Keesokan harinya. Pintu kamar Alya diketuk pelan. Setelah mendapat sahutan, Bu Sumi masuk dengan wajah cemas yang tak bisa disembunyikan. “Non Alya, maafkan saya. Saya harus pulang mendadak. Semalam, suami saya jatuh dari motor,” ujar Bu Sumi dengan nada khawatir. Alya mengangguk lembut. “Ya, Bu Sumi, tentu saja. Pulanglah, utamakan suami Ibu.” Kekhawatiran masih menggayuti raut Bu Sumi. “Tapi, Non, bagaimana nanti Non Alya akan berganti baju? Saya takut ...” Alya tersenyum meyakinkan. “Tidak apa-apa, Bu. Saya akan mencoba sendiri. Lagi pula, bahu saya sudah tidak terlalu sakit seperti kemarin.” “Maafkan saya, Non ... sungguh tidak enak meninggalkan Non dalam keadaan seperti ini.” “Jangan dipikirkan, Bu. Pulanglah segera. Salam untuk Bapak, semoga lekas pulih,” balas Alya tulus. Se

