Di gedung kepolisian kota K begitu sibuk dan berisik, terutama di bagian unit kriminal.
Saat ini, Theresa sedang asik membaca file yang di berikan oleh pemilik unit kriminal tersebut. Jane, dia adalah pemimpin unit kriminal. Ia tengah membaca file yang ada di tangannya.
Keduanya tengah melakukan kesibukannya masing-masing.
"Baiklah, Tuan Jane. Saya akan memberikan kasus pembunuhan ini kepada tim anda. Saya yakin, tim anda pasti bisa."
Cetus Theresa, ia tersenyum manis kearah Jane.
"Siap! Terimakasih, Bos. Tim saya akan melakukan tugas dan menyelesaikan tugas ini dengan baik. Segera, kami akan memecahkan kasus ini."
Sahut Jane, ia mengangguk mafhum dan tersenyum sembringah setelah mendengarnya.
Jane berdiri dengan cepat, menundukkan kepalanya dengan sopan. Perasaan senang masih terukir wajahnya.
Begitu juga dengan Theresa yang langsung mengangguk mafhum, membalas senyuman dari Jane.
"Baiklah, Bos. Saya akan kembali bekerja."
Kata Jane.
"Tentu saja, Tuan Jane!. Silahkan."
Setelah itu, Jane mengangguk mafhum. Ia berbalik kebelakang dan berjalan keluar kantor Theresa.
Theresa masih berdiri sembari menatap kepergian Jane.
Setelah Jane tidak ada di lorong, Theresa langsung duduk kembali.
Ia bersandar dan menggeleng-gelengkan kursi roda sembari berpikir.
Ia menghela nafas kasar seraya berkata.
"Melihat Tuan Jane sesembringah itu, aku jadi teringat semangat ku ketika masih menjadi Bos di unit kriminal. Aku merindukan masa-masa sulit waktu itu."
"Aku tidak menyangka akan berada di kursi ini."
Imbuhnya.
Usia Theresa masih terbilang muda untuk duduk di kursi ini. Ia masih 30 tahunan, tetapi karena kemampuan dan nyalinya yang tak bisa di remehkan. Akhirnya, ia berhasil menempati ruang dan posisi kepala kepolisian di kota K.
Theresa menegakkan badannya kembali. Salah satu tangannya terulur dan menggapai laci. Ia langsung menariknya dengan cepat.
Yang ia dapati hanyalah beberapa tumpukan file dan satu surat di atasnya yang sudah di buka.
Ia melamun sekejap. Menyorot penasaran kearah surat itu.
Perlahan, tangan kirinya terulur kearah surat tersebut dan langsung mengambilnya.
Ia membuka dan membaca surat itu kembali.
Sontak Theresa melihat waktu janjian, lantas ia mendongak kearah jam dinding.
Masih ada 20 menitan untuk mereka bertemu di restoran yang sudah tercantum di dalam surat.
"Aku hanya penasaran, siapa orang itu. Kencan?."
Gumam Theresa, sembari menyipitkan matanya.
Tidak lama kemudian, Theresa berdiri dengan cepat. Mengambil Handphonenya, mendialkan nomor.
Ia mengambil jaket kulit miliknya, memakainya dengan cepat.
Sementara itu, Handphonenya tengah melakukan panggilan telepon.
Ia berjalan keluar dengan sedikit tergesa-gesa sembari menempelkan handphonenya di telinga kiri.
***
Lima belas menit kemudian. Theresa sampai juga di tujuan. Di restoran yang penuh dengan bunga.
Theresa tengah berdiri menghadap restoran itu.
Tidak lama kemudian, ia berjalan perlahan mendekati pintu masuk.
Seusai memasuki restoran, ia merambati seluruh ruangan dan meja-meja cantik itu.
"Maaf, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?."
Tanya seorang lelaki, dengan setelan formal. Dia adalah pelayan di restoran itu.
Theresa langsung menoleh kearah pelayan itu seraya berkata.
"Oh, iya. Tapi, saya tidak yakin, Tuan. Kenapa restoran ini sepi? Padahal tempat ini sangat menarik."
"Tempat ini sudah di pesan, Nona."
Sahut pelayan itu, dengan sedikit kebingungan.
"Oh, pantas saja tidak ada orang!."
Gumam Theresa, mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti sembari merambati seluruh ruangan.
"Apakah anda Nona Lisbon?."
Pertanyaan pelayan itu membuat Theresa mengernyitkan dahinya.
"Benar, Tuan."
Sahut Theresa, dengan nada sembringah.
Ia langsung merambati seluruh ruangan seraya bertanya.
"Apa seseorang sudah menungguku?."
Tetapi, tidak ada orang di dalam sana.
"Tidak ada, Nona Lisbon. Tetapi, tempat ini sudah di pesan dan sudah di bayar atas nama anda."
Jelas pelayan itu.
Penjelasan pelayan itu membuat Theresa tertegun, membelalakkan matanya tak percaya.
"What!?. Sudah di bayar, atas nama saya. Sungguh?."
Tanya Theresa.
Ia menggertakkan giginya, menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Wahh, tidak habis pikir. Dia mengerjai ku."
Imbuhnya, dengan nada muak.
"Silahkan, Nona Lisbon. Anda bisa menunggu di sana."
Ajak pelayan itu.
"Oh, iya. Baiklah!."
Sahut Theresa, sembari mengangguk mengiyakan.
Tidak lama kemudian, Theresa berjalan dan mengikuti pelayan itu.
***
"Akhirnya, dia datang juga. Aku sudah yakin, di pasti akan datang."
Di sisi lain, Dean tengah berdiri di ujung jalan. Restoran yang kemarin ia datangi berada di depannya, menatap dan tersenyum bahagia kearah Theresa yang sedang duduk sembari menikmati minuman yang di sajikan restoran itu.
Ia sudah lama berada di sana. Ia menunggu kedatangan Theresa sejak jam tujuh pagi.
Sekarang sudah jam delapan pagi.
Dean bukannya tidak berani untuk menghampiri Theresa, tetapi ia sedang menjaga jarak
Bisa di sebut 'cinta di ciuman pertama'.
Sejak hari itu, ia tidak bisa berpaling dari momen itu. Ia tidak pernah merasakan perasaan itu, apalagi ciuman.
Selama ini, waktu yang ia punya sudah ia habiskan untuk melakukan tugasnya dan menjadi anjing yang patuh terhadap pemilik. Jeremy Blood tidak memberikan bawahannya waktu untuk sekedar bermain-main.
Perempuan itu akan di bunuh jika bawahannya melakukan pelanggaran.
Dean merasa takut jika Theresa menjadi sasaran dari atasannya.
Tidak lama kemudian, Dean menoleh dan berjalan meninggalkan tempat itu.
***
Pada malam Jum'at pukul 20:00, sebuah rumah gedong bertingkat dua lantai terlihat sedang mengadakan pesta besar-besaran.
Semerbak cahaya lampu hampir menyelimuti kediaman tersebut.
Lapangan golf membentang dari belakang kediaman yang besar nan indah itu, sekitar 20 ribu hektar luasnya, begitu pula dengan seluruh tanah yang di batasi oleh pagar bata dan besi mengelilingi wastu.
Sungguh kaya dan sempurna keluarga mereka.
Sekitar 24 mobil menapaki jalan dan parkiran depan, separuh mobil yang datang telah terparkir rapi di sana, dan separuh lagi mengikis jalanan mendekati kediaman tersebut.
Perlu waktu sekitar 30 menit untuk sampai di parkiran, karena jalan yang terlalu panjang dan berbelok-belok, tak luput juga dengan motor yang menyisir lokasi untuk menghunuskan tujuan mereka datang.
Dari gerbang pertama yang berbahan bata menuju gerbang kedua berbahan besi sungguh memakan tidak sedikit waktu, sehingga membuat jalan itu menjadi lebih sepi ketika malam hari, pepohonan yang menjulang tinggi dan besar sukses menambah keheningan malam.
Lampu-lampu besar dan bersinar indah di ruangan berjajar di sisi-sisi lain tempat, dengan lampu gantung besar di tengah-tengah yang cukup menyilaukan mata.
Tempat itu tertata rapi, meja dan kursi tersedia untuk semua tamu yang datang, mengingat betapa besar dan luasnya kediaman meraka.
Cukup untuk menyelimuti dinginnya malam.
Di tambah lagi Champaigne sebagai menu minuman utama, berbagai minuman keras lain juga telah tersedia dengan baik untuk para tamu undangan.
Dentingan jam dinding terus berbunyi, dan akhirnya semua kerabat dan tamu dari jauh berdatangan satu-persatu menapaki parkiran luas yang sudah ada sejak dulu.
Suasana di kediaman keluarga tersebut sangat bahagia dan ramai.
Senyuman dari masing-masing tamu yang berdatangan sanggup mengalahkan cahaya terang ruangan itu, sapaan dan pelukan hangat mereka mampu mencuatkan dinginnya malam.
Obrolan hangat tercipta di kala itu.
Semua orang yang menjadi tamu undangan dengan senang hati mengenakan pakaian formal terbaik mereka. Hal ini adalah sebuah undangan yang tidak akan sembarang orang bisa mendapatkannya.
Bisa di bilang keluarga mereka cukup populer dan keluarga itu juga di juluki sebagai Mahkota Hukum.
The Mcliefters.
Nama belakang dari keluarga terpandang dan terhormat itu sungguh membuat semua orang takjub.
Siapapun tidak ingin dan tidak akan pernah berurusan dengan nama itu. Jikalau iya, mereka semua berakhir bertemu di meja juri pengadilan.
Sebagian besar dari mereka adalah seorang pengacara handal dan profesional, para lelaki dari keluarga Mcliefter sangat menggeluti bidang hukum sudah turun temurun, bahkan mereka memiliki firma atas nama itu.
Tidak hanya itu, keluarga itu sudah terkenal sampai ke seluruh dunia. Mcliefter Foundation, ini adalah program beasiswa untuk para pelajar terbaik di bidang hukum.
"Ethan!."