Bab : Aku Jatuh Cinta

1036 Words
" Terima kasih semuanya untuk hari ini! Terima kasih kalian sudah bekerja dengan baik, saling support, terutama untuk Andi! Karena dengan adanya Andi semua kendala hari ini bisa di atasi. Untuk reward hari ini, Aku ajak kalian minum kopi dan makan, makanan ringan sore nanti sepulang kerja di cafe ujung jalan di dekat kantor kita ini. Saya berharap semua datang tidak ada yang langsung pulang! Okeh sekian dari saya, selamat bekerja, mudah - mudahan kita selalu dilindungi oleh Allah. Semangat!!!" " Selamat Pagi semuanya!!!" " Selamat pagi, Bu!!!" teriak mereka bersamaan " Eh tumben, ya Bu bos kita ko baik, biasanya juga galak banget, pagi - pagi taringnya udah keluar, ntar siangan dikit tanduknya dah, udah sore kupingnya keluar asap.He..he..he." Mereka semua sibuk ghibahin Rini atasan mereka " Iya, Aneh! si kulkas dua pintu sudah mulai mencair , euy!" kasak kusuk masih saja terdengar diantara para staf " Bukan kulkas doang Bu bos kita mh, Freezer tauu!" masih saja terdengar bisik - bisik anak buah Rini sementara Andi hanya tersenyum menyaksikan mereka membicarakan atasan mereka. Bu Rini. Tapi diam - diam Andi justru mempunyai penilaian yang berbeda pada Rini. " Wanita hebat, wanita tangguh, dann ...cantik. " gumam nya dalam hati *** (" Gadis! tolong panggilkan Andi ke sini, ya!" ) ("Iya, bu siap.") " Andi kamu disuruh keruangan, Bu Bos! Sekarang. Bawa juga laporan pekerjaan yang udah kamu selesaikan tadi. Takut - takut nanti di tanyain, " Gadis berusaha mengarahkan Andi sebelum keruangan Rini " Baik, Bu! Saya ke sana sekarang. Permisi Bu!" ucapnya sopan dan ramah Tok tok tok " Iya, masuk!" terdengar suara Rini yang tegas " Permisi, Bu. Ibu panggil saya?" " Iya silah kan duduk, kamu lagi ngerjain apa tadi? Saya mau minta tolong kamu check - check data print out hari ini. Itu apa yang kamu pegang, bisa saya lihat?" Rini menegadahkan tangannya meminta kertas yang sedari tadi di pegang oleh Andi " Ini Bu. Silahkan! Boleh saya duduk disini, Bu." ijin Andi sopan " Iya silahkan! " jawabnya sambil terus memeriksa kertas - kertas yang di berikan Andi tadi. Kepala nya menangguk tanda ada sesuatu yang baru iya pahami " Bagus! Ini sudah benar! Nanti kasih saja ke Gadis, bilang saja sudah saya koreksi! Sekarang kamu duduk disini, Coba kamu check data print out ini. Kalau ada kesalahan kasih tau saya, baru nanti kamu perbaiki. " dengan gaya dan nada seperti biasanya Rini menunjukan bangku yang kosong di sebelahnya nya. " Iya bu." Andi menjawab dengan sopan, matanya langsung saja memeriksa seluruh data print out " Hem..hemm.." Rini ingin memulai percakapan tapi karena jiwa atasannya yg lebih dominan membuatnya sedikit canggung " Iya, Bu!" " Hem..itu saya mau tanya, bagaimana bisa kamu sehebat itu,hem..maksud saya, ko bisa kamu jadi IT gitu tadi? Sebenarnya kamu kuliah jurusan apa, saya jadi binggung? " tanya nya panjang Ternyata pertanyaan Rini yang serius, tapi dijawab santai oleh Andi. " Gini loh bu, sebenarnya saya tuh kembar, nah yang kemarin betulin server ibu tuh, kembaran saya. Kalau saya yang ini, Bisanya laporan keuangan, management.Gitu bu." jawab Andi santai tanpa merasa bersalah " Ha! Apa maksud kamu? Kamu nggak lagi bercanda kan?" dan di anggap serius oleh Rini " Eh maaf, Bu. Saya bercanda ko, Bu. Nggak seperti itu, Ayah saya dulu seorang IT. Nah saya sering diaja- ajak buat bantu- bantu. Saya perhatikan. Lama - lama saya bisa. Tapi berhubung saya nggak terlalu minat bidang itu, jadi ya, saya kuliah ambil bidang lainnya. Dengan santai tapi tetap sopan Andi menjelaskan kepada, Atasannya. Terkadang Rini serius mendengarkan, Tapi terkadang Rini terbawa arus dengan pembawaan Andi, yang hangat dan tulus. Sesekali Rini melirik diam - diam ke arah Andi. Ego nya sebagai atasan membuatnya tetap menjaga image nya. Tapi tidak bisa di pungkiri Rini merasa ada sesuatu yang berbeda yang dia rasakan bila berdiskusi dengan Andi. Jam pulang kerja sudah tiba, sesuai rencana seluruh staf divisi Rini, akan berkumpul di cafe seberang jalan, dekat kantor. Tanpa terkecuali dengan Andi. " Ayok Andi, kita ke cafe sebrang kantor. Kamu belum siap - siap!" Gadis dan Ratna sudah mulai bersiap - siap. Dan akan segera keluar dari kantor. Jaraknya yang dekat membuat mereka tidak perlu membawa kendaraan. cukup berjalan kaki saja. " Ya udah, Bu. ibu duluan saja. Nanti saya menyusul. Biar saya selesai kan sedikit lagi pekerjaan saya." ucap Andi sopan Akhirnya Gadis dan Ratna memilih pergi lebih dulu. Tidak ingin yang lain nanti menunggu mereka. " Tok...tok..tok.." terdengar langkah sepatu pantofel di duangan yang mulai kosong penghuninya. Suaranya mengema indah di dalam ruangan. Sampai akhirnya suara langkah sepatu berhenti di meja kerja Andi. " Loh ko kamu belum berangkat ke cafe? Gimana sih. kamu mau biarin yang lain nungguin kamu di cafe?" akhirnya keluar lagi sifat asli Rini yang judes dan galak " Eh..iya, Bu. Siap - siap, Bu! Saya berangkat sekarang." ujar Andi dengan wajah polosnya " Ya udah ayok bareng saya!" " Lo kemana, Bu? Katanya saya harus kecafe." entah pura - pura bodoh atau hanya sekedar melucu " Kamu pikir saya mau ajak kamu kemana, Ya ke cafe, Lah!" Rini berjalan sambil geleng - geleng kepala, diikuti Andi di belakang nya Posisi mereka yang berada dilantai dua. Membuat mereka harus naik lift. Sialnya ternyata lift sepi, Karena sebagian orang sudah pulang semua. Karena memang jam pulang kantor sudah habis. " Ini kenapa sudah sepi begini?" tanya Rini dalam hati Dan tiba - tiba Andi berkata " Kita seperti di adegan film horor itu ya, Bu. Yang hanya berdua di dalam lift." " Apasih Andi kamu jangan ngomong macem- macem, saya takut, semua ruangan sudah sepi tu!" ujar Rini yang mulai merapatkan barisannya mendekati Andi " Ha..ha..ha. !" Andi tertawa puas " Lo ko kamu, tertawa, sih, nggak sopan! " ujar Rini sambil merenggangkan jaraknya " Maaf, Bu. Habis ibu lucu. Bukan biasanya ibu tuh, mandiri, tegas, maaff nih...agak galak., tapi.kenapa sekarang mendadak jadi penakut begini. Maaf sepertinya nya ibu punya saudara kembar seperti saya." dengan Santai Andi melawak " Ha..ha..ha..! Kamu lucu banget, sih. " Akhirnya mereka keluar lift dan berjalan bersama menuju cafe yang berada diseberang jalan. Sesekali terdengar tawa renyah dari Rini, dan tawa polos dan santai dari Andi. Mereka tertawa bersama, dan tidak terlihat lagi kesan seorang atasan dengan bawahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD