Mardani Curiga?

1305 Words

FLASHBACK Sehari setelah Mardani pulang dari rumah Alya, ia duduk di ruang kerjanya. Raut wajahnya masih tertekuk, jelas menunjukkan kekecewaan atas penolakan dingin Alya. Tok! Tok! Tok! “Masuk,” ucap Mardani, suaranya sedikit berat karena suasana hatinya yang buruk. Seorang ajudan, dengan seragam rapi, masuk dan langsung memberi hormat sempurna. “Ada apa?” tanya Mardani, tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan berkas di meja. “Izin menyampaikan satu hal, Jenderal!” ucap ajudan itu dengan nada yang lantang dan tegas. “Tentang apa itu?” tanya Mardani, sedikit malas-malasan, gestur yang kontras dengan formalitas ajudannya. “Begini, Jenderal. Berdasarkan pengamatan saya …” Sang ajudan terdiam sejenak, terlihat ragu untuk melanjutkan laporannya yang sensitif. “Lanjutkan!” perintah M

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD