Fatwa merasa heran karena dia dibawa ke sebuah vila yang cukup mewah, padahal dia mengira hanya akan tinggal di sebuah kontrakan bersama karyawan yang lain.
"Bian, apa ini benar tempat untuk karyawan? Menurut aku ini terlalu mahal," tanya Fatwa penasaran.
Bian hanya tersenyum saja, sebab apa yang diduganya itu terjadi juga.
"Karyawan Clara semua ditempatkan di kos kosanku, karena di sana penuh maka aku sarankan di Vila," sela Bian santai.
"Apa tidak berlebihan? Aku jadi tidak enak pada bos Clara," sergah Fatwa.
"Jangan merasa tidak enak, sebab Clara hanya membayar separuh. Karena ini vila pribadiku yang kebetulan tukang bersih - bersihnya berhenti kerja, jadi kamu bisa menggantikan dia. Nanti aku juga akan gaji kamu. Kan lumayan kamu dapat gaji dua kali, soalnya kerja di Clara hanya 8 jam saja," balas Bian.
Fatwa terkejut, dia senang karena dengan begitu tidak merasa telah merepotkan orang lain.
"Baiklah kalau begitu," jawab Fatwa setuju.
"Yah, tapi Vilanya kotor sekali karena sudah 3 hari tidak dibersihkan. Jadi sambil menunggu kamu mukai kerja di Clara, kamu bisa bersihkan Vila ini," balas Bian.
Entah kenapa Bian merasa tidak tega melihat Fatwa mengerjakan semua itu, akan tetapi dia tidak ingin menunjukkan perasaannya sebab takut membuat Fatwa merasa sungkan dan akhirnya memilih pergi karena tidak ingin merepotkan. Walau hanya beberapa hari mengenal Fatwa, Bian sudah tahu jika Fatwa adalah sosok gadis yang baik.
"Kamar yang paking besar adalah kamarku, kamu bisa memilih sesuka hati," timpal Bian.
Fatwa menganggukkan kepalanya, kemudian dia melihat sekeliling. Semua bangunan terlihat sama, hanya yang akan ditinggalinya yang tampak lebih besar dan berbeda.
"Kenapa hanya tempat ini saja yang berbeda?" tanya Fatwa penasaran.
"Pada awalnya ini memang tempat tinggal kakek, karena lahannya luas sama papa di buat vila dan disewakan. Setelah kakek meninggal aku yang disuruh mengelola menggantikan papa, karena jujur saja aku bukan tipe seperti kakakku yang bisa berdiam diri selama berjam - jam di kantor sambil menatap laptop," jelas Bian tersenyum cerah.
"Kalian memang berbeda, bahkan tidak seperti kakak beradik," ujar Fatwa.
"Kami memang bukan saudara satu ibu, ibunya kak Dimas meninggal ketika dia kecil. Jadi papa menikahi mamaku dan melahirkan aku. Meskipun begitu kami hidup sangat harmonis."
Fatwa terkejut, tapi juga merasa ikut bahagia. Akan tetapi dia mulai melamun.
"Apa aku jangan - jangan aku ini bukan anak kandung orang tuaku ya? Mereka begitu kejam padaku bahkan sampai membuang putriku," batin Fatwa.
"Kenapa kamu sedih?" tanya Bian heran.
"Aku tidak sedih," jawab Fatwa bersikap tegar.
"Kalau begitu ayo masuk, pertama- Tama kamu bersihkan kamarku dulu. Sudah lama sekali aku tidak ke sini," ajak Bian.
"Iya," jawab Fatwa.
Akan tetapi Bian tidak tega membiarkan Fatwa mengerjakan semuanya seorang diri, pemuda itu membantu Fatwa. Sore harinya baru selesai.
"Fatwa, aku mau pulang ke rumah orang tuaku dulu. Karena di kulkas kosong nanti akan aku pesankan makanan. Besok pagi aku akan antar kami berbelanja, jadi kamu bisa makan di rumah kan lebih irit dari pada makan di luar," tawar Bian.
"Eh itu, sebenarnya aku tidak bisa masak. Besok tidak usah belanja, aku bisa makan di warteg kan harganya murah. Tadi di sepanjang jalan ke sini banyak sekali penjual makanan," tolak Fatwa nyengir.
Bian kaget, sebab tingkah Fatwa yang seperti itu sama sekali tidak terlihat gadis kampung. Malah seperti anak orang kaya. Karena jika diingat tadi saat membersihkan ruangan Fatwa tampak kaku dan tidak terbiasa kerja berat. Beda saat mengurus anak malah sudah seperti ahli.
"Oh iya, mungkin karena dia selama ini kerjanya hanya fokus mengurus anak," batin Bian membuang pikirannya.
"Baiklah, tapi nanti untuk makan malam aku akan pesankan biar di antar kemari," jawab Bian.
Setelah kepergian Bian Fatwa masuk ke kamarnya. Dia merasa lelah sekali. Dulu ketika dia merasa lelah suaminya akan memijitnya, kemudian dia gantian memijat suaminya. Kenangan yang begitu manis, Andre sosok suami yang perhatian dan tidak tega membuat dirinya mengerjakan pekerjaan berat. Bahkan terkadang sebelum berangkat kerja Andre sudah mencuci baju dan menjemurnya. Sungguh sosok suami idamannya selama ini.
"Mas... Aku merindukanmu."
Air mata berlinang membasahi pipi mulusnya, Fatwa memeluk dirinya sendiri yang menggigil. Entah sudah berapa jam dia seperti itu, hatinya sangat hancur ketika mengenang suaminya dan juga putrinya.
"Sudah berungkali aku mencoba untuk menerima kenyataan, tapi jiwaku terlalu rapuh untuk menahannya. Sakit tidak berdarah tapi sangat menyiksa. Harus berapa lama lagi aku merasakan seperti ini? Aku tidak tahan, setiap kali aku seperti ini rasanya lebih baik memilih untuk mengakhiri hidupku saja. Perasaan kesepian ini lebih menakutkan dibanding kematian," gumam Fatwa pilu.
Kemudian dia melirik ke arah ponsel yang bergetar. Setelah dibaca pesannya Fatwa baru ingat jika besok adalah hari pernikahan Lisa.
"Lisa meminta aku untuk tidak datang agar aku bisa fokus merawat Aurel. Dia tidak tahu mengenai ini, tapi aku juga sangat ingin menghadiri pestanya. Mumpung besok belum mulai kerja di tempat bos Clara sebaiknya aku meminta izin pada Bian," batin Fatwa mulai ceria lagi.
Setelah meletakkan ponselnya kembali, tiba - tiba saja lampu padam.
Ahhhhhhh
Suara jeritan Fatwa menggema dalam kesunyian malam. Dia tidak bisa melihat apa - apa karena sangat gelap, bahkan ketika dia mengintip lewat jendela di luar juga gelap.
"Sepertinya mati total semuanya, baterai ponselku hampir habis dan aku harus segera menemukan senter. Kalau tidak bisa mampus aku, aku takut gelap," gumam Fatwa.
Beberapa menit kemudian ponselnya beneran mati, Fatwa sangat takut dan lebih memilih bersembunyi dibalik selimut. Hanya dengan begitu dia merasa aman.
Sudah hampir 25 menit listrik masih belum nyala, rasa takut mampu mengalahkan perutnya yang kelaparan.
Tiba - tiba terdengar suara jejak kaki pintu kamarnya langsung terbuka.
Ahhhhhhh
Fatwa menjerit sekeras mungkin karena kaget sekaligus tegang.
"Fatwa ini aku!" kata Bian.
Mendengar suara Bian dengan reflek Fatwa beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menghampiri Bian.
"Bian, kamu ngagetin aku saja. Kenapa tidak bilang mau ke sini?" tanya Fatwa setengah bahagia.
"Sesampainya di rumah aku baru mendapat pemberitahuan kalau malam ini sampai besok listrik akan dipadamkan. Kamu aku telfon tapi tidak aktif, makanya aku jadi khawatir apalagi lampu senter tersimpan di gudang," jawab Bian menahan tawa melihat wajah Fatwa yang ketakutan.
"Untung kamu datang, aku sangat takut dan lapar. Tapi aku tidak berani keluar dari selimut," rengek.
Entah kenapa Fatwa bisa merasa nyaman mengungkapkan keluh hatinya pada Bian. Mungkin karena diantara mereka sudah ada kata teman sehingga Fatwa berani membuka diri.
"Ini kamu bawa lampu senternya satu, dan di ruang tamu aku juga bawain makanan sekalian," ajak Bian.
"Iya, sekali lagi terima kasih," jawab Fatwa bersemangat.
Akan tetapi Fatwa heran karena wadah makannya besar dan makannya juga banyak.
"Sebanyak ini aku tidak bisa menghabiskannya," ujar Fatwa.
"Jangan terlalu percaya diri, itu masakan rumah orang tuaku. Karena khawatir aku tidak jadi ikut makan malam tapi aku minta dibawakan makanan untuk kamu sekalian," canda Bian.
"Apa? Jadi bapak dan ibu tahu kalau aku di sini di vilamu?" pekik Fatwa gelisah.
"Tidaklah, aku hanya bilang teman saja kok," sela Bian.
"Syukurlah, jujur saja sejak kejadian kemarin itu aku tidak berani memperlihatkan wajahku di depan kalian," ucap Fatwa.
"Nyatanya saat ini wajahmu tepat di depan mata aku," sindir Bian dengan gaya menggoda.
Untuk sesaat Fatwa terpesona oleh senyuman Bian yang hangat, akan tetapi wajah suaminya juga terus membayanginya. Dalam hatinya merasa menyesal dan tidak ingin berkhianat.
"Ayo buruan kita makan, mumpung belum dingin," ajak Bian menyadari perubahan ekspresi Fatwa yang kebingungan itu.
"Mari, selamat makan," jawab Fatwa mencoba tersenyum.
Diam - diam Bian melirik ke wajah Fatwa, baginya wanita yang berada di depannya itu sangat misterius.Banyak sekali pertanyaan akan tetapi Bian tidak tahu memulai dari mana.
Suaranya kembali hening, mereka berdua fokus makan. Sesekali terdengar suara gemerincing sendok yang bersentuhan dengan piring.
Setelah makan Fatwa membereskan wadahnya dan hendak membawa ke dapur. Dalam hatinya takut, tapi dia juga malu.
Namun, Bian seperti seseorang yang bisa membaca pikiran orang lain. Tanpa diminta Bian menemani dan membantu membawakan piring.
"Biar aku yang bawa ini, sebaiknya kamu yang menyinari jalan. Kalau sampai barang ini pecah aku takut diomeli mama," ucap Bian serius.
Apa yang diucapkan Bian memang masuk akal, sebab jika sendirian akan kesulitan membawa senter. Ujung - ujungnya malah barang - barangnya bisa jatuh dan pecah.
"Terima kasih, untuk semuanya," ucap Fatwa.
Bian hanya tersenyum saja, pemuda itu sangat bahagia. Akan tetapi Fatwa tidak bisa melihat tatapan kasih sayang dari sorot mata Bian yang berjalan di belakangnya.
Setelah itu mereka dudu lagi di sofa ruang tamu. Mereka sama - sama menjaga jarak dan dipisahkan oleh meja bundar yang besar.
"Fatwa, listriknya menyala besok jam lima pagi. Apa kamu berani sendirian di sini?" tanya Bian.
"Aku.. aku..."
Fatwa sangat takut, tapi juga tidak berani menahan Bian untuk tetap tinggal.
"Kalau takut tinggal bilang saja, karena besok hari libur bagaimana jika malam ini kita mengobrol saja di sini menceritakan semuanya," ajak Bian mencari kesempatan.
"Iya," jawab Fatwa langsung setuju.
Bian tertawa ngakak, pemuda itu tahu jika Fatwa sebenarnya sangat takut tapi malu mengakuinya.
"Oh iya, besok bolehkan aku minta izin? Sahabat aku menikah dan aku ingin datang," tanya Fatwa hati - hati.
"Jam berapa?" tanya Bian.
"Acaranya di mulai jam sembilan, jadi aku akan berangkat jama tujuh," jawab Fatwa dengan nada tatapan penuh harap.
"Oh, yang dulu bersamamu itu ya?" tanya Bian ingat sesuatu.
"Iya, boleh ya? Sorenya aku pulang dan langsung melanjutkan membersihkan halaman depan dan belakang," pinta Fatwa.
"Oke, aku antar sekalian. Kebetulan aku juga tidak ada acara dan jenuh aja kalau tiduran di rumah," balas Bian.
Fatwa berpikiran sejenak, dia merasa hal itu akan baik - baik saja. justru dia tidak perlu repot - repot mencari kendaraan.
"Baiklah," jawab Fatwa.