WEDDING FASHION: 7|Meet Danar Family 2

1063 Words
Happy reading ** Syukuran anak kedua Dhafin dan Kela berlangsung dengan baik. Bayi itu tidak rewel sama sekali. Pun, Sadaan sama saja. Mereka seperti kompak untuk tidak melakukan kerusuhan dengan berebut perhatian ibunya. Sadaan seperti mengalah pada Mirenda. Balita itu tenang sekali dalam dekapan Uli. Rumah ini dipenuhi orang-orang hebat. Terutama ada keluarga inti Dhafin dan Kela. Tadi pagi Uli sempat berkenalan dengan si kembar Tara dan Talita, adik Dhafin. Mereka berdua cukup ramah. Seperti saat ini, Talita sedang menggantikan Uli menggendong Sadaan. Sedangkan Tara hanya memperhatikan keponakannya itu dan sesekali mencuri tatap pada Uli. Uli menyadarinya tapi ia pura-pura tidak peduli. Ia menekan rasa penasarannya itu. "Kak Uli seumuran sama Mba Kela ya?" tanya Talita ketika hening menghampiri mereka. Uli menggeleng. "Umur saya 25 tahun." Jawab Uli apa adanya. Kali ini Tara benar-benar tidak mengalihkan tatapannya. Ia sedikit penasaran dengan babysitter keponakannya ini. Pasalnya, Tara seperti pernah melihatnya di suatu tempat. "Wahhh belum mau nikah gitu kak?" lagi-lagi Talita bertanya. Mendadak Uli termenung. Menikah? Dia mau tapi.. "Apaan sih lo, Talita! Jangan nanya soal nikah sama perempuan yang sudah berumur 25 tahun ke atas. Itu pertanyaan paling mereka hindari. Ngerti lo?" itu suara Tara. Uli mengangkat wajahnya yang tadi menatap Sadaan dengan tatapan sendu. Talita terkesiap. Wajahnya berubah merah. Ia merasa bersalah sudah bertanya hal yang dihindari kaum perempuan ketika sudah menginjak usia 25 tahun ke atas itu. "Maaf maaf kak Uli. Mulut Talita memang suka nggak ada batasnya ini kalau ngomong. Maafin Talita ya kak," ucap Talita. Ia benar-benar merasa bersalah. Apa lagi wajah Uli terlihat murung setelah ia menanyakan hal itu. Uli terkekeh, "nggak apa-apa. Saya memang belum siap untuk menikah," balas Uli. Dia tidak berbohong. Dia memang belum siap untuk menikah saat ini juga. Lagi pula belum ada pangeran berkuda putih yang siap menjadikan Uli pasangannya dan tentu saja menerima segala kekurangannya. Talita mengangguk. Dia masih merasa tidak enak hati pada Uli. Saudara kembarnya yang mengetahui hal itu buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Keluarga Bang Danar belum nyampe juga, ya?" tanya Tara. Talita menggeleng seraya mengedarkan pandangan matanya. "Bang Danar jemput om Farhat sama tante Sia dulu di bandara. Kalau Mba Lili pasti lagi sibuk kangen-kangenan dulu sama suaminya yang juga baru pulang dari luar negeri." "Tuh lihat! Natalia sudah disuruh datang duluan bareng pengasuhnya." Talita terkikik geli. Tara berdecak tidak suka dengan sifat Talita yang satu ini. Kembarannya ini terlalu cepat dewasa. Uli mengikuti arah pandang Talita. Benar, di sana ada seseorang yang juga sedang menggendong balita. "Nah itu Bang Danar, om sama tante di depannya." Teriak Talita. Lagi-lagi Uli mengikuti arah pandangan mata Talita. Mendadak dirinya salah tingkah saat Danar mendekat. "Ngapain ke sini sih?" resah sekali perasaan Uli saat Danar semakin mendekat. Aneh! Bukannya mencari Kela dan keluarga, malah mendatanginya seperti ini. Uli tidak ingin merasa seperti itu tapi lihat saja langkah besar yang Danar miliki. Dia benar-benar seperti laki-laki yang merindukan kekasih hatinya yang telah lama tidak bertemu. Astaga! "Danar! Kemana kamu?" Kaki Danar mendadak berhenti. Danar berbalik sebentar untuk menjawab pertanyaan dari mamanya yang ternyata keheranan melihat langkah Danar yang tergesa-gesa. "Maaf ma, duluan aja. Aku mau ketemu Uli." Jawab Danar. Bukannya menjauh, mamanya justru menarik lengan sang suami untuk mendekati anak bungsunya itu. "Siapa itu Uli?" tanya