Dasar Talitha sialan!
Aku menendang kesal selimutku saat untuk keseratus atau bahkan mungkin keduaratus kalinya, sekujur tubuhku yang malang bergantian dihisap oleh nyamuk-nyamuk tidak tahu diri. Entah berapa puluh kali aku harus memukul tubuhku sendiri di berbagai sisi. Sialnya, hingga telapak tangan dan tubuhku memerah kesakitan karena berulang kali kupukuli, jumlah nyamuk-nyamuk ini bukannya berkurang tapi terasa makin bertambah dari detik ke detik. Sial. b******k. Damn it!
Aku menggeram frustasi. Sial, sial, sial. Semua ini gara-gara Talitha b******k. Kalau saja cewek satu itu tidak banyak tingkah, aku pasti bisa berpikir lebih bijak dan menghindari tempat terkutuk ini.
“Arghhhh—” geramku mulai kesal.
Terus terang, sekarang aku benar-benar menyesal karena tidak menggunakan sedikit saja akal sehatku. Keputusanku mengikuti Talitha ke pelatihan ini jelas sebuah keputusan bodoh. Semua rencanaku hancur berantakan. Gagal total, kalau aku boleh jujur. Selain gagal sekelompok dengan Talitha, aku justru tersiksa mengikuti rangkaian kegiatan melelahkan yang seolah tanpa akhir ini. Tidak berhenti sampai sana, saat akhirnya aku bisa mengistirahatkan tubuh malangku, nyamuk-nyamuk sialan ini malah berkonspirasi untuk menaikkan tekanan darahku.
Mulai emosi, aku memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Peduli setan kalau aku ketahuan dan berpotensi dikenai hukuman besok. Malah mungkin bagus kalau aku dikenai hukuman, karena dengan begitu aku tidak perlu mengikuti rangkaian kegiatan membosankan seperti yang telah kulalui sepanjang hari ini. Atau siapa tahu hukumanku ternyata penganuliran keanggotaanku. Jika benar begitu, aku akan dengan senang hati angkat kaki dari tempat laknat ini secepat yang aku bisa.
Sambil membayangkan hukuman yang akan kuterima jika aku sampai ketahuan para panitia, aku mulai beringsut perlahan melewati beberapa orang yang terlelap di kantong tidur mereka. Begitu berhasil keluar tenda tanpa menginjak siapapun atau apapun, aku menghembuskan napas lega. Sambil merenggangkan tubuhku, aku mulai melirik ke kanan dan kiriku. Ah sial, sama sekali tidak ada orang di sekitar sini. Bukannya aku penakut, tapi bagaimanapun juga, perkemahan ini sangat dekat dengan hutan. Siapa yang bisa menjamin tidak ada binatang liar atau makhluk-makhluk tak kasat mata di dalam hutan?
Selama beberapa detik, aku membeku di tempatku. Hatiku ingin berjalan-jalan dan mencari udara segar, tapi otakku mati-matian melarang. Aku mulai berpikir serius. Jika aku kembali ke dalam tenda, aku masih harus berhadapan dengan para penghisap darah. Tapi bagaimana kalau aku justru bertemu dengan makhluk-makhluk yang jauh lebih menyebalkan jika aku nekad berjalan-jalan sendirian malam ini?
“Gue rasa jalan-jalan sendirian pada jam segini sama sekali bukan ide yang bagus,” gumamku meyakinkan diri sendiri.
Aku memutuskan untuk kembali ke tenda. Mungkin sebaiknya aku membangunkan salah satu dari teman-teman setendaku dan menjarah minyak atau lotion anti nyamuk. Merasa itu adalah ide terpandaiku malam ini, aku berbalik dan mulai membuka tendaku. Baru akan melangkah masuk, sekelebat bayangan tertangkap sudut mataku. Reflek, aku menoleh sambil berusaha menenangkan detak jantungku yang mendadak berdentum cepat.
Sialan, cuma Talitha!
Aku kembali melanjutkan langkahku, namun segera berhenti kaget beberapa detik kemudian. Eh, siapa tadi? Talitha?
Reflek, aku kembali mengawasi sosok Talitha yang berjalan cepat menuju hutan. Tak yakin dengan penglihatanku, aku menyipit untuk melihat sosok itu lebih jelas. Hmm, tidak salah lagi, itu benar-benar Talitha. Sekalipun aku hanya melihatnya dari kejauhan, aku hapal benar dengan postur dan gaya berjalannya. Setelah sekian lama mengawasi Talitha di sekolah, aku bahkan bisa mengenali bunyi langkahnya tanpa benar-benar melihat wajahnya. Jadi kali ini, aku yakin aku tidak salah melihat. Sosok itu adalah Talitha.
Untuk kedua kalinya malam itu, aku membeku. Untuk apa Talitha masuk ke hutan malam-malam begini? Apa yang dicarinya di hutan? Apa dia tidak takut diserang binatang buas? Apa aku perlu menyusul cewek gila itu?
Berbagai pertanyaan mulai membuatku kehilangan fokus pada sosok Talitha. Sayangnya, kehilangan konsentrasi selama beberapa detik itu membuatku kehilangan sosok Talitha. Bahkan belum sempat memutuskan apapun, sosok Talitha telah menghilang dalam hutan.
Tidak, kali ini aku tidak boleh menyusul cewek gila itu. Aku jelas tidak sebodoh atau segila itu. Tapi besok aku pasti akan melaporkan Talitha pada para panitia, mengingat seharusnya tidak boleh ada peserta pelatihan yang berkeliaran sendirian terutama saat tengah malam seperti ini.
Aku tersenyum lebar. Kurasa nyamuk-nyamuk sialan itu sengaja membantuku sehingga aku punya cara untuk membuat pelatihan ini tidak menyenangkan bagi Talitha.
*
Sosok pertama yang kucari begitu aku membuka mata di pagi hari itu adalah Talitha. Begitu selesai membasuh mukaku ala kadarnya, aku sengaja berkeliaran di sekitar tenda Talitha sebelum akhirnya melihat cewek itu keluar dari tendanya.
Talitha tampak tidak senang saat melihatku. Saat aku berjalan mendekatinya, Talitha justru sengaja berjalan memutar dan memperjauh jarak di antara kami. Tak ingin kehilangan kesempatan mengganggu Talitha, aku setengah berlari mendekati Talitha. Dalam hitungan detik, aku berhasil menghadang cewek itu.
“I know what you did last night,” kataku penuh kemenangan.
Talitha menyipit memandangku. Tatapan terkejut bercampur curiga terlihat jelas olehku. Aku tersenyum puas. Menurutku, Talitha terlalu mudah dibaca. Dia sama sekali tidak pandai menutupi emosinya. Tapi menyenangkan saat bisa mengetahui bagaimana perasaan Talitha tanpa perlu bersusah payah mencari tahu.
“Apa maksud lo?” tanya Talitha waspada.
Aku tersenyum lebar. “Menurut lo, lo bakal dihukum apa kalau sampai ketahuan masuk hutan sendirian di tengah malam buta?”
Kekagetan Talitha terlihat jelas di wajahnya. Sayangnya, sebelum aku sempat menikmati situasi itu, Talitha berhasil mengubah raut wajahnya menjadi tanpa ekspresi.
“Lo nguntit gue?” tanya Talitha dingin.
Bingo! Aku tersenyum puas. Jawaban Talitha menyingkirkan semua keraguan yang sempat tersirat di otakku. Seperti yang kuduga, sosok yang kulihat kemarin benar-benar sosok Talitha.
“Gue penasaran, ngapain lo masuk hutan dini hari kayak kemarin. Tapi gue pikir, para tutor kita akan lebih penasaran daripada gue,” kataku senang. “Kapan sebaiknya gue laporin lo? Nanti, besok, atau detik ini juga?” lanjutku merasa di atas angin.
Talitha menatapku tajam. Wajahnya mulai berkerut menahan marah. Dari ekpresinya sekarang, aku tidak akan heran jika Talitha mendadak melakukan kekerasan fisik padaku.
“Lo punya bukti? Kalau lo punya, laporin aja, gue nggak masalah,” tantang Talitha.
Jawaban dingin Talitha menohokku seketika. Sialan. Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini? Tanpa bukti, mana mungkin aku bisa mengadukan Talitha? Mungkinkah ada yang akan percaya hanya dengan kata-kataku?
Mungkin keterkejutanku terlihat di wajahku. Perlahan, wajah Talitha yang semula tegang mulai rileks. Dia bahkan sempat menyeringai mencemooh sebelum menabrak bahuku dan berlalu dari pandanganku.
Sial!!! Lagi-lagi aku tidak berhasil mengintimidasi Talitha. Tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam. Aku harus melaporkan Talitha paling tidak pada salah satu panitia. Harus!
***