Reyna tidak berani menceritakan peristiwa di Bali hampir satu bulan lalu kepada siapapun. Termasuk keluhan mual yang dialaminya akhir- akhir ini. Dia berharap apa yang dipikirkannya salah. Dia tidak mau mengecewakan semua orang terlebih lagi ia tak mau terjebak hidup bersama seorang pria bermulut sampah seperti Hans. Kalau apa yang dipikirkannya benar maka ia memilih pergi.
Dengan tangan gemetar Reyna mengambil test pack yang ia beli kemarin secara sembunyi- sembunyi. Dibacanya dengan teliti tata cara penggunaannya sebelum menyobek bungkus dan mengeluarkan isinya. Lima belas menit paling menegangkan dalam hidupnya saat menunggu hasil dilaluinya dengan mondar- mandir di dalam kamarnya. Saat melihat hasilnya dia tak kuasa menahan isak tangis yang menyesakkan di dadanya. Reyna merosot duduk di ujung ranjang, mengacak rambutnya frustasi sesekali memukul dadanya yang sesak.
Bagaimana masa depan anak yang dikandungnya adalah hal pertama yang ia pikirkan. Memberitahu Hans adalah opsi terakhir yang akan dia pilih. Melihat wajah kecewa keluarganya adalah hal terakhir yang ia inginkan. Dia juga tak sampai hati kalau harus melenyapkan bayi yang tak berdosa.
Hiks... hiks... hiks," isak tangis semakin lama semakin tak terbendung.
Kebarangkatannya ke luar negeri tinggal 3 hari lagi. Semua sudah ia siapkan, begitu pun dengan Rayan. Ya, 3 hari lagi dia akan pergi, tidak ada yang harus ia takutkan lagi. Cukup bertahan 3 hari lagi. Dia akan menyimpan semuanya sendiri dan tak perlu melihat tatapan kekecewaan dari keluarganya. Pikiran remaja beranjak dewasanya memutuskan.
-
-
-
-
Tiga hari ini Reyna lalui dengan menghabiskan waktunya di rumah aja. Besok malam dia akan berangkat. Dia mau menghabiskan waktunya dengan keluarganya, merekam moment sebanyak- banyaknya bersama mereka. Apalagi mamanya yang awalnya tidak rela dengan kepergiannya menjadi orang yang paling lengket dengannya 3 hari ini. Hal itu membuatnya waswas, takut mamanya mengetahui perihal kehamilannya. Beruntungnya ia mual hanya saat pagi hari dan akan mereda saat ia mencium kemeja Hans yang dipakainya di malam kejadian itu.
Hari ini mamanya memaksa untuk menemaninya jalan ke mall. Tapi ketidak beruntungannya tak sampai di situ. Mamanya mengajaknya untuk mampir ke kantor papanya untuk makan siang bersama. Bahkan mama sudah membeli makanan di restoran langganan mereka. Memang tidak ada yang salah, dia akan senang bertemu dengan papa dan om Anjas. Tapi karena ia sempat mendengar obrolan papa dan omnya kemarin yang mengatakan bahwa Hans menyetujui ajakan kerja sama perusahaan papanya. Memang tidak setiap hari Hans datang ke kantor tapi tidak menutup kemungkinan bahwa mereka bisa bertemu di sini.
Reyna POV
"Ngapain kita ke kantor papa sih, Ma? Reyna capek pengen istirahat," Reyna berusaha menolak ajakan mamanya.
"Mama kangen papa, Rey," jawab mama singkat.
"Alay banget sih, Ma. Nanti juga ketemu di rumah," aku cemberut mendengar alasan mama yang terkesan alay menurutku. For god shake, rindu? Bahkan baru tadi pagi mereka berpisah.
"Ah kamu ini, Rey. Gak seneng apa kalau papa sama mama ini harmonis? Kamu mau punya orang tua yang gak peduli satu sama lain sampai ada pelakor atau pebinor merusak rumah tangga mama sama papa?" jawab mama berapi-api membuatku menepuk jidat. Ingatkan aku untuk menghapus aplikasi telegram di ponsel mama nanti. Mama jadi overthinking setelah menonton series di telegram yang menceritakan pelakor. Layangan terbang.
