Rasa Cemburu

1490 Words
“Ada hal yang belum aku laporkan ke Om … aku masih ragu untuk melaporkannya,” kata Satria, matanya menatap lurus ke Yudi, seolah mencari pemahaman. “Apa itu?” Yudi mencondongkan badan, penasaran. “Gadis itu … Alya, dia memiliki liontin yang sama seperti yang aku simpan,” ucap Satria perlahan. Mata Yudi melebar. “Jadi malam itu Mardani memang ada di lokasi … kemungkinan liontin itu sepasang, berarti kecurigaan kita benar, Sat.” Ia terdiam sejenak, menelan napas panjang. “Apa yang membuatmu ragu melaporkan ini ke Om?” Yudi menambahkan, menatap Satria dengan serius. “Aku … mau menyelidiki dulu, apa hubungan liontin itu dengan dokumen, karena Mardani juga sedang mencari liontin itu … aku khawatir, kalau Om tahu, dia akan gegabah dan—” Satria terdiam, matanya menatap kosong sejenak. “Kau khawatir soal keselamatan gadis itu bukan?,” ucap Yudi lembut. Satria hanya mengangguk, rasa berat di hatinya tak bisa ia sembunyikan. Di sela-sela diskusi, mata Satria tak lepas dari layar ponselnya yang menayangkan rumah Alya secara real-time, setiap sudut dan suara di rumah itu, terekam melalui kamera dan penyadap yang sudah ia pasang sebelum kepindahannya rumah itu. “Aku setuju keputusanmu menyembunyikan dari Om—aku merasa Om sudah terlihat ambisinya, kalau sampai dia tahu, gadis itu pasti dalam bahaya,” ucap Yudi serius, menatap Satria. “Itulah maksudku,” jawab Satria singkat, menunduk menatap layar, merasa lega sedikit karena Yudi memahami niatnya. “Jadi, apa langkahmu selanjutnya untuk mencari tahu tentang liontin itu?” tanya Yudi, menajamkan nada suaranya. “Entahlah … aku akan mencari kesempatan memasuki kamarnya diam-diam,” ucap Satria, suaranya rendah, penuh pertimbangan. Yudi terkekeh kecil. “Em … kau ini beneran pernah jadi agen intelijen, bukan sih?” Satria menatapnya bingung. “Maksudmu?” “Masak strategi kecil begini kau tak mampu, dengarkan aku, kasih tips … kau bikin gadis itu jatuh cinta padamu. Wanita kalau sudah jatuh cinta, mudah sekali dikendalikan, tak perlu kau tanya, dia dengan senang hati akan menceritakan semua rahasianya,” ucap Yudi dengan nada santai tapi penuh maksud. Satria mengerutkan dahinya, mencoba menganalisis tips yang baru saja diberikan sahabatnya. “Tapi awas, jangan sampai kau yang jatuh cinta duluan … bisa bahaya itu,” goda Yudi sambil terkekeh, sorot matanya sedikit nakal. Satria meneguk ludah, tak bisa menahan senyum tipis yang muncul di bibirnya. “Bagaimana caranya? Aku tidak pandai dalam urusan wanita,” ujarnya rendah hati. “Kau serius mau menerima tips itu?” Yudi mendekat, menunduk sedikit agar istrinya yang mungkin lewat tak mendengar. Suaranya lirih namun tegas. “Wanita itu … hanya diberi perhatian kecil saja, dia langsung klepek-klepek. Misalnya, ketika dia sedang makan, kau usap lembut bibirnya yang kotor—begitu saja, dia akan terus memikirkanmu sepanjang malam.” Hahahaaha. Satria tertawa renyah mendengar tips dari Yudi. “Eh, dibilangi kok, serius ini!” Ucap Yudi kesal. “Hanya begitu?” tanya Satria, menahan tawanya. “Kau coba saja, biar percaya, ada lagi … saat kau membersihkan makanan di bibirnya, sentuh pipinya, tapi buat seolah-olah tidak sengaja. Singkat saja, tapi cukup bikin dia merasakan perhatianmu.” Satria menggeleng sambil tersenyum tipis, merasa tak mungkin akan melakukan hal-hal semacam itu. “Kau harus coba, Sat, ini paling efektif untuk membongkar semua rahasia secara halus,” Yudi menambahkan, matanya bersinar penuh keyakinan. “Akan aku pertimbangkan,” jawab Satria tenang, meski hatinya sedikit berdebar memikirkan metode itu. “Oya, motormu menganggur kan?” Satria tiba-tiba merubah topik. “Iya, ada itu … sudah jarang kupakai, semenjak ada bocil, lebih nyaman kalau pakai mobil,” jawab Yudi. “Berikan padaku, daripada menganggur,” kata Satria, setengah bercanda. “Ambil saja, ada di garasi,” sahut Yudi singkat. “Oya, satu hal lagi—aku mau minta tolong”. Ucap Satria mulai serius kembali. “Apa itu?” Tanya Yudi “Tolong cari tau tentang Alya dan ibunya Lina, bagaimana dia bisa sampai tinggal ikut Mardani”. Ujar Satria. “Oke, aku akan cari tau”. **** Keesokan paginya, Alya sudah bersiap-siap dengan pakaian rapi untuk pergi ke rumah sakit, ia melihat Satria berdiri di depan mobil, bersandar santai sambil menunggu. Begitu keluar rumah, pandangan Alya tertuju pada sebuah motor sport yang gagah bertengger di garasi. “Eh … motor siapa itu?” tanyanya sambil menunjuk. Satria menoleh sekilas, wajahnya tetap datar. “Saya pinjam dari teman,” jawabnya singkat. Alya menatap motor itu sekali lagi, lalu beralih menatap Satria. “Bagaimana kalau kita naik motor saja?” usulnya ceria. Satria menghela nafas pelan. “Lebih baik menggunakan mobil saja, lebih aman, Alya,” ucapnya tegas. Sekejap, waktu terasa berhenti bagi Alya, jantungnya berdebar kencang, Dia … memanggilku Alya … gumamnya dalam hati. Satria melangkah mendekat dan membuka pintu mobil dengan tenang, Alya masuk dengan hati berdebar, namun detik berikutnya jantungnya hampir meloncat keluar ketika Satria ikut membungkuk ke dalam kabin. Tanpa banyak kata, Satria meraih sabuk pengaman lalu memasangkan di tubuh Alya, wajah mereka hanya berjarak sejengkal, Alya menahan nafas, jantungnya berdetak kencang tak terkendali. Ya Tuhan … kenapa sedekat ini? gumamnya dalam hati. Satria, seolah tak terganggu, menatapnya lekat sesaat sebelum akhirnya melepas genggaman pada sabuk itu. “Sudah, aman,” ucap Satria singkat, suara rendahnya bergetar halus di telinga Alya. Alya hanya mengangguk cepat, degup jantungnya masih terasa gaduh. **** Sesampainya di rumah sakit, Alya berjalan di samping Satria. Baru saja mereka melewati lobi, tiba-tiba– “Mayor Satriiaaa!” Agnes—senior Alya di rumah sakit—tanpa basa-basi merangkul lengan Satria sambil menyodorkan sebuah paper bag berisi kue. Satria tampak kaku, jelas tidak nyaman. Alya yang berdiri di samping mereka hanya bisa terdiam. Nenek lampir itu, ngapain tiba-tiba merangkul? Apa memang mereka sudah seakrab itu? gumamnya dengan bibir mengerucut cemberut. “Aku bawain kue spesial buat kamu,” ucap Agnes manja. Satria menatap paper bag itu dengan wajah datar, lalu menjawab tegas, “Aku tidak suka makanan manis.” Satria berusaha melepaskan diri dari dekapan Agnes dengan gerakan halus namun tegas. Alya refleks mengalihkan pandangan, tapi bibirnya tetap manyun. Beberapa saat kemudian, seorang suster datang memanggil Agnes. Dengan berat hati, Agnes akhirnya melepaskan lengannya dari Satria dan beranjak pergi sambil melambai manja. Begitu Agnes menghilang dari pandangan, Alya langsung menoleh dengan wajah ketus. “Sejak kapan kalian akrab?” tanyanya tanpa basa-basi. Satria menoleh sekilas, ekspresinya tenang. “Baru kemarin,” jawabnya singkat. Mata Alya melebar. Kemarin? Diam-diam mereka akrab di belakangku? gerutunya dalam hati, semakin kesal. Bibirnya kembali manyun, jelas tak bisa menyembunyikan rasa jengkelnya. Tanpa pikir panjang, Alya meraih paper bag yang masih digenggam Satria. “Sini, aku makan kuenya. Kak Satria kan nggak suka makanan manis, ya?” ucapnya sambil mencabut paksa bungkusan itu dari tangannya. Satria menatap tingkahnya dengan senyum tipis yang sulit ditahan—ia menikmati ekspresi manja Alya yang sedang cemburu. **** Suasana malam itu sunyi. Di kamarnya, Alya berbaring di ranjang, matanya kosong menatap langit-langit. Pikirannya tak henti memutar kembali bayangan laptop di kamar Satria. Gambar yang sempat ia lihat di layar itu terlalu jelas: ruangan kerja ayahnya. “Tidak mungkin… jangan-jangan Kak Satria… ah, tidak, tidak…” batinnya kacau. Gelombang rasa penasaran mendesak. Alya bangkit, melangkah pelan ke arah kamar Satria, mengetuk pintu perlahan. Tok … tok … tok … Pintu terbuka. Satria muncul dengan napas terengah, keringat menetes dari tubuh bidangnya yang telanjang d**a. Alya refleks menunduk, pipinya memanas. “Kenapa … nggak pakai baju?” “Aku habis olahraga,” jawab Satria datar, tapi matanya jelas menggoda. “Malam-malam begini?” Alya masih memalingkan wajah, sesekali mencuri pandang. “Waktu luangku cuma malam, pagi sampai sore aku sibuk nemenin kamu.” Satria tersenyum samar. Alya tak ingin berlarut lama-lama, ia mengeluarkan secarik kertas dan menyodorkannya ke Satria. “Aku mau minta tolong … belikan ini.” Satria mengambil kertas itu, menahan tawa kecil ketika membaca tulisan: pembalut merek Ch*rm, pakai sayap.* “Kalau begitu … ayo kita beli bareng.” Satria meraih kaos dari kursi, dan mengenakannya. Alya buru-buru meringis, memegang perut. “Aduh … sakit sekali, ini hari pertama aku haid. Kak Satria aja yang pergi ya … rasanya aku gak kuat jalan.” Wajahnya dibuat selembut mungkin, penuh memelas. Satria menatapnya lama, seolah menimbang, lalu tersenyum miring. “Baiklah, tunggu sebentar, aku cepat kembali.” “Pelan-pelan saja, nggak usah buru-buru.” Alya balas tersenyum penuh maksud. Tak lama, suara mobil Satria menjauh. Alya segera bergerak cepat, masuk ke kamar Satria dengan langkah hati-hati. Tangannya langsung mengobrak-abrik laci meja. Alya akhirnya menemukan laptop Satria dalam ransel. Tangannya gemetar saat meletakkannya di meja, buru-buru menyalakan perangkat itu. Password. Alya mencoba tanggal lahir Satria. Gagal. Nama panggilan. Juga gagal. Alya frustasi, mengacak rambutnya. “Apa ya, kira-kira …?” Tiba-tiba, suara berat terdengar jelas di belakangnya. “Shadow98, itu sandinya.” Suara satria tiba-tiba terdengar, membuat Alya terperanjat, seluruh darah di tubuhnya serasa membeku. Tangannya berhenti di atas keyboard, sementara tubuhnya perlahan gemetar. Kak Satria, gawat bagaimana ini … suara hati Alya dalam kepanikan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD