Devan mengerutkan kening melihat mobil di belakangnya oleng dari kaca spion samping kanan. Namun, ia tak ingin berpikiran buruk untuk saat ini. “Lho, aku kan belum jawab mau nikah sama Abang atau nggak. Yakin banget kita bakalan hidup sama-sama.” Masih terdengar samar-samar suara Aca di ujung telepon karena Devan lebih fokus memperhatikan mobil aneh di belakangnya. “Oooo gitu yaa—” Kalimat Devan terhenti saat melihat mobil di belakangnya melaju kencang ke arahnya. Kemudian, ia memutar kemudinya ke kiri memasuki rumput ilalang di tanah kosong, sedangkan mobil yang tadi mengikutinya melesat ke arah kanan dan menabrak warung penjual bensin di kanan jalan, hingga terdengar suara decitan ban mobil dan ledakan yang lumayan keras. Aca berjalan mondar-mandir di kamarnya.

