WEDDING FASHION:3|Lagu Pengantar Tidur

1230 Words
*** Uli tidak pernah sekalipun merasa bahwa bekerja sebagai seorang pengasuh itu mudah. Kata orang, hati seorang bayi dan juga anak kecil itu jujur. Ia tahu mana yang mencintainya dengan tulus dan mana yang hanya berpura-pura. Uli sudah membuktikannya. Sebisa mungkin Uli mengikhlaskan dirinya dalam merawat asuhannya agar si baby menyukainya seperti dirinya yang menyukai para bayi ataupun anak-anak. Mirenda Dhakela Adiwangsa misalnya, bayi mungil yang baru beberapa minggu lalu terlahir dari rahim Mikela Putri, kini tengah tertidur nyaman dalam pelukkan Uli. Semua orang yang ada di dalam kamar itu menatap takjub terhadap Uli karena berhasil menenangkan Mirenda yang tadinya menangis histeris. Bahkan ibu kandungnya sendiri pun kewalahan membujuk si bayi mungil Mirenda. Entah kenyamanan apa yang ditawarkan Uli hingga membuat Mirenda tenang dalam dekapannya. "Maaf ya Uli, kamu jadi ikut repot ngurus Mirenda padahal kamu itu babysitternya Saadan," Kela merasa sangat bersalah pada Uli. Uli menggeleng. "Aku sama sekali nggak keberatan kok, Mbak. Aku memang sangat suka sama anak kecil," balasan Uli membuat Kela sedikit lega. "Nanti gaji kamu Abang tambahin Ul." Ucap Dhafin. Sejak pertemuan di rumah sakit hari itu, Kela meminta Uli untuk memanggil Dhafin dengan panggilan Abang sama seperti Danar. Mengingat ucapan Dhafin tadi, Uli sebenarnya merasa tidak perlu ada penambahan uang gaji. Dia benar-benar ikhlas membantu Kela untuk mengasuh Mirenda. Tapi kalau dirinya menolak tentu akan menimbulkan banyak tanya. Jadi yang bisa Uli lakukan hanya menganggukan kepala sambil mengucapkan terimakasih. Bekas sedu sedan tangisan Mirenda mengalihkan fokus mereka pada bayi itu. Kela meringis mendapati anak gadisnya histeris seperti tadi. Ia tahu ini salahnya. Dulu, saat melahirkan Saadan pun Kela mengalami sindrom babyblues. Sama halnya dengan Mirenda. Kela merasakan dirinya mulai berubah lagi. Ia sangat membenci dirinya yang seperti ini. Sebisa mungkin Kela berusaha menghalau ketakutannya dalam menjaga Mirenda. Tapi tetap saja, Kela merasa takut gagal ketika Mirenda berada dalam pelukkannya. Ia takut apa yang ia lakukan akan menyakiti anak gadisnya itu. Di sisi lain juga, dirinya takut Saadan merasa di duakan oleh Mirenda. Takut Saadan merasa tidak diperhatikan lagi. Semua ketakutan itu benar-benar mempengaruhi emosi Kela. Kadang dirinya menangis, ia tersiksa. Di saat seperti itulah Kela sangat membutuhkan Dhafin. Beruntung, Dhafin memang sudah mengerti situasi yang seperti ini. Meskipun terbilang cukup cepat dari yang dulu, tapi Dhafin selalu siap siaga menyemangati istrinya. Dia tidak pernah sekalipun meninggalkan Kela meskipun pekerjaannya menumpuk. Puncak ketakutan Kela adalah pagi ini. Ia syok melihat baby Mirenda sudah membiru ditangannya akibat terlalu lama dimandikan. Mungkin Kela melamun. Entahlah, dirinya tidak tahu pasti apa yang terjadi. Yang ia ingat dia ingin memandikan Mirenda dan berakhir Mirenda membiru karena kedinginan. Kela histeris begitupun dengan baby Mirenda. Mungkin karena perasaan tertekan yang dialami Kela itulah yang membuat Mirenda tidak nyaman. Meskipun sempat bisa ditenangkan oleh Kela tapi tetap saja Mirenda kembali menangis dalam waktu berselang dua menit. Dhafin yang memang cuti demi menjaga anak istrinya segera berlarian mendengar nada cemas dan tangisan dari istri dan anaknya itu. Pun, Uli menyusul beberapa saat kemudian bersama Saadan dan satu orang babysitter lagi untuk Mirenda. Tubuh Kela gemetar, maka dengan inisiatifnya sendiri Uli memberikan Saadan pada pengasuh Mirenda dan ia sendiripun mengambil alih Mirenda dalam gendongan Kela. Uli mendekap Mirenda sambil membisikkan entah apa. Baby Mirenda diam sejenak, lalu menangis lagi. Uli mengayunkan Mirenda pelan-pelan sambil menyanyikan lagu tidur dengan bisikan lirih hingga akhirnya baby Mirenda tertidur. "Ini Mbak, Mirenda sudah tenang. Tadi dia juga pasti ikut tertekan karena ibunya sedang tertekan," Uli memberikan Mirenda pada Kela. Awalnya ia ragu tapi Dhafin dan Uli menyemangatinya tanpa henti. Kela akhirnya mengambil Mirenda dari dekapan Uli dengan hati-hati. "Tenang aja Mbak. Nggak apa-apa. Mbak sudah pernah melahirkan dan Saadan tumbuh jadi anak yang sangat cepat tanggap. Aku yakin Mbak juga bisa menjaga, merawat dan membesarkan Mirenda. Mbak aja bisa percaya sama aku dalam merawat buah hati Mbak, aku yakin Mbak jauh lebih bisa dariku. Ya kan Bang Dhafin?" setelah memberikan support untuk Kela, Uli meminta persetujuan Dhafin karena bagaimanapun juga semangat dari seorang suami itu sangatlah penting. Dhafin mengangguk. Ia memegang kedua bahu Kela. "Betul sayang. Aku yakin kamu bisa. Aku, Saadan dan Mirenda sangat mencintaimu. Kamu istri dan seorang ibu yang baik untuk kami," ucap Dhafin. Kela terharu. Ia melihat putri kecilnya tertidur begitu nyenyak. Hampir saja dirinya kehilangan Mirenda. Tidak! Kela tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Didekapnya Mirenda dengan penuh kasih sayang. Diciumnya seluruh wajah bayinya itu sampai si bayi terbangun. Tapi, Mirenda tidak lagi menangis. Ia justru seolah meminta dipeluk lagi oleh ibunya. Kela melakukan itu. Ia memeluk Mirenda dangan lembut. Menggumamkan kata maaf yang lirih. Uli yakin perempuan dua anak itu bisa melewati masalah yang membuatnya hampir saja kehilangan bayi mungil secantik Mirenda. Lagi pula sebagai seorang pengasuh, ikut membantu majikan adalah tugasnya. "Terimakasih Uli," ucap Kela penuh haru. Uli mengiyakan itu dengan enggukan. Ia senang apabila bisa membantu. Dibalik kesibukan mereka menenangkan Mirenda, ada seseorang yang diam-diam mendadak menjadi detektif. Danar, iya dia orangnya. Sejak tadi dirinya terpaku menatap sosok perempuan yang dari pertama kali bertatap muka di depan gerbang telah dicapnya sebagai pencuri. Lebih spesifik lagi adalah pencuri perhatiannya. Danar mendengus, mana mungkin si pengasuh bisa mencuri perhatiannya sedemikian rupa hanya karena dia menyanyikan lagu pengantar tidur? Tapi Danar merasa waktunya berhenti saat Uli dengan lembut membuai Mirenda hingga ke alam mimpi. Dalam pandangan Danar, perempuan itu sama sekali bukan typenya. Abaikan pekerjaannya, dari penampilan pun Danar sama sekali tidak tertarik pada Uli. Tapi entah kenapa sejak hari pertama itu, diam-diam Danar tahu Uli menarik dirinya dari Mikela Putri, istri kakak sepupunya sendiri yang sampai saat ini masih dicintainya. Danar menggeleng. Beberapa kali dirinya menekankan kalau Uli si pengasuh bukan perempuan yang pantas ia cintai seperti Kela. "Setidaknya belum." Danar melotot mendengar suaranya yang lirih ketika berusaha menyanggah isi pikirannya sendiri. "Astaga! Apaan sih??!" Kesal juga Danar karena otak dan hatinya tidak sejalan. "Lohh Danar? Sejak kapan kamu di situ?" tanya Dhafin. Rupanya teriakan Danar terdengar oleh mereka. Danar merasa salah tingkah. "Baru aja!" jawabnya sambil melirik Uli. "Mirenda kenapa, Mbak?" Kali ini Dhafin melotot. Dirinya kaget mendengar Danar memanggil istrinya dengan sebutan yang kata Danar anti dia katakan. "Tumben pakai embel-embel Mbak ke istriku," sindiran Dhafin mengena di hati Danar. Gerakan tubuhnya semakin salah tingkah. "Itu, apa.. A.. Aku takut dihajar Lili." Untung saja Danar ingat kalau hari itu, saat Kela melahirkan, Lili sempat mengatakan akan menghajarnya jika ia masih memanggil nama terhadap Kela. Dhafin menganggukkan kepalanya. "Bagus!! Seenggaknya Lili berhasil mengehentikan kekonyolan kamu setelah sekian lama mengancam akan menghajarmu kalau masih nyebut nama istriku tanpa memanggilnya dengan panggilan yang seharusnya." Danar meringis. Ia tahu betul kalau Dhafin sama sekali tidak mempercayai alasannya. Tapi, memangnya kenapa kalau Danar sekarang lebih suka memanggil Kela dengan cara seperti itu? Toh, Dhafin juga merasa senang, kan? "Udah dong, Bang! Apa perlu aku ganti jadi sayang?" sekarang Danar yang menggoda Dhafin. Lihat saja, ayah dua anak ini pasti kebakaran jenggot kalau sampai Danar benar-benar menyematkan panggilan itu pada Kela. "Simpan panggilan sayangmu untuk perempuan lain." Kata Dhafin tegas. Kela hanya menggeleng melihat kelakuan duo rival di masa lalu ini. Kela mengalihkan perhatiannya pada Uli. "Kamu boleh istirahat, Ul. Saadan biar sama Mbak Asih dulu. Aku masih mau sama Mirenda," katanya. "Bagus. Ayo!" Uli sama sekali tidak mengiyakan. Itu yang bicara adalah Danar. Ia bahkan sudah menarik Uli keluar dari kamar. Kelakuan Danar meninggalkan tanda tanya besar pada Kela dan Dhafin. Tapi setelahnya mereka terkekeh seakan mengerti apa yang terjadi. Tbc. Jangan lupa like :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD