Kecurigaanku pada Davina semakin membesar dari waktu ke waktu. Setelah menghilang pagi tadi, Davina seolah lenyap ditelan bumi. Dia tidak tampak di mana-mana. Saat makan siang pun Davina masih juga tidak terlihat di manapun. Bahkan saat berkumpul dengan kelompok yang sudah dibagikan tadi pagi pun, Davina masih juga tidak terlihat bersama dengan kelompok manapun.
Jika tadi pagi aku curiga ada yang tidak beres dengan Davina, sekarang aku yakin memang ada yang tidak beres dengan Davina. Dia jelas bukan anggota peserta pelatihan. Tapi kenapa dia berada di sini jika dia bukan anggota pelatihan? Merasa tertipu sekaligus penasaran, aku memutuskan untuk mencari Davina begitu aku bisa.
Kesempatanku untuk mencari Davina tiba sore itu. Ketika acara bebas berlangsung, aku buru-buru menyelinap masuk ke dalam hutan untuk mencari Davina. Aku tahu ini sangat random, tapi setelah mencari nyaris di semua penjuru perkemahan dan menemukan hasil nihil, aku punya perasaan kuat akan menemukan Davina di danau yang berada tepat di tengah hutan. Aku tahu ini belum pasti, tapi mengingat pertemuan pertamaku dengan Davina adalah di sekitar danau, juga karena ini masih sangat terang untuk masuk ke dalam hutan, aku nekad untuk mencari Davina dan menuntaskan rasa penasaranku.
Tidak sulit bagiku untuk menyelinap ke dalam hutan sore itu. Sebagian besar peserta maupun panitia tampaknya lelah dengan padatnya kegiatan hari ini, sehingga begitu ada waktu bebas, mereka memanfaatkannya untuk berbaring di tenda. Kalaupun mereka berkeliaran di sekitar tenda maupun duduk bermalas-malasan di pendopo, semua tampak terlalu lelah untuk memperhatikan yang lain. Itu menguntungkanku, tentu saja. Tanpa ada yang melihat, aku berhasil memasuki hutan dan mulai mencari sosok misterius Davina.
Angin yang bertiup sepoi menerpa wajahku ketika aku melangkah cepat menuju danau di tengah hutan. Entah karena aku sendirian dan tegang setengah mati karena takut ketahuan, atau memang karena suasana hutan yang terasa agak mengerikan, aku bisa merasakan bulu kudukku mulai berdiri. Tidak mengacuhkan perasaan berdebar yang mulai menyelimutiku, aku mempercepat langkahku.
Begitu aku hampir tiba di tepi danau, aku menghembuskan napas lega. Aku bahkan tidak bisa menahan senyum tipisku saat aku melihat sosok itu. Seperti yang kuduga, aku bisa menemukan Davina di sini. Sama seperti saat aku melihatnya pertama kali, kali ini Davina sedang berdiri serius di bawah sebuah pohon besar yang terletak tak jauh dari tepi danau, sambil menatap lurus ke arah danau. Saking seriusnya dengan lamunannya, Davina bahkan tidak menyadari kehadiranku sama sekali. Saat aku sengaja berdehem, baru Davina menoleh agak kaget padaku.
Davina langsung tersenyum saat melihatku. “Hai, Ta. Kamu kok ke sini? Mau membantuku mencari anting lagi ya?” tanyanya ramah.
Aku menatap Davina tajam. Tanpa berniat basa-basi, aku menanyakan apa yang ingin kutanyakan sejak seharian ini. “Katakan sejujurnya. Sebenernya lo itu siapa? Kenapa lo ada di sini?”
Senyuman Davina sontak menghilang, digantikan dengan keterkejutan yang tidak ditutupi.
“Gue Davina, peserta pelatihan, sama kayak lo. Kenapa lo tanya?” jawab Davina kaku.
Aku menggeleng pelan. “Bukan. Lo bukan peserta pelatihan ini.”
Davina terdiam sejenak, sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Lo bener, Ta, gue memang bukan peserta pelatihan ini. Terus terang gue kaget lo bisa tahu secepat ini, tapi di sisi lain, ini hal yang bagus. Gue semakin yakin gue bisa ngandalin lo, Ta.”
Aku mengernyit bingung.
“Maksud lo apa?” tanyaku datar.
“Duduklah dulu, gue akan ceritain segalanya,” pinta Davina sambil memberiku isyarat untuk duduk di atas batu besar yang ada di dekat danau.
Entah kenapa, aku malah menuruti ucapan pembohong satu itu. Dengan patuh, aku duduk di atas batu besar itu tanpa mengalihkan tatapanku dari Davina. Begitu aku duduk, Davina menatapku lekat. Wajahnya tampak serius.