"Ya ampun, Ma, makanya jangan kebanyakan nonton film- film pelakor deh. Parno kan Mama jadinya?"
"Ya bagus dong, Mama nonton. Biar Mama tahu gimana caranya menghadapi pelakor atau kalau papamu selingkuh, Mama tahu harus apa!" jawab mama menggebu.
Aku hanya menggelengkan kepala frustasi menghadapi mama," Terserah mama deh."
"Udah kamu jangan bawel, ayo masuk ruangan papa," ajak mama sambil meraih
grendel pintu.
Dan benar saja saat mamanya membuka pintu ruangan papanya di dalam sana sudah duduk orang yang paling tidak ingin ia temui, Hans.
Pemandangan tiga orang pria berpenampilan parlente duduk di sofa tamu ruangan papa. Papa terlihat menonjol dengan badan yang sedikit mengembang dibanding dengan dua pria lainnya yang mempunyai badan proporsional. Yang ia tahu bahwa memang papanya sedikit susah diajak berolah raga sementara om Anjas rutin pergi ke gym. Untuk pria yang satu lagi dia tak tahu tapi mengingat perutnya yang kotak- kotak sudah menjelaskan semuanya. Wajahnya memerah teringat kejadian di Bali hampir satu bulan lalu.
Papa menyambut antusias kedatangan mama dengan bergegas berdiri menyambut dengan ciuman di kening dan beralih mencium pipiku.
"Mama kok gak bilang kalau mau mampir?" tanya papa pada mama.
Seketika raut wajah mama berubah. Senyumnya luntur, tatapan matanya menajam dan wajahnya kaku. Aku menghembuskan nafas, kali ini Papa melakukan kesalahan yang akan disesalinya. Poor Papa.
"Papa gak suka kalau Mama ke kantor Papa?" drama dimulai.
"Eng.. enggak Ma," jawab papa tergagap.
"Trus kenapa Papa nanyanya gitu?" melihat kegugupan papa, mama menyipitkan matanya. Aku menggeleng frustasi karena ini pasti akan jadi long drama.
"Atau Papa ada janji dengan wanita lain? Siapa dia Pa? Bilang sama Mama, siapa wanita itu?" mama semakin menjadi.
"Wanita siapa, Ma? Mama jangan menuduh Papa yang tidak- tidak. Cuma Mama yang Papa cinta," papa kelabakan menghadapi mama dalam drama mode nya.
"Papa yakin cuma cinta sama Mama? Trus kenapa Papa menanyakan hal yang tidak biasa seperti itu, Pa? Why?" aku melihat om Anjas dan om Hans menahan tawa tapi jelas mereka tak akan berani tertawa.
"Gak biasa gimana sih, Ma? Papa cuma tanya kenapa kesini gak bilang dulu? Kalau bilang kan, Papa bisa mengosongkan jadwal Papa beberapa jam ke depan?" Papa berusaha menjelaskan dan aku yakin papa jujur hanya mamanya saja yang berlebihan.
"Emangnya jadwal Papa keganggu kalau Mama datang? Atau itu jadwal ketemu wanita lain? Iya? Siapa wanita itu, Pa? Bilang sama Mama, biar langsung Mama kirim wanita itu ke Cappadocia!" kemampuan drama mama benar- benar semakin mumpuni setelah menonton series itu.
"Ya salam! Mulai hari ini, Mama gak boleh lagi nonton sinetron layangan itu! Papa yang tersiksa kalau gini caranya," papa menggaruk kepalanya frustasi menghadapi kelakuan mama.
"Itu bukan sinetron, Pa, itu series. Kenapa memangnya? Papa takut, kalau Mama tahu Papa selingkuh? Mama banyak belajar dari series itu!"
Aku menatap om Anjas dengan tatapan memohon. Om Anjas yang paham dengan tatapanku beranjak dan mengkode om Hans untuk ikut pergi. Di antara kami tak ada yang pamit pada mama dan papa, karena kami tahu mereka tak akan menggubris itu.
Sesampainya di luar ruangan kami bertiga tertawa lepas. Sekretaris papa, om Bayu menatap kami dengan tatapan heran.
"Bay, sebaiknya kamu kosongkan jadwal Bang Rashad 2 jam ke depan," saran om Anjas pada sekretaris papa itu.
"Memangnya kenapa, Pak?" tanyanya sambil mengerutkan kening.
Om Anjas bergerak lebih mendekati om Bayu," Sini!" perintahnya agar om Bayu semakin mendekat. "Di dalam ada Nyonya Besar," jawab om Anjas seperti berbisik tapi suaranya masih bisa kami dengar dengan jelas.
Seketika wajah om Bayu menegang membuat kami bertiga kembali tertawa. Semua yang bekerja di kantor ini tahu bagaimana perangai heboh mama.
Baru hari ini aku bisa benar- benar tertawa lepas setelah kejadian di Bali. Saat mataku tak sengaja bersiborok dengan mata hitam kelam yang masih kuingat jelas berkabut gairah di malam itu tawaku langsung berhenti. Suasana canggung kami berdua tak disadari om Anjas.
" Belum makan siang kan, Rey?" tanya om Anjas setelah tawanya reda.
"Belum Om."
" Ya udah yuk, kita makan siang bareng. Hitung- hitung ini makan siang perpisahan sama Hans," om Anjas menggoda dengan menaik-turunkan alisnya.
Aku hanya tersenyum kecil tak menanggapi godaan om Anjas.
"Perpisahan? Maksudnya?" om Hans sepertinya belum tahu kalau aku akan pergi. Sebenarnya aku tidak berharap ia tahu tapi sudah terlanjur.
"Iya Hans. Reyna terbang ke Ausie besok," om Anjas mewakiliku menjawab pada om Hans yang terlihat sedikit terkejut. Aku diam saja.
"Kok mendadak?" om Hans belum puas dengan jawaban om Anjas barusan ternyata.
"Gak mendadak. Reyna udah diskusiin ini sama aku waktu di Bali," terang om Anjas. "Kamu ingat tentang salah paham kita pada Reyna dan Rayan di kamar Reyna hari itu kan?"
Iya, setelah salah paham itu aku memang menghindar dari om Hans, sebisa mungkin aku tidak mendatangi tempat- tempat yang kemungkinan besar ada om Hans di sana. Dan harusnya aku berhasil kalau saja hari ini mama tak mengajakku ke kantor papa.
Mendengar penjelasan dari om Anjas, om Hans menatapku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan.
"Ayo Om, Reyna keburu laper," aku menarik lengan om Anjas untuk bergegas pergi.
Kami berjalan ke arah parkiran kantor.
"Pakai mobilku aja, Hans. Nanti habis makan siang kita kembali ke sini lagi buat lanjutin meeting kita," kata- kata om Anjas membuatku tidak nyaman karena membayangkan aku akan satu mobil dengan om Hans. Tapi tak mungkin kan kalau aku melarang?
"Ok," jawab om Hans singkat. Dia berjalan di belakang. Aku menggamit lengan om Anjas, ini hari terakhirku bermanja- manja dengannya.
Saat sampai di dekat mobil om Anjas aku memilih membuka pintu belakang dan memasukinya. Aku bisa berpura- pura tidur untuk menghindari interaksi dengan om Hans nanti. Tanpa banyak kata om Hans memasuki mobil dan om Anjas segera menginjak pedal gas meninggalkan parkiran kantor.
Aku menyadari om Hans sesekali mencuri pandang ke arahku melalui spion tengah. Aku pura- pura tidak peduli dengan menyandarkan kepala pada jok mobil dan memejamkan mata. Sebelum memejamkan mata sekilas kulihat om Hans melepas jasnya, gerah mungkin.
"Humb..." tiba- tiba rasa mual yang aku rasakan saat pagi kembali kurasakan di saat yang tidak tepat. Spontan om Hans menoleh ke belakang diikuti om Anjas yang menatapku dengan cemas.
TBC