Chapter 8 - Natasha

1338 Words
“Ini pelatihan wartawan atau pelatihan detektif sih?” Belum sempat mulutku tertutup sepenuhnya, suara tawa geli terdengar tepat di sampingku. Dengan tak acuh, aku melirik pemilik suara itu. Ah, ternyata cowok itu lagi. “Ada yang lucu?” tegurku galak. Tim menggeleng sambil memamerkan senyuman lebarnya. “Terus kenapa lo ketawa?” hardikku sadis. “Gue heran aja, kalau memang lo nggak suka di sini, ngapain lo ke sini?” balas Tim geli. “Siapa yang bilang gue nggak suka di sini?” “Jadi lo suka?” “Bukan urusan lo.” “Yah, ok. Dan karena gue nggak mau denger ‘bukan urusan lo’ lagi, kayaknya mendingan gue jauh-jauh dari elo.” Tim membereskan peralatan tulisnya dengan sekenanya. Aku hanya meliriknya sekilas saat dia melangkah ke papan pengumuman yang sudah dipenuhi manusia yang berdesakan tak sabar. Sambil menggeleng heran, aku mulai membereskan peralatanku dan menyusul Tim. Tepat saat Tim hampir berhasil menyeruak kerumunan, seseorang tak kukenal mendadak menyeret Tim dan mengajaknya menjauh. “Kita harus bicara.” Samar-samar kudengar suara mendesak dari cowok yang lebih tinggi beberapa cm dari Tim itu. “Ini soal Talitha,” lanjut cowok itu. Radarku langsung menyala saat mendengar nama itu. Dari yang semula tak peduli, aku mulai menatap Tim dan temannya secara terang-terangan. Setahuku, hanya ada satu Talitha di pelatihan ini. Itu artinya, Tim dan temannya sedang membicarakan Talitha yang kukenal. Seolah ingin membicarakan sesuatu yang penting, teman Tim mengajak Tim menjauh. Penasaran, aku mulai mengikuti mereka dalam diam. Ketika Tim dan temannya menuju toilet pria, aku buru-buru masuk ke toilet wanita yang ada di baliknya. Dengan sigap, aku menempelkan daun telingaku ke sekat yang hanya terbuat dari triplek itu. Saat suara Tim terdengar, aku mulai tersenyum lega sambil mulai menajamkan pendengaranku. “Talitha kenapa?” tanya Tim bingung. “Dia mencurigakan. Dia pasti tahu sesuatu tentang Davina.” “Memangnya kenapa lo mikir begitu?” “Kan gue sudah bilang, dia selalu berkeliaran di danau. Sudah dua kali gue mergokin dia di sana. Yang pertama saat kita nyari bendera, yang kedua saat tengah malam tadi. Dan tadi gue jelas-jelas denger dia nyebut nama Davina. Serius, Tim. Dia pasti tahu sesuatu tentang Davina.” Tidak ada suara balasan dari Tim selama beberapa saat. “Lo tahu kan nama Davina itu bukan cuma punya kakak lo aja?” “Tapi gue yakin yang dia maksud itu Davina kakak gue.” “Entahlah, Von. Ini tampak terlalu kebetulan.” “Percaya sama gue. Kali ini insting gue pasti bener.” “Lo yakin ini bukan gara-gara dia cantik?” “Maksud lo?” “Kemarin lo bilang dia cantik dan lo tertarik sama dia kan? Lo yakin ini bukan cocoklogi lo sehingga lo punya alasan buat deket-deket sama tuh cewek?” Tidak ada suara balasan dari si cowok jangkung. Aku berusaha menajamkan pendengaranku, tapi hanya keheningan yang tercipta di balik sekatku. “Lo tahu bener apa tujuan gue ke sini.” Suara bernada dingin yang mendadak terdengar itu memberitahuku bahwa si cowok jangkung tadi jelas tersinggung dengan perkataan Tim. “Sori, Von, bukan itu maksud gue. Gue cuma mikir ini terlalu kebetulan.” “Gue akan buktiin ke elo kalau insting gue nggak salah.” “Hei, Von.. Tungguin gue. Von…” Dari suara-suara yang kudengar, aku bisa menebak bahwa si cowok jangkung berjalan menjauhi Tim sementara Tim buru-buru menyusulnya. Tak ingin ketahuan sedang menguping, aku buru-buru masuk ke bilik toilet. Begitu keadaan sudah benar-benar hening, baru aku memutuskan untuk keluar dari persembunyianku. Dari kejauhan, aku menatap Tim, yang sekarang sudah duduk bersama kelompokku. Sejujurnya, aku sama sekali tidak mengerti dengan isi pembicaraan Tim dan temannya. Tapi karena ini ada hubungannya dengan Talitha, aku tidak bisa menyingkirkan rasa penasaranku begitu saja. Entah bagaimana caranya, aku harus mencari tahu tentang rahasia Talitha. Mulai dari alasannya masuk ke hutan saat semua terlelap, hingga sosok Davina yang disebut-sebut Tim tadi. Ya… Aku harus mencari tahu soal semua itu dengan cara apapun. Termasuk dengan mendekati Tim untuk mengorek sedikit informasi darinya.   *   Niatku untuk mendekati Tim ternyata bisa kurealisasikan dengan mudah. Karena kami berada di kelompok yang sama, Tim sama sekali tidak curiga saat aku duduk di sampingnya atau bersikap jauh lebih ramah padanya dibanding sebelumnya. Sepanjang diskusi kelompok, aku sibuk mengawasi Tim. Di mataku, Tim tidak tampak seperti orang yang mempunyai tujuan lain di sini. Dia tampak antusias bahkan cukup berperan aktif dalam diskusi. Singkatnya, dia tampak seperti Talitha. Yah, atau paling tidak Talitha yang kupikir kukenal. Serius, kupikir Talitha menganggap penting kegiatan ini. Tapi kenapa dia sampai melakukan perbuatan yang jelas akan merugikan dirinya sendiri? Apa yang sebenarnya dia sembunyikan? “Nat, lo nggak keberatan kan kalau kita kerja berdua buat bikin semua ini?” Aku tersentak dari lamunanku saat suara Tim menyapa telingaku. Reflek, aku tersenyum dan menggeleng cepat. Anehnya, Tim langsung menghela nafas lega dan tampak rileks begitu melihat responku. “Syukurlah. Gue pikir lo bakal ngambek lagi ke gue. Tapi lo lihat sendiri kan kalau kita bisa kerjasama kayak gini karena kebetulan?” Aku tertawa dalam hati. Apa mungkin aku tampak segalak itu sehingga Tim sepertinya agak terintimidasi olehku? Seandainya saja dia tahu aku justru senang bisa bekerjasama dengannya. Aku bahkan sempat berdoa agar kami bisa mendapatkan tugas yang sama saat pengacakan tugas oleh tutor kami tadi. “Gue nggak sejelek yang lo pikirin kok, Tim,” kataku membela diri. “Sori kalau gue sempet nyinggung lo kemarin atau tadi pagi. Gue lagi bete berat. Tapi gue pastiin itu nggak akan terjadi lagi, jadi lo bisa santai ke gue.” “Serius? Baguslah. Gue sudah mikir buat minta ganti tugas sama Yanuar tadi,” aku Tim sambil terkekeh. “Ok lah, jadi sekarang kita harus mulai dari mana?” “Sebentar. Sebelum kita mulai, gue mau nanya dulu nih. Nggak ada hubungannya sama tugas kita, tapi jawab aja. Dari semua tutor di sini, siapa yang paling tegas menurut lo?” Kening Tim tampak berkerut bingung, tapi tanpa banyak tanya, dia tetap merespon pertanyaanku. “Paling tegas? Hmm, entahlah. Di mata gue semuanya tegas. Memangnya kenapa?” “Hmm.. Gue lagi menimbang-nimbang buat ngelaporin seseorang ke tutor yang paling tegas di sini.” “Ngelaporin seseorang? Memangnya apa yang harus dilaporin?” “Tengah malam tadi ada salah satu peserta yang masuk hutan sendirian. Itu jelas-jelas melanggar peraturan kan?” Tim terlihat waspada setelah mendengar jawabanku. “Lo.. Lo yakin nggak salah lihat?” tanyanya ragu. Aku menggeleng cepat. “100% nggak mungkin salah.” Kini Tim tampak gelisah. Penasaranku makin membuncah melihat respon Tim. Maksudku, kenapa Tim tampak segelisah itu? Dari percakapannya dengan temannya tadi, sepertinya Tim tidak mengenal Talitha. Tapi kenapa dia harus segelisah itu? “Mungkin sebaiknya jangan dilaporkan dulu,” kata Tim tiba-tiba. “Kenapa?” “Paling tidak lo harus konfirmasi dulu ke yang bersangkutan, apa benar dia melakukan apa yang lo tuduhin. Kalau lo salah lihat, itu bisa jadi fitnah kan? Lagipula, mungkin dia punya alasan.” “Gue nggak salah lihat. Talitha sendiri sudah mengiyakan walaupun nggak secara terang-terangan.” Tim mendadak melongo melihatku. “Talitha?” ulangnya bingung. Aku mengangguk tegas. “Jadi yang lo maksud dari tadi itu si Talitha, bukan yang lain?” Giliran aku yang mengernyit bingung. “Memangnya ada lagi selain Talitha?” Tim jelas tampak salah tingkah. Dan sikapnya yang aneh itu memberiku pemahaman baru. “Lo juga masuk hutan kemarin malam?” tanyaku curiga. Wajah Tim yang kaget memberiku jawaban pasti. Sama seperti Talitha, sepertinya Tim sama sekali tidak berbakat untuk berbohong. “Enggaklah… Ngapain juga gue ke hutan malam-malam?” kilah Tim. Aku menyipit sangsi. “Ada apa sih di dalam hutan? Kenapa Talitha, elo dan temen lo main di hutan di jam yang nggak wajar?” Mata Tim membelalak lebar. Wajahnya mulai pucat pasi. “Gue… Gue nggak ngerti lo ngomong apaan. Tapi sori, gue harus mulai ngumpulin informasi buat kasus kelompok kita. Gue duluan ya.” Sekarang aku yakin Talitha, Tim dan temannya memang masuk ke hutan kemarin. Mungkin tidak secara bersamaan, tapi mereka bertiga sepertinya mempunyai tujuan yang serupa. Dan tugasku adalah mencari tahu soal semua itu. “Lo lupa kalau kita dapet tugas yang sama? Lo ke mana, gue jelas harus ikut,” kataku sok polos. “Gue… Maksud gue, gue kebelet. Gue ke toilet dulu ya, lo tunggu aja di sini dulu.” Tanpa menunggu jawabanku, Tim melangkah cepat meninggalkanku. Tak punya pilihan, aku memilih duduk di pendopo sambil mencari sosok Talitha. Saat menemukan Talitha tengah bercengkrama dengan beberapa anggota timnya, aku menggeleng pelan. Siapa yang menyangka cewek satu ini akan mencari masalah bahkan di hari-hari pertamanya di sini. “Gue pasti bakal nyari tahu kenapa lo ke hutan tengah malam saat semua orang sudah tidur kayak kemarin. Dan begitu gue tahu, gue pasti bakal laporin lo dan ngebuat acara ini jadi mimpi buruk buat lo,” gumamku penuh tekad. Tepat setelah aku menutup mulutku, sebuah suara tegas langsung terdengar dari balik punggungku. “Siapa yang masuk hutan tengah malam kemarin?” Kaget, aku reflek melirik sosok yang tengah berdiri di sampingku. Dan saat aku melihat Kak Tyas, aku tidak tahu aku harus senang atau malah ragu.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD