Anggota FBI dan kepolisian di kota K.
Saat ini, mereka tengah berada di lorong-lorong yang gelap. Mengendap-endap dan waspada, berjalan berurutan tanpa suara.
Berseragam sama dan bersenjata lengkap. Mereka sudah mengepung tempat ilegal itu.
Theresa dan lainnya tengah berada di dalam lift, membidik dan menatap lurus kearah pintu lift di depan mereka. Wajah-wajah mereka terlihat serius dan tatapan mata mereka seperti elang, tajam dan fokus.
Ternyata perusaan itu memiliki ruangan bawah tanah, walaupun di bawah tanah tetapi ruangan-ruangannya begitu luas dan seperti labirin di dalam tanah. Bisa di sebut dengan tempat untuk operasi ilegal.
Banyak benda-benda dan mesin ilegal lainnya.
Sesuai yang di katakan oleh Dean, tempat ini adalah tempat operasi rahasia mereka.
Banyak imigrasi gelap di gedung itu.
Saking besarnya tempat operasi rahasia mereka, kegagalan tahun-tahun sebelumnya seakan-akan tergantikan.
Sergapan kali ini sungguh membuat sibuk parah penegak hukum, terutama di bagian militer.
Tentu saja, banyak yang terluka di sana. Para pegawainya maupun para penegak hukum.
Perusahaan besar itu tercatat sebagai tempat operasi rahasia terbesar. Penyergapan terbaik sepanjang sejarah.
Bagaimana tidak, yang memberitahu tempat persembunyian mereka saja dari bos Mafianya langsung. Tetapi, Theresa tidak membocorkan informasi tentang siapa yang berjasa dalam hal ini.
***
Dan semenjak saat itu juga, Dean tidak pernah datang ke kepolisian tempat di mana Theresa bekerja. Seakan-akan, ia tidak pernah datang kesana.
Bertemu dengan Jamie pun ia tidak pernah, ia menjadi lelaki misterius seusai penyergapan itu.
"Ah, kenapa pikiran ku ini. Kenapa aku peduli, apa urusan ku. Mau datang mau tidak, itu terserah dia."
Ia langsung melanjutkan pekerjaannya. Mengotak-atik keyboard PC-nya.
Tidak terasa, waktu pulang pun tiba juga. Kantor kepolisian sudah tidak ada orang, hanya Theresa yang masih duduk di ruangannya.
Ia menguap dan merenggangkan badannya. Ia benar-benar kelelahan dan butuh istirahat.
Tidak lama kemudian, Theresa berdiri dengan perlahan. Mengambil tasnya dengan cepat, memasukkan barang-barangnya. Ia langsung berjalan keluar dari kantornya.
Membutuhkan waktu setengah jam untuk Theresa sampai di rumahnya.
Ia menapakkan kakinya di depan teras rumahnya. Masuk kedalam rumahnya tanpa ragu.
"Ah, kau sudah pulang, Kak."
Ternyata seorang remaja tengah duduk di sofa di ruang tengah. Membaca sebuah novel. Berserakan sisa makanan dan kantong bekas makanan di atas meja.
Dia adalah Elizabeth, adik perempuan Theresa.
"Ck. Kau belum tidur, Liz. Sudah jam berapa ini, sudah masuk sana. Jangan begadang!."
Suruh Theresa, dengan nada sedikit kesal.
"Oh, ya. Sebentar lagi. Belum selesai."
Sahut Elizabeth datar. Ia masih sibuk menatap buku novelnya itu.
Theresa menghela nafas kasar seraya berkata.
"Kan bisa di kamar, Liz. Lihat suhu AC-nya. Kau tidak merasa kedinginan? Sudah cepat pergi masuk kamar."
Sontak Elizabeth menurunkan buku novelnya, lantas menatap muak kearah Kakaknya itu.
"Kakak ini kenapa, Hah. Sekali saja biarkan aku duduk semalaman di sini."
Theresa tertegun dan membelalakkan matanya tak percaya.
"Apa kau bilang, Liz?. Sini kamu."
Kata Theresa geram, ia menghunuskan telunjuknya kearah Adiknya itu.
Dengan cepat, Elizabeth langsung menapakkan kakinya di lantai. Ia berdiri dan langsung berlari kearah tangga, cekikikan selagi ia berlari terbirit-b***t.
Elizabeth berhenti sejenak seraya berkata.
"Eh, iya. Tunggu dulu, Kak."
Sontak ia berbalik kearah Kakaknya yang berwajah kesal, lantas ia melirik kearah meja.
Di sana sudah ada sebuah surat yang berwarna putih.
Theresa langsung menyorot bingung sembari memegang pinggang.
"Di sana, di atas meja. Ada surat untukmu, Kak."
Kata Elizabeth, jari telunjuknya mengarah pada meja.
Sontak Theresa juga melirik kearah meja, lantas menurunkan tangannya.
"Surat, untuk Kakak. Dari siapa?."
Tanya Theresa, dengan dahi yang mengkerut.
Ia langsung berjalan dan menatap aneh kearah surat yang ada di atas meja.
