Minibus yang membawa Mayor Satria berhenti tepat di depan kediaman mewah Jenderal Mardani. Satria turun, dipandu oleh prajurit yang mengawalnya. “Apa aku harus kabur sekarang, sebelum terlambat?” Batin Satria berbisik gelisah, matanya menyapu sekeliling rumah yang terasa mencekam. “Mari, Mayor Satria. Jenderal sudah menunggu.” Prajurit itu berkata, nadanya mendesak setelah melihat keraguan jelas di setiap langkah Satria. Mereka tiba di ambang pintu ruangan kerja Mardani. Satria melangkah masuk. BAMB! Pintu besar itu tertutup rapat dari luar dengan suara memekakkan, memutus jalan keluar Satria. Di dalam, Jenderal Mardani duduk tegak di kursi kebesarannya, wajahnya dingin dan serius. “Selamat malam, Jenderal!” Satria memberi hormat militer dengan sempurna, berusaha menyembunyikan get