“Pertama-tama, gue minta maaf karena telah bohongin lo,” buka Davina. “Gue nggak nyangka lo akan memergoki gue di sini. Gue takut lo akan ngelaporin gue, jadi gue mutusin buat bohong ke elo tentang status gue.”
Davina berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Tapi gue ke sini bukan untuk tujuan yang buruk. Gue hanya ingin mencari tahu tentang sesuatu di sini.”
“Mencari tahu tentang apa tepatnya?” tanyaku tak sabar dengan penjelasan Davina yang terkesan bertele-tele.
Davina kembali menatapku lekat. Tak lama, baru Davina membuka mulutnya. Hanya saja, kata-kata yang keluar dari mulutnya saat itu benar-benar sulit untuk kupercaya.
“Ada pembunuh di pelatihan ini,” kata Davina lirih.
Aku sempat terkejut bahkan memandang Davina emosi saat Davina mengatakan ada pembunuh di perkemahan ini. Kata-katanya benar-benar tidak masuk akal di telingaku. Tapi belum sempat aku menyuarakan pendapatku, Davina sudah menyelaku dengan bicara terlebih dahulu.
“Gue tahu ini sulit buat dipercaya, tapi gue serius. Ada pembunuh di perkemahan ini,” tegas Davina yakin.
Keseriusan wajah Davina membuatku sedikit melunak. Aku tetap tidak percaya, tapi aku menjadi ingin mendengar ceritanya terlebih dahulu.
“Pembunuh?” ulangku sangsi.
Davina mengangguk tegas. “Tahun lalu, seorang peserta dinyatakan hilang saat mengikuti acara ini. Menurut kabar yang beredar, gadis itu tenggelam di danau. Jasadnya terbawa arus dan sampai sekarang tidak diketemukan. Banyak rumor yang berkembang tentang hal ini. Ada yang bilang gadis itu bunuh diri, ada yang bilang gadis itu sedang sial karena berenang di danau saat air pasang, bahkan ada juga yang bilang gadis itu sebenarnya bukan tenggelam, tapi kabur dari pelatihan karena tidak tahan dengan tekanan saat berada di sini. Tapi percayalah, semua itu bohong. Gadis itu dibunuh. Dan pembunuhnya masih berkeliaran di sini.”
Aku bergeming. Sesuai dengan bayanganku, cerita Davina barusan luar biasa tidak masuk akal. Gadis yang tenggelam? Pembunuh? Apa-apaan ini? Aku termasuk sangat giat mencari informasi tentang pelatihan ini. Bahkan bukan hanya tahun ini, tapi tahun lalu saat usiaku belum bisa diterima untuk mengikuti pelatihan ini. Dan selama aku mencari informasi tentang semua ini, aku tidak pernah mendengar berita apapun tentang apa yang dikatakan Davina. Sedikitpun tidak.
“Lo sinting, Dav. Gue nggak tahu siapa lo, tapi gue tahu gue nggak boleh ngebiarin orang sinting kayak lo berkeliaran di perkemahan ini,” kataku tegas.
“Cewek yang menghilang itu sahabat gue. Orang yang paling deket sama gue, orang yang paling ngertiin gue,” potong Davina lirih. “Gue memang nggak tahu kenapa berita ini sama sekali nggak terekspos di media, tapi gue tahu bener kalau sahabat gue itu dibunuh.”
Aku terdiam. Aku tidak yakin aku percaya pada Davina, tapi Davina memang terlihat sedih saat menceritakan hal ini.
“Selama di sini, kami tetap saling bertukar kabar. Setiap hari, dia pasti memberitahuku tentang apa saja yang dia lakukan seharian itu. Beberapa hari sebelum menghilang, dia sempat menceritakan sesuatu. Dia bilang dia menemukan berita besar yang akan menghebohkan media nasional jika berita itu tersebar. Setiap hari dia selalu mengupdate informasi tentang itu, mulai dari caranya mendapatkan bukti lebih hingga bagaimana dia mengikuti target beritanya, yang ternyata adalah salah satu wartawan senior yang menjadi tutor di sini. Hingga suatu hari dia memberitahu gue dengan ketakutan bahwa sepertinya targetnya sudah mengetahui apa yang dilakukannya. Sejak saat itu, gue nggak pernah lagi menerima smsnya. Bukan hanya itu, gue nggak pernah lagi bisa bertemu dengannya,” kata Davina lirih.
“Dia diduga meninggal di danau, kalau lo mau tahu. Polisi sempat menemukan benda miliknya di tepi danau. Maka itu, polisi menarik kesimpulan, dia tenggelam. Tapi percayalah, dia nggak mungkin tenggelam. Kalau tidak memutuskan untuk menjadi reporter, dia bisa menjadi atlet renang nasional. Itu pendapat pelatih renangnya sendiri. Satu-satunya penjelasan masuk akal tentang hal ini adalah dia dibunuh. Pembunuhnya adalah salah satu dari tutor itu. Gue tahu, karena gue sudah melihat daftar nama tutor, dan tutor-tutor tersebut sama dengan tahun lalu. Hanya ada beberapa tutor baru yang datang sekarang, tapi semua tutor tahun lalu tetap ikut di sini. Lo tahu apa artinya ini kan?”
Penjelasan Davina membuat kepalaku pening. Jadi karena itu Davina berlama-lama di danau dan terlihat sangat arogan saat pertama kali aku bertemu dengannya?
“Lo sepertinya masih sangsi sama semua omongan gue,” tuduh Davina.
“Lo sudah bohongin gue sekali, jadi wajar kalau gue nggak bisa langsung percaya sama lo. Apalagi semua penjelasan lo barusan sama sekali nggak masuk akal.”
“Kalau gue bisa buktiin semua omongan gue ini bener, apa lo akan bantu gue?”
Davina menatapku penuh tekad.
“Lo punya bukti?”
Davina menggeleng, namun tatapannya terus mengawasiku. “Gue nggak punya bukti, tapi gue punya dua saksi.”
Aku mengernyit kaget? Saksi?
“Kalau semua ini benar, apa lo janji akan bantu gue untuk menemukan titik terang soal ini?”
Aku merasa tidak punya pilihan selain mengangguk samar. “Kalau saksi lo bisa dipercaya.”
Davina mengangguk setuju. “Devon dan Timothy. Devon yang sekelompok sama lo, sementara Timothy ada di kelompok putih. Lo bisa cek kebenaran cerita ini dari mereka.”
“Devon?”
“Iya, Devon. Dia adalah adik dari sahabat gue, sementara Timothy adalah sahabatnya Devon. Gue yakin mereka berdua mengikuti pelatihan ini dengan alasan yang sama kayak gue. Mereka ingin mencari tahu soal kematian sahabat gue.”
Kepalaku semakin berdenyut. Apa-apaan ini?
“Vina. Nama sahabat gue hampir sama kayak gue. Lo bisa konfirmasiin itu ke Devon atau Timothy. Mungkin mereka bisa menjelaskan lebih detail daripada gue.”
“Ini tidak masuk akal.”
“Tapi ini benar-benar terjadi, Ta. Gue juga tidak suka berkeliaran di sini seorang diri, Ta, tapi gue nggak punya pilihan lain. Gue nggak punya keahlian khusus yang bisa membawa gue ke pelatihan ini, jadi menyusup adalah satu-satunya cara. Dan untuk itu gue butuh bantuan lo.”
“Bantuan apa yang tepatnya lo butuhkan dari gue?”
Davina baru saja akan menjelaskan saat tidak sengaja kami mendengar suara gemerisik dedaunan kering yang terinjak oleh sepatu seseorang. Aku dan Davina reflek menoleh ke sumber suara. Dan kami reflek membelalak kaget saat menyadari bukan hanya kami yang berada di dalam hutan saat ini. Dari kejauhan, kami sempat melihat siluet seseorang sebelum sosok itu menghilang di balik pohon besar. Sekalipun sosok itu bersembunyi, aku bisa memastikan sekelebat siluet yang sempat terlihat olehku sebelum sosok itu menyembunyikan dirinya di belakang pohon besar yang terletak beberapa meter di depanku adalah sosok Natasha.
“Ada yang datang, sekarang gue harus bersembunyi,” kata Davina panik.
Aku mengangguk pelan. “Itu Natasha. Pergilah sementara gue ngalihin perhatiannya.”
Davina mengangguk cepat. “Gue akan menjelaskan semuanya malam ini. Setelah orang-orang tidur, gue akan menemui lo lagi. Gue akan coba menemui lo di perkemahan, tapi kalau gue nggak berhasil menyusup ke sana, lo bisa pergi ke sini. Gue akan nungguin lo di sini.”
Aku mengangguk cepat sebelum memberi Davina isyarat untuk segera pergi. “Iya, gue ngerti. Pergilah sekarang.”
Kali ini Davina mengangguk dan cepat berlari meninggalkanku. Begitu yakin Davina sudah tidak tampak di manapun, baru aku bangkit dari tempat dudukku dan berteriak kecil pada Natasha.
“Nggak usah sembunyi. Gue tahu kalau lo ngikutin gue,” sindirku lelah.
Natasha keluar dari persembunyiannya. Aku menghampirinya cepat dan berdiri tepat di hadapannya.
“Lo masih inget kan sama yang gue bilang sebelum ke sini? Jangan coba-coba ganggu gue atau lo akan gue bikin menyesal,” ancamku sinis.
Aku melangkah besar-besar menjauhi Natasha. Hari ini aku sama sekali tidak berminat berdebat dengannya.
***