04

1070 Words
M a s C a p t a i n Motor ninja hijau milik Adam berhenti di depan gedung kampus. Iona pun turun lalu membuka helm membuat beberapa pasang mata tertuju ke arahnya. Terheran-heran karena baru pertama kali melihat seorang Iona Putri datang di bonceng lelaki. Biasanya Iona datang ke kampus bersama dengan kedua sahabatnya dan kadang juga menaiki taksi. Tapi kali ini tidak, membuat beberapa lambe turah beraksi mengabadikan momen langka ini. Bisa dikatakan Iona, Cia dan Thea adalah tiga gadis cantik yang populer setelah Serena dkk yang merupakan mantan senior. Ketiganya cantik namun Iona paling menarik perhatian diantara ketiga dari mereka karena memiliki lesung pipi. Yang jika tersenyum membuatnya terkesan manis. "Makasih ya kak." Ucap Iona seraya memberikan helm pada Adam. "Yup sama-sama. Kalo butuh apa-apa bilang aja ya ke aku. Aku siap kok." Ucapan Adam membuat Iona terkekeh. "Sekali lagi makasih kak." "Makasih mulu, pakasih nya mana?" Iona tertawa renyah. "Aduh jangan ketawa deh." Spontan Iona langsung menghentikan tawanya. "Hah kenapa kak? Risih ya?" "Gak risih kok. Tawa kamu terlalu manis nanti bisa berpengaruh buat jantung aku lagi." Gombalnya. Iona terkekeh. Dia tidak tersipu malu lagi karena ia sudah kebal dengan semua macam gombalan. "Kalau gitu aku masuk ke dalem ya kak." Ucap Iona. "Iya, semangat." Adam mengangkat tangan kanannya yang terkepal. Iona pun masuk ke dalam. "Iona!" Adam berseru membuat Iona kembali menoleh. Disana Adam memberikan finger heart ala ala oppa korea. ___ Iona sampai di kelas. Namun ia tak melihat sosok kedua sahabatnya yang hiperaktif. Kemana mereka? Setelah pergi meninggalkannya ke kampus kini mereka menghilang. "Ah lo ngeselin!" Suara itu membuat Iona menatap ke arah keluar. "Gue bilang juga apa itu tuh akal-akalannya si udang!" Cia datang sambil ngomel tidak jelas membuat Iona mengernyit. "Awas aja gua pites tuh si udang kalo ketemu lagi!" Cia menjatuhkan bokongnya kasar ke kursi samping Iona. "Ada apa sih? Kenapa ngomel-ngomel gitu?" Tanya Iona bingung. "Ini kan gue sama Cia kan baru datang, nah Upi ngasih tau ke Cia kalo dia di tunggu seseorang di kelas kosong gitu. Yaudah si Cia kesana karena penasaran, eh pas masuk kelas Cia kepleset." Thea berusaha menahan tawanya. "Jangan tawa lo! Aduh pinggang gue!" Pekik Cia. "Udah cuma gitu doang? Si Ebi kenapa dibawa-bawa?" Heran Iona. "Masalahnya pas Cia jatuh kepleset, disitulah si udang nongol sambil ketawa ngakak." Ucap Thea lalu memukul meja karena tawanya yang sudah tak bisa tertahankan lagi. "Sekarang gue yang ngomel." Lirihan sakit Cia dan tawa ngakak Thea berhenti. "Kenapa lo ninggalin gue?" Iona mendelik tajam. Cia nyengir. "Anu enghh anu..." "Anu apa? Hah?" "Hehe maaf Yon. Terus lo kesini naik apa?" "Di anter sama kakak lo. Untung baik tapi gue jadi ngerepotin." Ucap Iona kesal. Cia beroh ria. Berarti rencananya sudah berhasil. "Lo di gombalin gak sama si curut got itu?" Tanya Cia. Iona mengangguk. "Jangan lo masukin ke hati Yon gombalannya. Nanti lo bisa demen lagi ama tuh curut got." Ucap Cia. "Enggak lah. Gue udah biasa." Cia manggut-manggut. "Tapi kenapa lo masih jomblo?" Pertanyaan dari Thea terabaikan saat bel berbunyi. TRIIIING. M a s C a p t a i n "Iona." Iona, Cia dan Thea yang sedang mengobrol menoleh menatap seorang lelaki yang tengah berdiri menjulang. "Kenapa Rel?" Tanya Iona pada lelaki bernama Farel tersebut. "Gue mau ngomong sesuatu sama lo." Kening Iona berkerut. "Ngomong apa?" "Boleh ngomong empat mata?" Iona menatap ke arah Cia dan Thea, lalu beralih ke Farel. "Yaudah." Saat ini, Farel dan Iona sudah sedikit menjauh dari area kantin. "Kenapa Rel?" Farel menggaruk kepalanya yang tak gatal. "E...lo mau gak ikut gue ke party?" "Party?" "Iya. Alfred ultah dan dia ngadain pesta. Dan gue mohon lo mau ya ikut gue kesana, sebagai pasangan." Ucap Farel. Iona kebingungan. "Plisss gue mohon. Cuma lo doang yang cocok jadi pasangan gue." Mohon Farel dengan puppy eyes Iona sedikit ragu. "Kapan?" "Nanti malam." Ucap Farel. "Liat aja nanti ya. Kalo gue bisa gue kabarin." "Tapi lo mau kan?" "Iya mau." Farel menghela lega. "Oke. Kabarin gue ya kalo lo bisa." "Iya." ___ "Kenapa Farel?" "Eh Farel ngapain? Ngajak lo jadian?" Saat Iona kembali, serbuan dan rentetan pertanyaan menyerbunya. "Jadian nenek lo. Dia cuma mau gue ikut ke pesta ultahnya Alfred sebagai pasangan." "Asoyy lampu hijau ini mah." Ucap Thea. "Kode itu, Yon! Lo kenapa gak peka sih!" Kesal Cia. "Kode apa sih gak jelas lo!" "Kode kalo dia bukan cuma mau lo jadi pasangan ke pesta aja, tapi juga pasangan hidup." Jelas Cia. "Ngaco ah! Dah gue mau ke kelas." Iona bangkit lalu melenggang pergi ke kelas. "Woy Yona! Terus apa jawaban lo!" Pekik Thea yang juga ikut menyusul. "Bocah malah kabur! Woy tungguin gue!" M a s C a p t a i n "BTS! BTS! Kim namjon, kim sok jin, Min yongi, Jong hosok, Bak jimin, Kim tihyung, Cheon jongkok Di-en-ei..." "Jomblo nieh, jomblo nieh, jomblo nieh, jomblo nieh..." "HAMPIR NIKAHH!" Iona, Cia dan Thea serta mahasiswi lainnya terbengong-bengong sama apa yang mereka lihat saat ini. Ebi, Derian, Septa, dan Noval sedang menyamar menjadi salah satu boyband korea paling terkenal. Kelas auto menjadi berisik oleh tawa orang-orang melihat keanehan bin kekonyolan dari para lelaki setengah otak itu. "t***l depresot gua!" "Bocah gila semua jir ngakak!" "Heh kalo gak tau namanya jangan sok tau! lo salah nyebutin nama suami gue!" Pekik Cia menghampiri Ebi dkk. Ebi turun dari atas meja. Tangannya mengusap rambut nya yang sudah dibentuk jabrik dengan gaya cool. "Gimana neng? Abang kerwen kan?" Ebi menaik turunkan alisnya. "Keren upil lo! Lo jangan menghina suami suami gue dah!" "Bhah suami? Kenal lo aja kagak jangan ngimpi jadi orang. Mending sama kita nih, kembarannya BTS. Singkatannya apa gaes!!!" "Bangsul Tamvan Sedunia!" Sahut Derian, Septa dan Noval serentak. Semua orang twrtawa ngakak. "Yang ada lo yang ngimpi! Kembaran BTS tuh bukan modelan udang kek lo!" "Heh Kin tihyung, sini lo." Ebi memanggil Derian. "Ya, ada apakah jongkok?" Tanya Derian. Cia, serta yang lainnya mengekspresikan ingin muntah. Adapun yang tertawa melihat drama bengek dari para cowok setengah otak itu. "Bilang ke betina rempong ini, kita artis terkenal jadi harus sopan sedikit." Ucap Ebi memerintah. "Siap jongkok. Kalian, bak mandi dan jin tomang bantu gue!" Derian memanggil Septa dan Noval. "Siap! Laksanakan!" Ucap mereka. "Maaf, jongkok bangsul tamvan sedunia sedang tidak bisa diajak ribut. Nanti siluman monyet yang ada di tubuhnya ngamuk." Ucap Derian. "Woy yang bener tulul!" "Eh, siap jongkok!" Ucap Derian dengan tangan hormat. M a s C a p t a i n
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD