Satria menangkap ekspresi Alya yang begitu antusias melihat pria berkulit putih dan berparas tampan itu. Ada desiran tak nyaman yang tiba-tiba muncul. Satria merasa terganggu. “Kapan kak Rey balik?” tanya Alya, matanya masih memancarkan keterkejutan dan kegembiraan yang tulus. “Tiga hari yang lalu Al,” ucap Rey ramah, membalas tatapan Alya. Alya segera meletakkan tas ranselnya di lantai, di bawah meja periksa. Ia lalu mengambil tempat duduk di sebelah Rey dengan gerakan cepat yang menunjukkan keakraban. “Hai Sita,” sapa Alya pada anak yang sedang diperiksa Rey. Anak kecil bernama Sita hanya tersenyum malu-malu, mencengkeram roknya. “Mas … mari silakan duduk.” Bunda Eni, yang memperhatikan Satria berdiri kaku, segera menghampiri dan mempersilakannya. “Terima kasih,” ucap Satria. Ia b

