Aca Waktu yang bergulir takkan pernah bisa terulang. Dan menangis takkan membuat apa pun berubah. *** Aku berlari sebisaku setelah Velove menghubungiku. Ia mengatakan akan menggugurkan kandungannya. Aku berusaha mencegah, namun ternyata aku terlambat. “Mana Ve, Kak?” tanyaku pada Ardi yang kutemui di lorong rumah sakit. Tanpa bicara, ia mengenggam tanganku menuju sebuah kamar dan kulihat di sana sahabat tercintaku tengah terbaring dengan mata yang masih terpejam. Perlahan, kusentuh jemarinya yang terasa dingin, dan ia mulai membuka matanya. “Ca….” Air mata mengalir dengan derasnya di pipi Ve, dan aku pun ikut tak bisa menahan air mataku. “Gue di sini. Semua pasti baik-baik saja,” kataku sambil mengusap air mata di pipinya. “Kenapa lo lakuin ini, V

