Danar membawa Uli ke taman belakang rumah. Ia menghempaskan tangan Uli tepat ketika mereka sampai di sana. Uli diam saja. Dirinya hanya menampilkan ekspresi penasaran. "Kamu ngapain nyanyiin Mirenda lagu itu?" tolong katakan siapa saja yang bingung dengan pertanyaan Danar ini. Karena Uli tidak tahu harus menjawab apa.
Danar menggeram kesal ketika bermenit-menit Uli sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. "Kalau orang nanya tuh ya dijawab dong!" kekesalan Danar meningkat.
Uli menghela napasnya dengan berat. "Memangnya apa yang harus saya jawab, ya? Pertanyaan kamu nggak masuk akal." Balas Uli dengan santai. Danar menyipitkan matanya. Ia tidak tahu kenapa kekesalannya bertambah saat Uli menjawab sesantai itu.
"Kamu..." tunjuknya. Matanya menyipit akibat rasa kesal yang semakin meningkat.
"Apa?!!!" sentak Uli sebelum Danar berhasil menuntaskan kalimatnya. Sumpah mati Uli juga ikut kesal terhadap makhluk Tuhan yang satu ini.
Ganteng sih ganteng, tapi sikapnya itu yang bikin Uli panas dingin. "Memangnya kamu siapa huh? Enak aja ngatur-ngatur orang sembarangan. Terserah saya mau nyanyi lagu apa!" napas Uli terasa berkejar-kejaran karena si Danar ini.
"Mulai sekarang kamu pasangan saya!"
Sinting! Uli ingin sekali menyuarakan itu tapi dirinya terlalu kesal pada Danar. Makanya Uli lebih memilih pergi dari pada ikut sinting bersama lelaki ini. Apa katanya tadi? Menjadikan Uli sebagai pasangan? Jangan harap!
"Mau ke mana kamu?" Danar mendesis. Ia menarik lengan Uli agar si pemilik lengan kembali berada di hadapannya. "Kamu pikir aku patung huh? Kenapa nggak ngomong apapun??" Danar sama sekali tidak merubah cara bicaranya.
Sendainya saja dia mau sedikit lebih lembut seperti di rumah sakit saat bersama keluarganya, mungkin Uli bisa mempertimbangkan perkataannya mengenai pasangan. "Astaga!!" Uli menggeleng. Apa itu tadi yang ada dalam pikirannya? Jangan sampai ia benar-benar berpasangan dengan sosok sedingin Danar.
"Amit-amit." Pikirnya.
"Kenapa? Mulai berpikir yang nggak-nggak?" pertanyaan macam apa itu?? Masalahnya apa yang Danar tanyakan bisa jadi pernyataan karena memang Uli baru saja berpikir macam-macam.
Uli menggeleng. Bukan untuk menjawab pertanyaan Danar tapi mencoba lari dari kenyataan bahwa dia mulai sedikit salah tingkah di depan Danar. "Siaga satu nih." Pikir Uli.
"Hehhh pengasuh! Jangan diam aja!" bentak Danar. Ingin sekali Uli membungkam mulut Danar dengan sesuatu yang tak terduga. Tapi sudahlah. Manusia semacam Danar tidak akan jera sebelum ia mendapatkan apa yang dia mau. Ck. Uli berdecak. Sudah cukup dirinya bermain-main dengan Danar. Tugasnya di sini adalah babysitter Saadan, bukan pengasuh bayi besar macam si Danar yang kerjaannya uring-uringan sepanjang bersamanya.
"Lepasin lengan pengasuh ini Pak Danar yang terhormat. Melihat pedasnya cara anda bicara, saya yakin anda sangat tidak sudi berdekatan dengan saya. Jadi tolong lepaskan saya agar anda terbebas dari rasa jijik." Sindiran Uli seharusnya bisa membuat si Danas speechless tapi lihat! Danar justru tersenyum misterius. "Kalau aku nggak mau gimana?" tanya Danar tanpa berkedip sedikitpun.
Uli mendelik. Menurutnya Danar ini sangat aneh. Uli kebingungan menghadapi sikap Danar yang suka seenaknya sendiri. "Lepas!!!" kesalnya.
Sayang sekali Uli tidak tahu kalau Danar ini keras kepala. "Nggak!!" balasnya.
"Jangan menggertakan gigi!" geram Danar saat ia mendengar Uli menggertakan giginya karena overdosis terhadap rasa kesal.
"Mau kamu apa??" tanya Uli bosan.
Danar tersenyum miring. "Mauku, kamu patuh sama aku."
What the hell.
Uli pikir Danar benar-benar sinting. Pertanyaannya adalah kenapa ia harus patuh sama Danar?? Mereka bukan siapa-siapa selain dua manusia yang belum lama saling mengenal. "Sorry?" Uli ingin Danar mengulangi perkataannya. Dan dengan senang hati Danar melakukan itu, "Kamu harus patuh sama aku. Paham?" Danar sengaja memberi tanda tanya diakhir kalimatnya.
Uli memutar bola matanya. "Kalau sampai aku mengiyakan permitaan kamu, itu artinya aku udah nggak waras. Permisi." Uli membalas dengan sinis. Niatnya langsung ingin kembali ke dalam rumah setelah mengatakan itu tapi lagi-lagi Danar menggenggam pergelangan tangannya. Uli benar-benar geram. Kali ini tanpa segan ia hempaskan tangan Danar. Perbuatan itu membuat Danar terkejut. Tapi tak lantas membuatnya melepaskan Uli.
"Emmhh..." Uli terkejut setangah mati.
Pun, Danar merasakan hal yang sama. Ia tahu ini salah tapi..
"Kepalang basah, nyebur aja sekalian." Dalam hati Danar. Maka, untuk pertamakalinya ia melumat bibir Uli dengan lembut.
Sepersekian detik terasa begitu lambat. Uli malu saat sadar kalau dirinya sempat menikmati semua itu. Ia mendorong tubuh Danar sekuat tenaga. "b******n!" bentaknya. Danar tidak suka dengan tuduhan itu tapi ia tidak bisa mengelak. Uli benar, dia memang b******n. Lagi pula Danar terlalu terkejut dengan sensasi yang baru saja ia rasakan.
"Mau apa?" teriak Uli saat Danar mendekat.
Danar mendengkus. "Mau kamu!" jawabnya. "By the way bibir kamu manis juga." Lanjutnya sambil terkekeh.
Uli menganga. Melihat cara Danar menciumnya tadi, ia cukup paham kalau Danar sering melakukan hal ini dengan perempuan lain.
Tangan Uli terangkat, telapaknya mengenai pipi Danar dengan kuat. "Pencuri!" Danar meringis mendengar penuturan itu. Astaga!! Uli benar-benar merasa dirinya telah dilecehkan. "Jangan lupa kamu juga sempat menikmatinya," dewi bathin sialan. Uli ingin memaki dirinya sendiri.
"Sorry, aku lost control," ucap Danar. Ia bersungguh-sungguh dalam meminta maaf. Tapi bagi Uli, lelaki ini tidak bisa dimaafkan. Sepanjang ia berpacaran dengan mantan kekasihnya, ia sama sekali tidak mengizinkan si kekasih lancang menyentuh apa lagi mencium bibirnya. Itu juga yang membuat Uli kehilangan mantan pacarnya.
Danar adalah orang pertama yang mencium dirinya. Wajar kalau Uli sempat terlena dengan sensasi dari sebuah ciuman lembut yang telah Danar berikan. Tapi, tetap saja Uli kesal, sebenarnya malu.
Wajah Uli memerah. Ia ingin menampar Danar lagi tapi kali ini tangan Danar menahan tangannya. "Cukup satu kali kamu tampar aku, babysitter." Cara bicara Danar kembali sinis. Danar merasa Uli keterlaluan. Ini hanya sebuah ciuman yang dengan sengaja ia berikan selembut mungkin agar Uli ikut terlena. Tapi hey, Uli tidak perlu melakukan kekerasan sampai menamparnya. Apa lagi ia dengan sangat merendahkan diri memohon maaf padanya.
"Kamu pantas aku tampar! Dasar pencuri!" teriak Uli. Dirinya kini menampar d**a bidang Danar.
Danar menangkap pergelangan tangan Uli. "Jangan bilang ini pertamakalinya kamu di cium?" salah satu sudut bibir Danar terangkat. Entah kenapa dirinya sedikit senang mendengar kenyataan itu.
"Nggak usah dijawab. Aku bisa menebaknya," kata Danar dengan bangga. "Jangan pernah lakukan hal itu sama orang lain, paham!" Uli tidak paham kenapa Danar mendadak seperti seseorang yang berkuasa. Dan dirinya semakin tidak paham ketika mendapati kalau iapun menganggukan kepala. Ohh astaga!!!
TBC.
Spam komentar yang banyak ya biar cepat-cepat update