Beberapa hari bekerja di rumah Tuan Dimas, Fatwa langsung betah sebab mereka semua memperlakukannya dengan baik. Aurel juga sangat lengket padanya membuat Lucia puas sebab bebannya terkurangi dan bisa bersantai.
Akan tetapi disuatu sore tiba - tiba datang seorang perempuan yang beberapa tahun lebih tua darinya dan mengaku sebagai calon baby sister untuk mengurus Aurel. Hal itu membuat semua orang mempertanyakan siapakah Fatwa sebenarnya?
Fatwa duduk gemeteran ketika harus disidang, dia sangat takut jika terusir dan tidak bisa bersama lagi dengan Aurel.
"Ya alloh, tolonglah hamba..."
Fatwa bukan wanita yang taat beribadah, bahkan pernah menganggap jika tuhan itu tidak adil karena sudah mengambil dua orang tercintanya. Akan tetapi kali ini dia menaruhkan segala harapan dan mencoba mempercayai lagi jika keajaiban itu ada.
Dia sangat ketakutan, apalagi satu-satunya alasan bertahan hidup karena Aurel.
"Fatwa, sebaiknya kamu ceritakan yang sebenarnya. Apakah kamu pilihan dari PT pencari kerja atau tidak?" tanya Dimas dengan nada tegas.
Semua orang membisu, karena jika Dimas sudah begitu tidak ada satupun yang berani membuka mulut.
Fatwa menangis, dia bingung harus menjawab apa. Haruskah mengingkari janji dan mengungkap identitasnya sebagai ibu kandungnya Aurel? Kalau tidak maka jika ketahuan dia sudah berbohong pasti dia akan diusir dan tidak akan bertemu lagi dengan putrinya. Namun, jika dia egois bagaimana nasip puluhan anak - anak panti nanti?
Fatwa dilema, dia tidak tahu harus bagaimana. Hanya air mata yang mewakili setiap derita hidup yang sudah dijalaninya.
"Tuan, saya punya bukti kalau sayalah yang asli," sela wanita separuh baya itu sambil menunjukkan sertifikat telah melakukan kursus merawat anak.
Fatwa semakin menunduk sebab dirinya tidak memiliki itu.
"Baiklah, dengan ini maka sudah jelas siapa yang menipu. Fatwa, aku sarankan lain kali jika ingin melakukan segala hal jangan pernah diawali dengan kebohongan, sebab tidak akan pernah berakhir dengan baik," sindir Dimas.
"Maaf..."
Hanya itu yang terucap dalam bibirnya, perih dan pedih... Rasanya lebih sakit dibanding saat dia dimarahi oleh kedua orang tuanya.
Fatwa menundukkan kepalanya kepada semua orang, termasuk wanita yang sudah dia rebut pekerjaannya. Setelah itu Fatwa ke kamar memberesi pakaian dan berpamitan pergi.
Fatwa merasa sesak napas, dia memaksakan tangannya untuk menyeret tasnya seolah tidak memiliki tenaga lagi. Begitu sampai di pintu gerbang, Fatwa menoleh ke belakang.
"Aurel, apa yang harus ibu lakukan? Ibu sangat mencintaimu dan tidak ingin berpisah darimu, Nak," gumam Fatwa meneteskan air matanya.
Fatwa berjalan tanpa arah, dia tidak memiliki tujuan lagi.
Pulang?
Pulang kemana?
Baginya rumah bukan hanya sekedar bangunan berteduh dari panas dan hujan. Meskipun dia masih memiliki kedua orang tua akan tetapi mereka tidak pernah bisa memahami perasaannya, jika Fatwa kembali ujung - ujungnya dia hanya akan di paksa menikah dengan Bagas yang sama sekali tidak dicintai.
Fatwa terus melangkah secara perlahan, tatapan matanya sudah kosong seperti ketika dirinya hendak terjun dari atas jembatan.
"Aurel hidup dengan baik dan tercukupi, dia mendapat kasih sayang yang sempurna dan juga keluarga yang utuh. Jika aku menghilang dari kehidupannya mungkin dia tidak akan pernah merasa menderita sebab tidak tahu tentang sebuah kebenaran mengenai identitasnya. Sekarang hanya tinggal aku, aku sama sekali tidak ada tujuan hidup selain melihat putriku bahagia. Dan sekarang, seharusnya aku lega," batin Fatwa mengusap air matanya menggunakan lengan kirinya.
Karena tidak fokus, Fatwa sampai tidak sadar jika dari kejauhan muncul Truck dengan kecepatan tinggi. Fatwa memejamkan matanya dengan pasrah. Hampir saja dia terserempet, untung saja ada seseorang yang sempat menariknya.
