Satria menatap wajah Alya yang dingin dan basah air mata, jantungnya berdegup tak karuan. Hujan di luar semakin deras, guruh terus menggelegar, seolah malam itu ikut mengunci rahasia gelap yang belum pernah Alya ceritakan pada siapapun.
Alya terbaring lemah di ranjang kamarnya, wajahnya masih pucat, napasnya teratur namun berat—seperti seseorang yang baru saja berjuang melawan mimpi buruk. Seorang dokter yang dipanggil Satria baru saja selesai memeriksanya.
“PTSD,” ucap dokter itu pelan, melepas stetoskop dari telinganya. “Kemungkinan terbesar hanya itu.”
Satria menatapnya dengan dahi berkerut. “PTSD? Apa itu, Dok?” suaranya terdengar cemas sekaligus penasaran.
Dokter menautkan kedua tangannya di depan d**a, lalu menjelaskan dengan tenang.
“Post-Traumatic Stress Disorder. Kondisi psikologis yang muncul setelah seseorang mengalami, atau menyaksikan peristiwa yang begitu traumatis hingga meninggalkan luka dalam di pikirannya. Luka itu bisa muncul kembali kapan saja, terutama saat ada pemicu yang mirip dengan kejadian masa lalu.”
Satria terdiam, menoleh ke arah Alya yang masih tak sadarkan diri, tatapanya penuh iba.
Sebelum pamit, dokter menepuk bahu Satria, memberi pesan serius, “Sebisa mungkin, jangan biarkan dia sendirian saat serangannya kambuh. Ia perlu seseorang yang menenangkan, kalau tidak, kondisinya bisa memburuk.”
“Baik, Dok. Terima kasih banyak.” Satria menunduk hormat, lalu mengantar sang dokter sampai ke halaman rumah.
Sesaat kemudian, ketika ia kembali masuk, pandangannya langsung jatuh pada Alya yang terbaring.
Dalam lelapnya, Alya mulai mengigau. Suaranya lirih, patah-patah, seolah keluar dari mimpi buruk yang tak ingin ia lihat lagi.
“Ma … mama … jangan pergi … aku takut … mama … gelap … aku takut … jangan pergi …”
Satria tertegun mendengarnya. Perlahan ia mendekat ke sisi ranjang, menunduk menatap wajah Alya yang berkeringat dingin. Dengan hati-hati, ia mengusap kening gadis itu, jemarinya bergerak pelan seperti ingin menyapu resah yang tertinggal di sana.
“Alya …” bisiknya lembut, nyaris hanya terdengar oleh mereka berdua. “Sudah terang, kau tidak sendirian, tenanglah … tidurlah yang nyenyak, aku di sini … jangan takut.”
Satria terus berbisik, seolah kata-katanya menjadi pelita kecil yang menuntun Alya keluar dari gelap mimpi buruknya.
Setelah memastikan napas Alya teratur dan wajahnya tampak kembali tenang dalam tidurnya, Satria perlahan bangkit dari sisi ranjang. Tatapannya berubah, ada sesuatu yang ia cari—liontin yang selama ini disembunyikan Alya.
Dengan langkah ringan dan napas ditahan, ia mulai bergerak menyusuri kamar. Jemarinya menelusuri laci meja, sudut lemari, hingga sela-sela bantal, semua dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tak menimbulkan suara sekecil apa pun.
Sesekali ia menoleh ke arah ranjang, memastikan Alya masih terlelap. Namun, hasilnya nihil. Dia tidak menemukan apapun yang bisa ia jadikan petunjuk.
Hanya sebuah foto kenangan yang tersimpan di laci. Alya ketika masih kecil dengan senyum polosnya memegang sebuah boneka teddy bear coklat yang sekarang masih berada di ranjang tidurnya.
****
Keesokan harinya, Alya terbangun oleh suara lembut sapu dan kain pel yang bergesekan dengan lantai kamarnya. Samar-samar, ia mendengar suara Bi Sumi yang sedang membersihkan lantai.
“Bi Sumi …” panggil Alya serak sambil mengucek matanya.
“Eh, Non Alya sudah bangun toh?” sahut Bi Sumi, tersenyum hangat.
“Jam berapa ini, Bi?” tanya Alya, suaranya masih berat karena baru bangun.
“Sudah jam sembilan, Non.”
“Jam sembilan?!” Alya terlonjak, panik. “Mampus aku!” gumamnya, lalu segera bergegas bangkit.
Ia berlari kecil menuju kamar mandi, mandi secepat kilat. Baju yang ia kenakan bahkan belum terkancing sempurna, rambutnya masih berantakan. Dengan tangan gesit, ia meraih tasnya dan melangkah tergesa keluar kamar.
Namun langkahnya terhenti mendadak. Dari arah dapur, muncul Satria, tenang dengan nampan sarapan di tangannya.
“Astaga!” Alya nyaris menabraknya, ia menjerit kaget.
Satria menatapnya datar tapi tajam. “Mau ke mana?”
“Ke rumah sakitlah!” jawab Alya terbata, matanya melebar panik. “Aku ada kunjungan pasien jam sembilan. Ini bahkan sudah hampir jam sepuluh!”
Satria tak sedikit pun terkejut. Ia menaruh nampan di meja samping dan berkata dengan tenang, “Aku sudah menghubungi konsulenmu. Kau izin sakit hari ini, jadi tak perlu buru-buru.”