mamanya lagi. Danar salah tingkah. Ia bahkan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Uli dapat mendengar semua percakapan itu mengingat jarak mereka tidak terlalu jauh. Di saat yang bersamaan, Talita menyahuti pertanyaan itu. "Babysitter Sadaan tante, Sia!" ucapnya sedikit mengencangkan suara. Bahkan gadis itu menarik pergelangan tangan Uli sambil menggendong Sadaan agar bisa berada lebih dekat dengan om dan tantenya. "Ini kak Uli. Ada apa tante?" tanya Talita dengan polosnya. Uli meringis. Ia benar-benar salah tingkah. Baru kali ini ia merasa tidak percaya diri diperkenalkan dengan seseorang menggunakan pakaian babysitter yang notabennya adalah pekerjaan yang sangat amat ia sukai. Orangtua Danar menatap Uli dari bawah sampai ke atas. Uli tahu wanita yang dipanggil Talita tante Sia ini tidak menyukainya melihat dari kerutan di keningnya itu. "Siapa kamu?" tanya Sia yang memang belum puas terhadap jawaban keponakannya itu. Uli kebingungan harus menjawab seperti apa karena ia merasa jawaban Talita adalah yang paling tepat. "Kenalin ma, ini Uli calon istri Danar." Sungguh tidak ada yang mengeluarkan suara diantara Danar, Uli, Tara, maupun Talita. Itu bukan jawaban yang keluar dari mulut mereka bertempat. "Lili?" Sia menyebutkan nama dari pemilik suara yang dengan percaya dirinya mengatakan bahwa Uli adalah calon istri Danar. Astaga!! Uli merasa dirinya tidak akan bisa terselamatkan dari tatapan tajam suami istri dihadapannya ini. Saat Uli baru saja ingin menjelaskan apa yang terjadi, Danar dengan tidak tahu malu memeluknya. "Iya ma, ini calon istri Danar." Bagi Danar ini kesempatan untuk membatalkan perjodohan yang sudah direncanakan orangtuanya itu. Mungkin ini saatnya ia memanfaatkan Uli. Uli kesal setengah mati tapi mulutnya terasa kelu untuk membantah semua itu. "Kamu jangan main-main, Danar!" kata-kata itu terucap dengan penuh penekanan. Mendadak Uli merasa terluka. Beginikah rasanya ditolak? Uli tidak suka dengan perasaan ini. "Mama udah deh jangan drama! Lagi pula..." Sia mendelik saat suaminya hendak berbicara. Melihat itu buru-buru Uli menjelaskan, "tante, om, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan anak om dan tante. Kalian tenang saja." Seorang Uli tidak boleh merasa terintimidasi. Seorang Delia Faulie harus menolak tegas apapun yang membuatnya merasa tidak nyaman meskipun ada goresan kecil di hatinya ketika mengatakan semua itu. Sementara itu, Danar terkejut mendengar jawaban yang Uli katakan. Danar tidak menyangka Uli akan menolaknya mentah-mentah di depan kedua orangtuanya langsung. Danar kesal sekali namun ia merasa tertantang untuk menaklukan perempuan ini. Kedua orangtua Danar yang awalnya tegangpun terkekeh geli melihat wajah anak mereka yang merah padam menahan malu. Gadis ini ternyata benar-benar konsisten. Ia menolak dengan tegas pada sesuatu yang belum menjadi miliknya. Setidaknya begitulah penilaian ibu Danar pada sosok Uli. "Bagus! Danar sudah saya jodohkan dengan anak teman saya. Jadi jangan sampai ada scandal diantara kalian." Mendengar kalimat tegas itu membuat Uli mengepalkan telapak tangannya. "Tante tidak perlu khawatir." Balas Uli. Senyum kecil muncul di sudut bibir wanita yang telah melahirkan Danar dan Lili itu saat melihat kepalan tangan Uli. Ia mengangguk sebagai balasan atas apa yang Uli ucapkan. "Kamu yang sabar ya, anak teman mama nggak kalah cantik sama pengasuh anak mantan perempuan yang dulu kamu kejar-kejar ini!" ucapan itu untuk Danar. Ia menepuk punggung Danar sebelum mmenarik suaminya untuk bertemu tuan rumah. Bersambung.... Terimakasih yang sudah tekan tanda LOVEnya, yang lupa boleh tekan sekarang juga ya :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD