Begitu tiba di rumah Pak RT, napas Satria langsung tercekat. Di halaman, ia melihat pria yang tadi dikejarnya hendak melangkah masuk ke dalam rumah.
Tanpa pikir panjang, Satria mempercepat langkah, lalu meraih tangannya, memelintirnya keras ke belakang hingga tubuh pria itu terhuyung dan terhempas ke tanah.
“Tolooong! Tolong …!” raung pria itu, suaranya melengking panik.
Para lansia yang sedang duduk di beranda sontak terdiam, wajah-wajah mereka tegang menatap adegan mengejutkan itu.
Alya berdiri kaget dari kursinya. “Mayor! Eh … Ka Satria! Hentikan!” teriaknya, suaranya penuh campuran bingung dan panik.
Namun Satria tidak mengendurkan cengkeramannya. Sorot matanya tajam, rahangnya mengeras. “Pria ini sedang memata-matai!” ucapnya tegas, sembari makin mengencangkan putaran tangannya.
“Aduh! Aduh! Lepas! Sakit!” pria itu berteriak, tubuhnya meringkuk di tanah.
“Ka Satria! Lepaskan dia!” Alya berlari mendekat, wajahnya pucat. “Dia … anaknya Pak RT!”
Satria tertegun, urat-urat tegang di lengannya seketika mengendur, tatapannya terbelalak, lalu perlahan ia melepaskan cengkeraman, menyisakan keheningan yang menegangkan.
Pak RT muncul dengan wajah murka, bukannya memarahi Satria, ia justru menghampiri anaknya sendiri dan tanpa ragu memukulinya dengan sandal jepit.
“Akhirnya kau pulang juga, dasar anak kurang ajar!” bentaknya sambil melayangkan pukulan.
“Ampun, Pa! Ampun!” anak Pak RT menjerit, berusaha menangkis.
“Dari mana saja kau? Setelah kau bawa kabur uang kakakmu untuk berjudi, berani-beraninya sekarang pulang!” suara Pak RT meledak, penuh kekecewaan dan amarah.
Satria buru-buru menahan lengan Pak RT, menghentikan pukulan berikutnya. “Sudah, Pak … cukup, sebaiknya diselesaikan dengan kepala dingin—saya juga minta maaf karena sempat salah sangka.” Suaranya tegas namun menenangkan.
Pak RT menarik napas berat, wajahnya masih merah padam, ia menoleh pada Satria, lalu mengangguk singkat.
“Tidak apa-apa, Nak … justru saya berterima kasih, anak ini memang harus diberi pelajaran.”
Alya menarik napas panjang, dadanya terasa sedikit lega setelah ketegangan tadi mereda.
“Kenapa kau lari saat melihatku?” tanya Satria dingin, tatapannya menelusuk ke arah pemuda itu.
Pemuda itu menunduk gelisah. “Aku … aku pikir kau debt collector, makanya aku kabur,” jawabnya terbata.
“Apa?” suara Pak RT langsung meninggi. “Jangan bilang kau punya utang judi lagi!”
Tanpa menunggu penjelasan, Pak RT melayangkan pukulan dengan sandal ke arah anaknya.
“Aduh! Aduh! Sudah, Pa … sakit!” pemuda itu meringis, menangkis seadanya.
“Sudah, Pak RT … kasihan anaknya,” ucap Desy yang sejak tadi tetap sibuk memeriksa para lansia di tengah keributan, kini ia sudah berdiri di samping Alya, wajahnya penuh iba melihat adegan itu.
****
Hujan deras mengguyur jalanan malam itu. Tanpa jas hujan, Alya dan Satria basah kuyup, motor matic melaju pelan di tengah derasnya air hujan.
Satria menundukkan kepala sedikit, pandangan fokus di jalan licin.
“Kita cari tempat berteduh sebentar,” ucapnya sambil menepikan motor ke sebuah kios pinggir jalan yang sudah tutup.
Alya menepuk-nepuk badanya sendiri, rambut basah menempel di pipi. Kemeja tipisnya basah, menempel di tubuhnya, membuat Satria menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama.
“Maaf … aku … tidak membawa jas hujan,” gumam Alya, suaranya serak karena kehujanan.
“Nggak apa-apa, kita tunggu sebentar di sini, sampe hujan reda” jawab Satria, nada tenang namun hangat.
Mereka menunggu hujan reda di bawah atap kios sempit, air menetes dari genting, membasahi lantai yang licin.
Satria menatap Alya yang menggigil, kemejanya basah menempel di tubuhnya. Tanpa banyak bicara, ia melepas jaket hitamnya dan dengan hati-hati memegangnya di tangan, memberikan nya ke Alya.
“Ini … pakai, biar hangat,” ucapnya datar, tapi nada suaranya penuh perhatian.
Alya menggenggam jaket itu, d**a berdebar tak karuan. “Harusnya Mayor yang pakai kan langsung, biar kayak di drama-drama romantis gitu … apa dia nggak pernah nonton drama romantis ya?” gumamnya dalam hati, setengah kesal tapi juga terpesona.
“Terima kasih, Mayor …” katanya pelan, suara bergetar sedikit.
Satria menunduk sebentar, menatap jalanan basah di depan mereka. “Lihat, sudah mulai reda .”
Alya menarik jaket menutupi tubuhnya, merasakan hangatnya dari perhatian Satria. Sesaat ia ingin menatap wajahnya, tapi menahan diri, membiarkan debaran di dadanya yang menetap.
****
Di rumah, Alya selesai mandi, rambut masih basah, ia merasa lapar. Tanpa banyak berpikir, ia melangkah ke dapur untuk membuat mie instan. Namun, pandangannya langsung terhenti.
Di sana, Satria berdiri bertelanjang d**a, keringat membasahi tubuhnya yang tegap karena baru saja melakukan push-up. Tangannya sedang menakar kopi ke dalam gelas.
Alya menutup mata sebentar, lalu perlahan bergeser ke sisi rak untuk mengambil mie instannya.
Satria menatapnya, nada suaranya tenang namun menggoda. “Tidak baik makan mie instan malam-malam.”
Alya menjawab sambil tidak menoleh, suara datar tapi jelas terdengar debar jantungnya sendiri. “Adanya ini, lebih praktis lagi.”
Tanpa aba-aba, Satria melangkah mendekat dan mengambil mie instan dari tangan Alya. “Biar aku buatkan makanan, duduklah.”
Alya terdiam, d**a berdebar saat melihat tubuh bidang Satria terpampang jelas di hadapannya. Ia menelan ludah, suara hatinya bergetar.
“Kenapa … Mayor … tidak pakai baju?” suara Alya lirih, berusaha menenangkan diri.
Satria menoleh santai, “Aku habis olahraga, jadi terasa panas, aku tidak tahu kalau kamu mau ke dapur, Alya.”
Mendengar namanya disebut tanpa embel-embel ‘Nona’, Alya makin berdebar, wajahnya memerah.
Alya duduk di meja makan, matanya tak lepas dari Satria yang sedang memasak, kali ini dia mengenakan kaos hitam sederhana, yang menonjolkan otot lengan dan bahunya. Satria menumis sayuran dengan cekatan, lalu membalik telur ceplok yang aroma harum-nya memenuhi ruangan.
“Wah … Mayor, ternyata pandai memasak,” ucap Alya sambil tersenyum kagum.
Satria menoleh sebentar, senyum tipis menyapa wajahnya. “Seorang prajurit wajib bisa memasak,” jawabnya singkat, tetap fokus pada masakan.
Alya bengong sejenak, dadanya berdebar terkesima. Kenapa dia bisa terlihat begitu … sempurna ... di setiap gerakannya? Pikirnya.
Satria menata telur ceplok di atas piring, menambahkan sayuran tumis di sampingnya serta nasi putih.
“Ini … makanlah,” ucap Satria sambil menaruh piring di hadapan Alya. Matanya menatap Alya sekilas, penuh perhatian tapi tenang.
Alya tersipu, hampir tak berani menatap langsung, ia hanya bisa mengangguk kecil, duduk sambil menatap piring di depannya.
Hanya mereka berdua di dapur malam itu—suasana sederhana itu terasa intim, penuh chemistry yang tak disadari keduanya.
Alya mengambil suapan pertama dari telur ceplok hangat dan tumisan sayur, matanya menatap Satria. “Enak … masakan Mayor enak … eh—” Alya sejenak terdiam, lalu menelan ludah.
“Bagaimana kalau aku panggil Mayor … Kak Satria … biar lebih akrab—dan Mayor panggil saja namaku, Alya,” gumamnya pelan malu-malu, suaranya sedikit bergetar.
Satria hanya tersenyum tipis, tanpa menjawab, menatap Alya dengan mata yang tenang tapi hangat.
“Kenapa hanya senyum? Bagaimana … boleh gak?” tanya Alya lagi, nada suaranya manja, terdengar menggemaskan.
“Tentu saja, Alya,” jawab Satria, datar namun penuh pesona membuat jantung Alya seolah meloncat tak karuan
****
Malam itu, Alya sudah terlelap di kamarnya. Lampu redup masih menyala di lorong, Satria berjalan pelan menuju pintu keluar, memastikan tidak membangunkan gadis itu. Setelah memesan ojek online, ia pun bergegas, menyusuri jalanan sepi Jakarta yang basah oleh sisa hujan.
Tak lama kemudian, Satria tiba di rumah Yudi, anak lelaki Yudi, Rafi, sedang bermain dengan mainan mobilnya di ruang tamu.
“Kenapa datang malam-malam begini?” tanya Yudi, menatap Satria dengan ekspresi penasaran namun tenang.
“Om Satria!” teriak Rafi, meloncat dari lantai dan berlari menyambut Satria.
Satria menunduk tersenyum. “Rafi belum tidur?”
“Tidurnya larut, Sat, aku sampai kewalahan menunggu dia mau tidur,” jawab istri Yudi sambil menggendong Rafi menjauh dari mereka, seolah paham bahwa diskusi antara Yudi dan Satria bukan untuk didengar anak-anak.
Satria melangkah mendekat, menatap Yudi dengan sorot mata tajam.
“Kenapa kau mundur dari Mawar Hitam, Yud?” tanyanya, langsung membuka percakapan tanpa basa-basi.
Yudi menarik napas panjang sebelum menjawab. “Sejak misi bulan lalu, saat kita membuat panik anak Mardani … aku sadar, Sat, apa yang kita lakukan hanya menciptakan kisah kelam baru.”
Alis Satria mengernyit. “Maksudmu apa?” Suaranya terdengar tersinggung.
“Mungkin bagimu aku terlalu berlebihan …” Yudi menunduk sebentar, lalu menghela napas berat. “Tapi waktu di panti asuhan itu … saat aku dengar teriakan anak-anak ketakutan karena suara tembakan, aku teringat Rafi, aku membayangkan … bagaimana kalau Rafi ada di sana, menangis ketakutan dalam situasi yang sama?”
Satria menggeleng cepat. “Tapi Yud, tidak ada yang terluka, kan? Kau lupa tekad kita, untuk mengungkap kebenaran?” Nada kecewa terselip dalam suaranya.
Yudi tersenyum getir. “Mungkin Om benar, aku terlalu lembek. Dan karena itu, kebenaran sulit terungkap—makanya aku mundur. Sekarang … Mawar Hitam di tangan Heru—dia lebih berani, lebih agresif.” Ia menepuk pelan bahu Satria.
“Buatku, saat ini bukan waktunya lagi untuk tenggelam dalam dendam, kau akan mengerti, Sat … saat kau menemukan seseorang yang benar-benar ingin kau lindungi.” Tambah Yudi.
Satria terdiam, menatap Yudi yang menutup ucapannya dengan senyum tipis.
“Oke … apa pun keputusanmu, aku tetap temanmu, Yud.”
“Tenang saja,” jawab Yudi ringan.
“Aku masih ada untuk Mawar Hitam, hanya saja, kali ini dari belakang layar, kalau kau butuh bantuan, aku siap.”
Satria menegakkan tubuhnya, sorot matanya kembali serius. “Kalau begitu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”
“Apa itu?” tanya Yudi singkat, tatapannya kini penuh kewaspadaan.
“Ini tentang Om”. Ucap satria.
“Om? Ada apa dengan Om?”