BAB-3

1441 Words
Kondisi Sara sangat jauh dari baik-baik saja. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka, goresan panjang dan memar lebam. Terutama di kulit bagian belakang. Kedua tangannya di ikat oleh rantai yang tergantung di langit-langit. Kedua kakinya hanya bisa menggapai tanah dengan ujung ibu jari. Lantai ruangan itu basah dan penuh dengan darah milik Sara. Ia di gusur beberapa kali di lantai, bekas darah seseorang yang di gusur menandakan bahwa mereka memang melakukannya. Sara di siksa habis-habisan, hanya karena ingin dia buka mulut. Mata Sara masih sedikit terbuka tetapi penglihatannya kabur karena siksaan itu, rasa sakit dan lemas yang ia rasakan sejauh ini. Ia tersenyum manis memikirkan Ralph dan kenangan yang mereka ukir sebelum semuanya menjadi kacau. Di sebuah restoran, mereka duduk di luarnya karena pemandangannya yang menghadap pantai. Angin sepoi-sepoi menghempas tubuh dan membuat mereka melupakan beban hidup untuk sesaat. Restoran itu menyediakan layanan dan fasilitas untuk berkencan, hanya ada beberapa pasangan yang mengisi restoran itu. Sepuluh bangku dengan dua kursi masing-masing, semuanya sudah terisi penuh. Hari itu adalah hari pertama mereka berkencan. Satu-satunya kencan yang keduanya lakukan dalam hidup mereka. "Dari mana kau mendapatkan informasi tentang restoran ini, Jared. Bisa-bisanya kamu kepikiran untuk mengajakku kencan di sini." Sontak Ralph mendengus dingin sembari memalingkan wajahnya, lantas Sara terkekeh melihat raut muka kecewa dari lelaki tampan di depannya itu. "Asal kau tahu, aku sudah mencari tempat yang terbaik untuk kencan kita di Google, tiga hari baru ketemu. Sia-sia saja aku mencarinya di sana, tidak ada yang cocok. Tidak romantis." Gerutu Ralph, ia cemberut selagi mengatakannya. Kedua tangannya terlipat di depannya. Ia masih ngedumel di depan Sara. Perempuan cantik di depannya hanya terkekeh kecil. "Aku menemukan tempat ini di spanduk, tahu tidak." Gerutu Ralph. Sedari tadi, ia memalingkan wajahnya. "Cih. Baiklah, sudah. Aku minta maaf, Tuan Romantis!." Kata Sara, dengan nada mengolok-olok. Ralph mendengus dingin lagi. Ia masih memalingkan dan melipatkan tangannya. "Aku menyukai tempat ini." Cetus Sara, dengan nada manja. Ralph masih dengan posisinya, hanya saja ia tengah menahan senyumnya. "Kenapa, hah. Kamu marah karena bertanya tadi?." Tanya Sara, dengan nada marah. "Sekali lagi, aku tidak dengar." Gumam Ralph. Ia masih dengan posisinya. Sara mengkerutkan dahinya seraya berkata. "Apa, Jared. Kenapa?. Yang jelas kalau bicara." "Ck. Sekali lagi, aku tidak dengar." Kata Ralph, dengan lantang. Sara langsung terkekeh tak percaya. Sara berdiri dengan cepat, ia menghela nafas panjang. "AKU MENYUKAINNYA, JARED!." Tidak di sangka, Sara menyerukan dengan lantang kata-kata itu. Semua orang yang ada di restoran itu sontak menyorot kearahnya, lantas menertawakan dirinya. "Eh, duduk. Sudah, duduk. Malu." Kata Ralph, ia merambati semua orang sembari mengangguk dan tersenyum canggung. Sara langsung menahan senyumnya sembari duduk kembali. "Aishh, kenapa begitu lantang?. Malu kan jadinya." Gerutu Ralph, melirik kearah orang-orang sesekali. "Kenapa harus malu. Mereka juga kan lagi kencan, apa yang harus di debatin?." Gumam Sara kesal, melirik sinis kearah orang-orang. "Aishh, sudahlah. Lupakan!." Kilasan memori itu yang ada di pikiran Sara saat ini. Walaupun sederhana, hal itu dapat mengalihkan dan meringankan rasa sakit yang ia rasakan. Hingga tibalah seseorang memasuki ruangan. Berbadan kekar, berwajah sangar. Ia menghampiri Sara sembari mengepalkan kedua tangannya. "Jangan buat dirimu menderita lagi, Sara. Cepat, katakan di mana kamu menyembunyikan Diska itu?." Cetus Lelaki itu, ia menyorot kesal kearah Sara. Sara tidak merespon, bergerak saja tidak ia lakukan. Itu bukan karena ia merasa tak berdaya tetapi ia tidak sudi buka mulut. "Kau tidak mendengarku, hah. Dasar wanita sialan." BUGH~ Pukulan keras mendarat di perut Sara yang lebam. Sara mengerang kesakitan, tetapi ia tidak berkata apa-apa. Sekali lagi darah keluar dari mulutnya. Lelaki itu menekan giginya dan meremas kepalan tangannya, menyorot dengan tatapan kesal. Akhirnya, Sara mendongak menatap wajah lelaki itu. Ia menyeringai licik dengan raut muka meremehkan. "Keahlian kamu hanya segitu, hah?. Dasar banci." Sara melemparkan ludah bercampur darah tepat di muka lelaki itu. Ia mendengus dingin seraya berkata. "Sampai kapan pun, aku tidak akan menyerah kepada iblis-iblis seperti kalian. Sebaiknya, kau bunuh aku saja." Sembari mendengar perkataan dari Sara, lelaki itu mengusap air bercampur ludah yang ada di mukanya itu. Sepersekian detik, ia mengepalkan tangannya kembali. Hendak melayangkan pukulannya. "Mati kau, Dasar wanita sialan!." Umpat Lelaki itu. "Tunggu!." Sayangnya, lelaki itu tidak jadi mendaratkan pukulannya. Suara seorang Lelaki berhasil mengurungkan niatnya, dengan cepat menurunkan kembali tangannya. Ia meremas kepalan tangannya dengan sangat keras. Ia menoleh kearah belakang sembari mengkerutkan dahinya. Tidak lama kemudian, seorang Pria paruh baya memasuki ruang siksaan. Berpakaian casual, berbadan kekar dan berwajah tampan. Ia memiliki tato serigala di bagian kiri lehernya. "Jangan bunuh perempuan itu, David. Kita masih membutuhkannya." Cetus Javier. Saat ini, Ia adalah pemimpin dari organisasi Mafia kejam itu. "Oh, Maaf, Tuan Javier. Aku tidak tahu kalau anda di sini." *** Sesaat ajakan dari lelaki sport itu membuat Ralph tertegun. Mengernyitkan dahinya dengan beribu-ribu pertanyaan. Dia adalah Joseph, Joseph Andrews. Ia adalah kerabat sekaligus tamu keluarga Mcliefter. "Apa yang kau tunggu, kau mau kita terlambat? Ayo, bung, kawan, siapapun kau. Sebelum aku berubah pikiran." Sontak Ralph menggelengkan kepalanya, lantas ia tersadar sepenuhnya. Ralph menoleh kearah gerbang masuk seraya bertanya. "Ba, bagaimana kau tahu kalau aku akan pergi ke kediaman Mcliefter?." "Bung, kau pasti pendatang baru di kota ini. Kau tahu, tidak ada yang berani menduduki atau mendekati gerbang kediaman keluarga ini, pejalan kaki sekalipun tidak pernah singgah di kursi kayu yang kau duduki selain orang yang berkepentingan." Jawab Joseph, dengan ekspresi tak suka. Lagi-lagi Ralph kebingungan. Ia mengkerutkan dahinya sembari berpikir keras tentang penjelasan dari lelaki itu. Selama ini, Ralph tidak pernah mendapatkan informasi dan larangan keras tentang kursi kayu yang ada di trotoar depan gerbang yang terukirkan The Mcliefters, nama itu telah lama tertempel di kursi yang ia belakangi. Yang Ralph tahu hanyalah keluarga Mcliefter tidak melebih-lebihkan hal sepele, apalagi hal seperti properti yang bisa di gunakan oleh umum. "Apa mereka semua sudah berubah?." Gumam Ralph. "Hey, Bung!. Jadi ikut tidak? Jangan buat waktuku terbuang sia-sia." Kata Joseph resah, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. "Oh, iya. Jadi, aku ikut. Tunggu." Sahut Ralph, sembari tersenyum dan terkekeh canggung. Apa boleh buat, waktu dan tempat sungguh mengejar batinnya untuk melakukan apa yang semestinya, sehingga ia berjalan mendekati pintu mobil yang telah terbuka lebar untuknya. Waktu yang ia miliki tidak akan cukup kalau ia harus jalan kaki, itu akan memakan banyak waktu dan tenaga yang lebih untuknya sampai di wastu The Mcliefters. Dan pada saat itu ia hanya membawa tangan kosong. Tanah yang di miliki keluarga Mcliefter sungguh luas dan sepi, itu membuat susah dan geram orang yang berkunjung. Di tambah lagi jalanannya sungguh bukan main-main. Pada akhirnya ia pasrah terhadap keadaan. Sekali lagi dia memperkuat pengamatannya terhadap sekitaran sembari berjalan mendekati pintu mobil. GHRUNG~ Akhirnya mereka berdua pergi dari jalan dan trotoar yang sepi seperti kuburan itu. Larangan dan peraturannya saja membuat semua orang enggan untuk singgah di kursi-kursi tersebut. Joseph menoleh sesekali ke arah lelaki yang ada di sampingnya, Ralph hanya diam saja sejak tadi. Dari hasil pengamatan Joseph, Ralph terlihat sangat seumuran dengannya. Joseph berdehem seraya bertanya. "Jadi kau berasal dari mana, Bung. Dari keluarga terpandang mana yang mereka undang kali ini?." Ralph tersadar dari lamunannya. Ia langsung menoleh kearah Joseph. "Aku?. Aku, Eum." Sahut Ralph, ujung jari telunjuknya menempel di d**a. "Aku benci mengatakan itu tetapi aku harus menanyakannya, Bung." Sela Joseph muak. Ia yang terus membelokkan kemudi mobil karena medan jalannya yang terlalu banyak belokan. "Apa yang harus aku katakan?." Gumam Ralph, dengan sedikit kebingungan. "Bilang saja siapa namamu, kawan. Aku tidak suka terus-menerus memanggil orang lain dengan sebutan yang mereka juga tidak suka. Seperti kawan, sahabat ataupun saudara." Decaknya dengan sia-sia. Ralph mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ia menoleh kearah Joseph sesekali. Ia tersenyum manis seraya berkata. "Dari segi bicaramu, kau telah melalui banyak perjalanan dan peristiwa yang buruk sehingga orang lain menganggapmu berengsek dan sebagainya, benarkan?." "Ngomong-ngomong aku Jared, Jared Padalecki." Imbuhnya. Mereka berdua langsung bersalaman. "Aku Joseph, Joseph Andrews!. Sahutnya. Setelah mengatakannya, ia langsung menarik tangannya kembali. "Maafkan aku, Jared. Kau benar, aku seharusnya tak melampiaskan keburukan itu kepada orang lain." Kata Joseph, dengan memasang muka canggung. "Tidak apa, Joe. Aku sering melakukan hal itu juga sehingga aku tahu bagaimana rasanya. Lebih baik meluapkannya daripada menyimpannya sendiri tetapi tetap, tidak semua orang mengerti apa maksud dari perkataan dan perilakumu tadi." Decak Ralph, sembari melamunkan seseuatu. Ia menghela nafas pasrah seraya berkata. "Menurut kau, apa yang di lakukan semua orang di sini. Apa yang kau lakukan di sini dengan pakaian formal dan mahal itu? Ku harap tidak ada kejadian buruk apapun." "Pesta inti dari keunikan dan keistimewaan The Mcliefters, mereka semua akan berpesta pora di wastu besar itu." Sontak perkataan Joseph membuat Ralph tertegun, lantas ia menggeliat-geliatkan matanya tak berarah karena tidak tahu. "Pesta inti?." Gumam Ralph. "Sungguh! Aku tidak tahu." Imbuhnya. "Huh, Nanti juga kau akan tahu, Jared."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD