Sampai pukul tujuh malam Dimas masih betah berlama-lama berada di rumah Bibik Fatimah. Tidak lain karena adanya Fatwa dan dua anaknya. Bahkan ketika menikmati makan malam, Dimas merasa sangat senang memakan masakan Fatwa. Padahal rasanya biasa saja. "Tuan Dimas, saya tidak ada niatan buruk. Hanya saja karena ini sudah malam sebaiknya Tuan Dimas kembali ke rumah. Karena di sini adalah perkampungan, tidak enak dan kasihan Fatwa jika harus menanggung omongan dari orang lain, " Pinta Fatimah dengan segala rendah hati. "Iya, Bik. Saya mengerti. Kalau begitu saya berpamitan dulu. Dan Terima kasih atas makan malamnya," jawab Dimas sama sekali tidak tersinggung. Fatimah segera mengemasi piring kotor, dan menyuruh Fatwa untuk mengantar calon suaminya sampai di luar rumah. Meskipun malu, Fat

