Malam mencekam menghiasi Jakarta malam itu. Hujan deras dan petir menggelegar seolah meluapkan emosinya. Gadis itu duduk di pinggir taman rumah Aca, dengan air mata yang tak kalah derasnya.
"Ve, ngapain lo duduk di tengah hujan gini? Nanti lo sakit." Aca memegang erat jaketnya dan tangan sebelahnya memegang payung, mencoba membujuk sahabatnya yang bersikap aneh malam itu.
"Ayo, masuk," kata Aca lagi dengan suara lebih keras.
"Gue takut, Ca," lirih Velove malam itu. wajahnya pucat, dan bibirnya bergetar.
"Takut apa? Tenang aja, ada gue di sini. Ayah bunda lagi pergi. Ayo, ke dalam daripada lo kehujanan gini." Aca tak menerti kenapa sahabatnya itu bersikap aneh. padahal biasanya Velove tak segan-segan masuk ke dalam rumahnya tanpa mengetuk pintu.
"Gue... gue hamil, Ca," ucap Ve bergetar. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, lalu kembali menangis.
Aca tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, tangannya gemetar hingga payungnya hampir jatuh. Ia menghela napas panjang menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat.
"Ayo, masuk Ve. Kita bicara di dalam."
Ve berdiri dan memegang tangan Aca dengan erat, kemudian mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam kamarnya, Aca memberikan segelas air pada Ve yang baru selesai mengganti bajunya yang basah.
"Minum dulu, Ve.”
"Gue takut, Ca."
"Sssttttt... ada gue di sini." Aca memegang bahu Ve kemudian memeluknya erat, mencoba memberi ketenangan meski sebenarnya ia sendiri merasa takut tentang apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu.
"Gue harus gimana sekarang, Ca? Kak Ardi marah besar waktu gue bilang kalau gue hamil." Ve melepaskan pelukan sahabatnya sambil terus menghapus air mata yang telah membanjiri pipinya.
"Kok Kak Ardi yang marah? Maksud lo gimana?"
"Karena... dia nggak mau anak ini ada, Ca."
"Ve, sejak kapan lo sama Ar—" Aca tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya saat pintu kamarnya terbuka dengan kasar.
***
Devan mondar-mandir gelisah di ruangannya, padahal jam mengajar harusnya sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu, namun hatinya tak tenang mengingat kata-kata Maya. Ia tak ingin perempuan gila itu benar-benar menemui Aca.
"Permisi, Pak,” ucap Winda yang merupakan masasiswi Devan.
"Kenapa kamu masuk nggak ketuk pintu dulu?" geram pria itu ketika tiba-tiba mahasiswinya sudah berada di depan meja kerjanya.
"Maaf, Pak, tadi saya suda ketuk pintu, tapi nggak ada jawaban jadi saya langsung masuk," kata Winda, takut melihat dosennya yang terkenal killer itu memasang wajah kusut.
"Kalau nggak dijawab ya jangan masuk. Ada apa kamu ke sini?" Devan kembali duduk di kursinya, menyusun kembali kertas-kertas yang berserakan di meja. Perasaannya tak tenang. Bayangan wajah Aca berkelebat di kepalanya.
"Ini mau kumpul tugas anak-anak yang Bapak suruh kemarin."
"Ya sudah, simpan di meja, besok saya periksa. Hari ini saya nggak bisa ngajar dulu."
"Iya, Pak. Kalau begitu, saya permisi." Winda buru-buru meninggalkan ruangan Devan yang menurutnya seram itu. Dan tak lama, Devan juga meninggalkan ruangannya setelah mengambil kunci mobilnya.
Daripada gelisah dan khawatir sendiri, lebih baik ia memastikan keadaan gadisnya sekarang. Ia sangat tahu bagaimana sifat Maya yang tak pernah menyerah untuk mendapatkan keinginannya.
***
"Neng, beneran sudah sehat? Kok sudah masuk kerja?" Doni menatap Aca yang sedang membantu Mbak Siti mengeringkan piring-piring yang habis ia cuci.
"Iya kok, Kang. Kemarin itu cuma kecapekan aja, dibawa tidur semalaman juga sudah hilang capeknya." Aca mengukir senyum di bibir. Tak ingin membuat teman-temannya di restoran khawatir. Jika di rumah terus, mungkin Aca akan semaki sakit memikirkan hal-hal yang tidak ia ingat.
"Beneran, Ca? Kemarin lo pucet banget tahu,” ucap Mari tiba-tiba.
"Apaan sih lo kunti nyamber aja kayak bensin,” sewot Doni saat Marin tiba-tiba datang menyela pembicaraan mereka.
Tanpa menghiraukan kata-kata Doni, Marin berkata, "Ada tamu lo tuh, Ca. Cewek cantik, katanya mau ketemu lo." Marin mendorong tubuh Doni agar menjauh dari Aca.
"Sialan lo, kunti," teriak Doni sebal, lalu kembali ke depan kompor tempatnya memasak, dengan segala pemikiran untuk membalas perbuatan Marin.
"Siapa, Rin?" tanya Aca sambil mengeringkan tangannya.
"Nggak tahu. Sudah sana samperin. Di meja sembilan ya, mumpung Pak Bagas lagi keluar.” Kali ini Marin mendorong Aca keluar dari dapur.
Aca sedikit terkejut melihat Maya yang duduk di meja nomor sembilan. Heran mengetahui Maya ingin menemuinya, sedangkan ia sangat ingat bahwa dulu Maya tak menyukainya. Di saat ia sedang menyusun sepotong demi sepotong ingatan yang baru ia dapatkan, kini Aca harus berhadapan dengan orang yang tak ingin ia temui.
"Mbak Maya, apa kabar? Kok sendirian? Nyariin suaminya ya? Bang Dev belum ke sini kok." Entah sengaja atau tidak, tiba-tiba saja Aca mengatakan banyak pertanyaan konyol setelah duduk di hadapan Maya.
Maya terkejut melihat ekspresi Aca yang ceria dan kata-kata yang ia ucapkan. Caci dan makian yang Maya siapkan untuk Aca setelah memberitahukan sebuah kebenaran, kini ia telan kembali. Ia tersenyum pada gadis yang sangat dibencinya itu.
"Oh iya, dia bilang tadi, tunggu di sini saja," ucap Maya kikuk. IA hanya perlu mengikuti naskah kebohongan, meski ia tak tahu jalan ceritanya. Ia yakin Devan benar-benar tak mengatakan kejadian sebenarnya pada Aca.
"Jadi, ada apa, Mbak mau ketemu aku?" lagi-lagi Aca bertanya. Dalam hati, Aca senang karena sudah tidak ada lagi tatapan kebencian di mata Maya. Aca berharap, hubungannya dengan Maya menjadi lebih baik setelah lama tak bertemu.
"Hmm, aku—"
"Maya!"
Ucapan Maya terhenti saat Devan berteriak dari pintu masuk restoran.
"Ayo, May!" Devan berjalan cepat ke arah Maya dan menarik tangannya dengan kasar. Tanpa memedulikan Aca yang kebingungan melihat sikap tak bersahabat Devan kepada Maya.
"Kebohongan apa yang membuat gadis bodoh ini percaya kalau kita sudah nikah?" bisik Maya di telinga Devan, sedangkan Devan hanya bisa diam menahan amarahnya. Rahangya mengeras. Jika bukan perempuan dan sedang tidak di hadapan Aca, mungkin saja Devan akan memukul bibir Maya sekerasnya.
"Oh iya, kita pergi dulu. Suamiku sudah datang nih." Maya segera berdiri, berjalan mengikuti langkah Devan menjauh dan melambaikan tangannya pada Aca yang tersenyum di kursinya.
"Maksud lo apa nemuin Aca gitu, hah?!" bentak Devan saat mereka sudah berada di luar restoran. Devan tak bisa lagi menahan gemuruh di dadanya. Sementara Maya hanya tersenyum misterius, mengangkat bahu, dan berjalan meninggalkan pria itu begitu saja. Membuat Devan semakin marah, serta khawatir dengan apa yang direncanakan oleh Maya.
Devan khawatir, Maya akan menyakiti Aca seperti dulu, lagi. membuatnya harus berbohong, entah untuk apa. Kebohongan yang tak direncanakan dan terus tertanam diingatan Aca bertahun-tahun lamanya.