Mobil Mazda 2 berwarna merah milik Cia berhenti disebuah rumah luas nan elegan. Itu adalah rumah Cia. Mereka turun dari mobil kemudian masuk ke dalam.
Cklek.
Saat membuka pintu, ketiga gadis itu disambut oleh sosok wanita dan pria setengah baya yang sedang nyantai di ruang keluarga.
"Eh loh ada Yona sama Thea." Lita - mama Cia berujar. Wanita setengah baya itu bangkit lalu menghampiri ketiganya.
"Malam tante." Ucap Iona dan Thea. Lalu mencium punggung tangan Lita.
Lita tersenyum. "Kalian berdua--"
"Kita ada tugas ma sekalian mereka nginap. Gapapa kan?" Cia memotong perkataan Lita.
"Gapapa dong. Kalian sudah pada izin tapinya?"
Thea mengangguk sedangkan Iona tersenyum.
Lagi lagi. Iona sangat iri dengan kedua sahabatnya itu. Memiliki ibu sebaik malaikat bukan sepertinya, memiliki ibu sejahat iblis.
"Yaudah, kalau gitu kita ke kamar ya ma." Izin Cia diangguki Lita.
-kamar
"Huh capek." Cia menaruh tas selempang di hanger khusus tas.
Iona menaruh tas berisi perlengkapan kuliah serta pakaiannya ke lantai lalu duduk di kasur begitupun Thea.
"Belagu banget. Gue heran sama bapak bapak tadi. Cuma pacar sampe segitunya halah paling juga nanti putus ngapain sampe ngomel-ngomel gak jelas." Ucap Cia sewot saat mengingat kejadian tadi.
"Namanya juga lagi bucin bucinnya maklum lah." Sahut Thea. "Oh ya, lanjutin cerita lo tadi. Kenapa lo sakit hati sama nyokap lo?" Sambung Thea lagi.
Iona terdiam sejenak lalu menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya itu. Berbagai macam ekspresi Cia dan Thea keluarkan saat mendengar kejadian yang Iona ceritakan.
"Jahat banget nyokap lo, Yon gue gak nyangka." Cia geleng-geleng kepala. Tak menyangka saat mendengar penuturan Iona kalau ibunya Iona main tangan pada anaknya sendiri.
"Kayak bukan nyokap kandung lo." Celetuk Thea spontan Cia menyikutnya.
"Awhh-"
"Gue juga ngerasa gitu. Gue selalu mikir kok ibu gue kasar, ucapannya juga selalu nyakitin hati dan gak akrab sama gue. Gue perhatiin nyokap kalian, baik banget. Lemah lembut beda banget sama nyokap gue." Lirih Iona.
Cia mengusap-usap lengan Iona.
"Yon gak boleh begitu. Gimana pun itu nyokap lo, yang udah ngelahirin lo." Ucap Cia.
"Tapi masa sih ada ibu kayak gitu? Setau gue ibu yang kayak gitu tuh ibu tiri, ibu angkat atau ibunya kerasukan iblis jahanam." Thea menyahut membuat Cia mendelik.
"Tau darimana lo?" Tanya Cia.
"Gue tau dari drakor yang pernah gue tonton hehe."
Pfftt.
M a s C a p t a i n
Senin
07.30 WIB
Saat ini semua orang sedang berada di meja makan. Thea duduk berhadapan dengan Cia sedangkan Iona duduk beehadapan dengan--eh kosong.
"Pagi semuanya."
Ternyata gak kosong. Kursi dihadapan Iona kini terisi oleh manusia tampan. Yaitu Adam - kakaknya Cia.
"Pagiii." Ucap semua orang.
"Wah rame nih. Ada apa ya?" Tanya Adam terheran melihat meja makan yang tumben penuh.
"Gak ada apa apa kok, bang. Ini temennya Cia pada nginap." Ucap Lita.
"Ohhh..." Adam ber oh ria lalu mengambil roti.
Saat Adam datang sampai sekarang matanya terus curi-curi pandang ke arah Iona. Iona yang merasa pun sesekali melirik Adam juga sesekali memberikan senyum kecil.
"Aci, gue mau ngomong sama lo dong." Ucap Adam pada Cia.
"Nama gue Cia bukan Aci." Koreksi Cia sebal. Selalu saja abangnya itu menyebutnya Aci.
"Nama sayang gue ke lo adik." Ucap Adam. Cia mendengus sedangkan yang lainnya terkekeh.
Cia dan Adam bangkit dari kursi makan. Ada sesuatu yang harus mereka bicarakan.
_
"Ngerti gak lo?" Ucap Adam memastikan.
"Lo kayak apaan tau sih. Yona itu masih muda dan umur lo itu udah 24."
"Terus?" Alis Adam terangkat sebelah. "Mencintai gak pandang usia kan?" Lanjutnya
"Ya tapi kan gak sahabat gue juga. Lo bisa nyari yang lain kek!" Kesal Cia pada sang kakak.
"Adik ku terzheyeng. Gue mau coba move on dari masa lalu, tolong ya bantu gue."
"Tapi gak Yona juga bang yang harus lo pdkt-in."
"Cuma Yona yang bisa buat gue move on." Keukeuh Adam.
Cia menatap Adam lalu mendengus. "Tapi gue gak tega harus ninggalin dia."
"Kan gue yang anter nanti. Udah lo tenang aja sahabat cantik lo itu gak akan gue apa-apain. Gue kan cowok tampan blasteran sholeh."
"Ketek lu sholeh. Yaudah iya, awas lo ya kalu Yona gak sampe dengan selamat ke kampus." Ucap Cia mewanti-wanti.
"Utututu adikku memang debes."
M a s C a p t a i n
"Yon, kayaknya skripsi lo ketinggalan deh di kamar." Ucap Cia memulai akting konyolnya.
Iona yang hendak memasuki mobil terhenti. "Masa sih?"
"He'eh. Soalnya semalam gue liat skripsi lo terus gue taro di meja belajar." Ucap Cia.
"Yaudah bentar gue ambil." Iona membalikkan tubuhnya lalu kembali masuk ke dalam.
"Sejak kapan lo liat skripsi Yona? Semalem lo kan tidur." Tanya Thea bingung.
"Ssstt diem." Cia mengubah gigi mobil lalu melajukan mobilnya dari halaman rumah.
"Woy Ci, si Yona kenapa ditinggal?" Tanya Thea panik sambil terus menoleh ke arah belakang.
"Ini salah satu strategi untuk mendekatkan sesama kaum jomblo." Ucap Cia.
Kening Thea berkerut. "Maksudnya apaan sih aing teh teu ngarti."
"Udah deh lo diem. Lo fokus aja ke makanan lo tuh."
_
"Loh, Cia kok ninggalin gue." Iona memanyunkan bibirnya saat ia ditinggal. Udah gitu Cia berbohong. Skripsinya ada kok di tas. Lantas untuk apa Cia berbohong?
Suara motor menusuk pemdengaran Iona. Kini, motor ninja berwarna hijau itu berhenti disamping Iona.
"Kamu kenapa belum berangkat?" Tanya Adam sok polos. Padahal ini bagian dari rencananya dengan adik terzheyeng. Tacia Arumi.
"Ini kak, Cia ninggalin aku."
"Wah parah kok dia ninggalin kamu?"
Iona menggeleng. "Gak tau kak."
"Yaudah, yuk aku anter."
"Hah?"
"Aku anter kamu ke kampus." Adam mengulangi
"E...jangan kak ngerepotin. Aku bisa naik taksi kok."
"Jangan naik taksi, pagi pagi gini kan macet biasalah ibu kota. Ayo nih helm nya." Adam menyodorkan helm pada Iona.
"Aduh maaf ya kak ngerepotin."
"Udah gapapa, gak ngerepotin kok malah seneng."
"Hah apa kak?"
"Eh...e-enggak. Maksud aku udah belum?" Adam gelagapan.
"Udah kak."
"Oke capcussss."