02

1176 Words
M a s C a p t a i n Plak! Iona terdiam ketika tamparan itu mendarat ke wajahnya. Saat pulang dari kampus, bukan kehangatan yang ia dapat dari ibunya. Tapi tamparan. "Gua marah marah ke lu karena gua lagi pusing! Pusing banget ngurusin lu!" Iona membenarkan rambutnya yang menutupi wajah. Air matanya sekuat mungkin ia tahan. Ia tidak ingin mempermalukan diri didepan orangtuanya yang gak ada lemah lembutnya sama sekali dengan cara menangis. Ia tidak lemah! "Gua bilang jangan kuliah! Kerja! Cari kerja! Jangan bisanya ngandelin orangtua!" "Kenapa Iona gak boleh kuliah Hah?! IONA ANAK KALIAN! IONA JUGA BUTUH PENDIDIKAN!!!" Plak! Tamparan kedua kalinya mendarat lagi. Membuat pipi Iona mati rasa. Kupingnya berdenging. "Jangan berani lu bentak gua!" Iona menahan kesabarannya. Jika dihadapannya bukan mamanya sendiri sudah dipastikan Iona akan membalas tamparan itu agar setimpal sama apa yang ia rasakan sekarang. "Lalu kalian punya perusahaan buat apa?!" "Buat gua sama suami gua! Dan lu gak ada hak untuk sepeser pun!" "Kenapa Iona gak ada hak? Perusahaan itu perusahaan keluarga, jadi Iona berhak juga!" "LU GAK BERHAK KARENA LU--" "MAMA!" Suara itu membuat Iona dan Arini - mama i ona menoleh. Disana seorang pria setengah baya berdiri menatap tajam ke arah mereka. "Iona kamu masuk kamar!" Perintah Amri - papa Iona tak terbantah. Iona berjalan memasuki kamar dengan hati yang berkecamuk marah. Brak! Ia menaiki kasur dengan kasar. Bersamaan dengan air matanya yang luruh. Iona berguling menjadi terlentang, ia menatap lurus langit-langit berwarna monokrom itu. Kamarnya gelap membuat cahaya jingga membentuk garis kala memasuki celah jendela. Kenapa mamanya begitu kejam? GUE BERMIMPI PUNYA IBU YANG LEMAH LEMBUT. YANG BAIK. YANG BISA MENDENGARKAN SEMUA CERITA KELUH KESAH GUE. TAPI KENAPA IBU GUE BERBEDA. Ingatan Iona berputar kala ia bermain kerumah Thea. "Thea sayang, kamu kenapa? Ada apa ini Iona? Cia?" Ucapan lembut mamanya Thea begitu menentramkan di telinga Iona Begitupun saat ia bermain kerumah Cia. "Cia itu manjanya bukan ke papanya aja, ke mamanya juga." Ah. Kenapa hanya Iona saja yang tidak bisa merasakan itu. KENAPA! KENAPA! KENAPA! M a s C a p t a i n Amri menarik Arini ke kamar. Melepaskan tangan istrinya itu kasar. "Kamu apa apaan sih! Jangan perlakukan Iona seperti itu!" Ucap Amri tak habis pikir dengan istrinya yang tidak bisa menahan emosinya. "Aku tuh gak suka sama anak itu! Dia masih aja kuliah udah tau duit perusahaan itu khusus untuk kita aja. Anak itu kan gak di bagi!" Ucap Arini. "Ya setidaknya jangan kasarin dia. Kita masih butuh dia. Saat dia menikah nanti, kita langsung beraksi!" Ucap Amri. "Tapi kapan? Kenapa lama? Dan apa anak itu mau di jodohin?" "Nanti. Aku lagi merencanakan ini dengan pak Arlan dan dia setuju untuk menjodohkan anaknya sama Iona. Aku yakin Iona pasti mau menerima perjodohan itu." Ucap Amri. Arini tersenyum senang. "Pak Arlan temen kamu?" Tanya Arini. Amri mengangguk. "Iya. Dia juga rekan kerjaku. Jadi, kalau anaknya kita jodohin sama Iona, otomatis kekayaan kita bertambah dua kali lipat." Arini tersenyum bangga pada suaminya. "Kamu pintar Mas. Gak sia-sia dulu kita merencanakan ini semua." M a s C a p t a i n Tok...tok.. "Iona...keluar nak papa mau bicara." Sudah berulang kali Amri mengetuk pintu kamar Iona, namun gadis itu tidak keluar juga. Terpaksa, Amri pun membuka pintu itu. "Loh, kemana anak itu?" Tanya Arini kebingungan saat melihat Iona tidak ada di kamar. Disisi lain, Iona sedang terduduk tak bersemangat disebuah cafe dekat wahana bermain di Duf*an bersama dua sahabatnya. "Lo ada masalah apa sih?" Tanya Cia lembut. Tak ada sahutan. Cia dan Thea saling menatap. Mereka berdua mengusap pundak Iona memberikan semangat. "Semangat dong. Ini kan malem minggu." Ucap Thea. "Apa urusannya malem minggu?" Iona membuka suara. "Malem minggu tuh wayahnya bersenang-senang. Kita kan jomblo nih, nah ayo kita ke sana. Naik itu tuh." Ucap Thea sambil menunjuk sebuah roller coaster yang sedang melaju amat kencang. "Dih ogah. Lo aja sana kalo mau berakhir di tanah." Sahut Cia sambil mengendik ngeri. "Ihh jangan gitu lah. Thea kan belom punya suami masa udah ke tanah." "Ya makanya ngapain lo mau kesana? Nyari penyakit aja!" Damprat Cia. "Abisnya bosen. Yaudah yuk jajan masa kita cuma nongki nongki di cafe aja." Ajak Thea yang sepertinya gabut a.k.a bosen. "Yaudah yuk." Ucap Iona. Ia tak tega melihat Thea yang kebosanan hanya untuk menemaninya dalam kesedihan. Thea bersorak gembira. Mereka pun keluar dari cafe setelah membayar menuju wahana bermain. M a s C a p t a i n "Bu, jasuke nya satu." Ucap Thea pada penjual jasuke. "Siap neng." "Kejunya banyakin ya bu." "Bilang bu, dobel duitnya." Cia meledek. Si ibu itu tertawa sedangkan Thea memanyunkan bibirnya. "Untuk eneng cantik mah gapapa." Ucap si ibu membuat Thea tersenyum senang. Thea memeletkan lidahnya ke Cia. "Lo mau jajan apa, Yon?" Cia beralih ke Iona. "Sama kayak lo aja." Ucap Iona. Cia mengangguk "Bu, sosis bakarnya satu lagi." "Oke neng." Ucap penjualnya semangat. Setelah membeli makanan, mereka duduk di tempat yang sudah disediakan dari sana. "Yon, lo anggap kita sahabat kan?" Cia membuka suara. Thea menatap keduanya seraya memakan jasuke. "Yaiyalah," "Terus kenapa lo diem aja? Kalo ada masalah cerita ke kita. Kita kan sahabat, susah senang kita harus merasakan." Ucap Cia. Thea mengangguk. "Makan dulu aja. Abis itu gue cerita." Ucap Iona. "Bener ya?" Cia memastikan. "Iya." Mereka pun makan dengan khidmat tanpa suara. Setelah beberapa menit hening, makanan habis. Cia dan Thea menatap Iona seakan menagih cerita darinya. "Jadi gini, gue sakit hati banget sama nyokap." Iona memulai cerita. Mata Iona mengarah pada cup berisi kopi didepannya. Dengan pikirannya yang kacau, Iona membuang asal kopi yang masih panas tersebut. Byurr "Akh--". Spontan Iona, Cia dan Thea menoleh ke arah suara. Seorang wanita tengah meringis kesakitan tepat di kursi belakang Iona. Iona melotot, karena kalut dengan pikirannya, ia tak menyadari kalau kopi di cup itu panas dan main asal membuangnya begitu saja. Iona berdiri disusul Cia dan Thea. "Yampun, maaf saya gak sengaja." Ucap Iona merasa bersalah pada wanita itu. Iona panik. Bagaimana tidak, kopi panas itu mengenai tangan mulus wanita itu yang menimbulkan tanda kemerahan. "Ada apa? Kenapa Sharon? Kamu kenapa?" Sebuah suara panik menginterupsi. Seorang pria datang dengan tangan membawa dua buah es krim. Karena panik, pria tersebut menaruh dua es krim itu ke tanah. "Ini aku kesiram air panas." Ucap wanita tersebut. "Maaf saya gak gak sengaja. Bener-bener gak sengaja." Lirih Iona. Pria itu menatap Iona tajam. "Kalau mau nyiram air panas jangan ke pacar saya. Udah luka gini emang mau tanggungjawab?" Omelnya. "Saya minta maaf," Hanya itu yang bisa diucapkan Iona. Maaf, maaf dan maaf. Dasar Iona ceroboh. "Maaf kamu gak bisa di toleransi, ini keterlaluan membuat tangan pacar saya seperti ini." Ucap pria itu lagi. "Heh om, kan gak sengaja. Lagian sahabat saya udah minta maaf." Cia menengahi. Ia sudah geram saat pria itu terus menyalahkan Iona. "Maaf saja gak cukup--" "Terus anda mau apa? Uang?" Cia beralih mengambil dompetnya. Ia mengambil beberapa lembaran uang merah lalu menyodorkan benda itu pada pria tersebut. "Ambil nih, saya lebihin. Jangan lupa diobatin tangan ceweknya." Ucap Cia lalu menarik tangan Iona dan Thea untuk pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD