Diki mendengar sosok wanita paruh baya yang menangis kepada satpam dan satpam terlihat terkejut karena mendengar kalau pak Harianto belum pulang-pulang.
Diki pun menyimpan makanannya lalu menghampiri mereka.
"Yasudah Ibu tenang saja, mungkin bapak pulang terlambat hari ini," terang Pak satpam berbicara kepada ibu paruh baya itu.
"Tapi tolong terus awasi kawasan ini ya, Pak. Saya takut terjadi apa-apa sama suami saya soalnya dia tidak bisa dihubungi. Ditambah saya pernah melihat orang yang mencurigakan mengintai rumah kami, bukannya area sini sudah dijaga dengan ketat? Tapi kenapa masih ada orang asing yang bisa masuk ke dalam dan mengintai rumah?" tanya wanita paruh baya itu terhadap pak satpam.
"Wah, padahal saya terus berjaga disini. Dan kami selalu bergantian mengawasi, apakah mungkin mereka menaiki dinding pembatas lewat belakang? Tapi kan dinding itu sangat tinggi?" Pak satpam terlihat sedang berpikir.
Diki pun melihat wanita paruh baya itu yang melangkah untuk masuk.
"Bu, Ibu tunggu!" Diki mengejarnya.
Wanita paruh baya itu pun langsung berhenti melangkah dan menatap ke arah Diki.
"Bu, tunggu saya ingin menanyakan sesuatu!" ucap Diki disaat dekat dengan wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu pun terlihat terbelalak saat melihat wajah Diki yang tampan namun tidak terawat.
'Ya ampun? Wajahnya?' dalam batin wanita paruh baya itu. Dia seperti pernah melihat wajah tampan ini, tapi dimana? Wanita ini mengingat-ingat tapi ia sungguh lupa.
"Kamu siapa? Saya tidak bisa bicara dengan orang asing!" tolak wanita paruh baya itu.
"Tunggu dulu, saya ingin bicara!" Diki menahan wanita paruh baya itu untuk pergi.
"Saya datang dari kampung untuk menemui Pak Harianto, saya disuruh kesini oleh saudara saya di kampung. Tolong pertemukan saya dengan Pak Harianto!" Diki memohon.
Wanita itu terkesiap dan tidak menyangka kalau akan ada orang dari kampung yang ingin menemui suaminya. Apakah memang suaminya memiliki saudara lain di kampung?
Karena melihat tampang Diki yang tulus akhirnya wanita paruh baya itu mau berbicara dengannya.
"Tapi untuk sekarang suami saya tidak ada. Saya pun cemas setengah mati menunggunya!" terang istrinya pak Harianto.
"Hmm baiklah kalau begitu, nanti kalau dia sudah datang tolong temui saya di kontrakan sana." Diki mengatakan sambil menunjuk area kontrakannya.
Wanita paruh baya itu pun mengangguk lalu pergi masuk ke dalam rumahnya.
Sedangkan Diki ia memperhatikan kemana langkah wanita itu pergi. Hingga nanti ia akan tahu yang sebelah mana rumahnya. Diki masih memperhatikan dan akhirnya ia tahu dimana letak rumah Pak Harianto itu.
"Bi, Bi, Bi, ternyata susah juga menemukan orang sepenting pak Harianto." gumam Diki sambil berjalan menuju kontrakan.
***
Istri dari pak Harianto itu tengah mondar-mandir karena mencemaskan suaminya plus teringat akan wajah pemuda yang menghampirinya tadi.
"Siapa pemuda tadi? Melihat wajahnya saja saya seperti pernah mengenalnya."
Istri dari pak Harianto itu terus mengingat-ingat akan wajah yang mirip dengan Diki, tapi sayang ia tidak bisa mengingat itu.
Tiba-tiba anaknya pak Harianto datang, dia wanita muda yang ternyata telah hampir menabrak Diki tadi di jalan.
"Ibu, Bapak belum pulang juga?" tanya anak Pak Harianto yang bernama Bella.
Wanita paruh baya itu menengok, "Belum Bell. Ibu sangat cemas sekali!" terang istri Pak Harianto.
Anak dari pak Harianto pun menitikan air mata karena merasa sangat cemas terhadap ayahnya. Soalnya akhir-akhir ini ayahnya selalu di buru oleh orang-orang jahat.
"Semoga bapak baik-baik saja." ucap Bella merangkul pundak ibunya.
***
Sudah beberapa hari berlalu, Diki selalu mengawasi dan melihat ke arah rumah istri dari Pak Harianto. Dia merasa aneh karena ternyata Pak Harianto beberapa hari ini menghilang.
Ia pun akhirnya menemui istrinya Pak Harianto karena sudah di bolehkan oleh pak satpam untuk masuk ke dalam perumahan.
Diki mengetuk pintu, "Assalamualaikum." Diki pun berucap setelah pintunya berhasil terbuka.
Diki dan wanita yang membuka pintu itu terbelalak karena mereka berdua tidak menyangka kalau mereka bisa bertemu lagi.
"Kamu mau apa datang kesini? Bukannya saya sudah memberikan kamu uang untuk tanggung jawab?" tanya Bella anak dari Pak Harianto.
Bella terkesiap karena orang yang telah ia tabrak ada di hadapannya dan mengira kalau Diki akan kembali meminta pertanggung jawaban.
"Kamu, juga? Kenapa ada disini?" tanya Diki tertegun.
Bella mengerutkan keningnya, kenapa pria ini malah balik bertanya?
"Saya penghuni rumah ini! Saya sudah memberikan kamu uang untuk tanggung jawab karena telah menabrak kamu. Jadi, kamu pergi dari sini!" usir Bella takut kalau dia akan diporoti oleh orang ini.
"Tunggu! Bukan itu maksud saya, tapi saya ingin bertemu dengan Pak Harianto!" Diki menerangkan maksud kedatangannya
Walaupun ia tahu kalau Pak Harianto menghilang, tapi setidaknya biarkan ia berbicara dengan istrinya.
Wanita itu tertegun dan penasaran apa yang ingin dibicarakan oleh pria ini. Lalu, Bella pun mempersilahkan Diki masuk ke dalam rumah.
"Makasih," ucap Diki yang disodori minuman oleh Bella.
"Sekarang ibu sedang ke pasar dan saya di rumah sedang sendiri." terang Bella sambil menata makanan di atas meja.
Diki menatap makanan yang terlihat enak di hadapannya. Ia tidak pernah melihat makanan seunik dan seaneh ini.
"Jadi, maksud anda ingin bertemu dengan Bapak itu apa?" tanya Bella.
Diki pun bersiap untuk menceritakan asal-usulnya kepada Bella.
"Jadi, begini. Saya berasal dari kampung dan saya datang kemari untuk mencari orang yang bernama Pak Harianto. Sodara saya yang bernama Bi Ina menyuruh saya untuk pergi kemari dan menanyakan tentang jati diri saya yang sesungguhnya."
Wanita di samping Diki terlihat begitu mengamatinya dengan banyak pertanyaan.
"Untuk menanyakan tentang jati diri? Maksudnya?" wanita itu merasa bingung dengan apa yang Diki sampaikan.
"Entahlah, saya juga bingung karena memang yang tahu kuncinya hanya Pak Harianto. Karena begitu saya tanya Bi Ina juga dia tidak mau menjelaskan." terang Diki.
Tiba-tiba saja wanita yang bernama Bella itu menangis.
"Saya sedih karena sudah beberapa hari bapak itu tidak pulang-pulang. Terakhir mobilnya ditemukan di pinggir jalan raya, tetapi orangnya tidak ada. Dan saya sangat cemas karena takut bapak saya kenapa-napa." Isak wanita yang berada di samping Diki saat ini.
Diki menenangkan wanita cantik itu dengan mengelus punggungnya.
"Kamu yang sabar, ya. Nanti pasti Pak Harianto baik-baik saja. Ngomong-ngomong nama kamu siapa?" tanya Diki mengajak berkenalan.
"Nama saya Bella."
Mereka pun saling berkenalan.
Ibunya Bella masuk ke dalam rumah dengan memegangi tas keranjang yang memuat beberapa sayuran yang telah ia beli.
Dan ibunya Bella sekaligus istri dari Pak Harianto itu terbelalak ketika melihat ada pria asing yang sedang berada di dalam rumahnya.
"Kamu ngapain ada disini?"