Alya terhenti. “Sakit?” ulangnya bingung.
Satria menatapnya lurus. “Kau lupa semalam pingsan?”
Alya membisu. Dadanya terasa sesak, wajahnya panas oleh rasa malu. Ingatan samar tentang tubuhnya yang lemas dalam pelukan Satria kembali menghantam. Ia hanya bisa menunduk—merasa rapuh, sekaligus malu Satria melihat sisi paling lemah darinya.
“Sini, makan dulu, aku sudah siapkan sarapan,” bujuk Satria sambil menunjuk ke arah meja makan.
Alya melangkah mendekat. Ia duduk perlahan, matanya tak sengaja memperhatikan sosok Satria yang berdiri di hadapannya—tubuh tegap dengan celemek sederhana yang masih menggantung di dadanya. Pemandangan itu membuat Alya tersenyum tipis, lebih ke senyum menahan tawa.
“Kak Satria yang masak sendiri?” tanyanya, setengah tak percaya.
Satria hanya menoleh sekilas, bibirnya melengkung tipis. “Iya, makanlah.” jawabnya singkat namun hangat.
Alya menunduk, tersenyum samar sebelum menyentuh sendok di hadapannya.
“Lain kali, biarkan aku yang masak,” ucap Alya sambil mengunyah perlahan, matanya melirik ke arah Satria.
Satria mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, tatapannya lembut namun penuh tantangan. “Kalau begitu … bagaimana kalau nanti malam kau yang masak untukku?”
Alya mengangkat dagunya, ekspresinya penuh percaya diri. “Oke, siapa takut,” jawabnya mantap.
“Apa nanti malam Bi Sumi perlu ke sini untuk membantu, Non?” sela Bi Sumi sambil terus mengepel lantai ketika melewati mereka.
“Tidak usah, Bi, aku bisa sendiri kok,” jawab Alya dengan senyum manis yang tulus.
****
Ruang kantor KSAD, Jenderal Mardani.
“Siap melapor, Jenderal!” suara perwira itu terdengar lantang, tubuh tegap dalam posisi hormat.
“Laporkan,” perintah Jenderal Mardani singkat.
“Laporan hasil uji balistik, Jenderal. Nomor registrasi peluru terhapus sempurna, tidak meninggalkan jejak. Identifikasi asal peluru: nihil. Kesimpulan sementara, sumber senjata masih belum diketahui.”
Jenderal Mardani menatap tajam, suaranya berat. “Artinya, kita belum menemukan pihak di balik penyerangan panti asuhan?”
“Siap, benar, Jenderal! Sampai saat ini belum teridentifikasi.”
****
Suasana malam di dapur, Satria duduk santai di kursi dekat meja makan, pandangannya tak pernah lepas dari gerak-gerik Alya yang sibuk memasak.
Dengan sedikit kikuk, Alya meracik bahan-bahan di atas panci teflon. Sesekali ia melirik layar ponselnya, memastikan setiap langkah resep yang ia ikuti tidak keliru.
“Kamu sedang masak apa?” tanya Satria, suaranya tenang namun penuh perhatian.
“Gulai sapi,” jawab Alya singkat tanpa menoleh, matanya tetap fokus bergantian antara panci dan catatan resep di layar ponsel.
Alya akhirnya selesai memasak. Satria ikut membantunya menyajikan gulai sapi ke meja makan.
Dengan wajah penuh bangga, Alya menepuk tangannya pelan. “Taraaa! Gulai sapi ala chef Alya sudah siap disajikan!”
Mereka pun duduk berhadapan, siap menikmati makan malam.
“Silakan dicoba,” ucap Alya, mempersilakan Satria dengan senyum penuh percaya diri.
Satria menyendok gulai itu, lalu memasukkan suapan pertama. Ia mengunyah perlahan, alisnya sedikit berkerut, tapi tetap berusaha menahan ekspresi.
“Bagaimana rasanya?” tanya Alya, menunggu penuh harap.
“Emm … oke,” jawab Satria datar.
Alya mengangguk cepat, seolah yakin dengan jawabannya. “Pasti enak kan? Aku ikuti resepnya Chef Renata yang terkenal itu, lho.”
Belum sempat Satria menanggapi, Alya akhirnya mencicipi masakannya sendiri. Suapan pertama masuk ke mulutnya … dan matanya langsung membelalak.
“Hueeekk! Kok rasanya begini?!” serunya kaget.
Satria yang sejak tadi menahan tawa, akhirnya tersenyum lebar melihat reaksi Alya.
“Kak Satria! Jangan dimakan lagi!” Alya buru-buru menarik piring Satria dengan panik.
“Kenapa Kak Satria nggak bilang jujur? Aku jadi malu, tahu!” protes Alya dengan wajah merona.
Satria terkekeh pelan. “Kan tadi aku bilang oke, bukan enak.”
Alya menatapnya tak percaya. “---- apanya yang salah ya? Padahal aku sudah ikuti resepnya …” gumamnya sambil mengaduk-aduk gulai yang terasa aneh di lidahnya.
Tiba-tiba lantai di bawah mereka bergetar halus, seolah bumi tengah berayun pelan. Piring-piring di meja saling beradu, menimbulkan bunyi berderak yang membuat Alya tertegun, wajahnya bengong berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
Sebelum ia sempat bertanya, Satria sudah sigap menarik tangannya. “Cepat, kita keluar sekarang Alya!” serunya tegas.