***
Kediaman keluarga Kela sedang sibuk-sibuknya karena akan mengadakan acara syukuran atas kelahiran Mirenda. Sebagai babysitter, Uli selalu siaga dalam membantu mengasuh bayi. Apa lagi akhir-akhir ini Sadaan sedikit rewel. Mungkin ia merasa kesepian karena Kela memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Mirenda.
Tapi Uli menyiasati semua itu dengan cara mengajak Sadaan jalan-jalan. Waktu libur Uli pun terpaksa ditiadakan karena keadaan. Namun Uli diperbolehkan membawa Sadaan keluar rumah demi mengalihkan Sadaan dari perasaan diskriminasi dari ibunya yang tidak disengajakan.
Uli membawa Sadaan ke rumahnya. Kebetulan ia sedang ada pekerjaan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sera menyambut Uli dengan helaan napas beratnya. "Mau aja ya kamu repot kayak gini! Padahal..."
Belum selesai Sera menuntaskan kalimatnya tapi suara Uli mengintrupsinya. "Jangan mulai, Ra!" ujar Uli yang tahu kalau sahabatnya itu akan kembali membahas keputusannya ini.
Sera mengedikan bahunya. Ia tahu Uli dan keputusannya tidak akan pernah bisa diganggu gugat.
"Jadi, anak asuh kamu yang sekarang namanya siapa?" tanya Sera.
Uli tersenyum. Ia menatap Sadaan penuh cinta. "Namanya Sadaan. Ayo sayang kenalan sama tante Sera," Uli membawa telapak tangan Sadaan ke depan Sera. Tapi Sadaan terlihat enggan. Perasaannya lembut. Ia tahu Sera tidak menyukainya.
Uli mendelik kearah Sera. "Dia balita Sera! Jaga sikap kamu!" kesal Uli.
"Iya ih becanda doang." Balas Sera.
Uli memutar bola matanya. "Apanya yang bercanda? Aura kamu beda." Katanya.
"Bisa aja kamu, Ul." Sera terkekeh.
Ia menatap Sadaan yang juga menatapnya. Sera terkesiap. Wajar Uli menyukai balita ini. Ia lucu sekali. Sera mengulurkan tangannya untuk menggendong Sadaan. "Sini sama tante Sera," ajaknya. Ajaib, Sadaan terkikik sambil berbicara dengan bahasanya sendiri.
Akhirnya Uli bisa mengerjakan pekerjaan tanpa harus memangku Sadaan karena balita itu sudah asyik terkikik bersama Sera.
Uli mengernyit saat melihat berkas yang harus ia tanda tangani. "Banyak amat, Ra." Ucap Uli.
"Iyalah. Kamu kabur hampir sebulan ini." Balas Sera tanpa melihat kearah Uli.
Sera benar. Sejak menjadi pengasuh Sadaan, baru kali ini Uli sempat datang kembali ke rumah yang mereka jadikan kantor kedua.
"Kita punya desainer baru, Ul. Mama kamu yang merekomendasikannya."
"Oya? Lulusan dari mana?" tanya Uli.
"Sama kayak kita. Esmod," jawab Sera sambil curi pandang kearah Uli. Tapi Uli tidak menatap kearahnya.
Uli mengangguk. Dia dan Sera memang lulusan Esmod Jakarta. Sera seorang desainer sekaligus berperan sebagai asisten pribadi Uli dan Uli sendiri juga seorang perancang gaun pengantin sekaligus anak dari pemilik Butik Wedding Fashion, Ana Hutama, ibu kandung Uli.
Ibunya memang pemilik Wedding Fashion tapi bukan seorang desainer. Ibunya seorang pengusaha sama seperti ayahnya. Itulah kenapa Ana berambisi sekali memberikan Wedding Fashion untuk Uli karena Ana ingin menjadi ibu rumah tangga saja. Hutama yang memang sejak dulu melarangnya bekerja sangat antusias mendengar keinginan itu maka segala cara ia lakukan termasuk terus saja mendesak Uli dengan cara memberikan pilihan 'siap di jodohkan' atau 'mengambil alih Wedding Fashion' maka sejak itu pula Uli memilih Wedding Fashion karena ia tidak akan pernah siap dijodohkan. Lagi pula dirinya tahu, Ana memang menyiapkan itu untuknya mengingat dari awal ia sudah diarahkan pada dunia desainer.
Uli termenung. Ia mengambil handphone lalu mendial nomor Ana. Iya, sejak hari itu Uli sama sekali belum menghubungi ibunya karena merasa selalu diatur oleh ibunya sejak kecil.
Dering pertama dan ia sudah mendengar suara antusias dari seberang sana. "Halo mama," sapa Uli.
"Delia anak mama," Ana terharu. Ia tahu putri satu-satunya itu enggan mengikuti kemauannya untuk meneruskan Wedding Fashion tapi Ana tidak punya pilihan lain. Usaha yang sejak dulu ia rintis sendirian tanpa campur tangan suaminya itu tidak mungkin ia biarkan terbengkalai begitu saja. Sedangkan anak laki-lakinya yang lain tentu akan meneruskan usaha suami.
Uli merasa bersalah. Ia tahu betul mamanya tidak punya pilihan lain selain dirinya. Sebenarnya, Uli juga suka merancang busana pengantin tapi ia juga nyaman menjadi pengasuh bayi.
"Mama apa kabar?" tanya Uli.
"Baik sayang. Kamu gimana? Maafin mama ya," Uli menggeleng mendengar mamanya meminta maaf. "Delia yang harusnya minta maaf mama. Maafin Delia yang udah egois," ucap Uli.
Ana terkekeh, Delianya memang begitu. Delia adalah putri kecilnya yang penurut maka satu lagi rencananya yang juga harus terlaksana. Ana tahu ini yang terbaik untuk putrinya meskipun ia harus perang dingin dengan Delia, tidak apa-apa asal pada akhirnya Delianya bahagia. Sebagai seorang ibu, Ana akan mencobanya, ia akan melakukan yang terbaik.
"Delia dengar mama punya desainer baru untuk Wedding Fashion? Siapa ma?" tanya Uli mengalihkan pembicaraan.
Ana terkekeh. "Iya sayang. Namanya Kerlin Lafuso. Kamu pasti kenal," mata Uli seketika melotot mendengar jawaban mamanya.
"Maksud mama, Lin??? Anaknya om Fuso??" teriakan Uli sampai membawa Sera mendekat.
Sera bertanya lewat gerakan mulutnya. Uli mengabaikan itu karena ia masih mendengarkan mamanya bicara.
"Iya, teman kecil kamu dulu."
Astaga! Ini tidak benar. Dulu, memang Kerlin atau yang biasa dipanggil Lin adalah teman kecilnya. Tapi sejak ia tahu Lin adalah selingkuhan mantan pacarnya maka Lin bukan lagi temannya.
"Mama aku tutup telponnya dulu. Aku masih punya kerjaan." Uli buru-buru menutup telponnya dan menatap Sera dengan cemas.
Sera mengernyitkan keningnya. "Kenapa sih?" tanyanya penasaran.
"Lin, Kerlin Lafuso, dia kan yang jadi desainer baru di Wedding Fashion?" Sera memucat. Ia tadinya ingin langsung memberitahu Uli tapi melihat Uli yang tidak lagi bertanya, maka Sera mengurungkan niatnya itu. Namun ketika pertanyaan itu terucap juga dari mulut sahabatnya, Sera merasa kelu untuk menjawab.
Uli mencengkeram bahu Sera. "Jawab, Ra. Kasih tau aku kalau ini nggak benar!" Sera menghela napasnya. "Sayangnya kenyataannya memang begitu." Jawab Sera.
Uli terdiam, begitupun Sera. Hanya celoteh Sadaan yang terdengar. "Ayo ke Wedding Fashion sekarang juga!" Uli mengambil alih Sadaan dari gendongan Sera.
Sera menghentikan Uli. "Jangan gila, Ul. Kamu mau kasih tau semua orang kalau kamu adalah pengasuh bayi?" teriak Sera. Ia melirik Sadaan sekilas.
"Aku nggak peduli! Lin harus pergi dari butik!" balas Uli.
Sera berdecak. "Setidaknya pikirin orangtua kamu, Ul. Kamu mau mencoreng nama baik papamu? Mamamu? Please jangan pernah mempermalukan dirimu di depan Kerlin sialan itu!" ucap Sera. Dia menahan teriakannya karena memikirkan Sadaan. Tidak baik bagi balita itu melihat dua orang dewasa bertengkar.
"Jadi apa yang harus aku lakuin, Ra? Aku nggak mau rubah itu ada didekat ku!" ujar Uli.
Sera juga muak melihat wajah Lin setiap hari di butik. Tapi Sera akui, rancangan Lin memang luar biasa. Lin lebih berbakat dibandingkan dirinya atau Uli sekalipun.
"Kamu tahan diri dulu. Seenggaknya selama kamu jadi babysitter. Setelah itu aku bantuin kamu ngusir si rubah dari Wedding Fashion." Ucap Sera. Ia benar-benar membenci Kerlin. Perempuan itu baik diluar saja tapi di dalamnya busuk! Setidaknya begitulah yang Sera lihat selama ini.
Uli mengangguk. Ia menatap Sadaan sambil berkaca-kaca. Mulai sekarang Uli akan mengalihkan perhatiannya pada Sadaan dan Mirenda saja. Ia akan mengabaikan keberadaan Kerlin di Wedding Fashion meskipun sesekali ia memang harus ke butik untuk mengurangi kecurigaan orangtuanya terutama ibunya. Uli yakin dia bisa mengatasi semua itu.
Uli meneruskan pekerjaan yang memang hanya butuh tanda tangannya saja. Ia tidak lagi berminat untuk sedikit saja memeriksa isinya. Sera mengerti. Ia yang akan mengurus semuanya.
Sera mengantar Uli sampai depan rumah ketika mobil jemputan sudah datang. Ia memeluk sahabatnya sebelum melambaikan tangan ketika mobil meninggalkan rumah hingga jejaknya tak lagi terlihat.
TBC.
Jangan lupa tekan LOVE :)
Terima kasih..