yang keluar dari mulut loe?" mata Rayan berubah merah menahan amarah. "Setelah gue mencemaskan loe setengah mati, itu yang loe bilang ke gue! Loe anggap apa gue, Rey?" Reyna terdiam tidak tahu harus berbuat apa. Karena Rayan sangat jarang meluapkan amarah seperti sekarang. Melihat Reyna yang terus menunduk semakin membuat Rayan kesal. "Masih gak mau bilang, Rey?" "Gue bingung, Ray. Gue bingung harus gimana? Gue gak mau melihat papa dan mama kecewa," Reyna mulai terisak. "Tapi ini bukan hal sepele, Rey. Ini menyangkut masa depan loe! Loe gak bisa menyembunyikannya dari keluarga loe! Loe telpon orang tua loe sekarang, atau gue yang akan telpon mereka?" "Jangan Ray, gue mohon jangan!" Reyna meraung memohon, "Gue mohon cuma loe sama gue yang tahu ini semua," mata basah Reyna menatap Rayan dengan tatapan memohon dan menangkupkan tangan di depan d**a. Rayan menghela nafas sesak tak tega melihat keadaan Reyna sekarang. Reyna menolak memberitahu keluarganya tapi dia tak mungkin juga merawat anak itu sendirian nantinya. Satu tangan Rayan di pinggang dan sebelah tangan yang lain mengusap wajahnya frustasi. Khas Rayan saat pikirannya kalut. Sesekali dia juga menghela napas keras. "Ok kalau loe gak mau kasih tahu keluarga loe,tapi...loe harus pindah ke apartemen gue. Fix no debat," putus Rayan setelah beberapa saat berpikir. "Emang ada unit yang kosong di kompleks apartemen loe?" Rayan melongo sesaat mendengar pertanyaan Reyna, "Loe gak paham saat gue bilang apartemen gue, Rey? Apartemen gue artinya di unit gue," tekan Rayan. "Tapi gue gak mau ngrepotin loe, Ray," tolak Reyna. "Stop talking that f*****g bullshit, Rey! Loe pilih pindah atau gue telpon papa loe sekarang," Rayan mengeluarkan ponsel dan mencari kontak papa Reyna. " Fine, gue pindah," putus Reyna lirih. Ia tahu Rayan serius dengan ancamannya. Reyna tak berani menatap wajah Rayan yang ia yakini masih memerah, tangannya memilin selimut di pangkuannya. "Loe bilang tadi cuma kita berdua yang tahu keberadaan anak itu?" ternyata sesi interogasi Rayan belum berakhir. Reyna hanya mengangguk sebagai jawaban. "Jadi ayah anak itu pun tak tahu bahwa benih yang dia tanam telah tumbuh?" Reyna kembali menggelengkan kepalanya. "Hhhh.., " Rayan menghela napas lelah," Siapa dia, Rey?" Pertanyaan yang ditakutkan Reyna akhirnya terucap juga. Tubuhnya menegang, kalau Rayan tahu ia tidak bisa menjamin rahasia ini akan tetap aman. "Sampai kapan loe bisa sembunyi? Cepat atau lambat keluarga loe bakal tahu, ayah anak itu juga harus tahu. Dia harus tanggung jawab, Rey!" Rayan terus mendesak. "Loe gak bisa besarin anak ini sendirian!" "Gue bisa Ray! Gue pasti bisa," bantah Reyna keras kepala. "Loe gak bisa kayak gini, Rey. Anak loe butuh ayahnya!" Reyna kembali menggeleng dengan air mata yang kembali berurai. Isak tangisnya terdengar pilu, ia memeluk dirinya sendiri. Tak tahan dengan pemandangan itu Rayan berjalan mendekat kemudian memeluk Reyna. Reyna menyerukkan wajahnya di d**a Rayan, suara tangisnya semakin keras. Tangannya menggenggam erat kaos Rayan yang mulai basah karena air matanya. Rayan semakin penasaran siapa ayah anak yang dikandung Reyna. Tak banyak pria di sekitar Reyna. Bahkan setiap ada cowok yang deketin Reyna ia pasti tahu karena Reyna selalu cerita. Tidak mungkin om Anjas melakukan perbuatan sebejat itu kan? Tidak mungkin, om Anjas sangat menyayangi Reyna. Tapi siapa? - - - - Hari demi hari dilalui Reyna dengan baik. Kekhawatirannya tentang tanggapan negatif teman- temannya tak terjadi. Rayan selalu menemaninya cek kandungan seperti layaknya seorang ayah. Bahkan sahabatnya itu melabeli dirinya 'daddy'. Saat di rumah pria itu akan bawel soal makanan yang harus dikonsumsi Reyna. Karena dia adalah mahasiswa kedokteran tentu dia paham masalah gizi yang baik untuk ibu hamil. Ada seorang gadis manis asal Indonesia juga yang sering memperhatikan Rayan diam- diam. Sebenarnya banyak yang menyukai Rayan tapi karena sikap cuek Rayan ditambah pria itu selalu mengintili dirinya, membuat gadis- gadis itu enggan menunjukkan perasaannya. Tak jarang beberapa teman wanita mereka bertanya penasaran dengan hubungannya dan Rayan. Reyna akan selalu menjawab 'kami bersahabat' sambil tersenyum. Tapi melihat perlakuan Rayan pada Reyna mereka tidak percaya begitu saja. Ditambah kondisi Reyna yang sedang hamil. Bahkan gosip yang beredar ia hamil anak Rayan. Reyna sering merasa tidak enak pada Rayan karena masalah ini tapi Rayan yang dasarnya cuek, ia tak pernah menanggapi gosip- gosip itu. Reyna dan Rayan duduk di taman kampus sambil ngerjain tugas. Gadis cantik yang duduk di seberang mereka mencuri- curi pandang ke arah Rayan yang mempunyai kepekaan yang memprihatinkan. Saat Rayan izin ke toilet Reyna menghampiri gadis itu. "Faira ya?" Reyna menyapa duluan. "I.. iya," jawab gadis itu gugup mungkin malu karena kepergok curi- curi pandang atau... takut? Reyna tertawa kecil melihat tingkah Faira yang seperti orang mau dilabrak istri sah, ketakutan? "Santai aja, Ra. Gak usah tegang gitu," Reyna tersenyum menenangkan. "Iya Rey," jawab Faira lirih sambil menunduk. "Kamu suka sama Rayan, ya?" Reyna dan keterusterangannya membuat Faira terperangah, mukanya memerah menahan malu. Melihat reaksi Faira, Reyna kembali tertawa kecil. "Kelihatan banget ya?" tanya Faira malu- malu. Reyna menjawab dengan anggukan dan senyum lebar. "Kalau suka kenapa gak dideketin? Rayan itu orangnya gak peka, jadi harus cewek yang gerak duluan." "Ehm.. ehm.. aku malu. Lagian gosip itu...," Faira menatap Reyna sungkan. "Gosip itu gak bener. Rayan itu sahabat aku dari orok," Reyna menjelaskan masih sambil tersenyum. Faira terdiam terlihat ragu untuk berbicara. Tapi tatapannya mengarah pada perut Reyna yang sudah membuncit karena usia kandungannya sudah memasuki 6 bulan. Reyna yang paham apa yang dipikirkan Faira mengelus perutnya sambil tersenyum. "Ini bukan anak Rayan." Faira menatap Reyna kaget. "Mau aku bantu?" tanya Reyna dengan menaik turunkan alisnya menggoda. Faira hanya tertunduk dengan wajah memerah karena malu. 'Lucu sekali, cocok untuk Rayan yang cuek dan kadang pecicilan' batin Reyna. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD