MAYOR (Inf) SATRIA WIRATAMA

1637 Words
Beberapa hari kemudian, di Menteng. Satria berdiri tegap di depan rumah mewah bergaya modern, pintu berayun terbuka. Seorang gadis melangkah keluar dengan tenang—wajahnya cantik, sorot matanya tajam, masih sangat muda, 24 tahun. Alya Kusuma Mardani. Anak haram seorang jenderal bintang empat, Mardani sang KSAD. Gadis itu begitu dijaga, begitu disayang, karena wajahnya dianggap cerminan cinta pertama sang jenderal. Satria menunduk memberi hormat. "Mayor Satria Wiratama. Mulai hari ini, saya ditugaskan menjadi ajudan sekaligus pengawal pribadi anda, nona." Alya menatapnya tanpa ekspresi, hening menggantung di udara. Lalu, perlahan bibirnya melengkung membentuk senyum samar. "Selamat datang di hidupku, Mayor," ucapnya pelan. Belum sempat ia bertanya, Alya mendekat, jarak wajah mereka hanya beberapa inci. Tatapannya menusuk. "Pengawal pribadi ... atau mata-mata ayahku?" Nadanya dingin. **** Hujan baru saja reda, ketika mobil berwarna hitam berhenti di depan sebuah klinik kecil. Pintu mobil terbuka, Alya keluar dengan dress sederhana, rambut panjangnya tergerai, di belakangnya, Satria mengikuti dengan jarak satu meter, sikap tubuhnya tegak, mata awas mengawasi sekitar. "Apa kau harus mengikutiku terus seperti ini?" tanya Alya ketus tanpa menoleh. "Saya diperintahkan menjaga anda." Jawab Satria singkat. "Aku bukan tahanan." "Saya tidak sedang menahan anda, saya hanya memastikan keamanan anda." Alya mendengus. "Hidupku sudah cukup terkekang, sekarang ditambah satu prajurit yang bahkan tidak bisa tersenyum, sungguh luar biasa .... " Satria tidak menjawab, ia tetap berjalan, matanya meneliti setiap sudut. Baginya, percakapan itu tidak lebih penting daripada memastikan misi yang ia jalankan berjalan lancar. Tiba-tiba seorang pria asing mendekat, ia mencoba menyalami Alya, tapi Satria sudah bergerak cepat, berdiri di antara mereka. "Mohon jaga jarak," suara Satria datar tapi penuh wibawa. Pria itu terkesiap, lalu mundur sambil mendengus. Alya melipat tangan di d**a. "Kau pikir semua orang ancaman?" Satria menoleh singkat, tatapannya menusuk. "Di mata seorang prajurit, ancaman bisa muncul dari siapa saja, bahkan dari orang yang tersenyum paling ramah." Mata Alya melembut sesaat, kata-kata itu mengingatkannya pada ayahnya yang sering berkata hal serupa. Tapi ia buru-buru membuang pandangan. "Kau terlalu serius, hidup bukan cuma tentang perang mayor." Satria menahan diri untuk tidak menjawab. Di ruang kecil klinik itu, Alya disambut hangat oleh seorang dokter muda yang tengah magang, Desy, wajahnya sumringah ketika melihat sahabat lamanya. "Al, terima kasih banget udah bawain obat-obatan ini." Desy menerima paper bag cokelat polos dari tangan Alya, matanya berbinar penuh syukur. Alya tersenyum tipis. "Sama-sama, Des, Senang bisa bantu." "Hari minggu besok jadi ikut, banyak yang kangen kamu?" "Aku usahain Des" Namun, perhatian Desy cepat beralih pada sosok yang berdiri tegap di belakang Alya, Satria. Dengan sikap tubuh seperti prajurit di garis depan, tangannya bersedekap di belakang, wajahnya tenang tanpa ekspresi. Desy mencondongkan tubuh, berbisik pada Alya, "Siapa itu?" Alya melirik sekilas lalu menjawab lirih, "Pengawal, dari ayah." "Ya ampun, Al ... tampan banget, tinggi, tegap ... otot lengannya Al ... Kamu beruntung sekali, kalau aku yang punya bodyguard kayak gitu, meleleh aku tiap hari." Alya mendesah, wajahnya memerah mendengar ocehan sahabatnya. "Hush, Desy! Jangan keras-keras ..." Satria yang sedari tadi pura-pura fokus pada sekeliling, tak bisa menahan helaan napas tipis. Matanya sedikit melirik tanpa mengubah posisi tubuhnya. "Des, aku harus ke rumah sakit sekarang," ujar Alya sambil meraih sahabatnya ke dalam pelukan singkat, lalu mereka saling cipika-cipiki. Desy terkekeh kecil. "PPDS sesibuk itu, ya Al?" Alya menghela napas pendek, senyum tipis terukir di bibirnya. "Begitulah ... banyak senior yang resek, jadi ya, kuncinya banyakin sabar." Desy mendecak sambil menggeleng. "Dengar ceritamu aja aku jadi males ambil PPDS, tapi kamu hebat, Al, semangat, ya." Alya menepuk lembut bahu sahabatnya, tatapannya hangat penuh rasa terima kasih. "Makasih, Des, doain aja aku kuat." Alya melangkah pergi, langkah cepat dan mantap, disusul oleh Satria yang selalu membuntuti, wajahnya tetap tenang namun matanya waspada mengikuti setiap gerak Alya. **** Langkah-langkah mereka bergaung di lorong panjang rumah sakit, Alya mengenakan jas dokter putih, berjalan cepat sambil menenteng map pasien. Di samping Alya, Satria melangkah tenang, wajahnya datar, tubuh tegap dengan gerak penuh kewaspadaan. "Mayor, bisa nggak tunggu di parkiran saja?" protes Alya dengan suara rendah tapi ketus. "Saya ini lagi PPDS, bukan sedang jalan-jalan di mall." Satria menoleh sekilas, suaranya tegas tanpa nada kompromi. "Saya mengikuti perintah ayah anda, tugas saya tidak boleh meninggalkan anda, walau sebentar." Alya mendengus, langkahnya makin cepat. "Tapi ini rumah sakit, bukan medan perang, semua orang di sini sibuk, nggak akan ada yang mau mencelakai ku..." Alya berhenti mendadak, lalu menoleh ke Satria, matanya menyipit, lalu ia mengangkat tangan, memberi isyarat seperti komandan kecil. "Ya sudah, tapi jangan terlalu dekat, beri jarak ... lima meter." Satria menahan diri, berdiri tegak tanpa mengubah ekspresi. Alya mengibaskan tangannya ke belakang, gerakan jelas menyuruh mundur. "Mundur ... lagi ... lagi." Satria mundur beberapa langkah, dan tetap menjaga sikap waspada, matanya tetap mengawasi setiap sudut lorong. Alya puas, meski bibirnya masih manyun. "Nah, begitu lebih bagus." Satria hanya diam, tapi dalam hati ia sempat menghela napas panjang, menjaga Alya ternyata lebih rumit daripada operasi militer di Papua. **** Lorong rumah sakit yang ramai tak mampu meredam suara lantang seorang dokter senior yang sedang memarahi Alya. "Kamu ini gimana sih? Laporan pasien kok bisa berantakan begini?!" bentak senior itu, wajahnya merah padam. Alya menunduk sopan, jari-jarinya mengepal di balik map. Bukankah tadi kau yang minta bagian itu dihapus... sekarang malah minta ditulis kembali, aneh sekali... gumamnya dalam hati, bibirnya tertarik kesal. Satria, yang berdiri agak jauh, tetap menjaga sikap tegap. Dari posisinya, ia bisa melihat wajah Alya yang berusaha menahan jengkel. Begitu senior itu pergi, suasana kembali normal, Alya menghela napas kasar, lalu tiba-tiba meledak dengan suara rendah tapi penuh amarah. "Dasar senior sinting! bikin bingung, bikin capek, sok paling pintar, sok cantik, sok keren—padahal kerjaannya cuma nyuruh-nyuruh!" gerutunya sambil menendang kecil kaki meja. Satria menoleh, alisnya terangkat tipis, melihat Alya meracau, menyumpahi seniornya dengan wajah merah dan tangan berkacak pinggang, ia tak bisa menahan senyum. Sudut bibirnya terangkat, ada geli yang sulit ia sembunyikan. Beberapa saat kemudian Alya berdiri di hadapan meja kerja seniornya, menyerahkan berkas laporan yang sudah di revisi kembali. Seniornya yang masih berdandan hanya melirik sedikit, kemudian baru membuka bagian depan langsung menggerutu keras. "Kenapa masih salah begini? Dari tadi saya bilang berkali-kali, kok nggak paham juga?!" suaranya meninggi, nada meremehkan menusuk telinga. Alya menunduk, berusaha menahan gejolak di dadanya. Jemarinya meremas map putih hingga kertas di dalamnya nyaris berkerut. Sudah delapan kali revisi ... delapan kali, bukankah tadi sesuai permintaanmu? nenek lampir! Gumamnya dalam hati. Alya menarik napas panjang, menahan sabar, namun ketika senior itu kembali menuding tanpa membaca, sesuatu dalam diri Alya meledak. Kepalanya terangkat, tatapannya tajam, suaranya pecah lantang, membuat beberapa orang menoleh. "Saya mohon maaf kalau terdengar lancang, Dokter!" ujarnya