Fatwa terjatuh menindih tubuh seseorang yang sudah menolongnya.
"Apa kamu tidak apa - apa?"
Suara lelaki yang dikenalnya itu seketika menyadarkan Fatwa. Dia membuka mata dan terkejut sudah berada dalam pelukan Bian.
"Tuan muda, maafkan aku," jawab Fatwa bergegas berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor.
"Kamu ini kenapa? Seharusnya saat dalam bahaya seperti itu setidaknya mencoba untuk menyelamatkan diri. Jangan bilang kamu sengaja karena putus asa sebab masalah pekerjaan tadi," sergah Bian khawatir sekaligus kesal.
Fatwa hanya menunduk, setelah Lisa hanya Bian yang mencemaskannya.
"Terima kasih sudah menolong, aku permisi dulu," sela Fatwa berlalu pergi.
Akan tetapi ketika dia membalikkan badannya Bian langsung menahan jemarinya.
"Tunggu, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan," pinta Bian.
"Mengenai kenapa aku berbohong? Maaf, tapi kenyatannya aku memang berbohong," jawab Fatwa.
Tatapan sendu Fatwa membuat Bian semakin penasaran, bagi pemuda itu sosok Fatwa memang sangat misterius.
"Jangan bersedih, aku tahu pasti kamu ada alasan sendiri karena berbohong. Akan tetapi selama kamu kerja di rumah kakakku kamu sangat baik dan tidak melakukan kejahatan. Jadi bagiku hal itu bukan masalah. Kalau kamu bersedih karena masalah pekerjaan aku bisa membantumu, akan aku carikan pekerjaan lagi," bujuk Bian.
Fatwa menatap Bian, pemuda itu selain tampan, ramah dan juga perhatian. Sayangnya hatinya sudah membeku, mungkin jika dia bertemu dengan Bian beberapa tahun yang lalu sebelum dia menikah dengan Andre mungkin Fatwa bisa saja jatuh cinta dengan Bian.
"Aku memang butuh pekerjaan, aku tidak mungkin menyusahkan Lisa lagi. Apalagi dia besok akan menikah. Dan lebih tidak mungkin lagi aku pulang ke rumah," batin Fatwa.
"Fatwa, kenapa kamu melamun lagi? Bagaimana jawabanmu?" sela Bian.
"Aku memang sedang membutuhkan pekerjaan, tapi aku ingin bekerja di tempat yang menyediakan tempat tinggal sekaligus. Karena rumahku sangat jauh," jawab Fatwa.
"Iya, kamu tenang saja. Aku memiliki banyak kenalan," jawab Bian tersenyum riang.
"Terima kasih banyak," ucap Fatwa bersyukur.
"Kamu tunggu di sini sebentar, biar aku mengambil mobil dulu!"
"Iya," jawab Fatwa.
Fatwa terus memandangi punggung Bian yang berlari ke arah rumahnya.
"Aku tidak tahu keputusanku ini tepat atau tidak, tapi ini jalan satu - satunya bagiku untuk memulai hidup baru. Setidaknya aku akan mencoba mempercayai orang lain, aku yakin jika Bian pemuda yang baik," batin Fatwa.
Senyuman manis Bian memang membuat dia langsung percaya. Apalagi di kota ini dia tidak memiliki siapa - siapa lagi untuk dimintai pertolongan.
Tak lama kemudian mobil mewah milik Bian muncul dan berhenti di depan Fatwa, dengan senang hati Fatwa masuk karena dari dalam sudah dibukakan pintu mobilnya.
"Fatwa, jujur saja banyak hal yang ingin kau tanyakan sampai aku bingung harus memulai dari mana," ujar Bian malu - malu.
"Tanyakan saja," jawab Fatwa.
"sudahlah, akan lebih baik jika aku mengenali dirimu secara langsung. Kamu bersedia kan menjadi temanku?" pinta Bian terlihat tulus.
Fatwa menatap aneh, sebab Bian memang sangat baik.
"Tuan muda, apa aku pantas berteman denganmu?" tanya Fatwa ragu - ragu.
"Mulai sekarang cukup panggil aku Bian, karena kamu tidak bekerja di rumahku lagi.Dan hubungan pertemanan itu harus ada persyaratannya kah? Sampai kamu menanyakan pantas atau tidak?" ujar Bian.
Fatwa tertawa, dia senang karena dipertemukan dengan orang yang baik. Kini Fatwa sadar mungkin ini adalah salah satu hadiah dari Alloh, dengan memiliki teman dia tidak akan merasa sendiri lagi.
Dalam perjalanan Mereka berdua terus mengobrol dan sesekali tertawa bersama, sebab sikap Bian yang suka bercanda mengimbangi Fatwa yang sebenarnya gadis pendiam.
Akhirnya mereka sampai di Mall berkelas, Fatwa yang memang dari keturunan orang berada sama sekali tidak canggung dan terlihat elegan dengan penampilan sederhananya.
"Fatwa, apa kamu ini sungguhan dari kampung? Karena biasanya gadis kampung merasa minder dan takut masuk ke tempat yang seperti ini. Bahkan kamu justru terlihat anggun seperti seorang putri yang penuh percaya diri," tanya Bian serius.
"Tuan Puteri dengan pakaian sederhana dan sendal jepit?" Canda Fatwa.
Bian hanya meringis saja.
"Karena aku kan sebelum ini juga bekerja sebagaimana baby sister, sama mantan majikan aku sering di ajak ke tempat - tempat yang mewah jadi aku sudah terbiasa. Lagi pula kata majikan aku kenapa kita harus merasa minder? Toh mereka tidak kenal kita begitu juga sebaliknya, jadi andaikan hari ini mereka memandang dengan remeh belum tentu besok bertemu lagi. Jadi cuek - cuek saja," timpal Fatwa.
"Wah kamu benar, karena jika kita terlalu memikirkan pendapat orang lain hanya akan menghalangi kita untuk bahagia." balas Bian setuju.
Mereka terus berjalan dan naik sampai di lantai dua.
"Nah, ini tempatnya," ucap Bian.
"Apa kamu yakin aku akan diterima bekerja di sini? Aku belum punya pengalaman," tanya Fatwa ragu.
"Tenang saja, pasti diterima karena pemiliknya adalah teman aku. Kerjanya hanya melayani tamu dan merayu mereka agar mau membeli barang - barang yang dijual," bujuk Bian.
Mereka langsung disambut oleh gadis cantik yang berpenampilan elegan.
"Bian, ini ya teman yang kamu bilang tadi?" tanya wanita tersebut ramah.
"Iya, perkenalkan namanya Fatwa," jawab Bian.
Fatwa menunduk sebagai tanda hormat.
"Namaku Clara. Hemm... Kamu cantik dan masih muda, baiklah kamu aku terima. Tugas kamu adalah melayani dnegan ramah dan sabar kepada pengunjung yang datang, dan berusaha merayu mereka agar yakin mau membeli barang di sini," jawab Clara.
"Iya, terima kasih," jawab Clara senang.
"Mengenai gaji sesuai dengan UMK di kota ini, kamu pergilah ke ruang karyawan. Di sana akan ada rekan kerjamu yang membantu kamu untuk menyiapkan seragam kerja. Mungkin jadinya sehari. Jadi kamu mulai bekerja di sini lusa, selain gaji pokok kamu juga akan mendapat tempat tinggal. Bian, hari ini aku sibuk jadi kamu yang antar dia ya," ucap Clara panjang lebar.
"Iya, santai saja," jawab Bian.
Kemudian Fatwa masuk ke ruang khusus karyawan.
"Bian, siapa dia sebenarnya? Kenapa kamu memperlakukan dia dengan istimewa? Kalau kamu suka kenapa tidak kamu ajak saja dia tinggal di salah satu vilamu dan beri dia uang bulanan?" tanya Clara.
"Apa sih kamu ini, dia bukan wanita seperti itu. Jika aku melakukannya maka dia malah akan menjauhiku. Jadi hanya ini yang bisa aku lakukan untuk dia," jawab Bian.
"Okelah terserah kamu, tapi karena Fatwa bekerja di tempat aku maka aku yang akan memberikan dia gaji seperti karyawan lain. Karena kebetulan aku memang sedang membutuhkan karyawan lagi. Tapi mengenai tempat tinggal dan lain - lain itu bukan urusanku," sela Clara.
"Iya, terima kasih banyak karena kamu sudah mau membantuku," ucap Bian.
"Aku tidak membantumu, tapi karena aku juga cocok. Dia sangat cantik dan senyumannya menawan, pasti bisa memikat banyak pelanggan," balas Clara.
Tak lama kemudian Fatwa keluar dari ruangan karyawan dan menghampiri Bis barunya dan Bian.
"Apa sudah?" tanya Clara ramah.
"Iya, sekali lagi terima kasih karena sudah memberikan kesempatan," jawab Fatwa.
"Sama - sama."