Aku menyadari om Hans sesekali mencuri pandang ke arahku melalui spion tengah. Aku pura- pura tidak peduli dengan menyandarkan kepala pada jok mobil dan memejamkan mata. Sebelum memejamkan mata sekilas kulihat om Hans melepas jasnya, gerah mungkin.
"Humb..." tiba- tiba rasa mual yang aku rasakan saat pagi kembali kurasakan di saat yang tidak tepat. Spontan om Hans menoleh ke belakang diikuti om Anjas yang menatapku dengan cemas. Aku menutup mulut dan mengangkat kepala bertemu pandang dengan mata hitam kelam yang menatap mataku menyelidik.
"Kamu kenapa, Rey? Sakit?" suara om Anjas terdengar cemas.
"Ah enggak Om, cuman ini kan udah lewat jam makan siang, perutku sedikit gak enak mungkin maagku kambuh," dengan lancar aku berbohong, ya akhir- akhir ini aku sering berbohong. Setiap pagi aku tidak ikut sarapan bersama karena menyembunyikan rasa mual dan saat ditanya aku harus berbohong dengan mengarang berbagai alasan.
"Humb..." kembali kurasakan rasa mual. Gak tahu kenapa anak ini seperti ingin menunjukkan diri pada ayahnya. Ayah, seseorang yang tidak akan anaknya punya nanti. Hatiku serasa teriris mengingat hal itu.
"Minum dulu, Rey. Tolong Hans, ambilkan air mineral kemasan di dashboard," perintah om Anjas pada Hans suaranya masih terdengar sedikit panik.
"Santai aja, Om, Reyna gak papa kok," aku berusaha menenangkan om Anjas jangan sampai karena aku om Anjas ngebut dan membahayakan pengendara lain dan kami juga tentunya.
Dengan sigap om Hans mengambil air mineral dan mengulurkan padaku. Aku minum perlahan, om Hans masih memperhatikanku. Aku berusaha tidak terlihat gugup atau pun panik agar tak menimbulkan kecurigaan. Tapi bagaimana agar rasa mualku hilang. Kalau di rumah aku akan mengambil kemeja om Hans kemudian memeluk dan menghirupnya. Tapi sekarang gak mungkin kan aku... "Om Hans, bisa pinjam jas om gak buat nutup mulut, bau pewangi mobil om Anjas bikin pusing nih," ternyata kinerja mulutku lebih cepat daripada otakku.
Om Hans mengernyitkan keningnya dan menatapku intens. Entah apa yang dipikirkannya aku tidak peduli yang penting rasa mualku teratasi.
"Kenapa Rey, kamu gak suka pewangi mobil Om?" tanya om Anjas sesekali melirik spion tengah memastikan keadaanku.
"Iya Om. Om ganti ya pewanginya?" tanyaku masih sambil menutup mulut dengan tanganku.
"Iya. Kemarin pas Om service mobil dikasih free," sepertinya nasib baik berpihak padaku karena alasanku kebetulan bisa pas dengan keadaan yang ada. Dan itu sedikit mengikis rasa bersalahku karena menjadikan pewangi ini sebagai tumbal atas kebohonganku.
Akhirnya tanpa kata om Hans mengulurkan jasnya padaku. Aku menerima dan langsung menutup mulut dengan jas itu setelah mengucapkan terima kasih. Bau om Hans yang tertinggal di jas membuat rasa mualku perlahan menghilang dan digantikan dengan rasa nyaman. Jas yang menjulur sampai ke pangkuanku menutupi tanganku yang mengelus perutku perlahan.
'Baik- baik di sana ya, Nak. Maafkan Mama yang menyembunyikanmu dari Papa. Suatu saat nanti semoga kamu mengerti.'
Tubuhku berangsur- angsur mulai rileks dan mataku memberat, hingga akhirnya gelap.
Reyna POV end
Hans menengok ke jok belakang untuk memastikan keadaan Reyna. Saat melihat Reyna yang terpejam dengan jasnya depelukan wanita itu hatinya berdesir pelan.
"Dia tertidur," ternyata Anjas juga memeriksa keadaan Reyna memalui spion tengah. "Sebaiknya kita makan siang di rumah aja, sekalian nanti biar Reyna dimasakin nasi halus sama bibik," lanjut Anjas.
"Ok, tidak masalah," Hans menyetujui.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah kediaman keluarga Pradipta. Saat baru keluar dari mobil ponsel Anjas berbunyi membuat Anjas terlihat kebingungan.
"Angkat aja telponnya biar aku yang membawa Reyna ke dalam," kata Hans pada Anjas.
"Gak papa nih? Reyna berat loh," balas Anjas ragu.
"Seberat- beratnya wanita berapa sih? I can handle it," Hans mengibaskan tangan ke arah Anjas.
"Iya deh, yang udah expert soal gendong menggendong wanita," balas Anjas dengan tatapan mengejek.
"Sialan kamu," maki Hans pelan kemudian mengangkat tubuh Reyna yang tertidur dengan pelan takut membangunkan wanita itu.
Setelah membantu menutup pintu mobil, Anjas segera mengangkat ponselnya yang terus berdering dan berjalan ke arah rumahnya mendahului Hans membuka pintu dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
Tanpa disuruh Hans menaiki tangga menuju ke kamar Reyna yang sudah ia ketahui tempo hari saat Reyna sedang berduaan dengan pria yang katanya sahabatnya itu. Rahang Hans mengeras mengingat kejadian itu. Tapi rahangnya kembali mengendur saat ia menunduk dan melihat wanita digendongannya yang terlihat nyaman dan tidak terusik malah semakin menyembunyikan wajah ke dadanya. Seketika hatinya kembali berdesir.
Tanpa kesulitan yang berarti Hans berhasil membaringkan tubuh Reyna di ranjangnya. Jas yang tadi dipinjamkannya masih dipeluk erat oleh Reyna membuatnya tak tega untuk mengambilnya karena hal itu pasti akan mengusik tidur wanita itu. Membiarkan jasnya, Hans keluar dan turun ke ruang makan yang di sana sudah ada Anjas. Anggota keluarga yang lain sudah makan sepertinya karena makan siang mereka memang sedikit terlambat.
"Ayo kita makan, Hans," ajak Anjas setelah Hans duduk di depannya.
Mereka makan dalam diam hanya dentingan alat makan yang sesekali terdengar.
"Mas Anjas, makanan untuk Mbak Reyna udah Bibik siapkan. Mau bibik antar sekalian?" bibik memecah keheningan di meja makan.
"Iya Bik, makasih. Taruh aja di meja biar nanti aku yang antar ke atas," sahut Anjas.
"Baik Mas, Bibik permisi dulu."
Anjas hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Sebentar ya, Hans, aku antar makanan Reyna sekalian bangunin dia dulu," pamit Anjas pada Hans seusai menghabiskan makanannya.
"Ok. Aku tunggu di depan ya, kita langsung cabut aja masih banyak kerjaan yang aku tinggal tadi," Hans pun mulai beranjak dari duduknya.
"Gak ngopi dulu? Biar kuminta Bibik bikinin kopi," tawar Anjas.
"Gak usah makasih," Hans pun berlalu.
Sementara Hans berjalan ke depan, Anjas menaiki tangga menuju kamar Reyna. Saat membuka pintu terlihat Reyna sudah terduduk di ranjangnya dengan bersandar pada headboard. Diletakkannya nampan di nakas sisi tempat tidur.
"Udah bangun?" Anjas tersenyum, "Udah enakan?" tanyanya lagi.
" Udah kok Om. Kok Reyna udah di kamar sih? Om yang gendong Reyna ke kamar?"
"Bukan, tadi Hans yang bawa kamu ke kamar," jawaban om Anjas membuatku terkesiap. "Tadi Om baru angkat telpon jadi Hans menawarkan diri. Kenapa? Kamu keberatan?"
"Bu.. bukan gitu Om. Cuma Reyna malu, Reyna kan berat," Reyna mulai terbiasa berbohong sepertinya karena jawaban itu mengalir lancar dari mulutnya.
"Ha..ha..ha.. Hans udah biasa menggendong wanita baby, paham kan maksud Om?" kelakar om Anjas sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Udah, sekarang kamu makan dulu, minum obat terus lanjut tidur. Om mau kembali ke kantor lagi. Mau ngecheck mama papamu udah selesai belum berantemnya," candanya kemudian mencium kening Reyna sebelum berlalu pergi.
Reyna mengiringi kepergian Anjas dengan senyuman. Setelah pintu kamar tertutup senyumnya menghilang. Dielusnya perut yang masih terlihat rata itu dengan sayang. Sebelah tangannya meraih jas Hans, jas yang berada dalam pelukannya saat bangun dari tidur barusan.
'Kamu sudah digendong Papamu, Nak. Apa kamu bahagia? Mungkin ini adalah yang pertama dan terakhir papa menggendongmu. Maafkan Mama ya, Nak. Mama akan selalu menyayangimu, cukup kamu dan mama, mama harap kamu pun cukup dengan mama' kata Reyna dalam hati.
-
-
-
-
Hal yang membuat Hans termenung adalah wajah Reyna saat tidur tadi. Wajah yang terlihat polos dan cantik. Biasanya emosinya akan tersulut secara otomatis setiap ia bertemu dengan Reyna setelah kejadian 'itu'. Tapi hari ini entah kenapa ada perasaan lain saat melihat wajah Reyna. Wajah yang biasanya menampilkan raut angkuh dan menantang hari ini terlihat takut- takut. Tingkah manjanya berubah menjadi tak banyak bicara. Bahkan Reyna akhir- akhir ini terkesan menghindarinya. Apa yang sebenarnya wanita itu pikirkan tentangnya? Pertemuan terakhir mereka memang buruk. Dia akui dia memang keterlaluan saat itu. Mengatakan bahwa Reyna lebih buruk dari seorang wanita panggilan memang terdengar b******k. Tapi hari itu Reyna juga yang memancingnya.
"Reyna besok berangkat jam berapa, Jas?"
"Penerbangan malam kayaknya, kenapa? Mau ikut nganter?"
"Emang boleh?"
"Ha..ha..ha.. kamu lucu Hans. Gitu aja sok malu- malu. Kenapa? Apa pesona Reyna sudah menggetarkan hatimu?" goda Anjas sambil menepuk bahu Hans.
"Bukan gitu, hadiah ulang tahunnya hari itu lupa belum aku kasih," elak Hans mencoba mencari alasan.
"Bukannya hari itu udah kamu kasih di kamarnya?" kening Anjas mengernyit.
"Gak jadi. Saat kuraba saku celanaku ternyata gak ada. Setelah kucari ternyata tertinggal di mobil," bohong Hans.
"Oh gitu. Besok malam aku kabari. Mungkin setelah isya'."
"Ok."
Malam perpisahan tak bisa dihindari. Reyna diantar keluarganya begitu juga dengan Rayan. Mereka sudah tiba di airport tapi masih enggan melepas anak- anaknya. Riana tak berhenti menangis mulai dari rumah tadi. Reyna terus memeluknya dan mengucapkan kata- kata penenang untuk mamanya.
Hans yang berencana ikut mengantar terlambat karena terjebak macet. Sebenarnya Reyna heran saat Anjas mengatakan bahwa Hans akan ikut mengantar tapi ia tak mau ambil pusing. Mungkin hanya basa basi saja karena kerja sama antara papanya dan Hans.
Saat akhirnya mereka harus berpisah karena pesawat akan take off sebentar lagi, terdengar suara langkah kaki berlari mendekat.
"Reyna," panggil Hans dengan nafas tersengal.
Reyna menoleh dan melihat Hans yang berjalan mendekat ke arahnya. Reyna menunduk, memutus pandangan dengan Hans. Reyna takut saat menatap mata itu akan menggoyahkan keyakinannya untuk pergi. Tatapan mata Hans tak seperti biasanya yang menyala karena kebencian, ada pendar penyesalan yang ia lihat di sana.
Hans mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya.
"Ini hadiah ulang tahun yang kemarin belum sempat aku berikan," Hans mengulurkan kotak yang ia genggam.
"Terima kasih Om," Reyna menerima dengan ragu dan pandangan yang masih menunduk. Masih tidak mengerti dengan tindakan Hans, berlebihan untuk sebuah basa basi sepertinya.
"Jaga diri baik- baik di sana."
TBC