Elizabeth mengangkat bahunya dan memasang muka tak tahu.
"Mana aku tahu, Kak. Suratnya datang jam 7 tadi. Kayaknya penting, sampai di antar sama kurir coba."
Kata Elizabeth, dengan nada mengolok-olok.
Theresa mengambil surat itu, ia juga mengambil remote AC. Setelahnya, ia langsung mematikan AC ruangan itu.
"Apa isinya, Kak?. Coba buka."
Theresa yang mendengarnya langsung menoleh kearah Elizabeth, menghunuskan tatapan sinis.
"Bukan urusan kamu, Liz. Sekarang naik ke atas dan masuk ke kamar. Tidurlah. Kenapa kamu masih di sini?."
Gerutu Theresa resah.
Elizabeth langsung memasang muka malas. Menghela nafas pasrah. Berbalik dengan terpaksa.
Ia berjalan seraya berkata.
"Kau tidak asik, Kak!. Ya sudah aku tidur dulu."
Tidak lama kemudian, Theresa langsung menyorot kembali kearah surat yang ada di tangannya itu. Ia meletakkan kembali Remote AC-nya.
Setelah itu ia langsung membuka surat itu sedikit tergesa-gesa. Membacanya dengan teliti.
Surat ini sungguh tidak jelas, alamat pengiriman dari kota yang sama dengan Theresa, nama pengirim juga membuatnya sedikit terkekeh geli.
Dari Ciuman pertama. Isi suratnya sangat kaku dan terlalu formal.
Pada hari Minggu besok, Pengirim itu mengajak Theresa untuk berkencan, di alamat restoran yang sudah tercantum di surat itu. Tentu saja, hal itu membuat Theresa terheran-heran sembari terkekeh geli.
"Kencan!?. Sebenarnya dari siapa surat ini? Tidak jelas."
***
"Tunggu! Kau ke sana bukan karena di undang oleh keluarga Mcliefter, Jared?."
Sontak pertanyaan Joseph membuat Ralph tertegun, lantas ia menggeliat-geliatkan matanya mencari jawaban.
"Eum, aku!."
Sahut Ralph canggung.
"Kalau begitu, apa hubungan kamu dengan keluarga Mcliefter?."
Lagi-lagi, pertanyaan Joseph membuatnya pangling. Dan pertanyaan yang selama ini di hindar-hindari akhirnya terlontar juga.
Ralph terdiam sembari melamunkan sesuatu.
"Seputus asa itukah? Kau tahu apa yang menjadi hak mu, Jared."
Sontak perkataan dari Joseph membuat Ralph tersadar dari lamunannya, lantas ia menggelengkan kepala dengan cepat.
"Tidak, Joe. Kau salah paham."
Joseph mendengus dingin seraya bertanya.
"Salah paham. Memangnya apa yang aku pahami?."
"Lihatlah kedepan dan lupakan perlahan masa lalu, jalani hari ini dan belajar dari hari-hari itu."
Sontak perkataan Joseph membuat Ralph terkekeh, lantas kekehannya menular. Mereka berdua langsung tertawa lepas.
"Aku baru tahu kalau kau sangat puitis. Klise tapi boleh juga."
Cetus Ralph. Ia masih terkekeh.
"Setidaknya, Itulah yang sering kakak-kakak perempuanku katakan sebelum kecelakaan pesawat."
Mereka berdua langsung terdiam. Suasana menjadi hening seketika. Canggung dan emosional.
"Mereka berdua membimbing ku walaupun mereka tidak ada di hidup ku lagi."
Kata Joseph, dengan nada sedih.
"Owh, aku tidak tahu itu, Joe. Aku turut prihatin."
Sahut Ralph. Ia merasa bersalah karena telah menertawakan perkataannya tadi. Ia menoleh kearah Joseph sesekali.
"Tidak apa, Jared. Aku hanya ingin bertanya kepada mereka, aku akan melakukan apapun untuk bertemu mereka walaupun harus mempertaruhkan nyawa ku."
Kata Joseph, sembari meremas kepalan tangannya.
"Kenapa mereka pergi meninggalkan ku? Mereka membuat ku menderita karena cinta yang mereka tinggalkan bersama ku."
Imbuhnya.
Tidak di sangka, mereka berdua sudah sampai di depan gerbang masuk. Ternyata, gerbang mereka ada dua.
"Stop!. Aku akan turun di sini saja, Joseph."
Mobil yang mereka tumpangi perlahan berhenti di depan gerbang.
Joseph menoleh tak percaya kearah Joseph seraya berkata.
"Kau mau kemana, Jared. Sebentar lagi kita memasuki parkiran, apa yang akan kau lakukan?."
Tanya Joseph dengan cepat.
Ralph keluar dari mobil dengan cepat.
"Terimakasih tumpangannya, Joe!. Senang berkenalan denganmu, kawan."
Sahut Ralph, ia tersenyum kearah Joseph sembari mengangkat tangannya.
Setalah itu, Ralph berbalik badan dan berlari terbirit-b***t memasuki gerbang.
"Apa yang akan dia lakukan?."