***
Seminggu berlalu sejak selesainya syukuran atas kelahiran Mirenda. Hari ini Uli meminta jatah cutinya pada Kela karena ada pekerjaan yang mengharuskan dirinya hadir di Wedding Fashion. Selain itu, Uli memang harus memastikan sesuatu yang mengganggu pikirannya selama seminggu penuh ini.
Maka di sinilah Uli sekarang. Tulisan Wedding Fashion di depan gedung mewah bertingkat tiga itu memenuhi pandangan matanya.
Dress biru, heels setinggi tiga cm, dan sedikit make up menjadi bukti betapa cantiknya Uli. Dia tidak lagi menggunakan sepatu buluk atau kaos longgar seperti biasanya. Rambut yang biasanya diikat asal kini digerai indah dan sedikit bergelombang. Hari ini, setelah ia masuk ke dalam gedung itu, namanya adalah Delia Faulie Hutama. Akrab disapa Delia, bukan Uli. Orang-orang tidak mengenal siapa Uli.
Pintu berdenting. Langkah kaki Delia memenuhi pendengaran para staffnya. "Selamat pagi bu," semua staf menyapa sopan pada Delia. Tapi gadis itu tidak seramah biasanya. Dia hanya mengangguk tanpa sedikitpun meninggalkan jejak senyum di bibirnya. Jangan heran sebab dia adalah Delia, desainer berbakat namun lebih memilih menjadi babysitter sebagai pekerjaan utamanya.
Delia hanya memandang satu arah. Ia menuju ruang kerjanya. Sedikit lagi daun pintu terbuka tapi suara seseorang memaksanya memalingkan muka. "Selamat pagi bu Delia," sapa suara itu.
Senyum sinis hadir di kedua sudut bibir Delia. "Kerlin!" ujarnya dingin. Matanya menatap tajam pada sosok perempuan yang hari ini sama-sama mengenakan gaun berwarna biru sepertinya.
Kerlin ikut menampilkan senyum di kedua sudut bibirnya. "Untuk pertama kalinya ibu datang ke Wedding Fashion, saya pikir ibu tidak menyukai pekerjaan ini." Delia tidak menyukai cara Kerlin mengucapkan itu.
Delia terkekeh. "Ini pekerjaan impian seorang desainer berbakat sepertiku, Kerlin. Jadi mana mungkin aku tinggalkan. Aku pikir setelah ini kamu tidak akan betah berada di sini." Balasnya sarkas. Iya, dia Delia Faulie Hutama. Memang beginilah seharusnya sikap seorang pemimpin.
Delia senang sekali melihat keterkejutan seorang Kerlin. "Mamaku memang nggak tau kelakuan kamu. Tapi aku nggak akan lupa gimana kamu mencuri laki-laki itu dariku."
"Ohh jadi kamu belum move on ibu Delia yang terhormat?" kekehan kecil keluar dari mulut Kerlin. Itu berhasil membuat Delia membencinya berkali-kali lipat. Apa lagi Kerlin adalah perempuan yang menurutnya dijodohkan dengan Danar.
"Aku bersyukur kamu mencurinya Kerlin, tapi kenapa kamu nggak sampai nikah aja sama dia?" tanya Delia yang saat ini telah mengubah cara bicaranya.
"Kenapa harus nikah kalau ada yang lebih baik dari dia. Lagi pula aku sudah punya yang baru." Delia akhirnya menemukan jawabannya. Ternyata benar Kerlin adalah perempuan yang akan dijodohkan dengan Danar.
Delia tidak bisa menahan perasaan kecewanya karena sekali lagi Kerlin menjadi perempuan yang menjadi penghalang bahagiannya. Tapi Delia tidak akan menunjukkannya pada Kerlin. Wanita ini adalah ular yang licik. Ia pasti dengan senang hati mempermainkan perasaan Delia kalau tahu bahwa Delia sudah mulai jatuh pada Danar.
Delia menatap tajam ke dalam mata Kerlin. "Sekali ular tetap ular. Dasar pencuri tidak tahu malu!" ujar Delia. Jauh di dalam hatinya ingin sekali menunjukkan bahwa ia sangat kesal dengan Kerlin tapi wajahnya masih sama datarnya seperti pertama kali Kerlin menyapa. Tidak ada yang tahu sebesar apa gelombang di dalam diri Delia.
"Iya aku akui! Aku adalah ular yang mungkin akan mematukmu sampai mati, bu bos! Jadi hati-hati ya." balas Kerlin.
Tepuk tangan terdengar oleh mereka berdua. Kerlin dan Delia sama-sama mengalihkan tatapannya. "Hebat sekali kamu, Kerlin. Bukannya minta maaf sama Ul.. Delia tapi malah mengancamnya begitu. Wooww.." adalah Sera yang berucap demikian. Hampir saja ia menyebut nama Delia dengan Uli kalau Delia tidak mendelik padanya.
"Selamat pagi ibu sekretaris. Senang ya karena hari ini kamu bebas menunjukkan ketidak sukaanmu itu sama aku?" tanyanya sarkas.
Sera tergelak. "Tentu! Kalau bisa hari ini juga aku mau cekik kamu sampai mati." Balasnya.
"Sayangnya kamu harus simpan keinginanmu itu karena hari ini aku mau ketemu sama pemilik Wedding Fashion." Jawaban Kerlin menarik perhatian Delia. Pemilik Wedding Fashion adalah mamanya. Kenapa mamanya ingin bertemu dengan Kerlin?
Saat mulut Delia ingin bertanya, saat itu juga Kerlin mendahuluinya. "Kamu pasti sangat penasaran kenapa tante mau ketemu aku. Ya, kan?" tanyanya.
"Kenapa harus penasaran? Aku nggak peduli sama semua urusan kamu." Delia mengangkat tangannya. Jari telunjuknya mengisyaratkan untuk diam pada Kerlin. "Sebaiknya kamu mulai bekerja!" ucapnya menutup pembicaraan itu. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangannya. Sera berdecih dan mengikuti Delia. Sedangkan Kerlin tersenyum penuh arti. Tidak ada yang tahu apa rencana perempuan itu.
Sera memberikan berkas yang harus Delia tanda tangani. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya.
Delia memijit keningnya. Bukan berkas itu yang membuat Delia sakit kepala. Tetapi perasaan kacau setelah mendapatkan kepastian tentang perjodohan Danar dan Kerlin.
Sera mengerti. Delia sudah menceritakan kegelisahannya tadi malam. Sera memang belum pernah bertemu dengan yang namanya Danar tapi melihat sahabatnya menjadi seperti ini, Sera yakin sesuatu benar-benar sudah teejadi diantara mereka. Setidaknya pada perasaan sahabatnya.
Delia menarik napasnya dengan lirih. "Nggak apa-apa. Jam berapa meeting nanti?" Delia mengalihkan pembicaraan. Itu artinya ia tidak ingin membahas masalah itu lagi.
"Client mintanya pas jam makan siang," jawab Sera. Setelah itu ia memberitahu di mana tempat pertemuannya.
"Mereka suami istri?" tanya Delia setelah membaca data clientnya.
Sera mengangguk. "Orangtua calon pengantin. Kayaknya ini perjodohan deh. Soalnya semua yang ngurus orangtuanya." Jawab Sera.
Delia mengangguk. Kasihan sekali. Pasti yang dijodohkan tidak suka dengan rencana ini tapi orangtuanya tidak peduli dan memilih turun tangan secara langsung. Delia tidak habis pikir dengan zaman sekarang. Teknologi semakin canggih tapi tetap saja ada keluarga yang masih keras kepala dengan yang namanya perjodohan. Termasuk keluarganya. Untung Delia bisa melobi Papanya untuk membatalkan perjodohannya dulu.
"Kamu nggak apa-apa, Uli? Gimana kalau ada yang ngenalin kamu sebagai babysitter?" tanya Sera merasa khawatir.
"Nggak apa-apa. Tenang aja." Jawab Uli dengan lembut. Ia juga tersenyum menenangkan kekhawatiran Sera.
Waktu berlalu. Jam makan siang datang. Delia dan Sera sudah menunggu di tempat yang mereka janjikan. Sayangnya, jawaban percaya diri yang Delia berikan pada Sera tadi pagi harus ditelan bulat-bulat saat clientnya menghampiri mereka.
Delia seakan lupa caranya bernapas. Satu lagi yang pasti, bahwa benar, Danar dan Kerlin dijodohkan. Sepasang suami istri di depannya ini adalah orangtua Danar.
Delia sangat gugup tapi dia harus memperkenalkan dirinya. "Selamat siang pak, bu, perkenalkan saya Delia Hutama, direktur Wedding Fashion." Ucapnya sambil mengulurkan tangan. Ia sengaja menghilangkan nama Faulie demi mengurangi sedikit rasa curiga mereka.
Tubuh Delia bergetar saat papa Danar memicingkan matanya. Begitu juga ketika istri konglomerat itu menatap curiga. "Kamu..."
Delia tahu riwayatnya sudah tamat. Ia harus merelakan identitasnya ketahuan sekarang juga.
Bersambung..
Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak :)