Fatwa sekuat tenaga mencoba untuk mendorong Dimas, tetapi sampai di kamar tamu kakak dari kekasihnya itu justru malah mencium Fatwa tiada henti. "Arisa... Aku sangat mencintaimu. Ini adalah hukumanmu karena sudah meninggalkan aku. Dan aku tidak akan melepaskanmu lagi," bisik Dimas tepat di telinga Dimas. Fatwa tahu jika Tuannya itu sedang mabuk, sebab dalam keadaan sadar mana mungkin mau menyentuhnya. Fatwa mencoba mengeluarkan suaranya, sangat sulit. Tetapi akhirnya diapun bisa juga sebab saking paniknya. "Tu... Tuan... Saya Fatwa! Bukan Nyonya Arisa," pekik Fatwa. Fatwa kaget, sebab dua berhasil mengeluarkan suaranya. Dimas bukannya sadar malam semakin marah, menganggap jika Arisa marah. "Arisa, kamu marah karena aku berkhianat kan? Aku sama sekali tidak mencintai Lucia. Dalam hati

