Satria cepat bereaksi, buru-buru Satria melangkah, menghadang pandangan Alya dengan tubuh bidangnya. Tubuh telanjang hanya berbalut handuk itu membuat Alya refleks menutup mata dengan kedua tangan.
“Nona Alya,” suara Satria terdengar rendah, nyaris berbisik, “tidak pantas seorang gadis menerobos kamar pria lajang tanpa izin.”
“Mayor … jangan terlalu dekat, aku sudah mengetuk tadi,” Alya masih menutup mata rapat, nada suaranya bergetar.
“Kalau tidak ada jawaban,” Satria melangkah setapak lebih dekat, aura tubuh hangatnya menyusup di antara jarak, “anda seharusnya paham, menunggu—bukan langsung menerobos masuk seperti ini.”
Alya tersentak, tubuhnya refleks mundur satu langkah. “Iya, iya … aku salah maaf … tapi tolong … pakai baju dulu, aku ingin bicara serius.” Suaranya lirih, dan kali ini ia berusaha membuka kedua tangan, meski pandangannya masih sengaja dialihkan ke samping.
Senyum tipis terbit di bibir Satria, sorot matanya tajam namun mengandung sesuatu yang sulit ditebak. “Bagaimana saya bisa mengenakan pakaian … kalau anda masih berdiri di sini?”
Wajah Alya seketika memanas. Ia berbalik dengan tergesa, hampir terbata. “O-oke … aku keluar dulu.”
Begitu pintu menutup di belakangnya, jantung Alya berdegup kencang, bukan hanya karena rasa malu—tapi juga karena tatapan Satria barusan yang terasa menusuk jauh ke dalam dirinya.
Alya beralih duduk di sofa ruang tamu. Tatapannya kosong, pikirannya sibuk memutar kembali ingatan sekilas yang tertangkap di layar laptop Satria. “Itu … bukankah mirip ruang kerja Ayah?” gumamnya dalam hati, jemarinya tanpa sadar saling meremas, ada rasa curiga yang menyelinap.
Langkah kaki mendekat memecah lamunan Alya. Satria muncul dengan pakaian rapi—celana jins gelap, kaos hitam polos, ditutup jaket hitam yang melekat pas di tubuhnya.
“Di hari Minggu begini, anda mau pergi ke mana?” suaranya terdengar datar, tapi sorot matanya menusuk, meneliti ekspresi Alya.
Alya menoleh cepat, berusaha menahan ekspresi gugup. “Kita ke kontrakan Desy dulu,” jawabnya singkat, menatap ke arah lain.
Satria tidak langsung merespons. Ia hanya diam, matanya tak lepas dari wajah Alya, seakan membaca sesuatu di balik tenang yang dipaksakan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya—senyum yang membuat Alya justru semakin gelisah.
Tak lama kemudian, mereka melaju dengan mobil menuju kontrakan Desy.
Setibanya di sana, Alya langsung masuk ke halaman kecil kontrakan itu, mengambil motor maticnya yang terparkir di pojok, sengaja ia titip di rumah Desy untuk transportasi saat kegiatan sosial.
Desy sudah menunggu dengan motornya sendiri.
Alya menepuk-nepuk jok motor maticnya. “Kali ini kita pakai motor saja Mayor, jalan nya sempit, mobil nggak bisa masuk.”
Satria mengangkat alis. “Naik motor?” tanyanya, seolah tak percaya.
“Iya, kenapa?” Alya balik bertanya ringan sambil menyalakan mesin.
Tanpa banyak bicara, Alya menyodorkan helm ke arah Satria. “Mau ikut nggak? Kalau nggak, malah bagus.”
Satria menatap sebentar, lalu mengambil helm itu dan duduk di depan sedang Alya bergeser ke belakang.
Desy spontan tertawa keras melihat tubuh tinggi besar Satria menempel di motor matic mungil. Pemandangannya benar-benar kontras, Alya ikut terkikik geli, menutup mulut menahan tawa.
“Motornya kekecilan,” keluh Satria, suara datarnya justru membuat keduanya makin ngakak.
Alya menoleh sekilas dengan senyum jail. “Bukan motornya yang kekecilan, Mayor yang terlalu besar”.
Motor matic mungil itu melaju dengan Satria di depan, sementara Alya kikuk di jok belakang. Tangannya ragu-ragu—antara ingin berpegangan erat atau sekadar menyentuh jaket Satria.
Akhirnya, ia hanya mencubit ujung jaket hitam yang Satria kenakan, pegangan setengah hati itu membuatnya tampak canggung.
“Gak mau pegangan? Saya mau ngebut, lho,” ucap Satria datar, tapi ada nada menggoda di balik suaranya.
Alya belum sempat membalas, seketika Satria menancapkan gas, dan motor itu melesat kencang melewati jalanan yang berliku.
Refleks, Alya menjerit kecil lalu spontan memeluk pinggang Satria erat-erat, Satria tersenyum tipis tanpa menoleh, menikmati adegan itu.
****
Sesampainya di lokasi, mereka berhenti di depan rumah sederhana milik Pak RT, beberapa lansia sudah duduk rapi menunggu, sebagian menatap penasaran ke arah Alya dan Satria.
Alya turun dari motor, merapikan ransel kecilnya, ia menoleh pada Satria.
“Mayor … em, eh … kak Satria,” ucap Alya terbata-bata, pipinya memerah.
Satria menoleh singkat, keningnya berkerut.
“Aku akan memanggil mayor dengan ‘kak Satria’, dan mayor …” Alya menelan ludah, “panggil namaku saja, Alya, aku nggak mau terlihat aneh di mata mereka.” Ia menunjuk para lansia yang sudah berbisik-bisik memperhatikan mereka.
“Dan … satu lagi— aku kamu aja, jangan pake anda saat ngomong denganku”. Tambah Alya.
Satria terdiam sebentar, lalu menjawab singkat, datar, tapi jelas.
“Oke.”
Beberapa saat kemudian.
“Anak ganteng … kamu apanya Neng Alya?” tanya salah satu nenek sambil menyenggol bahu Satria.
Yang lain ikut terkekeh. “Jangan-jangan pacarnya ya…”
Satria menghela napas pelan, jelas merasa terganggu.
Dengan suara datar Satria menjawab, “Saya saudaranya, Nek.”
Jawaban itu bukannya meredam, malah membuat para nenek makin ribut tertawa, berbisik-bisik sambil melirik ke arah Alya.
Alya yang sedang menulis hasil pemeriksaan menoleh sekilas, terkikik kecil melihat wajah Satria yang tak nyaman dikerubungi “fans dadakan”-nya itu.
Di hadapannya, Alya begitu sibuk memeriksa seorang nenek renta, wajahnya lembut penuh perhatian.
Satria terdiam, ada sesuatu yang berbeda kali ini—sisi Alya yang lain lagi, sisi yang belum pernah ia lihat.
Tanpa Satria sadari, matanya terus mengikuti gerak Alya, hatinya berdesir setiap melihat senyum Alya yang mengembang manis.
“Kadang dia seperti anak kecil yang manja … kadang seperti wanita dewasa yang bijak, tapi sekarang… senyumnya benar-benar lembut, entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.”
Untuk pertama kalinya, Satria menyadari … ia mulai terpesona dengan gadis kecil itu.
Satria masih menatap Alya yang tersenyum pada para lansia, ketika ponselnya bergetar.
Layar menampilkan nama: Om.
Dengan nafas tertahan, ia mengangkat telepon.
“Aku dengar laporan … gadis itu pindah rumah,” suara pria itu terdegar.
Sejenak Satria terdiam, kemudian mengambil langkah keluar, menjauh dari orang-orang.
“Ah … maaf Om, kesibukan pindah rumah membuat ku lupa memberi kabar,” ujar Satria cepat, mencoba menenangkan nada suaranya.
“Om … untuk misi mencari dokumen di rumah Mardani sepertinya akan memakan waktu lebih lama, aku jauh dari sumbernya sekarang,” suara Satria terdengar serius tapi pelan, seakan tak ingin terdengar orang lain.
Telepon terdiam sesaat, lalu terdengar suara lembut tapi tegas:
“Aku mengerti … untuk sekarang, fokus saja sama gadis itu, jangan terlalu mencolok, kita akan pikirkan cara lain untuk dokumen itu,” jawab pria paruh baya yang Satria panggil ‘Om’.
“Baik … aku akan mengikuti arahanmu,” jawab Satria, nada rendah, hampir berbisik, ia tahu percakapan ini hanya untuk mereka berdua.
“Bagus,” suara Om menambahkan, tegas tapi tenang. “Ingat, ini bukan soal protokol atau aturan militer, ini soal kebenaran dan risiko, jangan sampai emosi ingin segera mendapatkan dokumen itu kau mengacaukan rencana kita.”
“Baik Om, aku akan tetap waspada”.
Satria menutup telepon, namun tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu—bayangan seorang pria berdiri di balik dinding rumah seberang. Sorot mata pria itu tajam, penuh curiga. Begitu tatapan mereka bertemu, sosok itu langsung berlari.
Refleks, Satria mengejarnya. Langkahnya memburu cepat, menembus gang demi gang, nafasnya teratur, pikirannya fokus, hingga akhirnya ia tersadar … pria itu tidak benar-benar berusaha kabur.
Jangan-jangan ini hanya umpan?.
Satria berhenti seketika, dadanya bergemuruh. “Sial…” gumamnya, sadar ia telah digiring menjauh.
Wajah Alya langsung terlintas di benaknya.
“Alya!” batin Satria tersentak, tubuhnya berbalik, berlari kembali sekuat tenaga—sementara bayangan gelap ancaman sudah lebih dulu mendekat pada gadis itu.