Episode 10

3679 Words
Pagi-pagi sekali Fram mengetuk pintu kamar Adel. Pintu tampak tidak di kunci hingga Fram bisa masuk dan Adel terlihat baru bangun tidur. “Anak gadis baru bangun jam segini?” seru Fram membuat Adel tersenyum seraya mengucek kedua matanya. “Pagi Pa,” sapa Adel. “Pagi sayang.” Adel mengernyit menatap Fram masuk dengan sebuah nampan di tangannya. “Apa itu?” tanya Adel. “Ini Papa masakin kamu sarapan, cuci muka dan gosok gigi kemudian makanlah,” ucapnya menyimpan nampan di atas meja nakas. “Bau nya harum,” seru Adel. “Papa yang masak?” “Menurutmu?” seru Fram dengan nada bangga. Adel terkekeh. “Sudah lama Papa tidak memasakkan makanan untuk Adel, waktu kecil Papa hampir tiap hari memasak. Pasti sangat enak,” serunya. “Cuci muka dulu, jangan jorok!” tegur Fram saat Adel hendak mengambil piring. Adel hanya terkekeh dan beranjak dari duduknya menuruni ranjang. Tak lama Adel keluar dari kamar mandi dengan lebih segar. Ia melihat sang Papa sudah menata makanannya di atas meja kecil dan menyimpannya di atas ranjang. “Kemarilah dan makanlah,” ucap Fram. “Tanpa di mintapun akan langsung ku lahap,” kekeh Adel. Adel duduk di atas ranjang dan langsung melahap naso goreng yang menggugah selera hingga hendak membuat air liurnya keluar. “Emmmm tidak ada yang berubah dan tetap sangat enak,” seru Adel mengacungkan jempolnya. Fram tersenyum senang seraya mengusap kepala Adel. Adel tetaplah putri kecilnya yang menggemaskan. Walau sekarang putri kecilnya itu telah beranjak dewasa, dan mungkin sebentar lagi akan menemukan tambatan hatinya dan menikah. Adel akan pergi meninggalkan dirinya. Memikirkan Adel yang akan menikah dan meninggalkan dirinya, membuat Fram merasa sedih. 21 Tahun ia membesarkan dan mengurus Adel seorang diri tanpa istri. Ia harus merangkap menjadi seorang Ayah sekaligus Ibu untuk Adelia. “Ada apa Pa?” tanya Adel saat Fram terlihat memalingkan wajahnya dan mengusap sudut matanya. “Tidak apa-apa,” ucap Fram. “Papa, Adel tau Papa sedang menyembunyikan sesuatu. Katakan Pa,” seru Adelia. Fram kini duduk di hadapan Adel dan tersenyum penuh kehangatan. Tampak sekali keriput dan wajah lelah di wajah tampan Fram. “Papa hanya tidak menyangka kalau putri kecil Papa kini sudah dewasa, dan mungkin sebentar lagi akan menikah dan meninggalkan Papa,” seru Fram. “Papa...” Adel merasa sedih mendengarnya. “Adel masih tetap putri kecil Papa sampai kapanpun juga.” “Itu pasti Sayang,” seru Fram. “Dengar yah Papa.” Adel mengambil tangan Fram dan mencium punggung tangan cinta pertamanya itu. “Adel tidak akan menikah sebelum Papa menikah.” “Apa?” seru Fram. “Kamu ini sedang berbicara apa sih Adel.” “Dengar yah Papaku tersayang, Adel ingin Papa bahagia dan tidak kesepian. Jadi Adel tenang kalau sudah menikah dan di ajak pergi oleh suami Adel kelak. Papa harus ada yang mengurusi Papa dan menemani masa tua Papa.” “Ck kamu ini, sudah berapa kali Papa bilang, Papa tidak tertarik untuk menikah lagi dan mencari wanita pengganti Ibu kamu,” seru Fram. “Memangnya Papa tidak merasa kesepian?” tanya Adel. “Kesepian bagaimana? Papa merasa baik-baik saja.” “Seperti merindukan kehangatan dan perhatian seorang istri. Papa kan masih muda dan sangat tampan, dan sangat jelas sekali banyak fansnya. Apa tidak ada yang menggetarkan hati Papa?” tanya Adel hingga membuat Fram terkekeh. “Hanya Mamamu yang bisa menggetarkan hati Papa, Del.” Seru Fram menerawang jauh ke masalalu dan tersenyum membayangkan wajah mendiang istrinya. “Sampai kapanpun, Mamamu tidak akan tergantikan. Papa tidak bisa melupakannya, apalagi mencari penggantinya. Dia adalah wanita pertama dan terakhir dalam hati Papa. Papa tidak ingin ada yang menggantikannya sampai kapanpun juga.” “Terkadang aku tidak paham cinta seperti apa yang Papa miliki untuk Mama. Tetapi aku berharap, suatu saat aku bisa bertemu dengan pria yang akan mencintaiku sebesar cinta Papa ke Mama,” ucap Adel. “Sudah pasti kamu akan mendapatkannya. Karena Papa tidak akan rela menyerahkanmu pada pria yang hanya akan menyakitimu,” seru Fram membelai kepala Adel membuatnya tersenyum dan memeluk sang Papa, Ꙭ “Ekhem...” Adel yang sedang duduk di kolam renang rumahnya dengan memasukkan kedua kakinya ke dalam kolam tersadar dari lamunannya mendengar deheman itu. “Bara?” seru Adel tersenyum senang saat melihat kekasihnya datang ke rumahnya. “Sibuk melamun apa sih, sampai aku datangpun tidak sadar,” seru Bara yang ikut bergabung di samping Adel. “Tidak ada, kamu kenapa gak ngabarin dulu kalau mau datang?” tanya Adel. “Tidak apa-apa, aku ingin tau apa yang di lakukan kekasihku saat weekend begini tanpa keluar bersamaku,” seru Bara. “Beginilah, bersantai dan rasanya sangat mager,” kekeh Adel. “Daripada melamun begini, bagaimana kalau kita nonton dan makan di luar. Kalau gak salah ada film baru,” ucap Bara. “Emm boleh, aku ganti baju dulu yah.” --- Bara dan Adel sampai di bioskop salah satu mall. Mereka sedang mengantri untuk membeli tiket. “Lho kalian?” seru Adel membuat dua orang yang berada tak jauh darinya menoleh. “Kak Adel, kak Bara,” seru salah satu dari mereka yang merupakan Desi dan Raka. “Kalian kemari juga?” tanya Raka yang di angguki Adel. “Nonton apa kalian?” tanya Bara. Desi menjawab pertanyaan Bara dengan sangat semangat. “Wah kita akan nonton film yang sama,” ucap Adel. “Ya sudah kalian tunggu saja dan pesan makanan, aku akan pesankan empat tiket untuk kita,” ucap Raka. Bara, Desi dan Adel berjalan menuju kasir food dan memesan popcorn ukuran jumbo dan minumannya. Adel sedikit mengernyit saat Desi bersikap sedikit manja pada Bara, entah itu hanya perasaannya saja atau memang Desi terlihat mencari perhatian dari Bara. Adel berusaha mengenyahkan pikiran negative nya dan berusaha berpikir positif. Mereka berempat sudah duduk di kursi studio sesuai urutan nomor, kebetulan Desi dan Bara duduk berdampingan. Dan mereka akan menonton film horor. Film di mulai, dan mereka semua tampak fokus ke layar besar di depan mereka seraya menikmati popcorn yang mereka pesan. Semakin lama cerita dalam film semakin menegangkan dan menakutkan. Desi berkali-kali salah berpegangan, ia selalu memegang dan mencengkram lengan Bara. Membuat Bara sedikit bingung dan menoleh ke arahnya. Sadar Bara melihat kearahnya, Desipun ikut menoleh hingga tatapan mereka berdua beradu satu sama lainnya. Cukup lama mereka berdua saling bertatapan satu sama lainnya sampai Desi tersenyum kecil dan melepaskan cengkraman tangannya dan kembali menatap ke layar depan. Ꙭ “Kak Adel...” “Iya,” jawab Adel yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas di kamarnya. ”Kak, aku ada perlu dengan kak Bara mengenai anggota senat di kampus. Gak apa-apa kalau pagi ini aku bareng kak Bara berangkatnya?” tanya Desi membuat Adel menghentikan gerakannya dan menatap Desi dengan kernyitan di dahinya. “Kan bisa di bahas di kampus,” seru Adel. “Gak bisa Kak, ini tuh urgent!” seru Desi. “Terus aku ke kampus bareng siapa?” tanya Adel. “Bareng Raka saja, dia akan datang untuk menjemputku kok,” seru Desi. “Tapi kamu sudah bilang ke Raka? Aku harus hubungi Bara dulu,” seru Adel. “Raka sudah ada di depan, Kakak tidak