Suara langkah mendekat … pelan tapi pasti, bayangan seseorang tampak dari celah bawah pintu.
Satria buru-buru menyelipkan kembali foto ke dalam laci, mematikan senter kecilnya, lalu bergerak ke sisi gelap ruangan, menyatu dengan bayangan.
KREK … gagang pintu berputar, daun pintu berderit terbuka.
Sosok seseorang masuk perlahan, tapi wajahnya masih tertutup gelap, hanya suara napas berat yang terdengar, membuat bulu kuduk Satria berdiri.
Dalam hati Satria berteriak: “Siapa dia? Penjaga rumah? Atau … Mardani sudah kembali?”
Satria menahan napas, tubuhnya menempel ke dinding, pistol sudah tergenggam di tangan.
Sosok itu melangkah masuk, suara sepatunya berat, langkahnya mantap, seperti orang yang tahu persis ruangan itu, bayangannya membesar di dinding—lalu berhenti tepat di dekat meja kerja.
Satria merasakan keringat dingin mengalir di pelipis. Jarak mereka hanya beberapa meter, Satu gerakan salah, semua bisa berakhir malam ini.
Sosok itu membuka laci … laci yang tadi sempat dibuka Satria, jemarinya menyusuri tumpukan map, berhenti sejenak pada foto Lina, ia menghela napas panjang.
“Lina …” suara sosok itu berat, nyaris bergetar. “Kalau saja sebelum meninggal kau sebutkan di mana kau menyimpan liontin itu, pasti semuanya akan lebih mudah, liontin yang hilang itu juga—kenapa sulit sekali ditemukan.”
Satria terperanjat. Liontin?—apa liontin ini yang ia maksud? Satria merogoh saku celananya dan menggenggam liontin yang ada padanya.
Sosok itu menutup kembali laci, lalu berbalik menuju pintu, cahaya lorong menyapu wajahnya sepersekian detik.
Satria menahan diri untuk tidak terkejut, wajah itu jelas, sangat ia kenal, Mardani.
Mardani sudah kembali dari dinas luar kota, ini lebih cepat dari jadwal.
Mardani akhirnya meninggalkan ruangan, suara langkahnya menjauh, lorong kembali sunyi.
Satria menunggu beberapa detik, memastikan situasi aman, lalu bergerak cepat, ia menyelipkan pistol ke pinggang, merapat ke jendela, dan dalam sekali hentakan tubuhnya sudah melayang keluar.
Satria mendarat di taman belakang, berjongkok di balik semak, menarik napas panjang untuk meredakan degup jantung yang masih kacau.
Namun pandangannya terhenti.
Di ujung taman, di bawah cahaya bulan pucat, Alya duduk sendirian di bangku kayu. Rambutnya tergerai, wajahnya menengadah ke langit, tangannya terangkat pelan, jemarinya menggenggam sesuatu yang berkilau tertimpa cahaya.
Satria memicingkan mata … lalu membeku.
Sebuah liontin, bentuknya sama persis dengan liontin yang ia simpan sejak tragedi 1998.
Satria tercekat.
Tidak mungkin … pikirnya.
Apakah liontin itu ada dua? Atau … memang sepasang?
Tangannya refleks meraba saku tempat ia menyimpan liontin lamanya.
Jantungnya berdegup tak karuan, antara tak percaya dan dihantam rasa penasaran yang membakar.
Satria masih tertegun di balik semak, matanya tak lepas dari kilau liontin di tangan Alya.
Perlahan, Alya menggenggam liontin itu lebih erat, lalu menunduk. Suaranya lirih, bergetar.
“Ma … aku kangen ….”
Air mata menetes, jatuh di atas liontin yang dipeluknya ke d**a, bahunya berguncang menahan isak.
Satria merasakan dadanya sesak, kata itu—“Ma”—menjadi pukulan tersendiri, liontin itu jelas milik Lina … dan sekarang ada di tangan Alya.
Batin Satria bergemuruh. Apa mungkin Alya tahu sesuatu? Atau liontin itu hanya peninggalan ibunya?
Suara ranting yang terinjak membuat Alya tersentak, ia buru-buru menutup genggamannya, menyelipkan liontin ke dalam saku bajunya dengan gerakan kikuk.
“Kenapa larut malam duduk sendirian?” suara Satria terdengar tenang, tapi langkahnya mantap menghampiri.
Alya menoleh sekilas, senyum kaku terulas di bibirnya. “Ah … aku hanya … tidak bisa tidur.” Suaranya terdengar gugup, tangannya masih menggenggam erat saku bajunya, seolah menyembunyikan rahasia besar.
Satria memperhatikan gerak-geriknya tajam, naluri intelijen nya langsung menangkap kejanggalan.
Ekspresi panik Alya terlalu jelas, dan tatapannya yang menghindar seolah takut ketahuan.
Liontin itu… kenapa dia sembunyikan? batin Satria bergemuruh.
Satria akhirnya berdiri di samping Alya, mencoba menjaga nada suaranya tetap ringan. “Besok pagi anda akan kelelahan kalau begadang terus,” ucapnya sambil menatap bulan, pura-pura tak curiga.
Namun dari sudut matanya, ia tetap mengawasi Alya.
“Anda terlihat gelisah,” ucap Satria pelan, suaranya dalam tapi lembut.
Alya buru-buru menggeleng. “Tidak … aku hanya kepikiran siang tadi—di rumah sakit?” Ia berusaha tersenyum, tapi matanya basah, masih menyisakan jejak tangis.
Satria tidak langsung membalas, tatapannya turun sebentar ke saku baju Alya, lalu kembali ke wajahnya. “Kadang, orang menyimpan sesuatu terlalu rapat sendirian… sampai dirinya tersiksa,” katanya, seolah melempar teka-teki.
Alya terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat, tangannya tanpa sadar menggenggam saku bajunya makin erat. “Aku… tidak mengerti maksudmu, mayor.”
Satria hanya tersenyum tipis, samar. “Sebaiknya anda tidur sekarang”.
Mata mereka bertemu—Alya berusaha menahan tatapan itu, sementara Satria menimbang setiap ekspresi kecil di wajahnya.
****
Suasana sarapan di rumah Jenderal Mardani.
Alya duduk di ujung meja, diam dan menunduk, berusaha tak menimbulkan keributan. Di sampingnya, Anindya dan Anisya—kembar identik yang selalu tampil anggun di depan orang lain—saling berbisik sambil sesekali melirik ke arah Alya.
“Kenapa kau masih makan di sini?” bisik Anindya dengan nada tajam, tapi cukup keras untuk Alya dengar.
“Seharusnya kau makan di dapur bersama pembantu,” sambung Anisya, pura-pura tersenyum manis.
Alya menggenggam sendoknya erat, menahan perih di dadanya, ia memilih diam.
Tiba-tiba, tanpa alasan, Anisya menjatuhkan segelas jus jeruk ke arah Alya, cairan oranye itu tumpah, membasahi baju Alya.
“Ups, maaf … tanganku licin,” katanya dengan tawa mengejek.
“Bajumu jadi kotor … Yah, memang cocok sih … seorang anak haram dengan baju belepotan, ngapain juga ayah bawa dia kesini, sudah bagus dia tinggal di panti asuhan, cewek UDIK!” tambah Anindya, membuat keduanya tertawa.
Alya menggigit bibir, ia berdiri pelan, berniat pergi dari meja, tapi baru dua langkah, salah satu dari mereka—Anindya—menyodokkan kaki, menjegal langkahnya.
BRAK!
Piring di tangan Alya terjatuh, pecah berhamburan di lantai.
Semua mata menoleh, nyonya Ratih hanya menatap dingin dari ujung meja, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Dasar ceroboh, malu-maluin,” sindirnya pelan, namun cukup menusuk.
“Emang malu-maluin ma” tambah Anindya.
“Cepat bersihkan!” Bentak Ratih.
“Lihat … cocok sekali kan? Memang cocoknya jadi pembantu” ucap Anisya penuh ledekan, mereka pun tertawa bersama-sama.
“Hahahhaha”
Alya merunduk, berjongkok mengumpulkan pecahan piring dengan tangan gemetar, jari-jarinya terluka, darah menetes, namun ia tak bersuara.
Dari balik pintu kaca yang terbuka, Satria melihat kejadian itu, pemandangan di dalam ruang makan membuat dadanya menegang.
Satria mengepalkan tangan, urat-urat di lehernya menegang.
Di ruang makan, Alya masih berjongkok, memungut pecahan piring sambil menahan sakit. Saat ia berdiri lagi, matanya sekilas bertemu dengan mata Satria di luar pintu.
Tatapan itu…
Alya melihat sekilas tatapan tajam Satria, bukan tatapan iba, bukan kasihan, tapi tatapan seorang prajurit yang menahan amarah.
Alya membawa pecahan piring ke dapur dengan langkah tertahan, saat ia masuk, ternyata Satria sudah ada di sana, berdiri tegap dengan sebuah kotak obat di tangannya.
“Kenapa Anda diam saja diperlakukan begitu?” suara Satria pelan, tapi tegas.
Matanya menatap lurus ke arah Alya. “Saya tidak melihat sosok pemberani seperti waktu di rumah sakit.”
Hening.
Alya menunduk, jemarinya sibuk meletakkan pecahan piring ke tong sampah, ia menarik nafas panjang, lalu berkata lirih, “Tidak ada gunanya aku berbicara, apalagi membalas, aku tahu diri … di rumah ini aku hanya numpang, bahkan lebih pantas disebut penumpang gelap.”
Alya meniup jarinya yang tergores, wajahnya berusaha menahan sakit.
“Kesini sebentar,” ucap Satria, kali ini lebih lembut.
Satria mendekat, lalu perlahan menarik tangan Alya, dibawanya jari itu ke wastafel, air dingin mengalir membasuh luka kecil di kulitnya.
Satria mengambil plester dari kotak obat, menunduk, dan menempelkan dengan teliti di jari telunjuk Alya, wajahnya yang tegas tampak serius, alis sedikit berkerut.
Alya terdiam, matanya tak lepas dari wajah pria itu, degup jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
‘Seperti apa kata Desy, dia memang ganteng’. Hati Alya berbisik.
“Sudah selesai,” ucap Satria singkat, melepaskan tangannya.
Alya terkaget dari lamunan
“Te-terima kasih …” suara Alya nyaris berbisik, pipinya merona.
Alya segera melangkah menuju kamar, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
Namun tiba-tiba tangannya berhenti di gagang pintu. Kakinya lemas, tubuhnya jatuh ke lantai. Bayangan kejadian di meja makan tadi menghantam benaknya, menusuk tanpa ampun. Bahunya bergetar, air mata pecah, berubah jadi isak yang akhirnya meledak dari dadanya.
Satria mendengar itu, dari kejauhan ia hanya bisa menatap, matanya sendu, rahangnya mengeras merasakan rasa iba, namun tak bisa berbuat apa-apa.
****
Di Rumah Sakit, Alya berdiri di depan ruangan staf Rumah sakit dengan perasaan was-waw, ia menarik napas panjang, bersiap menerima omelan.
Begitu masuk, ia mendapati seniornya sedang merapikan riasan wajah.
“Selamat pagi, Dok … mohon maaf, ke-kemarin saya telah melakukan kesalahan” ucap Alya gemetar, matanya menunduk.
Bukannya disembur omelan, sang senior malah menoleh dengan senyum ramah. “Oh, Alya, duduklah sebentar.”
Alya terkesiap. Eh? Kok?
Tak lama, kotak kecil dikeluarkan. “Aku bawa kue dari rumah, mau coba?” tanyanya sambil menyodorkan sepotong kue.
Alya makin bingung, tangannya kaku menerima kue itu. “T-terima kasih, Dok…” suaranya terbata.
Flashback.
Hari sebelumya, setelah Alya kena semprot.
“Mohon ijin dokter, ada yang ingin saya sampaikan.” Satria tiba-tiba memasuki ruang staf rumah sakit.
Senior Alya yang bernama Agnes sontak terkejut, tatapannya bergerak meneliti sosok pria yang kini berdiri tegak di hadapannya.
Wajah tampan, rahang kokoh, sorot mata tajam—dan tubuh tinggi kekar yang makin menonjol dengan pakaian santai, kaos hitam.
“I-iya, apa ya”. Wajah Agnes bengong terkesima sosok Satria di hadapanya.
“Dokter, Alya anak seorang Jenderal,” ucap Satria rendah, suaranya dalam dan penuh tekanan. “Saya harap … anda tidak main-main dengan dia.”
Bibirnya melengkung nakal. “Oh … jadi Mas nya ini pengawalnya? Pantas saja … aku selalu melihatmu di sekitar Alya”
Tatapan Agnes berubah genit, menyapu Satria dari kepala hingga kaki.
Satria tidak bergeming, wajahnya tetap dingin. “Saya mohon, anda bersikap profesional”. tegasnya, dingin.
Senior itu justru terkekeh kecil, matanya berkilat nakal.
“Tenang saja … aku kemarin cuman menguji kesabaran Alya, aku gak sungguh-sungguh kok, pengawal seganteng kamu, apa sudah punya pacar?”
Satria menatapnya tajam, tidak menjawab, membuat senior itu terdiam sejenak.
“Apa boleh minta nomor Whastap nya, biar kalau ada apa-apa dengan Alya, aku bisa langsung hubungi Mas nya” Agnes berkata dengan senyum genit
“Saya pastikan, saya tidak akan pernah berada jauh dari Alya, jadi saya rasa itu tidak perlu.”
Satria meninggalkan Agnes begitu saja, sementara Agnes masih menatap punggung Satria dengan penuh kesima.
Masa kini
Kini, Alya menggigit kue di tangannya sambil melirik senior yang tiba-tiba terlalu ramah. Ada apa ini? Kenapa bisa berubah drastis? pikirnya, kening berkerut.
“Kalau ada salah di laporanmu kemarin, jangan diambil hati ya, namanya juga belajar,” ucap sang senior dengan senyum manis, seolah tidak pernah ada bentakan atau hinaan sebelumnya.
Alya hanya mengangguk cepat, hatinya campur aduk antara lega dan bingung. “I-iya, Dok … terima kasih banyak.”
Alya melangkah keluar dengan nafas panjang, wajahnya masih bingung.
Begitu jarak aman dari pintu, ia mendengus pelan.
“Apa nenek lampir itu sedang kesurupan ya? Kok tiba-tiba baik?”
Satria yang berdiri tidak jauh dari situ nyaris tidak bisa menahan tawa, sudut bibirnya terangkat, matanya melirik Alya sekilas.
Alya sadar ucapannya terdengar keras, buru-buru menoleh. “Eh, kau dengar ya?!” pipinya merona.
Satria hanya mengangkat bahu, berusaha tetap tenang. “Saya tidak mendengar apa-apa.”
Namun senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan membuat Alya makin salah tingkah, ia cepat-cepat berjalan lebih cepat, meninggalkan Satria di belakang.
Satria menatap punggung Alya, batinya berbisik “Kadang-kadang dia seperti anak kecil yang polos, kadang-kadang dia seperti wanita dewasa yang bijak… Alya”
Di parkiran rumah sakit, Satria duduk di dalam mobil. Api rokok baru saja menyala di bibirnya ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat matanya menyipit tajam.
Satria menarik napas panjang sebelum menekan tombol hijau.
“Ada yang kau sembunyikan dariku, ya … Satria?”
Suara di seberang membuat jantungnya berdegup lebih keras dari biasanya. Untuk sesaat, rokok di jarinya hampir terjatuh.