Klik! Klik! Klik! Jemari Alya memilin gagang pintu bundar itu, namun engselnya seolah membeku. Pintu kamar mandi tak bergeser sedikit pun. "Ada apa ini? Terkunci?" gumamnya, alih-alih pada pintu, lebih kepada dirinya sendiri. Rasa panik mulai merayap naik. "Astaga ... kenapa pintunya begini? Sudah kebelet nih!" Klik klik klik! Ia mencoba lagi dengan terburu-buru, memaksakan putaran, namun usahanya sia-sia. Pintu itu menolak terbuka. Tak punya pilihan, Alya bergegas turun ke lantai satu, mencari kamar mandi lain yang bisa ia gunakan secepatnya. Saat itulah Satria melihat celah. Ia memanfaatkan kekosongan itu untuk melarikan diri. Namun, sebelum menghilang, ia sempat mengotak-atik gagang pintu kamar mandi Alya. Dengan sentuhan manipulatif, Satria memastikan pintu itu terlihat rusak sec

