Fatwa dan Bian sama-sama terbangun karena mendengar suara klakson mobil di belakang.
"Astaga, sudah gelap. Bagaimana bisa kita ketiduran di sini?" pekik Fatwa.
"Baru jam tujuh, ayo lanjut tidur lagi," jawab Bian cuek karena memang masih mengantuk.
"Tapi di belakang sepertinya ada mobil Bos Clara," sela Fatwa.
Mendengar nama Clara, Bian baru ingat jual tadi ada janji.
"Astaga … Aku harus siap-siap sekarang juga. Fatwa, aku akan pergi dengan Clara. Kamu jaga diri di rumah baik - baik ya," ucap Bian langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke rumah.
Melihat hal itu Fatwa tersenyum, karena mengira jika Bian dan Clara memiliki hubungan yang erat, seperti kekasih.
Fatwa pun menyusul keluar, dan dia bertemu dengan bos barunya.
"Selamat malam, Bos," sapa Fatwa.
"Kamu Fatwa? Astaga … Aku hampir tidak mengenalimu. Habisnya kamu jadi cantik sekali," ujar Clara tersenyum ramah.
"Eh, ini tadi menghadiri acara pernikahan sahabat saya," jawab Fatwa.
"Oh… Jadi kamu ditemani Bian ya?" selidik Clara.
Fatwa menunduk ragu, takut jika Clara marah.
"Eh, mulai besok kamu memakai make up tipis - tipis ya. Kalau pelayannya menarik nanti banyak pembeli yang minat," saran Fatwa.
"Iya, Bos," jawab Fatwa.
Fatwa ingin masuk, tetapi merasa sungkan meninggalkan bosnya sendirian di luar.
"Bos, kenapa tidak masuk ke dalam saja sambil menunggu Bian?" tanya Fatwa.
"Tidak, sebaiknya kamu masuk duluan dan suruh Bian untuk cepat ya. Sudah tidak banyak waktu lagi ini," balas Clara.
Fatwa mengangguk patuh, kemudian masuk ke dalam.
Fatwa baru saja mau mengetuk pintu kamar Bian, akan tetapi pintu sudah terbuka duluan.
"Eh, Fatwa. Ada apa?" tanya Bian kaget.
"Eh… Itu di suruh cepat sama Bos Clara," jawab Fatwa tak kalah terkejutnya.
"Oh aku tahu, aku pergi dulu ya," balas Bian berlalu pergi.
Fatwa menatap punggung Bian, terlihat gagah dan tampan. Jika bersanding dengan Clara sangat serasi.
Setelah suara mobil milik Clara pergi, suasana mulai sepi lagi.
Fatwa merasa sangat haus, dia ingat jika di dalam mobil milik Bian masih ada beberapa botol minuman mineral. Diapun kembali turun dan keluar rumah.
"Untung saja Bian pergi naik mobil Bos Clara, jadi aku tidak perlu beli keluar lagi," batin Fatwa.
Diapun membawa dua botol dan masuk ke dalam kamar lagi. Tiba - tiba keheningan membuat dia merasa sedih. Setiap kali dia sendiri selalu begini, terkenang akan suami dan putrinya.
"Aku begitu membenci kesepian," batin Fatwa berlinang air mata.
Fatwa duduk di kursi tamu, rasa malas membuatnya enggan untuk masuk ke kamar. Padahal dia masih mengenakan kebaya.
Fatwa membuka ponselnya dan melihat foto putrinya. Selama beberapa hari di rumah Dimas, dia selalu menyempatkan diri untuk mengambil gambar dan video putrinya. Dalam senyumnya Fatwa menangis, menangis sejadi mungkin karena takdir yang begitu tragis.
Lama - lama Fatwa tertidur, lelah oleh rasa sakit akibat ujian hidupnya yang begitu berat.
********
Suara bel rumah membangunkan tidur Fatwa, dia merasa kaget karena bisa - bisanya ketiduran lagi. Padahal di mobil tadi sore juga sudah tidur.
Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam, biasanya kalau Bian akan langsung masuk tapi ini kenapa membunyikan bel?
Fatwa bangun dan segera menuju pintu, begitu di buka matanya langsung terbelalak kaget. Begitu juga dengan orang yang ada di luar pintu.
"Fatwa, bagaimana kamu bisa di sini?" pekik Dimas.
Dimas memang memiliki wajah kaku yang bagi Fatwa terasa angker, diapun langsung menundukkan kepalanya dan bingung mau menjawab apa.
"Bian di mana?" timpal Dimas dingin.
"Dimas sedang bepergian dengan Bos Clara," jawab Fatwa masih belum berani menatap Dimas.
Dimas langsung masuk begitu saja tidak mempercayai omongan Fatwa, pemuda itu bergegas menuju kamar Bian lalu bergantian ke kamar lain. Terlihat begitu lega setelah tahu jika Bian dan Fatwa tidak tidur sekamar.
Di sisi lain, Fatwa merasa tersinggung. Dia tahu jika Dimas mengira dirinya hendak menggoda adiknya Dimas.
Fatwa hanya berdiri di samping sofa ruang tamu dan bingung mau bagaimana lagi. Seharusnya dia bisa menjelaskan jika di sini bekerja sebagai tukang bersih - bersih. Namun, mulutnya seolah terkunci oleh rasa takut. Entah kenapa Dimas sangat menyeramkan dan membuat orang tidak bisa berkutik.
Ketakutannya semakin menjadi - jadi ketika Dimas mulai menuju ke arahnya tanpa senyuman. Bahkan Fatwa sampai gemetar tangannya.
"Oh, aku tahu… Jadi kamu sengaja berbohong waktu itu agar bisa mendekati Bian kan?" tanya Dimas tanpa basa - basi.
"Tidak, Tuan. Saya sama sekali tidak memiliki niat seperti itu," jawab Fatwa gugup.
"Kalau begitu kenapa kamu bisa tinggal di sini? Dan kenapa kamu memakai baju seperti itu?" timpal Dimas semakin marah mengira jika Fatwa merayu Bian dan menikah siri.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara mobil Clara, dan Bian masuk ke dalam rumah mendapati kakaknya tengah mengintrogasi Fatwa.
"Kakak?" pekik Bian kaget.
"Oh... Kamu datang ya. Coba jelaskan sebenarnya ada apa ini? Kenapa kamu menyimpan Fatwa di Vila pribadimu?" tanya Dimas tegas.
"Kakak jangan salah paham dulu, dia itu di sini kerja sebagai tukang bersih - bersih. Karena pembantu yang lama sudah mengundurkan diri. Dan aku juga tidak tinggal di sini," jelas Bian.
"Oh ya? Terus kenapa malam - malam begini kamu di sini?" tanya Dimas.
"Aku ingin mengambil mobil, Kak. Aku baru saja makan malam di keluarga Clara. Jadi tadi mobilnya aku taruh di sini dulu," balas Bian.
Kemudian Clara masuk, membawa bungkusan yang berisi beberapa kue.
"Eh, ada Kak Dimas. Bagaimana kabar kakak?" tanya Clara ramah.
"Baik," jawab Dimas.
"Haduh... Aku tidak tahu kalau akan ada Kak Dimas. Jadi aku hanya bawa kue sedikit untuk Fatwa," ucap Clara merasa malu.
"Oh tidak apa - apa, kamu kasihkan saja ke Fatwa. Aku juga baru saja makan kok," jawab Dimas.
Fatwa merasa heran, kenapa Dimas berubah menjadi begitu ramah terhadap Clara. Sedangkan dengan dirinya seperti sinis dan benci.
"Bian, kamu segeralah pulang! Ibu mencarimu tadi, dan nomor teleponmu juga tidak aktif," perintah Dimas.
"Iya, Kak. Ponsel aku memang mati dan belum sempat aku charger," jawab Bian segera naik ke kamarnya sendiri.
"Kalau begitu aku juga pamit duluan, Kak," sela Clara.
"Iya, hati - hati di jalan ya," jawab Dimas.
Kini hanya tinggal Fatwa dan Dimas berdua, Fatwa hanya bisa mematung dan tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan mau melangkah pergi saja lututnya sudah gemetar.
"Fatwa, maaf karena aku sudah salah paham padamu. Tapi aku ingatkan jangan pernah ada pikiran untuk mendekati Bian. Kamu harus sadar diri dan mengingat dimana tempatmu," kata Dimas tegas.
"Iya, Tuan Dimas," jawab Fatwa serasa ingin menangis.
"Aku tidak akan tinggal diam jika ada wanita rubah yang berusaha untuk memanipulasi kami lagi," balas Dimas berlalu pergi.
"Wanita rubah? Apakah aku ini benar - benar terlihat seperti itu? Padahal aku hanya ingin bisa lebih dekat dengan anakku," batin Fatwa merasa lemas.
Kemudian Fatwa masuk ke dalam kamarnya, berganti pakaian dan bersiap - siap untuk tidur. Apalagi besok merupakan hari pertama dia bekerja di Clara.
Akan tetapi hatinya masih sakit ketika teringat Dimas mengatainya sebagai wanita rubah.
"Fatwa, ku pulang dulu ya? Dan maafkan soal kakakku tadi. Dia memang begitu, tapi kalau sudah kenal aslinya baik banget," kata Bian dari luar kamar.
Fatwa terdiam, tidak ingin menjawab dan tidak ingin terlihat menyedihkan di depan Bian.
"Oh, ternyata sudah tidur," gumam Bian.