perlu menghubungi kak Bara, nanti aku yang jelasin ke kak Bara,” ucap Desi. Adel masih terlihat kebingungan dan ragu. “Ayolah Kak, plis. Sekali ini saja,” ucap Desi penuh permohonan. Adel hanya mampu menghela nafasnya dan menyetujuinya. Iapun berjalan keluar dari kamarnya. Terlihat di depan rumahnya Raka sudah duduk manis di atas motor sport miliknya, Adel pun berjalan mendekatinya. “Desi mana?” tanya Raka saat Adel sudah berdiri di hadapannya. “Katanya dia ada keperluan dengan Bara, ia akan ke kampus dengan Bara nanti,” jawab Adel. “Apa? Kok dia gak kasih tau aku dulu,” seru Raka terlihat kesal. “Entahlah, sudahlah ayo berangkat. Sekarang jamnya Bu Faridah kan, kita tidak boleh telat,” seru Adel. Raka menyerahkan helm ke Adel dan membiarkan Adel menaiki motornya. Setelahnya ia menekan gas motornya dan meninggalkan halaman kediaman Adel. Saat keluar gerbang, motor Raka berpapasan dengan Bara yang menggunakan mobil sportnya. Bara menggunakan mobil lamborghini sehingga hanya mampu memuat dua orang saja. Bara menghentikan mobilnya dan terlihat bingung melihat Adel berangkat bersama Raka. Bara sampai menuruni mobilnya dan melihat ke arah mereka yang semakin menjauh. Desi yang melihat Bara di depan gerbang rumahnya, segera menghampiri Bara. “Hai Kak Bara,” sapa Desi dengan senyuman manisnya. “Itu kenapa Adel berangkat bersama Raka?” tanya Bara langsung bertanya tanpa menjawab sapaan Desi. “Desi yang minta, Kak. Desi ada perlu sama Kakak,” seru Desi dengan polosnya. “Kan bisa nanti di kampus, aku tuh kurang suka dengan kedekatan mereka. Raka dan Adel itu selalu membuatku cemburu,” seru Bara terlihat kesal. “Gak apa-apa dong Kak, toh mereka kan sahabatan, malah udah sahabatan dari sejak kecil. Tidak perlu cemburu sama mereka,” seru Desi. Bara hanya terdiam membisu dan masih terlihat kesal. “Ayo Kak berangkat,” seru Desi dan masuk ke dalam mobil Bara begitu saja. Bara pun hanya mampu menghela nafasnya dan menaiki mobilnya. Ꙭ Spoiler Adel termenung memikirkan ucapan Dokter tadi, Adel memiliki peluang sembuh yaitu dengan jalan operasi. Tetapi walau begitupun peluang untuk sembuhnya hanya 30%, dan resiko dari operasi itu sendiri beragam, yang jelas Adel tidak akan sama lagi dengan Adel yang sekarang. Itu membuat Adel merasa tak yakin akan sembuh. Framyang saat itu melewati teras atas melihat Adel termenung sendirian di atas kursi ayunan. Ia berjalan menghampiri Adel dan duduk di kursi kayu yang berada dekat dengan Adel. “Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Fram menyadarkan Adel dari lamunannya. “Papa..” seru Adel melihat ke arah Fram. “Ada apa, Sayang? Akhir-akhir ini Papa perhatikan kamu murung terus,” seru Fram. “Pa, Papa mau yah Adel carikan wanita baik untuk Papa,” ucap Adel seketika membuat Fram mengernyitkan dahinya. “Maksud kamu apa? Wanita untuk apa?” tanya Fram. “Untuk jadi istri Papa,” ucap Adel. “Papa kan sudah bilang sama kamu, Papa tidak berniat menikah lagi.” “Tapi Pa,” “Masalah ini sudah sering kita bahas, Walaupun kamu menikah nanti dan terpaksa meninggalkan Papa untuk ikut suamimu, Papa tidak masalah. Papa bisa urus diri Papa sendiri, lagipula Papa bisa sering sering berkunjung ke tempat kamu saat Papa kesepian dan merindukan kamu,” seru Fram. ‘Bukan itu masalahnya, aku takut umurku tak akan lama lagi. Bagaimana aku meninggalkan Papa.’ Batin Adel berkaca-kaca melihat ke arah Fram. “Kenapa kamu terus membahas ini sih? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Papa?” tanya Fram seakan merasakan ada yang di sembunyikan Adel. “Tidak ada kok Pa, sembunyiin apaan,” seru Adel terkekeh kecil. “DESI!” Ucapan Fram tertahan saat mendengar teriakan dari Rani. Adel dan Fram saling melihat dan keduanya bersama-sama beranjak menuju asal suara. “Ada apa?” tanya Fram saat menuruni tangga dan melihat Desi menangis terisak di atas kursi sedangkan Rani tampak emosi dengan air mata yang luruh membasahi pipinya. “Mas...” seru Rani. “Ada apa Ran?” tanya Fram bertanya-tanya. Adel yang sudah mengetahui permasalahannya hanya berdiri tak jauh di belakang Fram. “Putriku Mas...hikzzz... bagaimana ini,” isak Rani. “Ada apa? Kenapa dengan Desi? Des, apa yang terjadi?” tanya Fram yang kini melihat ke arah Desi yang hanya menundukkan kepalanya dan menangis terisak. “Desi Mas... hikzzz... dia sudah melemparkan kotoran ke muka ku dan mencoreng nama baik keluarga kita,” isak Rani. Fram mengernyitkan dahinya bingung. “Desi hamil.” Deg Fram membelalak lebar sekaligus kaget bukan main. Desi semakin menangis terisak kencang. Adel mendekati Rani yang kini terduduk di sofa dengan lemas. Ia merangkul tantenya berusaha menenangkan. “Desi apa itu benar?” tanya Fram berjalan mendekati Desi. Desi masih terdiam membisu. Fram menarik kedua lengan Desi hingga ia berdiri dan berhadapan dengan Om yang sudah di anggap sebagai Ayahnya sendiri. “Katakan Des, apa itu benar?” tanya Fram. “Maafkan aku, Pa. Hikzz...” Jelas sekali tatapan kekecewaan dari Fram. “Siapa?” tanya Fram dengan nada geram. Desi menelan salivanya sendiri. “Katakan siapa pria itu?” bentak Fram membuat Desi tak bisa menjawab dan terus menangis semakin terisak. “Sudah Pa,” ucap Adel. “Tidak, aku harus tau siapa pria b******k yang berani melakukan ini pada putriku!” seru Fram. “Katakan Desi, siapa pria itu?” tanya Fram. “Jawab DESI!” bentak Rani. Baru kali ini Desi di bentak oleh Rani dan Fram. Selama ini ia selalu di manjakan, dan sekarang ia harus di bentak oleh mereka berdua. “Bara...” Deg “Bara? Apa maksud kamu?” tanya Rani sangat kaget hingga berdiri dari duduknya dan melepaskan rangkulan Adel. “Bara? Bara kekasih Adel?” tanya Rani berharap Desi menjawab tidak. “Iya...” jawab Desi menundukkan kepalanya. Fram mendadak oleng hingga melepaskan pegangannya pada kedua lengan Desi. Plak Tamparan keras Rani mendarat di pipi Desi yang hanya bisa menangis dan menundukkan kepalanya. Fram dan Rani sama-sama melihat ke arah Adel yang kini berdiri dari duduknya. Fram menatap sedih ke arah Adel, kini ia tau apa yang membuat Adel murung beberapa hari ini. “Khem... sebenarnya Adel sudah mengetahui semuanya,” jawab Adel berusaha menahan air matanya supaya tidak sampai jatuh membasahi pipinya. “Tetapi Adel tidak apa-apa kok.” Adel tersenyum kecil, walau kenyataannya hatinya hancur dan sangat terluka. Ia telah di khianati oleh dua orang yang begitu ia cintai dan ia percaya. “Dimana otakmu Desi! Bara itu kekasih Kakakmu dan kamu berselingkuh dengannya!” amuk Rani terlihat begitu emosi. “Maafkan aku Ma, Maafkan aku Papa Fram. Aku... aku terlanjur jatuh cinta pada kak Bara,” seru Desi membuat Adel memejamkan matanya dan menahan rasa sakit di dalam hatinya. Fram tak mengatakan apapun, ia beranjak mendekati Adel dan memeluk putrinya itu seakan memahami apa yang di rasakan oleh Adel. “Aku... aku baik-baik saja Pa.” “Jangan membohongi Papa,” bisik Fram mengusap kepala Adel. Fram melepaskan pelukannya dan merangkul Adel untuk mengajaknya kembali naik ke atas. “Desi, suruh Bara besok datang menemuiku,” seru Fram sebelum ia menaiki undakan tangga bersama Adel. --- Di dalam kamar Adel, Fram duduk di sisi ranjang dengan Adel yang duduk di hadapannya. “Kamu yang tegar, Sayang.” Fram membelai kepala Adel. Adel menganggukkan kepalanya. “Aku ikhlas, dan aku sudah berusaha menerimanya,” ucap Adel walau air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya. “Menangislah jangan menahannya,” seru Fram seakan mengerti rasa sakit di hati putrinya. Ia tidak menyangka kalau putrinya akan mendapatkan pengkhianatan yang begitu menyakitkan seperti ini. “Pa,” “Iya sayang,” ucap Fram. “Buatlah Bara menikahi Desi secepatnya, jangan biarkan Desi melewati kehamilannya tanpa seorang suami,” ucap Adel. “Apa kamu bisa menerima Bara sebagai adik iparmu? Apa kamu ikhlas?” tanya Fram semakin merasa sedih sekaligus salut pada putrinya itu. Adel menganggukkan kepalanya. “Aku ikhlas, aku tidak ingin Desi menanggung beban ini sendirian,” ucap Adel berucap pelan walau rasanya begitu sakit di hati dan kerongkongannya saat mengatakan hal itu. “Kamu memang gadis yang besar hati, Papa salut padamu, Nak.” Fram kembali memeluk Adel. “Kamu masih memikirkan mereka, walau mereka telah mengkhianatimu.” ‘Hanya ini yang bisa Adel lakukan. Mungkin memang sebaiknya Bara bersama Desi, daripada Adel yang entah sampai akan bertahan dengan penyakit ini.’ Batin Adel. Ꙭ Saat itu Adel tengah menuangkan air ke dalam gelas di dapur. Rani masuk ke sana dan melihat Adel. “Adel,” panggilnya membuat Adel menoleh. “Ya Tante.” Rani berjalan mendekati Adel dan kini mereka berhadapan dengan jarak dekat. “Mengenai Desi, Tante sungguh minta maaf. Tante tidak menyangka dia akan melakukan hal bodoh ini dan melukaimu, Kakaknya sendiri. Tantepun tak habis pikir, apa yang sedang ia pikirkan saat memilih mengkhianatimu. Semalaman Tante hanya bisa menangis memikirkan itu. Maafkan Tante yang tidak bisa mendidik anak Tante dengan baik,” serunya kembali menangis. “Tante ini ngomong apa sih, jangan menyalahkan diri Tante. Adel tidak apa-apa kok, sungguh.” Adel memegang kedua tangan Rani dan menghapus air matanya. “Tante sungguh malu padamu, Del. Dan Tante juga tak habis pikir dengan Desi,” ucap Rani. “Tante tidak usah menyalahkan Desi terus, yang sudah terjadi biarlah terjadi, ini adalah ujian dari Allah. Yang penting sekarang Tante pikirkan saja masa depan Desi. Anak dalam kandungannya jangan sampai lahir tanpa Ayah,” seru Adel. “Maksud kamu, Bara harus menikahi Desi?” tanya Rani membuat Adel menganggukkan kepalanya singkat. “Tidak Adel, kamu ini ngomong apa sih. Tante tidak akan menambah luka di hati kamu dengan menikahkan Desi dengan Bara!” seru Rani melepaskan pegangan Adel. “Tante akan membawa Desi pergi dan meninggalkan kota ini. Tante akan membawanya ke tempat yang jauh dari keramaian. Kami akan menetap di sana sampai Desi melahirkan, dan nanti anak itu akan Tante umumkan sebagai anak angkat Tante.” Rani menghapus air mata yang kembali luruh membasahi pipinya. “Tante tidak ingin mencoreng nama baik keluarga ini terutama Papamu, jangan sampai clientnya mendengar berita ini. Dan Tante juga tidak ingin melukai perasaan kamu lebih dalam Nak.” “Tidak Tante jangan lakukan itu, lama kelamaan tetap akan ketahuan, kasian anak dalam kandungan Desi. Dan pikirkan juga masa depan Desi, setidaknya kalau dia dan Bara menikah, kedepannya baik Desi maupun anak dalam kandungannya tidak akan mendapatkan masalah. Dan bagaimanapun Bara pasti ingin mengurusi darah dagingnya sendiri. Mengenai Papa, dia tidak apa-apa, bagaimanapun Desi juga putri Papa. Dan sudah menjadi tanggung jawab Papa untuk membahagiakan putrinya.” Adel menundukkan kepalanya menahan sesak di d**a dan kerongkongannya yang terasa sakit saat mengeluarkan suara, seperti ada duri di dalam tenggorokannya. “Lagipula kebahagiaan Desi adalah Bara,” seru Adel berusaha untuk mengatakannya walau hatinya begitu sakit. “Apa kamu tidak sakit hati? Kenapa kamu mau melakukan ini dan masih memikirkan kebahagiaan Desi, bagaimana denganmu sendiri?” tanya Rani. “Bohong kalau aku mengatakan aku baik-baik saja, kenyataannya hati ini sangatlah terluka. Tetapi Tante tenang saja, rasa sakit ini tidak akan berlangsung lama. Aku sudah ikhlas, dan Insa Allah seiring berjalannya waktu aku akan bisa menerima Bara sebagai saudaraku,” ucap Adel berusaha tersenyum walau air mata luruh membasahi pipinya. “Bagaimana kamu bisa sebaik dan setegar ini,” isak Rani menarik Adel ke dalam pelukannya. “Kenapa kamu harus melakukan semua ini untuk Desi, hikzz...” Desi mendengar semuanya dan menangis terisak di balik pintu. “Maafkan aku kak Adel, hikz....” Ꙭ Adel bersama dengan Raka sudah sampai di kampus dan memasuki kelas mereka. “Adel, apa benar kalau Desi dan Bara?” seru Rinrin langsung mengajukan pertanyaan saat Adel baru saja mendaratkan pantatnya di atas kursi. Semua sahabatnya langsung mengerumuni Adel dan Raka. “Tolong jangan sampai berita ini tersebar, gue tidak ingin Desi mendapat hinaan dan celaan di kampus,” ucap Adel. “Bagaimana bisa lu masih mikirin si Desi, sedangkan dia sendiri tidak memperdulikan perasaan lu dan berselingkuh sama cowok Kakaknya,” seru Dendi. “Bagaimanapun juga dia adik gue, dan dia itu masih kecil. Pemikirannya masih labil,” seru Adel. “Belain aja terus, lu gak mikirin gimana perasaan lu,” seru Rinrin. “Insa Allah gue akan baik-baik saja,” seru Adel tersenyum kecil. Ia menoleh ke arah Raka yang memilih tidak berkomentar. Raka sebenarnya mengetahui alasan Adel. Raka juga mengetahui bagaimana hancur dan terlukanya hati Adel. “Udahlah biarin saja mereka nikah, lagipula si Bara gak pantes buat Adel sahabat kita,” seru Jeta terlihat tak suka. “Gue juga sadar kalau gue playboy dan kadang ngecampakin cewek. Tapi gue gak main tebar bibit dimana aja, gak kayak si Bara. Ketua senat, muka sok berwibawa tetapi kelakuan melebihi penjahat!” “Gue setuju sama si Jeta, biarkan saja mereka. Bara gak pantes dapetin Adel,” seru Milla. Ꙭ “Aduh!” Adel terjatuh saat menabrak seseorang di depannya. “Maafkan aku,” seru seseorang itu dan membantu Adel berdiri dimana ia terduduk di lantai karena benturan itu. “Ah tidak apa-apa pak Damar, saya yang seharusnya minta maaf karena tadi buru-buru,” jawab Adel dan melepaskan pegangan Damar. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Damar. “Saya baik-baik saja, emm kalau begitu saya duluan Pak. Permisi,” seru Adel berjalan melewati Damar. Damar terus memperhatikan punggung Adel yang semakin menjauh. Tatapannya sungguh misterius dan ia tak melepaskan pandangannya sampai Adel menghilang di belokan. Damar memutuskan untuk melanjutkan langkahnya, tetapi mata awasnya menangkap sesuatu yang membuatnya penasaran. Damar mengambil barang yang tergeletak di lantai itu. “Obat?” gumam Damar memperhatikan kotak obat itu. “Nama obat ini terlihat begitu familiar,” gumamnya. “Apa ini milik Adel?” Damar termenung memikirkan semua pertanyaan yang di ajukan oleh dirinya sendiri. Ꙭ Adel baru saja sampai di rumah setelah melakukan kontrol dari rumah sakit bersama Raka. Raka hanya mengantarnya hingga depan rumah dan langsung pergi karena ada pekerjaan. “Assalamu’alaikum,” salam Adel saat masuk ke dalam rumahnya, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Bara berada di sana bersama Desi, Fram, dan Rani. