*****
Uli terkejut saat melihat Danar tergopoh-gopoh menghampirinya setelah mobil berhenti tepat di depan rumah Kela. Ia dan Sadaan baru saja kembali. "Kemana aja sih?" tanya Danar dengan nada yang sedikit membentak. Uli semakin terkejut ketika Danar mengambil alih Sadaan yang sedang terlelap.
"Ayo!" ajaknya sambil menggandeng tangan Uli.
Uli menghempaskan tangan Danar. Ia tidak suka dipaksa dalam keadaan yang tidak tahu apa-apa. "Kamu kenapa sih?" kesalnya tidak terima.
Danar berdecak. "Kamu tahu kan besok acaranya dimulai! Kenapa malah pergi?" bentak Danar.
Uli menganga. Dirinya bertanya-tanya kenapa Danar membentaknya. "Astaga!" teriak Danar. "Aku minta maaf." Lanjutnya kemudian.
Pupil mata Uli melebar. Ia tidak mengerti kenapa Danar meminta maaf padanya. "Untuk apa kamu minta maaf sama aku?" tanyanya penuh keterkejutan melihat sikap Danar yang membingungkan seperti ini.
Danar mendengkus. Ia juga tidak tahu kenapa dirinya mengatakan itu pada Uli. Tapi ia tidak suka melihat mata Uli berkaca-kaca karena bentakannya.
"Udah deh nggak usah banyak tanya! Ayo ikut." Ucap Danar mengalihkan pembicaraan.
Bisa saja ia mengatakan alasan kenapa dirinya meminta maaf tapi alasan lain dibalik semua itu yang tidak bisa Danar jelaskan. Dia juga bingung dia sikap anehnya. Dari pada semakin bingung, lebih baik dialihkan saja.
"Dasar aneh," gumam Uli yang masih bisa didengar oleh Danar.
Danar tidak peduli. Ia terus menggandeng Uli masuk ke dalam rumah kakak sepupunya itu. "Oh ini yang bikin kamu betah di sini, Dan?" secepat kilat Uli melepas genggaman tangan Danar. Ia ingat siapa perempuan cantik yang baru saja menegur Danar. Dia adalah perempuan yang sama saat mereka di rumah sakit waktu itu. Kalau tidak salah ingat namanya Lili.
Danar terlihat serba salah. Tapi kemudian terkekeh sendiri.
"Nama kamu Uli?" tanya Lili.
Uli mengangguk singkat. Ia mengulurkan telapak tangannya pada Lili sebelum mengeluh dalam hati kenapa ia harus melakukan itu padahal perempuan cantik di depannya sudah tahu siapa dirinya.
Perasaan Uli tidak enak saat Lili hanya menatap uluran tangannya tanpa minat. Tapi sesaat kemudian Uli sudah berada dalam pelukan Lili. "Mulai sekarang, kamu panggil aku mbak ya sama kayak Kela. Aku saudari kandung calon suamimu." Ucap Lili.
Uli mengurai pelukan itu. Ia menatap Lili penuh rasa penasaran. "Calon suami?" tanyanya. Terlihat jelas di matanya bahwa ia bingung dengan maksud ucapan Lili. Siapa calon suaminya? kira-kira seperti itulah pertanyaan dalam benak Uli.
Lili terkesan saat menatap mata Uli yang terlihat penasaran dan gugup. "Danar adikku. Bukannya kamu calon istrinya?" Uli menggeleng mendengar pertanyaan Lili, mulutnya kelu, ia tidak tahu kalau perempuan cantik bernama Lili ini menganggapnya sebagai calon istri Danar.
"Lili jangan ngomong mulu! Kasihan Uli." Suara Danar mengintrupsi keheningan yang diciptakan Uli. Ia juga tidak tahu kenapa dirinya tidak bisa mengucapkan satu patah katapun kepada Lili hanya untuk sekedar menyanggah apa yang Lili tuduhkan.
Pun, dengan Danar. Laki-laki itu bahkan merasa senang sekali ketika Lili menganggap Uli adalah calon istrinya. Danar berdecak kesal dengan apa yang baru saja ia rasakan. Danar tidak suka ini. Dia hanya menganggap Uli sebagai peralihan saja agar perasaannya kepada Kela bisa sedikit tertutupi dan tidak membuat resah kakak sepupunya yang pecemburu itu.
Sungguh, Danar tidak bermaksud mempermainkan Uli tapi ia butuh perempuan sok berani itu untuk dijadikan perisainya sesaat saja. Karena seperti yang pernah Danar dengar dari Lili kalau orangtuanya sudah menjodohkannya dengan anak rekan bisnis papanya.
Mendadak Danar kesal mengingat perjodohan itu. Maka dengan alasan itu pula ia bertekad mulai detik ini ia benar-benar akan memanfaatkan keberadaan Uli sebagai tamengnya nanti ketika orangtuanya ingin menjodohkannya. Terlebih saat ini Lili sudah menganggap Uli sebagai calon istrinya. Dan mungkin itu juga yang membuat Danar merasa senang. "Iya! Hanya itu. Tidak ada yang lain." Bisik Danar dalam hatinya.
Lili menatap Danar sambil memicingkan matanya. "Ck! Danar mulai posesif," Lili berdecak sebelum kekehan nakal ia berikan pada adik bontotnya itu. "Syukur kalau gitu. Dhafin nggak usah takut lagi istrinya kamu bawa kabur secara tiba-tiba," lagi-lagi Lili terkekeh.
Danar berdecak. Diam-diam ia memperhatikan wajah Uli. Wajah itu biasa saja dan Danar merasa sedikit terusik. "Lah inikan yang dari dulu kalian mau? Lagian ngapain sih Bang Dhafin masih khawatir aja sama aku." Danar ikut terkekeh. Sebenarnya ia sedikit gugup. Bukan karena perasaannya pada Kela tapi memikirkan bagaimana perasaan Uli saat ini.
Danar tahu dia akan terlihat aneh karena merasa sangat penasaran tapi mulutnya tidak bisa berkompromi untuk bertanya langsung pada Uli. "Kamu nggak cemburu, kan?" pertanyaan itu benar-benar membuat wajah Danar memerah seperti kepiting rebus. Ingin sekali dirinya menjahit mulutnya sendiri. Bukan tentang pertanyaannya tapi mendengar jawaban dari Uli yang berhasil membuatnya malu setengah mati.
Dengan santainya Uli menjawab, "biasa saja. Karena aku nggak cinta sama kamu dan nggak akan pernah bisa cinta sama kamu." Siapa yang tahu wajah datar dan jawaban yang santai itu sebenarnya hanya kamuflase saja. Uli sedang mati-matian menahan perasaan aneh yang tiba-tiba membuatnya sesak hanya karena mendengar kisah cinta Danar kepada Kela.
Hanya dengan mendengar sedikit dari Lili saja, Uli sudah tahu seberapa hebatnya cinta Danar kepada majikannya itu dan dengan bodohnya ada perasaan tidak rela di dalam hati Uli. Astaga! Ia tidak tahan.
Diam-diam Lili membaca gerak-gerik dua manusia beda kelamin ini. Lili bersorak dalam hati. Ia sungguh rela membantu Danar menolak habis-habisan rencana perjodohan yang sempat dicanangkan orangtua mereka waktu itu. "Udah deh jangan berantem. Lagian kamu juga Danar! Sudah punya calon istri tapi masih mikirin istri orang aja." Lili geregetan. Ia sedang menyulut api cemburu di dalam diri Uli yang sejak tadi berusaha ditutupinya. Tenang, Lili bukan orang yang mudah menyerah, ia akan membuat Uli semakin dekat dengan adiknya.
Uli ini mirip sekali dengan Kela waktu dulu. Dia juga pandai berpura-pura. Lili benar-benar harus membantu adik bontotnya untuk mendapatkannya. "Uli sayang maafin Danar ya?! Dia emang suka gitu. Nggak peka." Uli terkikik geli setelah mengatakan itu. "Tapi kamu tenang aja, bentar lagi dia juga jadi bucinnya kamu kok," lanjut Lili.
Uli mengernyitkan dahinya. Ia menatap tidak percaya dengan apa yang Lili katakan. Baginya, satu-satunya perempuan yang Danar inginkan adalah Kela. Dari awal, sejak pertama kali mereka bertemu, Uli sudah menyadari itu. Danar sangat mengkhawatirkan Kela ketika perempuan itu akan melahirkan. Jadi mana mungkin ada tempat untuk Uli di hati Danar.
Uli menggeleng. Dia tidak boleh memikirkan itu. Di sini ia hanya ingin menjadi pengasuh Sadaan selama Enam bulan. Setelah itu ia akan mengundurkan diri dan fokus dengan pekerjaannya sendiri. Lagi pula ada perempuan ular yang harus ia bereskan di Wedding Fashion. Kalau tidak diurus nanti malah bertelur ularnya, kan bahaya.
Bersambung..
Jangan lupa tekan LOVE. Terima kasih :)