‘OM’

1137 Words
Suara berat di seberang langsung menekan, dingin dan penuh kuasa. “Aku sudah menunggu lama untuk mendengar laporanmu, tidak biasanya kau mengulur waktu untuk melapor.” Satria menatap keluar jendela. “Penyadap sudah terpasang, semua percakapan maupun rekaman gambar bisa diakses, Om sudah bisa mendengarkan langsung, ini laporan untuk hari ini.” “Bagus.” Pria misterius yang disebut ‘Om’ itu terdiam sejenak, lalu suaranya terdengar lebih tajam. “Dan tentang bocah perempuan itu? Ada hal mencurigakan?” Satria mengepalkan tangan, sejenak ragu, bayangan Alya yang polos tadi terlintas di kepalanya—liontin di genggaman Alya, dan ketakutan yang Alya sembunyikan, Satria belum bisa melaporkannya. “Tidak ada yang penting,” jawab Satria, suaranya tenang namun dingin. “Dia hanya anak kecil polos yang mudah panik.” Hening beberapa detik, lalu terdengar tawa pendek ‘Om’ yang sinis. “Baiklah, jangan biarkan simpati mengaburkan tugasmu, Satria, ingat—aku mengandalkanmu.” Panggilan terputus. Satria menutup ponsel pelan, rokok di tangannya habis terbakar hingga ujung. Maaf om, ada hal-hal yang tidak bisa kau ketahui, untuk sekarang ini … belum saatnya, aku akan mencari tau lebih dulu, apa hubungan Alya, liontin dan dokumen itu. Gumamnya dalam hati. **** Perjalanan pulang terasa hening, Alya bersandar di kursi depan, kepalanya miring ke sisi kaca, nafasnya teratur, wajahnya tenang—ia tertidur lelap. Satria sekilas melirik, senyum samar muncul di bibirnya, meski cepat ia sembunyikan, tangan kirinya menggenggam erat setir. Mobil berhenti perlahan di depan rumah, ia menoleh, menatap Alya diam-diam. Tangan Satria sempat terangkat, berniat menyentuh bahu Alya untuk membangunkannya, namun ia urungkan. Biarlah dia beristirahat, sepertinya dia sangat kelelahan. Gumam Satria Satria akhirnya hanya bersandar ke jok, menunggu. Matanya masih tertuju pada wajah Alya, tatapan yang mulai berubah dibanding saat pertama kali mereka ketemu, kini tatapan itu nampak penuh perhatian dan kasih sayang. Beberapa menit kemudian, Alya tergerak pelan, matanya terbuka, mendapati Satria masih duduk menunggu sambil menatapnya. Alya buru-buru menegakkan tubuhnya. “Kenapa nggak bangunin aku?” suaranya lirih. Satria tersenyum tipis. “Tidurmu sangat nyenyak, aku sudah membangunkan mu berkali-kali.” Satria berbohong untuk menggoda Alya. Alya makin salah tingkah, pipinya merah, ia cepat-cepat membela diri, “Aku dengar kok—-cuman ya, aku pura-pura aja gak bangun.” Satria menahan tawa. “Oh, begitu ya?” Alya mendengus, langsung membuka pintu mobil. “Iya, Sudah ah.” Alya turun dengan wajah merah padam, ia buru-buru masuk rumah, Satria hanya menatap punggungnya, senyum samar belum juga hilang. Namun sesaat kemudian, ponselnya bergetar, layar menampilkan panggilan masuk dengan nama yang membuat jantungnya terhenti sesaat: Mardani. Satria menelan ludah, lalu menekan tombol angkat. “Segera ke ruangan saya, ada yang perlu kita bicarakan… sekarang.” Ucap Jenderal Mardani di telepon. “Siap Jenderal”. Jawab Satria tegas. Suara dingin itu langsung memutus sambungan, meninggalkan keheningan mencekam. Satria menatap layar ponsel yang gelap, perasaan tak enak menjalari dadanya. **** Ruang kerja Jenderal Mardani sunyi, lampu meja menyinari tumpukan berkas, sementara aroma kopi pahit masih mengepul dari cangkir porselen. Pintu diketuk. “Masuk.” Satria melangkah tegap, memberi hormat. “Siap, laporan.” Mardani menutup berkas di tangannya, sorot matanya tajam, suara beratnya memenuhi ruangan. “Apa saja yang terjadi selama aku dinas luar?” Satria menarik napas. “Negatif Jederal, tidak ada yang terjadi ketika Nona Alya berkegiatan di luar.” Ia berhenti sejenak, ada keraguan dalam