Chapter 5 - Talitha

1458 Words
“Ternyata kita berjodoh.” Tanpa melihat wajahnya, aku bisa mengenali suara si pencuri bendera. Dengan malas, aku melirik cowok menyebalkan itu. Cowok itu tersenyum lebar sambil mengayunkan bendera merah yang identik dengan benderaku, tepat di hadapanku. Aku mendesah kecewa. Setelah perlakuannya tadi, aku jelas tak merasa senang bisa satu kelompok dengannya. Alih-alih menanggapi pendapatnya, aku kembali memalingkan muka, bersikap seolah tidak ada orang yang sedang bicara padaku. “Gue nggak nyangka kalau kita beneran jodoh.” Aku mendengus kasar. “Jodoh dari Hongkong? Yang ada juga lo sengaja nyari bendera merah biar bisa sekelompok sama gue.” Reflek aku menutup mulutku. Ah sial, kadang reflek mulut besarku bisa sangat menyebalkan! Cowok pencuri itu tampaknya tidak menyangka akan mendengar pernyataan macam itu dariku. Wajahnya sempat kaget sejenak sebelum terkekeh geli. “Wah, selain galak, lo juga punya rasa percaya diri yang tinggi ya. Sayangnya dalam hal ini, rasa itu ketinggian,” kata cowok itu masih terkekeh. “Percaya atau enggak, biar panitia bilang ada 50 bendera yang tersebar di hutan, dan jumlah 50 itu sangat banyak, gue cuma bisa nemu dua bendera di sepanjang pencarian gue. Bendera pertama, dengan sukarela gue kasik ke lo, sementara bendera kedua, bendera yang gue pegang sekarang.” Aku langsung menyipit jengkel mendengar perkataan si pencuri. “Ralat. Bendera yang lo akuin temuin pertama kali, itu jelas bukan bendera lo. Lo cuma nyolong tuh bendera waktu gue mau ngambil di pohon. Ngerti? Jangan sekali-kali lagi lo ngaku-ngaku kalau lo yang kasik bendera ke gue. Itu bullshit banget. Itu memang hak gue. Gue yang nemuin duluan. Dasar rese.” “Whoooo, nggak usah sewot juga kali,” kata pencuri itu cepat. “Dan ok, itu memang hak lo. Gue minta maaf karena sudah keterlaluan. Sekarang kita case closed ya. Btw, nama gue Devon. Kalau lo?” “Gue nggak minat kenalan sama lo.” “Kita satu kelompok, jadi mau nggak mau kita pasti bakal saling kenal.” “Atau mungkin juga tidak.” Devon tertawa kecil. “Oh ayolah, masa lo masih ngambek gara-gara tadi? Gue sudah minta maaf kan?” “Anggap aja gue sudah maafin lo. Tapi sekalipun gue sudah maafin lo, gue terlanjur ilfil sama kegentlean lo. Jadi sori, gue nggak minat deket-deket sama lo.” Bukannya tersinggung, Devon malah kembali tertawa. “Lo menjadi orang pertama yang punya pendapat seperti itu. Malah, mungkin lo adalah satu-satunya. Setelah lo lebih kenal gue, lo bakal tahu kalau pendapat lo salah besar.” “Sayangnya, gue nggak berniat sama sekali buat kenal lo lebih dari ini.” “Lo bakal sangat menyesal.” “Gue ambil risiko itu.” Tak ingin membuang lebih banyak waktu untuk pencuri itu, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak hingga waktu yang ditentukan tiba. Tak punya tujuan jelas, aku melangkah ke toilet sambil mengedarkan pandanganku ke sekelilingku. Baru akan mencuci tanganku di pancuran air dingin yang dipasang di balik bilik toilet, sebuah suara mendadak muncul di belakangku. “Hai…” Aku terlonjak kaget. Reflek aku menoleh dan dengan segera menemukan sosok Davina yang tengah tersenyum lebar. Demi kesopanan, aku melempar senyum tipis sebelum menjawab sapaannya. “Hai juga,” sahutku pendek. “Sekarang gue gantian ngagetin lo ya? Sori ya. Gue cuma terlalu bersemangat pas ngelihat elo,” kata Davina menyesal. “Btw, lo dapet warna apa?” Otomatis tanganku merogoh kantong celanaku dan dengan cepat mengeluarkan bendera dari sana. “Ah, sayang sekali kita tidak satu kelompok,” sesal Davina sungguh-sungguh. “Tapi lo adalah temen pertama gue di sini. Lo nggak keberatan kan kalau gue sering nemuin lo?” Ok, sepertinya aku harus meralat pendapat awalku soal Davina. Alih-alih sombong, cewek ini lebih cocok dikatakan aneh. Serius. Dia seperti orang yang berbeda saat kami bertemu hanya selang sepuluh menit sebelumnya. “Kita hanya beda kelompok, bukan beda acara ataupun tempat tinggal. Gue rasa, kita memang bakal sering ketemu,” kataku retoris. Davina mengangguk sambil tersenyum. “Iya juga sih. Omong-omong…” KRINGGG… Ucapan Davina teredam oleh bel keras yang mendadak terdengar di segala penjuru. Tak lama kemudian, suara seorang panitia yang meminta semua anak kembali ke pendopo memenuhi udara. “Sepertinya sudah waktunya ngumpul. Kita lanjutin ngobrolnya lain waktu ya,” kataku sambil memberi isyarat pada Davina untuk mengikutiku. “Oke. Dan lo duluan aja. Habis pipis baru gue nyusul.” Aku mengangguk setuju dan mulai berjalan kembali ke pendopo. Dari kejauhan aku bisa melihat Devon melambaikan tangannya sambil mengisyaratkanku untuk duduk di sampingnya. Sengaja tidak mengacuhkan Devon, aku memilih duduk sejauh mungkin darinya. Yah, walaupun akhirnya tindakanku sia-sia karena hanya berselang sepuluh menit kemudian, aku terpaksa duduk bersama kelompokku, yang berarti aku harus duduk cukup dekat dengan cowok menyebalkan itu. “Apa gua bilang, kita itu jodoh. Dan jodoh itu nggak akan ke mana-mana. Biarpun lo milih di ujung sana tadi, ujung-ujungnya lo deket gue juga kan?” sindir Devon geli. Aku melirik Devon dengan tatapan terdingin yang bisa kulakukan. Bisa dipastikan, kelompokku tidak semenyenangkan yang kuharapkan. Tapi paling tidak, aku masih bisa lega karena Natasha tidak satu kelompok denganku. Ya, paling tidak aku bisa bersyukur akan hal itu. Berbekal itu, aku mulai menfokuskan pikiranku dan mulai memperhatikan tutor-tutorku.   *   “Ouch…” Suara lirih itu kontan membuatku terjaga seketika. Dalam hitungan detik, mataku terbuka nyalang. Setelah beradaptasi dengan kegelapan yang ada di sekelilingku, aku mulai duduk sambil mengamati tujuh orang lain di sisi kanan dan kiriku. Suara siapa yang membangunkanku barusan? Suara itu terdengar sangat dekat denganku, tapi tidak ada satu orangpun dalam tenda yang masih terjaga. Mungkinkah salah satu dari mereka hanya mengigau? Merasa agak kesal karena terbangun sia-sia, aku memutuskan untuk kembali meringkuk di balik selimutku. Namun baru memejamkan mata beberapa detik, suara yang membangunkanku mendadak terdengar kembali. “Oh sial!” Untuk kedua kalinya, aku kembali nyalang. Suara itu berada tepat dari balik tendaku. Merasa familiar dengan suara itu, reflek aku beringsut mendekati sisi tenda. “Davina?” bisikku ragu. Mendadak suara gemerisik di luar tendaku menghilang. Aku menunggu setidaknya lima detik sebelum kembali mendengar balasan dari pertanyaanku. “Talitha?” jawab Davina ragu. Aku menyambar ponselku dan melirik jam yang tertera di sana. Jam 2 dini hari. Apa yang dilakukan Davina lewat tengah malam seperti ini? “Tunggu sebentar, gue keluar sekarang,” bisikku lagi sambil mulai melangkah hati-hati keluar tenda. Udara malam langsung menerpa wajahku begitu aku membuka pintu tenda. Sambil merapatkan jaketku, aku melangkah tanpa suara ke sisi kanan tenda, ke tempat Davina seharusnya berada. “Lo ngapain keluar tengah malam gini?” tanyaku pelan begitu melihat Davina yang tengah menepis sesuatu dari celana jeansnya. Davina menengadah menatapku sambil memamerkan senyum lebarnya. “Hai, Ta. Sepertinya gue bikin lo kebangun ya? Sori..” “Nggak masalah sih, tapi lo lagi ngapain keliaran malam-malam kayak gini?” Davina meringis. “Gue nggak bisa tidur, Ta. Mulanya gue cuma mau cari angin aja, tapi nggak sengaja gue kesandung tali tenda. Jadi bangunin elo deh.” “Wah, kayaknya lo kurang capek ya hari ini. Gue aja langsung tidur begitu gue merebahkan diri.” “Gue nggak terbiasa tidur di tempat baru, jadi mau secapek apapun, nggak terlalu ngefek buat gue. Btw, berhubung lo sudah bangun, mau nggak nemenin gue sebentar?” “Jangan bilang lo sudah lupa kalau kita punya jam malam. Kita nggak boleh keluar tenda kecuali untuk ke toilet, ingat?” “Sebentar saja. Lagian tidak ada yang masih bangun pada jam segini.” “Memangnya lo mau cari angin di mana?” Davina tersenyum lebar. “Gue mau cari angin di sekitar danau aja. Gue mau sekalian nyari anting gue. Gue baru nyadar kalau anting gue kayaknya jatuh di sana.” Aku membelalak ngeri. Apa kata Davina barusan? Ke danau? Danau di tengah hutan? Yang benar saja. Bahkan di pagi atau siang hari saja, aku masih harus berpikir ulang untuk masuk ke sana, apalagi di pagi buta seperti ini! “Gila lo, Dav. Mau ngapain lo ke danau jam segini? Sekalipun anting lo ada di sana, lo juga nggak bakal bisa lihat apa-apa gelap-gelap gini. Besok aja baru lo minta ijin panitia buat cari anting lo. Kalau perlu, gue temenin nggak papa.” Davina menggeleng tegas. “Itu anting pemberian orang yang sudah nggak bisa gue temui lagi di dunia, jadi anting itu penting banget. Rasanya gue nggak akan tenang kalau belum nemuin anting gue itu.” “Yang kita bicarain ini hutan lho. Kalaupun nggak ada binatang buas, risiko kita untuk tersesat itu tinggi banget. Siapa yang bisa nolongin kita kalau kita sampai ilang di hutan?” Wajah Davina mendadak sendu. “Lo nggak ngerti pentingnya anting itu buat gue.” Aku menghela nafas lelah sebelum kembali menyuarakan pendapatku. “Gue bukan nggak ngerti, tapi….” “It’s okay, Ta. Gue bisa cari sendiri kok. Sori sudah ngeganggu tidur lo.” Mendadak Davina berjalan menjauhiku. Kurasa semua orang yang ada di posisiku akan melakukan hal yang sama. Maksudku, siapa yang mau pergi ke hutan dalam keadaan gelap gulita seperti sekarang? Tapi anehnya, sekalipun tindakanku ini wajar, entah kenapa aku menjadi tak enak sendiri pada Davina. “Dav, tungguin gue. Gue bukan nggak mau bantuin atau nemenin lo, tapi masuk hutan subuh-subuh gini itu bahaya. Oklah, anggap saja di hutan kita aman, tapi kalau kita sampai ketahuan panitia, kita pasti kena hukuman, Dav.” Davina berbalik lalu tersenyum sendu. “Gue ngerti, Ta, santai aja. Makanya gue nggak mau maksa lo. Tapi gue harus nyari anting gue sekarang. Toh gue nggak akan bisa tidur sekeras apapun gue usaha.” Mungkin aku termasuk golongan orang super kepo, sok baik atau entahlah apa lagi. Yang jelas aku merasa tidak bisa membiarkan Davina masuk hutan sendirian. Mengabaikan akal sehatku, aku memanggil Davina sekali lagi. “Tungguin gue sebentar, gue ambil senter dulu di tas gue,” putusku sebelum beranjak masuk tenda dan mengikuti keputusan impulsifku.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD