“Ini untuk pertama kalinya Anda mengadakan rapat di rumah,” ucap salah satu rekan kerja wanitanya.
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar gema langkah kaki saat mereka tiba di depan rumah, lalu melangkah masuk ke dalam.
“Apakah Anda tinggal sendiri?” tanya rekan kerjanya lagi.
“Tidak. Saya tinggal bersama adik tiri saya.”
Wanita itu menyeringai, sementara beberapa rekan lain berjalan mengikuti di belakang mereka.
“Oh, jadi Anda mengadakan rapat di rumah karena tidak ingin meninggalkan adik tiri Anda sendirian?” tanyanya, bernada menyelidik.
“Tidak. Semua berkas rapat ada di rumah.”
“Begitu, ya? Kalau begitu, kita lihat saja nanti seperti apa adik tiri Anda. Saya sangat penasaran,” balas wanita itu, tersenyum tipis.
Langkah kaki yang menggema di ruang tengah itu tiba-tiba berhenti mendadak saat mereka mendapati Alea berdiri tepat di hadapan mereka.
Penampilannya tampak sedikit acak-acakan karena baru saja pulang dari kampus.
Wanita itu langsung menyeringai begitu melihat Alea.
“Oh, jadi ini adik tiri yang Anda maksud tadi?” ucap rekan kerja wanita itu, membuat Alea hanya terdiam.
Alea membeku. Tatapannya menyapu wanita di samping Raka. Terlihat begitu elegan, cantik, bahkan setara dengan Raka.
“Cukup manis,” lanjutnya sambil melirik Alea dari atas ke bawah, “tapi dia lebih cocok menjadi asisten rumah tangga Anda daripada seorang adik tiri,” jelasnya dengan nada meremehkan.
DUG!
Jantung Alea berdebar kencang. Ia tidak mengerti mengapa wanita itu bisa mengatakannya seperti itu. Tubuhnya menegang, tangannya refleks memegangi dadanya.
Raka yang melihat kondisi Alea langsung mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah dingin.
Sementara itu, rekan-rekan kerja yang lain saling berpandangan. Mereka sadar, wanita di sebelah mereka barusan telah berani mengusik singa yang sedang tertidur.
Suasana terasa begitu tegang. Namun, saat suara Raka terdengar, ketegangan itu sedikit mencair.
“Jaga mulutmu. Kita kemari untuk melakukan rapat, tidak ada urusannya dengan adik tiri saya,” tegur Raka dengan nada tegas.
Wanita itu sedikit tersentak. Ia lalu membungkuk, seolah meminta maaf kepada Raka.
“Maaf, Tuan. Tapi saya hanya mengatakan yang sebenarnya,” ucap wanita itu dengan nada mengejek.
Ucapan tersebut terasa sangat menyengat di d**a Alea. Napasnya terasa sesak. Tanpa berkata banyak, ia ikut membungkuk dan berpamitan.
“M-maaf, kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Alea pelan, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang tengah itu.
Para rekan kerja lainnya berusaha memperingatkan wanita itu. Namun, ia sama sekali tidak menghiraukannya. Tatapannya masih tertuju ke arah Alea yang telah menghilang dari pandangannya.
Sementara itu, rahang Raka mengeras. Otot wajahnya menegang, menahan amarah yang kian membara. Ia benar-benar tersinggung oleh ucapan wanita di sampingnya ucapan yang tanpa sadar telah melewati batas kesabarannya.
Suasana menjadi begitu mencekam. Para rekan kerja hanya bisa saling menggelengkan kepala, menyadari bahwa wanita di sisi tuan mereka telah menciptakan masalah besar.
Raka menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. Raut wajahnya tampak datar, tetapi justru itulah yang paling ditakuti oleh para rekannya.
Mereka tahu, saat itu Raka sedang berusaha keras mengendalikan dirinya dan jika kendali itu lepas, akibatnya tidak akan ringan.
Saat Raka mulai berbicara, suasana tidak hanya menjadi mencekam, tetapi juga membuat semua orang terkejut.
“Rapat hari ini dibatalkan,” ucap Raka dengan nada kesal.
Para rekan kerjanya, termasuk wanita itu, ternganga mendengar keputusan tersebut.
“T-Tuan” salah satu rekan kerja mencoba angkat bicara.
“Kita lakukan minggu depan,” potong Raka tegas, tanpa memberi ruang untuk bantahan.
Raka membalikkan badannya, lalu kembali berbicara.
“Kembalilah kalian.”
“Tuan,” panggil rekan wanita itu. “Bagaimana bisa Anda membatalkan rapat ini? Anda tahu rapat ini sangat penting,” jelasnya dengan nada tidak terima.
"Saya tidak peduli seberapa pentingnya,” jawab Raka tegas. “Lebih baik kalian pergi sebelum tahu akibatnya.”
Tanpa menunggu jawaban, Raka langsung melangkah pergi, meninggalkan mereka dalam keterpakuan.
Raut wajah wanita itu tampak sangat kesal. Rapat ini memang benar-benar penting, namun Raka dengan mudah membatalkannya begitu saja.
Beberapa rekan kerja mendekat ke arah wanita tersebut.
“Ini semua gara-gara kamu.”
Wanita itu menoleh, menatap mereka dengan ekspresi tidak terima.
“Kenapa justru aku yang disalahkan?” tanyanya kesal.
“Karena kamu sudah menghina adik tiri Tuan,” jawab salah satu dari mereka. “Seharusnya kamu bisa menjaga mulutmu. Lihat saja, Tuan benar-benar tersinggung dengan ucapanmu.”
Wanita itu mengendus kesal. Karena tidak terima, bahwa ia di salahkan oleh mereka.
**
Di sisi lain, Alea sedang merenung di dalam kamarnya. Raut wajahnya terlihat jelas menampakkan kesedihan setelah mendengar ucapan wanita itu.
“Apa aku benar-benar sejelek itu sampai dia berkata seperti itu kepadaku?” gumam Alea sambil duduk memeluk lututnya.
Pandangan Alea beralih ke cermin di hadapannya. Ia mengakui bahwa penampilannya memang tampak berantakan karena baru saja pulang dari kampus.
Karena rasa lapar yang menyerang, Alea memutuskan untuk keluar dan makan. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Raka sedang membawa tamu.
“Seharusnya aku tidak keluar tadi,” keluhnya pelan. “Lihat saja wanita di samping Kakak, dia tampak elegan, cantik, dan berkarier setara dengan Kakak. Sedangkan aku?” gumamnya lagi.
Pikiran itu membuat d**a Alea terasa semakin sesak. Rasa insecure perlahan menggerogoti dirinya. Ia merasa tidak pandai berdandan, pakaiannya pun selalu tampak sederhana dan acak-acakan.
“Ah, sudahlah,” desahnya lirih. “Lebih baik aku tetap di kamar saja.”
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan di pintu.
Tok. Tok.
Alea mengangkat wajahnya dan menatap ke arah pintu.
“Alea, buka pintunya,” ucap Raka dari balik pintu.
Alea hanya diam sambil menatap pintu yang masih diketuk.
Dalam hatinya, ia bertanya-tanya.
“Sedang apa Kakak kemari?”
Ketukan pintu semakin terdengar keras dan kasar. Bukan Raka namanya jika terlalu sabar.
Tok. Tok.
“Alea, buka pintunya sekarang,” kata Raka dengan nada perintah.
“Aku ingin di kamar saja, Kak!” teriak Alea dari balik pintu.
Raka merasa kesal saat mendengar teriakan Alea dari dalam kamar. Ia kembali bersuara.
“Buka sekarang, atau akan kudobrak pintu ini!”
Hanya dalam hitungan menit, pintu itu akhirnya terbuka. Raka berdiri tepat di depan pintu dengan kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.
Alea mengalihkan pandangannya saat berhadapan dengan Raka. Matanya tampak sedikit merah, membuat emosi Raka kembali naik karena ia tahu apa penyebabnya.
“Lihat aku saat berbicara,” ucap Raka dengan nada dingin, namun tegas.
Alea terpaksa menatap Raka. Raut wajahnya tampak jelas begitu sedih.
Raka melangkah mendekat, lalu berbicara.
“Kenapa kamu pergi begitu saja saat wanita itu menghinamu?”
Alea menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan.
“Aku tidak ingin membuat masalah,” jawab Alea dengan cepat. “Dan itu juga salahku. Seharusnya aku tidak keluar kamar dengan tampilan yang berantakan seperti ini,” sambungnya.
“Bukan salah penampilanmu,” sahut Raka. “Wanita itu yang salah karena berani menghinamu di depanku.”
Alea hanya diam. Tatapannya masih tertuju pada Raka.
“Dan kau terlihat sangat cantik dan natural, dibandingkan wanita itu. Cantik karena dempul,” lanjut Raka dengan nada dingin.
Mata Alea membulat saat mendengar ucapan Raka. Ia benar-benar terkejut. Ini untuk pertama kalinya Raka berbicara seperti itu kepadanya.
“Jadi, tidak perlu kamu memikirkan kata-kata wanita tadi. Karena kamu sudah sangat cantik dibandingkan wanita itu.”