nadanya. “Tapi …” Mardani menajamkan tatapan. “Lanjutkan, jangan ragu, katakan dengan jujur.” Satria menelan ludah, lalu tegak kembali. “Siap, Jenderal, kejadian terjadi saat sarapan, putri kembar anda … mencoba mencelakai Nona Alya, pertama dengan menjatuhkan minuman ke bajunya, kemudian menjegal langkahnya hingga jatuh dan terluka oleh pecahan piring.” Hening. Hanya detak jarum jam dinding yang terdengar. Mardani menyandarkan punggung di kursi, rahangnya mengeras, ia menatap Satria dengan tatapan penuh arti. “Aku sudah menduga sejak dulu … namun Alya tidak pernah cerita kalau dia sering dianiaya saudara-saudaranya—inilah salah satu alasanku memintamu melindunginya,” ucap Mardani lirih, suaranya berat penuh kepedihan. Satria menunduk, menahan dorongan emosi yang ingin muncul. “Namun sepertinya lebih baik Alya tinggal jauh dari rumah ini, agar dia lebih aman,” tambah Mardani, nada tegas tapi penuh kesedihan. “Siap, Jenderal,” jawab Satria, tetap memberi hormat. **** Pagi itu, mobil hitam berhenti di depan sebuah rumah minimalis di bilangan Selatan Jakarta. Alya keluar dengan koper besar, wajahnya tenang tapi matanya menyimpan kelegaan. Di sampingnya, Satria berdiri tegap, mengenakan celana jins dan kaos berwarna army ciri khas tentara. “Mayor Satria,” ucap Alya, suara lembut tapi penuh rasa ingin tahu. “Jadi … aku akan tinggal di sini mulai hari ini?” “Ya, Nona, di sini anda akan lebih nyaman,” jawab Satria, nada formal. “Aku harus ikut Alya pindah … tapi misi utamaku justru ada di rumah utama. Dokumen itu— bagaimana aku bisa menjalankan misi itu jika aku jauh dari sumbernya?” keluh Satria dalam hati. “Mayor … kau tidak harus terlalu formal di sini,” ucap Alya pelan, suaranya tenang namun ada nada ringan yang hampir terselip senyum. “Aku lebih suka kalau mayor bersikap santai saja, kayak teman begitu.” Satria menunduk singkat, tatapannya tetap serius. “Tugas saya tetap sama, nona, keselamatan anda prioritas utama.” Alya mendesah, langkahnya pelan memasuki rumah. “Oke, terserah … aku hanya merasa aneh kalau terlalu diperlakukan dengan hormat,” gumamnya sambil menatap sekeliling rumah yang rapi dan bersih. Begitu masuk, Alya disambut oleh seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah. “Pagi, non … saya Sumi, saya yang akan membersihkan rumah ini,” sapanya hangat. “Pagi, Bu Sumi,” jawab Alya dengan lembut, lalu tanpa ragu memeluk wanita itu. Bu Sumi terkejut, mencoba melepaskan pelukan. “Non … anu … kok dipeluk, saya kotor ini …” katanya sambil tersenyum kikuk. “Gak apa-apa, Bu Sumi bersih kok …” balas Alya, senyumnya hangat dan tulus, membuat Bu Sumi merasa lega dan senang. Satria menatap dari dekat pintu, diam sejenak, gadis yang selama ini dikenalnya sebagai gadis ‘galak’, kini menampakkan sisi lembutnya. Tanpa bicara, Satria bergerak maju, membantu membawa koper Alya masuk ke dalam rumah. Bu Sumi dengan sigap ikut membantu, dan perlahan suasana formalitas di antara mereka berubah menjadi lebih hangat. **** Minggu pagi, Alya sudah rapi dengan ransel kecil berisi alat medis. Ia berdiri di depan kamar Satria, mengetuk pelan, namun tak ada jawaban. Klek. Gagang pintu berputar, tanpa berpikir panjang, Alya mendorongnya masuk tanpa permisi. Matanya langsung terpaku pada layar laptop di meja samping ranjang. Tampilan monitor menyorot deretan video pengawasan, menampilkan berbagai sudut tempat yang sangat ia kenal. Langkah Alya terhenti, tatapannya menajam. Saat itu juga, pintu kamar mandi terbuka. Satria muncul dengan handuk melilit di pinggang, ia terkejut—bukan karena Alya ada di kamarnya, melainkan karena sorot mata gadis itu yang membeku di layar laptop miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD