Kali ini Fatwa merasa sangat berhutang Budi kepada Bian, sebab berkat temannya kehidupannya menjadi lebih baik.
"Bian, terima kasih banyak.
Maaf jika aku sudah menggunakan namamu untuk melepaskan diri dari perjodohan kedua orang tuaku," ucap Fatwa.
Bian hanya tersenyum saja, dalam hatinya justru berharap jika hal itu bukan hanya sekedar sandiwara semata.
Dalam perjalanan pulang Fatwa merasa mengantuk. Diapun tanpa sadar sudah tertidur di dalam mobil.
Bian yang mengetahui Fatwa kelelahan kemudian menutup jendela dan juga mematikan musik agar temannya itu bisa tidur dengan nyaman.
Sesekali Bian melirik ke arah Fatwa, wajah gadis itu memang terlihat sangat cantik. Semakin diperhatikan semakin cantik dan membuat hatinya berdebar - debar.
"Fatwa... Kamu sungguh gadis yang lucu. Hanya demi kabur dari perjodohan sampai bekerja menjadi pengasuh balita. Padahal jika dilihat kamu adalah gadis manja yang tidak pernah melakukan pekerjaan berat," batin Bian mengingat perjumpaan mereka berdua pertama kali.
Beberapa detik kemudian ponsel Bian berbunyi, rupanya ada panggilan telepon dari Clara. Bian menepikan mobilnya dan mengangkat telepon tersebut.
"Clara, ada apa?" tanya Bian santai.
"Bian, haru ini kamu ada acara tidak, temani aku untuk acara makan malam di keluarga saudaraku ya?" pinta Clara.
"Kamu kan sudah ada kekasih, kenapa mencariku?" sindir Bian.
"Kamu kan tahu, jika kekasihku hanya orang biasa. Bisa - bisa dia malah diusir oleh keluargaku," jawab Clara.
"Apa selamanya kamu akan seperti ini? Akan lebih baik kamu jujur saja pada orang tuamu. Adi adalah pemuda yang baik, tampan dan juga pekerja keras. Aku yakin kedua orang tuamu akan setuju," sela Bian.
"Bian! Apa kamu lupa? Saat ulang tahunku papa aku malah menyuruh satpam untuk tidak mengizinkan Adi masuk?" sergah Clara.
"Kalau kamu mengajak aku, nanti malah mereka mengira akulah pasanganmu. Jika sudah begitu keadaan akan semakin memburuk," ungkap Bian yang sebenarnya merasa malas juga.
"Ah kamu ini begitu deh, ya sudah aku pecat saja Fatwa di hari pertama dia kerja," ancam Clara.
"Sadis sekali kamu ini!" umpat Bian.
"Kaupun sama," balas Clara kesal.
Bian terdiam, walaupun dia sangat mengantuk tapi juga tidak bisa membiarkan Fatwa kehilangan pekerjaanya.
"Okelah, nanti berangkat jam berapa?" tanya Bian mengalah.
"Biasa dimulai jam tujuh malam, tapi kita berangkat jam setengah tujuh saja," jawab Clara riang.
"Sekarang masih jam lima, kalau begitu masih ada waktu untukku tidur sebentar," gumam Bian.i
"Tidurlah sesukamu, intinya yang jam setengah tujuh kamu sudah siap - siap dan segera jemput aku," balas Clara.
Setelah itu sambungan telepon tertutup, Bian melirik ke arah Fatwa lagi yang tertidur pulas kemudian fokus melajukan mobilnya agar bisa segera sampai di Vilanya.
Sesampainya di halaman Vilanya, Bian melihat ke jam tangan dan sudah jam lima lebih.
Pemuda itu berniat ingin segera pulang agar bisa tiduran, akan tetapi melihat Fatwa yang masih tidak dengan nyaman dia tidak tega untuk membangunkannya.
Pada akhirnya Bian iku tiduran di sana Sambil menatap wajah ayu Fatwa baik - baik.
Fatwa terima kasih banyak, kehadiranmu membuat hidupku terasa lebih berarti," gumam Bian.
Bian mulai memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya pada.
*************************
Di rumah Dimas sedang ada keributan karena Aurel menangis dan tidak mau berhenti. Awalnya semuanya mengira jika Aurel hanya sedang beradaptasi dengan pembantu baru.
"Mas, apa karena putri kita tidak cocok dengan Minah ya? Ini sudah seminggu tapi malah Aurel sama sekali tidak mau denganya," tanya Lucia cemas.
"Anak kecil mana tau bisa membedakan orang, aku akan memanggilkan dokter mungkin karena Aurel sedang tidak enak badan," sela Dimas.
"Tapi aku sendiri juga lebih cocok dengan Fatwa sih," balas Lucia.
Dimas melirik ke arah Lucia dengan pandangan sedikit kesal.
"Dia menipu, orang yang penipu bagiku tidak akan memiliki kepercayaan lagi," ucap Dimas tajam.
Lucia tertegun, tentu saja wanita itu berkeringat dingin sebab memang memiliki banyak hal yang disembunyikan.
"Aurel aku timang - timang keluar saja, siapa tahu dia bisa tidur. Kasihan tidurnya tidak bisa nyenyak dan sering terperanjat kaget kemudian menangis kencang," pamit Lucia membawa Aurel keluar dari kamar.
Dimas hanya menarik napas saja, entah kenapa pemuda itu tidak pernah mau menerima sebuah kebohongan.
Sebenarnya Lucia sangat lelah, karena semenjak Aurel rewel jam tidurnya juga ikut berantakan. Meskipun begitu Lucia juga tidak marah pada Aurel. Karena selalu bersama anak kecil yang cantik jelita itu secara perlahan menimbulkan kasih sayang secara alami.
"Lucia, dimana Minah?" tanya Arisa yang sedang menyiram bunga mawarnya.
"Dia sedang menyiapkan makan untuk Aurel. Akan tetapi Aurel sama sekali tidak mau menyentuhnya, aku bingung sekali," keluh Lucia.
"Lucia, jika kamu mengantuk biar aku saja yang menggantikan menjaganya," tawar Arisa tulus.
"Tidak, terima kasih. Aku masih bisa kok," tolak Lucia secara halus.
Arisa agak sedikit muram, karena setiap kali hendak ingin menggendong Aurel, Lucia selalu menghalangi seolah tidak rela.
Dan itu memang kenyataan, Lucia tidak mau memberikan umpannya itu menjadi akrab dengan saingannya sendiri dalam memperebutkan kasih sayang Dimas.
"Padahal sudah hampir seminggu ya,tapi Aurel masih tidak mau disentuh Minah. Apa mungkin Aurel tidak cocok dengan Minah?" tanya Arisa masih mencoba bersabar.
"Aku ada pikiran seperti itu, akan tetapi Mas Dimas yang tidak mendengarkan. Dia mungkin sudah terlanjur marah terhadap Fatwa," keluh Lucia memaksakan senyumnya.
Malam harinya Lucia merasa sangat lelah, karena Dimas banyak pekerjaan diapun seorang diri merawat Aurel.
."kalau begini sama saja aku tidak memiliki pembantu, setiap malam aku masih begadang.
Akan tetapi Arisa memilih pergi sebab dirinya tahu setiap perhatian dan juga kebaikan akan ditolak oleh Lucia dengan Lembut.
"Lucia, kalau begitu aku masuk ke dalam dulu."
"Iya, hati - hati," jawab Arisa.
Tak berapa lama kemudian Minah mendekati Lucia sambil membawakan bubur ASI. Akan tetapi Aurel sama sekali tidak mau makan dan malah memuntahkan kembali sambil menangis kencang.
Dimas yang dari dalam rumah berlari keluar menemui putrinya.
"Kenapa dengan Aurel? Kok menangis sampai seperti itu," tanya Dimas panik.
"Aku juga tidak tahu, tapi barusan aku nyoba kasih makan karena beberapa hari ini dia susah makan dan minum s**u sedikit. Aku jadi khawatir," jawab Lucia panik.
"Nyonya kedua, Tuan. Aku ingin izin berhenti kerja, karena kehadiran saya tidak ada artinya. nona Aurel smaa sekali tidak mau dengan saya, mungkin dia sudah terlanjur nyaman dengan pengasuh yang sebelumnya," ucap Minah sambil meneteskan air matanya.
"Baiklah jika itu memang kemauan kamu, selama beberapa hari kami bekerja di sini akan aku hitung dan mendapat bayaran," jawab Dimas bijaksana.
Minah masuk ke rumah untuk mempersiapkan barang - barangnya, sedangkan Lucia mengerutkan dahinya sebab kalau mengurus seorang diri sangat repot.