Pertanyaan itu membuat Bella dan Diki terkesiap.
Lalu, mereka pun beranjak berdiri.
"Ibu, pria ini ingin bertemu dengan bapak!" terang Bella.
Istri dari pak Harianto itu berdecak, "Kan kamu tahu sendiri kalau bapak tidak ada? Dan entah dimana ia sekarang. Jadi, lebih baik kamu suruh dia pulang!" suruh istri dari Pak Harianto. Wanita paruh baya itu sedang lelah dan banyak pikiran karena mencemaskan suaminya.
"Ibu, tunggu sebentar." tahan Diki yang melihat istri dari pak Harianto hendak pergi.
"Saya tahu kalau Pak Harianto itu masih belum pulang juga. Tapi, setidaknya berikan saya sesuatu untuk bisa membantu mencarinya." terang Diki berniat untuk mencari Pak Harianto yang menghilang itu.
Istri dari pak Harianto berdecak, "Kamu bisa apa? Polisi saja yang ahli masih belum bisa menemukannya. Apalagi kamu pria biasa!" hina istri dari Pak Harianto.
Diki sadar diri lalu menunduk tapi ia akan berjuang. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya yang hanya harus menunggu. Lebih baik ia berusaha untuk mencarinya kan?
"Tapi Bu, biarkan saya mencobanya!" mohon Diki.
Bella pun yang menyaksikan jadi ingin mendukung Diki.
"Iya, Bu. Lebih baik kita juga ikut mencarinya, jangan terus mengandalkan semuanya kepihak berwajib. Kita juga harus berusaha!" tekan Bella.
"Terserah kalian saja!" jawab dari wanita paruh baya itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Mereka berdua kembali duduk di kursi lalu berbincang untuk merencanakan bagaimana cara mereka mencari Pak Harianto.
"Bisa kamu jelaskan bagaimana ciri-ciri dari Pak Harianto?" tanya Diki.
Bella pun menceritakan semua tentang ciri-ciri ayahnya. Lalu, Bella mengambil sebuah Poto ayahnya itu dan menunjukannya kepada Diki.
Diki terkesiap melihat wajah Pak Harianto yang ada di dalam kertas itu, karena nyatanya Pak Harianto adalah orang yang pernah Diki tolong saat baru sampai ke kota.
"Orang ini?" gumam Diki terkejut melihat isi dari foto itu.
"Kenapa?" tanya Bella.
"Dia orang yang aku tolong beberapa waktu yang lalu," terang Diki dengan cemas. Ia takut kalau orang yang ia tolong itu tewas karena berhasil tertangkap oleh orang jahat itu.
Bella yang mendengarnya menjadi syok, "Jadi bagaimana? Apa yang telah terjadi kepada bapak?" tanya Bella gemetar cemas.
Diki pun menceritakan bagaimana perjuangannya menolong Pak Harianto yang sia-sia itu.
"Jadi begitu, saya pun akhirnya tidak tahu bagaimana keadaanya. Entah mereka berhasil membawa Pak Harianto atau bagaimana?" Diki pun tertegun, jangan sampai Pak Harianto itu lenyap karena kalau sampai begitu habis sudah harapannya. Kuncinya hanya di Pak Harianto.
"Kalau gak salah, saya pernah mendengar penjahat itu mengintrogasi bapak kamu, tapi dia enggan untuk memberitahukan apapun sehingga para penjahat itu murka." terang Diki lagi.
"Ya ampun bapak! Sudah kuduga kalau bapak itu diculik oleh orang-orang jahat itu. Mereka itu pernah datang juga ke rumah kita hanya untuk menanyakan seseorang yang kata bapak sih orangnya sudah meninggal, tapi mereka enggan percaya dan terus mengusik kehidupan bapak." Bella menangis.
Diki melamun dan bingung bagaimana cara menyelamatkan Pak Harianto. Karena melihat orang jahat itu, Diki sedikit bergetar karena mereka mempunyai senjata api sedangkan dirinya? Dirinya hanya orang biasa di tambah dirinya orang baru disini yang tidak tahu seluk-beluk daerah ini.
"Kamu tenangkan dirimu, Bella. Kalau kita berjuang pasti akan ada titik cerah!" tekan Diki.
Bella pun sejenak berpikir, tiba-tiba saja ada teman pria Bella muncul.
Teman pria Bella terlihat kesal melihat Bella bersama dengan Diki.
"Siapa dia, Bell?" tanya teman Bella kepada Bella dengan menatap sinis ke arah Diki.
Bella menoleh dan mendongakkan kepalanya menatap pria tersebut, "Alvin? Ternyata Lo datang juga, Alvin!" Bella langsung memeluk pria itu.
"Alvin kamu harapan aku, bantu aku temukan bapak yang tengah di culik oleh para penjahat. Hanya kamu pria yang aku percaya untuk bisa melakukan itu." mohon Bella.
Pria itu tersenyum menyeringai,"Bapak kamu di culik?" tanya Alvin.
Bella mengangguk.
Alvin ini adalah orang kaya yang mempunyai perusahaan jual beli alat senjata. Berbagai bentuk senjata serta alat-alat untuk memata-matai juga Alvin punya, seperti gadget canggih yang bisa menangkap suara jarak jauh dan kaca mata penembus, serta alat pelacak, Alvin mempunyai itu semua sehingga Bella percaya kalau Alvin akan menemukan bapaknya.
"Kamu tenang ya, Bell. Aku akan menyelamatkan bapak kamu, kamu gak perlu cemas serahkan semuanya kepadaku." terang Alvin sombong.
Bella pun mengangguk lalu Bella meminta Alvin juga untuk membawa Diki bersamanya serta mengajari Diki berbagai senjata yang ia punya. Bella ingin Diki membantu Alvin.
Alvin pun menolak, tapi Diki juga malah bersikeras ingin untuk membantunya mencari serta menyelamatkan Pak Harianto.
Alvin berdecak, "Ck kalau gue bawa-bawa Lo? Apakah Lo bisa?"
"Makannya saya ingin belajar. Tolong saya, saya juga ingin menyelamatkan Pak Harianto!" mohon Diki.
"Nanti Lo malah jadi beban gue?" tolak Alvin.
Alvin juga bersikeras tidak mau.
"Saya akan lakukan apa yang kamu perintahkan yang penting saya bisa membantu kamu. Saya akan belajar sungguh-sungguh dan saya janji kalau saya akan belajar dengan cepat!" janji Diki.
Alvin pun menyeringai ada pemikiran negatif di kepala Alvin untuk Diki entah apa itu, "Baiklah, saya akan bawa kamu."
"Aku juga akan ikut, Alvin! Aku juga ingin membantu menyelamatkan bapak. Aku hanya butuh bantuan senjata dan alat pelacakmu. Karena sedikitnya aku juga jago bela diri." terang Bella.
"No, No, No. Aku tidak mau membahayakanmu, cukup si dekil dia saja!" ucap Alvin.
Bella terus memelas dan membujuk Alvin dan akhirnya Alvin pun setuju karena Bella terus memaksa.
***
"Oh jadi ini tempat Lo tinggal?" tanya Alvin yang saat ini sedang berada di kontrakannya Diki yang ada di sebelah perumahan elit milik Bella.
Mereka bertiga akan pergi ke rumahnya Alvin, tapi di saat akan pergi mereka menyuruh Diki untuk mengganti pakaiannya dan mengikutinya ke kontrakan baru Diki.
"Iya," jawab Diki sambil hendak membuka tas yang berisikan pakaiannya. Diki belum punya lemari sehingga pakaiannya hanya di simpan di tas ranselnya.
"CK, kotor dan sempit!" terang Alvin menghina.
Diki pun tidak menghiraukan perkataan Alvin yang menghinanya.
Lalu, Diki pun berganti pakaiannya dengan memakai jeans dan kaos oblong.
"Lo ganti pakaian tapi masih saja lusuh seperti itu? Lo gak punya apa pakaian yang layak pakai? Masa mau ke rumah gue dengan pakaian seperti itu? Nanti orang tua gue akan hina Lo!" terang Alvin.
Jelas rumah Alvin bagaikan rumah raja sehingga jika ia membawa teman lusuh dan jelek orang tuanya akan melarangnya masuk.
Diki tertegun dan bingung. Kalau harus beli baju baru mana ada uang dia.
"Jadi sekarang bagaimana?"