tegas, setiap kata penuh penekanan. "Tolong baca baik-baik laporan saya ini sebelum berkomentar, ini sudah revisi ke delapan kali! Kalau masih salah juga, silakan senior bikin sendiri, karena pada dasarnya ... ini tugas senior, bukan tugas saya!" Hening—ruangan yang tadi dipenuhi suara ketikan dan langkah kaki mendadak sunyi. Alya meraih mapnya kembali, menaruhnya dengan sedikit hentakan di meja, lalu berbalik. Langkahnya mantap, derap sepatunya terdengar tegas mengiringi keluarnya dari ruangan. Dari kejauhan, Satria yang menyaksikan seketika membeku di tempat, tatapannya mengikuti punggung Alya yang menjauh dengan kepala tegak. Bibirnya terkatup, tapi sorot matanya jelas, tercengang, bahkan sedikit kagum. Gadis itu ... benar-benar berani. Begitu Alya keluar ruangan, langkah Alya yang tadinya mantap mulai melambat, nafasnya masih tersengal, sisa amarah bercampur gugup. Ia berhenti di dekat dinding, lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Aduh ... kenapa tadi aku malah membentak senior," gumamnya dengan suara panik. Tangan kanannya terangkat, mengacak-acak rambutnya sendiri hingga berantakan. "Mampus aku kalau senior lapor ke konsulen, habis aku ..." Suara Alya terdengar merengek. Dari beberapa langkah di belakang, Satria menyandarkan bahu ke dinding, memperhatikan Alya dengan ekspresi geli. "Kalau saya boleh jujur," ucapnya tenang, membuat Alya langsung menoleh. "Tadi itu ... keren sekali." Satria tersenyum tipis. Alya membelalak. "Keren apanya?! Aku ini cari mati! Bisa tamat riwayatku sebelum jadi spesialis." Satria mengangkat bahu ringan. "Tapi paling tidak ... mereka jadi tahu anda bukan tipe yang bisa diinjak-injak." Alya mendengus, lalu menunduk sambil kembali mengacak rambutnya sendiri. "Ya ampun ... jangan ikut-ikutan bikin aku makin frustasi, dong." Satria tersenyum tipis. Baginya, tingkah gadis itu—antara marah, panik, lalu malu sendiri—lebih menghibur, hal yang tidak pernah terbayangkan selama ini. **** Malam itu, rumah besar Jenderal Mardani tenggelam dalam kesunyian, Satria melangkah perlahan, tubuhnya menyatu dengan gelap, detak jantungnya beradu dengan langkah kaki yang teredam. Instruksi seseorang masih terngiang jelas di telinganya: "Pasang dulu alat rekam, kita butuh semua percakapan Mardani, dokumen itu nanti bisa kau cari setelah waktunya tepat." Dengan cekatan, Satria memasang mikrofon mungil di bawah meja, lalu kamera mini di rak buku yang menghadap langsung ke kursi kerja. Semua sesuai rencana, namun ketika ia hendak pergi, matanya menangkap laci yang tak tertutup rapat. Satria terdiam, nafasnya berat. Sejenak ia menimbang, lalu dengan perlahan menarik laci itu. Di dalamnya terselip beberapa map berdebu dan tumpukan foto lama. Tangannya berhenti pada satu foto—seorang wanita muda, wajahnya teduh, cantik, dan mirip sekali dengan Alya. Namun yang membuat darahnya berdesir bukan sekadar kemiripan itu, di leher wanita itu tergantung sebuah liontin perak berbentuk lingkaran. Liontin yang sama—yang ia simpan hingga kini—dari malam kelam tragedi penculikan di rumahnya. Satria terpaku. "Lina..." bisiknya nyaris tak terdengar saat ia mengeja tulisan di balik foto itu. Itulah nama ibu Alya, wanita di foto itu. Pikiran Satria berputar cepat, dugaan awal bahwa salah satu prajurit bersenjata yang menyerbu rumahnya malam itu adalah Mardani, dan kini, foto itu seakan menjadi potongan puzzle yang menguatkan kecurigaan tersebut. Tangannya meremas foto itu, rahangnya mengeras. "Kau akan menerima akibatnya" Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar di luar pintu. Satria menoleh cepat, tubuhnya menegang. BRUKK ... BRUKK ... Langkah kaki di luar ruangan terdengar jelas. Satria sontak menoleh, matanya menajam. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya refleks meraih gagang pistol di pinggang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD