Luka yang hampir mengering namun harus kembali terluka. Rasanya akan beribu kali lebih sakit dari sebelumnya. *** Devan tertawa mendengar jawaban Aca atas lamarannya. Pasti dia bercanda kan? ucapnya dalam hati. Namun, tawa itu tak bertahan lama saat melihat gadis di hadapannya semakin terisak. Perlahan, Devan menghapus air mata di pipi mulus Aca, kemudian bertanya lagi. “Kenapa? Aku kira kita sudah—” Ucapan devan terhenti ketika Aca terus menggeleng kuat. “Nggak bisa, aku nggak bisa. Maaf.” Aca terus mengatakannya dengan tegas. “Tapi, kenapa, Dek? Aku pengin tahu alasanya.” Devan benar-benar tak mengerti kenapa Aca tiba-tiba berubah. Padahal sebelumnya mereka sudah berjanji untuk tak berubah. “Bagaimana aku bisa bersama pria yang adiknya mening

