WEDDING FASHION: 8|Dia Lagi?

1088 Words
Happy reading *** Danar mengikuti Uli kemana pun gadis itu pergi. Sebenarnya Danar masih sangat kesal dengan tingkah Uli yang menolaknya habis-habisan di depan orangtuanya tadi. Tapi untuk melepaskan Uli, rasanya Danar merasa sayang. Danar harus bisa memanfaatkan Uli bagaimanapun caranya. Sementara Danar sibuk memikirkan rencana apa yang bisa menjerat Uli dalam pesonanya hingga ia bisa memanfaatkan gadis itu, Uli sendiri sibuk meredam kekesalan karena Danar masih saja mengikutinya bahkan saat sekarang ia sedang di depan toilet perempuan. "Kamu mau ikut masuk?" sindirnya. Danar menampilkan senyum menggodanya. "Ayo!" ujarnya. Uli semakin kesal saja. Ia mendelik kepada Danar. "Jagain Sadaan bentar!" perintahnya. Dengan senang hati Danar menggendong keponakannya itu. "Mirip sekali sih sama mamamu. Om makin susah move on kalau gini ceritanya!" ucap Danar gemas sambil mencubit pipi Sadaan. Iya, kalimat Danar itu tertuju untuk Kela, satu-satunya perempuan yang sampai saat ini ada di hatinya. Kalimat itu bukan untuk Uli. Sial bagi Uli karena sempat mendengar kalimat itu. Ia kesal sekali kenapa tangannya terlkepal begitu saja setelah Danar mengungkapkan isi hatinya. Uli melepaskan kepalan tangannya, ia melanjutkan rencananya yang ingin buang air kecil. Setelah itu, Uli mencuci muka. Dipandanginya wajahnya pada cermin. Uli bertanya dalam hati apa sebenarnya yang sedang ia rasakan? Sayang, sampai detik berganti menit, ia tidak juga memdapatkan jawaban itu. Uli menyerah. Ia melanjutkan langkahnya menuju pintu kemudian membukanya. Danar masih di sana. Masih bercanda ria bersama anak dari pemilik hatinya. "Gimana kalau kita bikin papa kamu cemburu, Sadaan?" "Kita berdiri didekat mama kamu. Terus Om pegang pinggang mama kamu. Ide bagus," Uli mendengar percakapan absurd itu. Ia berdecak tidak suka melihat sikap kekanankan Danar. "Jangan gila deh! Siniin Sadaannya." Ucap Uli sambil mengulurkan tangannya. Danar sama sekali tidak terkejut dengan kedatangan pengasuh keponakannya itu. "Jangan-jangan kamu yang cemburu, ya? Ayo ngaku!!" telunjuk Danar tepat di depan kedua mata Uli. "Tuh lihat wajah kamu sampai merah!" ujarnya. Uli tidak tahu bagaimana caranya agar wajahnya tidak merah seperti ini. Iya, dia malu ketika Danar menuduhnya cemburu. "Apaan sih!! Siapa juga yang cemburu! Aku nggak peduli sama urusan kamu." Uli sekarang paham apa yang sedang terjadi padanya. Tapi Uli sama sekali tidak berniat memperjelas semuanya karena ia tahu tujuan Danar mendekatinya bukan untuk sesuatu yang baik. Maka Uli lebih memilih pura-pura tidak terjadi apa-apa. Danar mengejar Uli yang sudah lebih dulu membawa Sadaan bersamanya. Sungguh, semua yang terjadi beberapa saat lalu hanyalah taktik Danar agar bisa membuat Uli kesal dan cemburu. Tapi ternyata sulit sekali menaklukkan perempuan keras kepala itu. Suasana rumah itu masih sangat ramai karena memang acaranya sampai sore. Majikan laki-lakinya yang merencanakan semua ini. Sore hari adalah acara santai yang tidak terlalu ramai. Hanya orang terdekat saja yang menghadiri. Uli mengedarkan pandangan matanya pada seluruh penjuru ruangan. Orangtua Danar ada di sana. Begitupun orangtua dan mertua Kela. Mereka terlihat akrab dan penuh rasa kekeluargaan. "Kamu tahu Uli, untuk lihat pemandangan semengharukan itu, kami semua butuh perjuangan terutama Kela. Diantara mereka semua, dia yang paling sering terluka." Bukan wajah sedih yang Uli lihat saat Danar menjelaskan itu tapi wajah bersyukur yang membuat Uli mengangguk samar. "Jadi karena itu kamu sangat mencintai istri dari kakak sepupumu sendiri?" alih-alih bertanya yang lain, hanya itu yang keluar dari mulut Uli. Ia pun merutukinya. Danar tersenyum mendengar pertanyaannya. Bagi Uli laki-laki itu sama sekali tidak ingin menutupi apapun di depannya. Satu keyakinan Uli bahwa Danar masih sangat mencintai Kela dan itu mengusik perasaannya. "Kayaknya sih iya," Uli meringis. Kenapa ketika kebenaran itu nyata, ia justru merasakan kesakitan yang luar biasa. Ingin sekali Uli menyangkal bahwa mungkin dirinya sudah benar-benar jatuh cinta pada Danar. Ahh murah sekali, padahal mereka baru saja kenal dan selama ini perlakuan Danar sama sekali jauh dari kata baik padanya. Belum selesai Uli meredakan rasa sesak itu, matanya menangkap sosok lain yang baru saja bergabung bersama keluarga besar itu. "Kerlin?" lirih sekali ia menyebutkan nama itu. Pertanyaan silih berganti saat Kerlin terlihat sangat akrab bersama orangtua Danar. Satu praduga muncul dalam benak Uli. Mungkinkah? "Danar kamu pernah ketemu sama calon istri yang dijodohkan mamamu?" tanya Uli tanpa menatap ke arah Danar. Matanya masih setia mengawasi kedekatan yang tercipta antara orangtua Danar dan Kerlin. Danar merasa heran kenapa mendadak Uli menanyakan hal itu padanya. Tapi tak urung ia jawab juga pertanyaan itu. "Belum sih tapi mama bilang dia seorang desainer." Jawaban itu membuat tatapan mata Uli meredup. Ternyata benar dugaannya. Perempuan yang akan dijodohkan dengan Danar adalah perempuan yang dulu pernah menghancurkan hatinya, Kerlin Lafuso. "Tapi aku nggak peduli. Kamu adalah calon istriku. Paham?" tiba-tiba Danar menepuk bahu Uli hingga perempuan itu menghadap ke arahnya. Uli memandangi wajah Danar. Jantungnya berdebar ketika laki-laki di depannya ini terlihat serius. "Kamu jangan main-main, Danar!" Uli menekan setiap kata yang ia ucapkan. "Danar!" ketika Danar bersiap untuk membalas perkataan Uli, mamanya memanggil dari kejauhan. Danar mengalihkan tatapan matanya dari Uli. "Cepat ke sini!" lagi-lagi suara mamanya memecah konsentrasi Danar yang ingin kembali memberikan jawaban pada Uli. "Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana." Danar meninggalkan Uli setelah mengelus puncak kepalanya sejenak. Uli masih diposisi yang sama. Dirinya tidak berani menuntun punggung Danar ke arah kerumunan itu. Ia takut Kerlin mengenalinya. Bersamaan dengan itu, Kela datang menghampiri Uli, mengambil alih Sadaan untuk ia gendong. "Uli kamu istirahat aja dulu ya mumpung Sadaan nggak rewel. Takutnya nanti malam anak ini nangis lagi kayak tadi malam. Cuma kamu yang bisa bantuin mba nenangin mereka." Ucapnya. "Tapi mba gimana sama Mirenda?" tanya Uli. Kela menampilkan senyuman tulusnya. "Tenang aja. Mirenda lagi diperebutin sama kakek neneknya, lagi pula dia nggak rewel." "Kamu istirahat aja dulu." Ucap Kela. Ia tahu Uli pasti kelelahan mengingat bagaimana gadis itu menemaninya bergadang tadi malam karena kedua anaknya berebut ingin mendapatkan perhatiannya. Untung saja hari ini Sadaan terlihat mengalah. Mungkin karena semalam Kela lebih banyak menyisihkan waktu untuk anak pertamanya itu. Mirenda juga mau-mau saja digendong Uli. Dinyanyikan sampai tertidur. Tapi lagi-lagi terbangun saat dipindahkan ke tempat tidurnya. Begitu pula Sadaan. Ia juga akan bangun kalau Kela memindahkannya ke tempat tidur. Jadi mau tak mau Uli juga ikut bergadang menemani Kela karena baik Mirenda maupun Sadaan tidak ada yang mau digendong oleh Dhafin. "Terimakasih, mba. Kalau mba butuh bantuan jangan segan-segan ya mba buat teriakin nama aku di kamar." Ucap Uli sambil menampilkan gigi putihnya. Selain memang sedikit kelelahan, Ia pikir ini kesempatannya untuk bersembunyi sebentar dari kemelut rasanya pada Danar dan juga bersembunyi dari Kerlin Lafuso. Uli meninggalkan tempat itu tanpa mau repot-repot membalikan tubuhnya demi melihat apa saja yang Danar dan keluarganya lakukan di sana. Bersambung. Terima kasih sudah tekan tanda LOVEnya, yang lupa boleh tekan tanda bintang sekarang juga
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD