Maya Comeback

1007 Words
    Jika saja air bisa membasuh luka hati, maka takkan ada hati yang tersakiti. Jika saja angin mampu membawa pergi derita, maka takkan ada air mata. ***     "Kok bisa si berengsek itu ke restoran bokap lo?" tanya Ethan saat keluar dan menutup pintu kamar Aca. Dengan kaus biru dongker, pria itu menghampiri Devan yang memang menunggunya di depan kamar Aca. Ethan sangat Khawatir saat mendengar adiknya pingsan usai bertemu dengan Ardi.     "Nggak tahu gue. Bokap cuma bilang, Ardi kemarin nawarin bisnis baru gitu," jawab Devan, sembari berjalan beriringan memasuki kamar Ethan yang berada di samping kamar Aca.     "Jadi habis ketemu bokap lo, terus dia nemuin Aca gitu? Udah gila kali dia mau main-main lagi sama kita. Stres gue, ternyata investor yang minggu lalu taken kontrak sama gue itu bokapnya si Ardi. Sial banget gue." Ethan membaringkan tubuhnya di samping Devan yang sudah lebih dulu berbaring di kasur besarnya. Ethan tak pernah tahu akan berurusan lagi dengan keluarga Ardi.     "Apa mungkin dia sengaja gangguin kita karena tahu gue udah balik ke sini?" kata Devan dengan tatapan menerawang.     "Yah bisa jadi, tapi apa untungnya coba? Udahlah, besok lagi dipikirin. Ngantuk gue."     Kemudian Ethan memiringkan tubuhnya, membelakangi Devan dan mulai menutup mata. Etha bukan tipe priaa yang akan repot-repot memikirkan masalah berlarut-larut. ia lenih santai dalam menghadapi masalah. sangat berbeda dengan Aca yang selalu pakai perasaan di setiap masalah yang ia hadapi. ***     "Pagi!!!" sapa Aca ceria seperti biasanya. Gadis itu segera duduk di bangku ruang makan yang sudah dipenuhi anggota keluarganya dan Devan.     "Pagi, Sayang, mau makan apa? Bunda ambilin."     "Sudah gede dia, Bun, masa makan aja diambilin?" sindir Ethan mengejek. Ia selalu memulai hari dengan kata-kata menyebalkannya.     "Iya, Bun, Aca sudah dewasa." Kemudian, Aca menyendokkan nasi goreng ke piringnya. Sementara Devan hanya tersenyum melihat gadisnya segar seperti biasanya. Tidak terlihat tanda-tanda gadis itu terguncang setelah bertemu Ardi Kemarin. Paling tidak Devan lega, mengetahui mungkin saja Aca belum mengingat masa lalu mereka.        "Eh, Bet, lo berangkat kerja sama Devan aja ya, gue buru-buru nih. Nitip ya, Dev." Tiba-tiba Ethan berdiri dan mengambil tas ranselnya di meja sudut ruangan, tanpa menunggu jawaban dari Aca. Ethan masih saja seperti biasanya, sesuka hati mengatur orang lain,     "Bilang aja males nganterin," kata Aca mencebikkan bibirnya.     "Nggak percaya banget sih lo? Beneran sibuk gue. Ya udah, berangkat dulu ya, Yah, Bun." Ethan segera mencium tangan kedua orangtuanya, lalu pergi begitu saja.     Setelah menyelesaikan sarapannya, Devan benar-benar mengikuti permintaan Ethan untuk mengantar adiknya bekerja. Devan justru senang dan bisa mengambil kesempatan untuk berlama-lama dengan Aca.     "Gimana kampus barunya, Bang? Pasti banyak cewek  cantik ya?" tanya Aca membuka pembicaraan, saat perjalanan ke Greenday Resto, menghilangkan suasana canggung di antara mereka.     "Yah gitu, biasa aja. Mereka kayak bukan mau belajar tapi malah iklan bedak, baju, sama paha dan d**a," jawab Devan geli mengingat tingkah laku mahasiswinya yang berlebihan dalam berdandan.     Devan memang bekerja sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta, mengikuti jejak ayahnya dulu. Dengan wajahnya yang tampan, membuat mahasiswinya berlomba-lomba mendekatinya, namun satu per satu mundur dengan sendirinya karena sikap dingin Devan pada setiap perempuan yang mendekatinya. Seolah menegaskan bahwa di hatinya hanya ada satu nama yang takkan pernah tergantikan.     "Enak dong dapat paha dan d**a gratis, nggak usah bayar," komentar Aca lagi, sambil menatap pria di sampingnya.     "Nggak semua paha dan d**a enak tahu." Devan menyentil kening Aca gemas. Kalau begini, ia merasa seperti kembali ke masa dulu, pertama kali mereka bertemu. Bisa bercanda dan tertawa bersama.     "Iya, yang penting masih ingat ada Mbak Maya nungguin di rumah." Aca mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sementara itu, Devan diam saja, tak menjawab, tangannya mencengkeram setir dengan kuat, memilih tak mengatakan apa pun sekarang. Mengingat nama itu di sebut membuat darahnya mendidih.     Tak lama kemudian mereka telah sampai di depan Greenday Resto. Dengan cekatan, Devan membukakan sabuk pengaman yang Aca kenakan.     "Gue bisa sendiri kali, Bang," protes gadis itu ketika Devan memperhatikannya, lalu merapikan rambut Aca yang berantakan, juga menyisirnya lembut dengan jari tangannya. Bahkan, ia sempat meneliti wajah gadis itu cukup lama sebelum kembali ke posisi duduknya semula.     "Katanya udah dewasa, coba sisir rambutnya yang rapi, biar cantik."     Pipi Aca bersemu merah karena perlakuan Devan dan memegang perutnya yang tiba-tiba berdesir aneh.     "Kalau nggak rapi, nanti pelanggan muntah liat rambut lo," kata Devan lagi, yang membuat Aca kehilangan senyumnya.     Setelah Aca memasuki restoran, Devan kembali memacu mobilnya menuju universitas tempatnya mengajar. Sesampainya di kampus, pria itu langsung menuju ruangannya karena jadwal mengajarnya masih satu jam lagi. Devan mengembuskan napas kasar saat masuk ke dalam ruangan, dan mendapati Maya telah duduk di sofa membuatnya geram. Amarah sepertinya telah menguasai hatinya saat ini.     "Mau apa lagi lo?" tanya Devan ketus dan segera duduk di kursinya. Pura-pura sibuk dengan kertas-kertas di meja kerja.     "Mau sampai kapan kamu bohongi gadis manja itu, Dev?" Wanita berpakaian mini dan ber-makeup tebal itu berjalan ke depan meja kerja Devan. Meletakkan telapan tangannya di meja sambil menunduk hingga membuat dadanya sedikit menyembul di antara kerah kaus ketatnya.     "Gue nggak bohong sama siapa pun," jawab Devan tanpa menatap Maya sedikit pun. ia benar-benar tak suka dengan situasi yang ia hadapi kini.     "Nggak bohong, cuma nutupin kebenaran, kan?" kata Maya menyindir. Diam-diam wanita itu memerhatikan hidup Devan dan Aca akhir-akhir ini.     "Diam lo! Lo nggak tahu apa-apa tentang gue, mending lo keluar sekarang. Setelah lo membuat kerusuhan di apartemen gue pagi buta, mau apa lagi?" Devan menatap tajam Maya yang masih berdiri di depan mejanya. Kilatan amarah sangat jelas terlihat di matanya. Sekuat apapun ia menghindari Maya, nyatanya wanita itu tak pernah berhenti mengganggu hidupnya.     "Jangan bicara omong kosong, Dev. Aku sama kamu itu sama." Lagi-lagi Maya berbicara. Kedua tangannya bersedekap di d**a.     "CUKUP! KELUAR GUE BILANG!" Devan berteriak sambil memukul mejanya dengan emosi, membuat sebagian kertas dan pulpen di atas meja berhamburan di lantai.     "Okey, gue keluar dan gue bakal kasih tahu semuanya sama gadis manja itu," ancam Maya tanpa rasa takut. Maya masih menatap Devan sejenak, lalu dengan santai ia keluar dari ruangan itu dengan bunyi sepatu hak tingginya yang menggema. Menyiapkan rencana yang mungkin tak pernah dibayangkan Devan sebelumnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD