Satria sudah melaju dengan mobilnya, namun matanya terpaku pada layar ponsel—rekaman kamera pengawas di kamarnya menampilkan jelas sosok Alya yang tengah mengobrak-abrik isi ranselnya. Senyum tipis tersungging di wajahnya.
Dengan cekatan, ia memutar kemudi. Mobil berhenti di luar pagar, lalu Satria masuk kembali ke rumah dengan langkah cepat, tapi nyaris tanpa suara.
Tanpa Alya sadari, kini Satria berdiri tepat di belakangnya.
“Apa ya … kira-kira …” gumam Alya sambil mengacak-acak rambut, terlihat frustrasi.
“Shadow98, itu sandinya.”
Suara berat itu membuat Alya tersentak. Nafasnya tercekat, tubuhnya gemetar. Ia memejamkan mata sejenak, otaknya berpacu mencari alasan yang masuk akal. Perlahan, ia berdiri, berbalik dengan senyum kaku.
“Laptopku mati tiba-tiba … aku harus kerjain laporan. Jadi … aku mau pinjam laptop Kak Satria. Hehe …” Suaranya bergetar, senyumnya dipaksakan.
Satria menatapnya lama, lalu tersenyum samar. “Pakai saja, kalau mau, kau bisa bawa ke kamarmu.”
Mata Alya berbinar lega, meski jantungnya masih berdebar tak karuan. “Serius? Oh iya … kenapa cepat sekali pulang?”
“Dompetku ketinggalan, ponsel juga hampir habis baterai. Jadi aku balik agar bisa membeli yang kau minta,” jawab Satria tenang, seolah tak ada yang mencurigakan.
“Oh … kalau begitu, aku bawa laptopnya ke kamar ya.” Alya buru-buru melangkah keluar, wajahnya merah menahan malu.
Begitu pintu tertutup, ia menggerutu pelan. “Aduh … kok bisa ketahuan begini sih …”
Satria diam, lalu menoleh ke meja. Tangannya meraih sebuah liontin yang tersimpan rapi di sudut. Jemarinya menggenggam erat benda itu.
“Untung saja … dia belum sempat melihat ini.” gumam Satria dalam hati, sebelum kembali melangkah keluar rumah dengan wajah dingin.
****
Di kamarnya, Alya sibuk mengutak-atik laptop Satria. Ia mencari aplikasi kamera pengawas, tapi tak menemukannya. Rasa penasarannya perlahan mereda, berganti dengan keisengan membuka folder foto.
“Ini pasti waktu Kak Satria umur dua puluhan…” gumamnya sambil menatap layar. Senyum tipis muncul di bibirnya. “Ganteng banget … meski ototnya belum sebesar sekarang.”
Ia terus menelusuri foto-foto lain. Tiba-tiba muncul potret Satria berseragam SMA. Alya menahan napas. “Wah … dengan wajah begini, pasti dulu dia populer banget di sekolah …” ucapnya lirih, matanya terpaku, seakan terseret ke masa lalu lelaki itu.
Lamunannya buyar ketika suara ketukan pintu terdengar.
Tok … tok … tok …
Alya buru-buru menutup folder foto, membuka Microsoft Word, lalu mengetik asal agar terlihat sibuk. “Masuk aja, Kak Satria,” ucapnya dengan nada tenang yang dibuat-buat.
Pintu terbuka. Satria masuk dengan kantong plastik di tangan. Ia langsung menyodorkannya. “Ini.”
Alya melirik isinya. Wajahnya sedikit memanas. “Makasih, Kak …”
Satria tersenyum tipis, lalu mengangkat kantong lain. “Aku sekalian beli makanan. Kau belum makan malam, kan? Ayo makan bareng.”
Mata Alya berbinar. “Mau!” jawabnya singkat.
Mereka pun duduk di meja makan. Satria mengambil dua piring, membuka bungkusan sate lengkap dengan lontong, lalu menuangkannya. Aroma kacang dan daging bakar segera memenuhi ruangan.
“Hmm … enak banget. Kak Satria beli di mana?” tanya Alya sambil lahap menyantap.
“Di tikungan pojok dekat sini.” Jawabnya santai.
Saat Alya hendak melanjutkan makan, Satria tiba-tiba menyodorkan tisu, lalu mengelap sudut bibirnya yang belepotan saus.
Alya terdiam. Tubuhnya seakan membeku.
“Makan pelan-pelan,” ucap Satria lembut, tatapannya tenang. “Biar nggak blepotan.”
Degupan jantung Alya berpacu tak karuan. Wajahnya memerah, bukan hanya karena malu, tapi juga karena satu pertanyaan yang mendesak dalam pikirannya—
Kenapa Kak Satria tiba-tiba … manis begini?
“Oya … Kak Satria waktu SMA sekolah di mana?” tanya Alya sambil mengunyah pelan.
“SMA Satu di Jogja,” jawab Satria singkat.
Alya mengangkat wajah, sedikit kaget. “Kak Satria orang Jogja?”
“Tidak,” Satria tersenyum tipis. “Aku lahir di Jakarta, tapi besar dan tinggal di Jogja.”
Belum sempat Alya menanggapi, langit mendadak meraung. Suara petir menyambar, memekakkan telinga.
Drrr … DUARRRR!!!
Sekejap kemudian, hujan deras mengguyur, menghantam atap dengan bising yang menekan d**a.
Ekspresi wajah Alya menegang. Matanya bergerak gelisah, jemari yang tadi lincah memegang garpu kini gemetar.
“Petirnya keras sekali,” ucap Satria, memperhatikan perubahan itu.
Alya tak menjawab. Gerakannya melambat, selera makannya lenyap seketika.
Kilatan cahaya membelah langit, lalu dentuman keras menyusul.
DUAARRR!!!
Suara petir mengguncang rumah, membuat kaca jendela bergetar. Alya terlonjak, sendok yang digenggamnya terjatuh. Wajahnya pucat, matanya melebar.
Belum sempat ia bernapas lega, dentuman berikutnya jauh lebih besar—dan bersamaan dengan itu, seluruh rumah mendadak padam.
Gelap total.
PRANGGG!!! Suara pecahan piring memecah kesunyian, membuat jantung Satria ikut melompat.
“Alya?” panggilnya cepat, panik.
Dalam kegelapan, terdengar nafas terputus-putus. Alya meringkuk di lantai, tubuhnya bergetar hebat. Tangannya menutup telinga rapat-rapat, sementara air mata jatuh deras di wajahnya.
“Tidak … jangan … tolong … jangan … gelap … jangan … Gelap … tolong!” suaranya pecah, diikuti isakan histeris.
Petir kembali menyambar, guruhnya menggema panjang.
DUUUMMM!!!
Alya menjerit sekeras-kerasnya. “AAAAA!!! AAAAAA!!!” Nafasnya tercekat, tubuhnya kaku lalu menggigil tak terkendali.
Satria segera meraih ponsel, menyalakan senter, dan mendapati Alya terpuruk di lantai—keringat dingin mengalir deras di wajahnya, matanya kosong penuh teror.
“Alya, tenang … dengar aku, aku di sini, tenang Alya,” ucap Satria cemas, memeluknya erat.
Tapi Alya tak mendengar. Nafasnya makin tersengal, tubuhnya melawan pelukan itu dengan panik. Hingga akhirnya jeritannya mereda, berganti dengan tarikan napas pendek dan patah-patah.
Beberapa detik kemudian, tubuhnya terkulai lemas—pingsan dalam dekapan Satria.