Sekarang aku yakin telah melakukan kebodohan besar.
Aku menghela napas panjang. Bahkan belum satu jam berlalu, aku sudah merasa sangat tidak betah di sini. Aku menoleh sekelilingku sebelum kembali menghela nafas panjang. Hanya ada pohon di kanan dan kiriku. Untuk saat ini, pohon-pohon itu tampak biasa-biasa saja, tapi aku cukup yakin pohon-pohon ini akan tampak mengerikan saat malam tiba. Entah apa yang sebenarnya kupikirkan hingga akhirnya aku berakhir di tengah hutan seperti ini.
Sambil menggeleng frustasi, aku melangkah keluar dari sisi hutan menuju ke pendopo yang terletak beberapa meter di depanku. Begitu tiba di pendopo, aku melangkah ke sudut pendopo dan bersandar lelah pada tiang penyangga. Kulirik sekilas gurat-gurat pink yang mulai muncul di lengan dan kakiku. Ah, siallll… Hanya demi sebuah bendera, aku terpaksa melewati hutan dan melawan segala macam rumput maupun tumbuhan liar yang langsung membuatku gatal-gatal. Ya, hanya demi sebuah bendera!
Aku memegang sebuah bendera putih dengan penuh dendam. Mencari benda terkutuk ini memang tidak susah, tapi proses mendapatkannya sama sekali tidak bisa dibilang mudah. Benda sialan itu sengaja diletakkan di semak-semak tak jauh dari perkemahan. Aku langsung melihat warna putih mencolok di antara warna hijau lainnya tak lama setelah aku memasuki hutan.
Masalahnya adalah cara mengambil bendera sialan itu. Jika aku ingin mengambil bendera yang berkibar di tengah dedaunan itu, aku harus melewati semak rimbun yang menyimpan ranting-ranting tajam di baliknya. Jika mengikuti hatiku, aku pasti akan meninggalkan bendera itu dan mencari bendera lainnya. Tapi otakku menentangnya keras. Kenapa aku harus repot-repot mencari bendera lain jika jelas-jelas ada bendera yang sedang menungguku di hadapanku. Tak ingin menghabiskan tenaga untuk mencari di tempat yang lebih mudah dijangkau, aku terpaksa mengorbankan tangan dan kakiku demi bendera kecil itu. Dan benar saja. Begitu aku menembus semak, ranting-ranting tipis dengan dedaunan kering mulai menyapa kulit kakiku dan membuatnya tergores di mana-mana.
“Bagi kelompok aja ribet banget. Bikin kesel orang aja!” omelku sambil melempar pelan bendera itu ke hadapanku.
“Kamu dapat bendera putih ya? Berarti kita bakal sekelompok nanti.”
Aku terlonjak kaget saat mendengar suara bariton itu menyapaku. Setengah penasaran, aku melirik pemilik suara yang berani-beraninya mengganggu kesendirianku. Cowok bertubuh kurus tinggi dengan wajah ramah langsung tertangkap oleh mataku. Saat tahu aku melihatnya, mendadak saja cowok tak kukenal itu tersenyum lebar padaku.
“Hai, gue Timothy, tapi panggil aja gue Tim,” sapa Tim memperkenalkan diri.
Aku mengangguk pelan sebelum menjawab malas. “Natasha,” kataku reflek.
“Senang kenal sama lo, Nat,” kata Timothy basa-basi. “Omong-omong, gue pikir gue adalah orang pertama yang nemuin bendera dan balik ke sini. Ternyata lo lebih cepet daripada gue,” kata Timothy riang.
Aku mengernyit terang-terangan. Terus terang, aku bahkan tak sadar menjadi peserta pertama yang kembali ke tenda. Satu-satunya hal yang kupikirkan tadi hanyalah mencari tempat duduk untuk melepas lelah.
“Lo boleh ngaku jadi orang pertama kok. Gue nggak peduli,” kataku tak acuh.
Tim terlihat kaget sebelum akhirnya tertawa kecil. “Sebenernya, gue cuma cari bahan pembicaraan kok. Kelihatannya lo lagi nggak enak hati ya?”
Aku menyipitkan mata tak suka. Sepertinya Tim merupakan tipe cowok yang sok akrab dan ingin tahu urusan orang lain. Dan aku sendiri, aku paling benci orang seperti itu.
“Bukan urusan lo. Dan omong-omong, gue nggak berniat basa-basi sama lo. Kalau mau basa-basi, ke orang lain aja. Tuh anak-anak sudah mulai banyak yang balik,” kataku sambil mengendikkan kepalaku ke arah pintu pendopo.
Tim mengikuti pandangan mataku. Kurang lebih lima anak mulai kembali ke pendopo. Saat kelima anak tadi mulai memasuki pendopo dan memamerkan bendera mereka, mendadak aku menyadari sesuatu. Mencelos, aku menatap bendera putihku. Arghhh, sial. Kenapa aku baru menyadari hal ini sekarang?
Bendera!
Warna bendera!
Untuk bisa menjadi satu kelompok, kami harus menemukan bendera dengan warna yang sama! Lalu bagaimana dengan aku dan Talitha? Aku mendapatkan bendera warna putih, tapi bagaimana kalau Talitha tidak mendapat bendera dengan warna yang sama? Aku harus sekelompok dengannya agar aku bisa membuatnya gagal dalam pelatihan kali ini. Jika aku tidak berhasil sekelompok dengannya, berarti semua yang kukorbankan untuk mengikuti pelatihan ini akan menjadi sia-sia!
“Sial!” umpatku kesal. “Seharusnya gue ngebuntutin cewek rese itu tadi,” lanjutku mulai emosi.
“Ngebuntutin siapa?” tanya Tim heran.
Agak kaget, aku kembali melirik Tim. Kenapa cowok aneh ini masih di sini?
“Kenapa lo masih di sini sih?” tanyaku kesal.
“Kenapa gue harus pergi? Kita kan satu kelompok, jadi nantinya kita juga bakal bareng,” jawab Tim bingung.
“Kalau begitu biar gue yang pergi,” tukasku kesal.
Tanpa aba-aba, aku bangkit dari posisiku dan mulai mondar-mandir di depan pendopo. Sebentar-sebentar, aku melongok ke arah hutan. Beberapa anak mulai kembali ke pendopo, tapi sosok yang kucari sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.
“Apa lo punya masalah? Kok kayaknya lo gelisah banget?”
Sekali lagi suara Tim mengejutkanku. Reflek, aku menoleh cepat ke arah Tim yang sudah berdiri di belakangku.
“Astaga, lo ngapain sih? Ngagetin gue aja?” sahutku kesal.
“Gue cuma mau bantuin lo kalau lo punya masalah. Dari tadi lo tampak nggak tenang," balas Tim sabar.
Aku sengaja membelalak kesal menatap Tim. “Satu-satunya masalah gue sekarang adalah lo. Jadi kalau lo mau bantu gue, bisa minta tolong tinggalin gue sendiri?” sergahku agak kasar.
Kali ini Tim tampak tersinggung dengan keketusanku, tapi aku tidak punya waktu untuk memperbaiki sikapku. Karena tepat pada saat itu, aku melihat sosok Talitha keluar dari arah hutan. Reflek, aku berjalan mendekatinya dan memincingkan mataku untuk melihat warna bendera yang sedang digenggamnya erat. Merah. Cewek rese itu membawa bendera merah! Seketika, aku mencelos.
Berkebalikan denganku, Talitha tampak semringah begitu menangkap warna bendera di tanganku. Setelah mengamati bendera di tanganku, mendadak cewek sialan itu menatap mataku dan tersenyum tipis. Sialllll!!!!!!
Moodku yang semula sudah jelek, semakin terjun bebas melihat kepuasan Talitha. Dengan gusar, aku melempar benderaku ke tanah. Tidak, aku tidak boleh menyerah begitu saja. Tujuanku ke sini adalah untuk menganggu Talitha dan untuk melakukan hal itu, aku harus satu kelompok dengan Talitha.
Tak ingin kehilangan kesempatanku untuk menyiksa Talitha, aku memutuskan untuk kembali memasuki hutan. Aku tahu kemungkinan untuk menemukan bendera merah nyaris nihil, mengingat hampir semua anak sudah kembali ke pendopo sekarang, tapi aku merasa tidak benar jika aku tidak berusaha melakukan sesuatu. Sebelum akal sehatku kembali, aku berlari cepat memasuki hutan dan mulai mencari sekelebat warna merah hingga suara bel yang dikeraskan menggunakan pengeras suara mulai menggema di sekitar hutan.
***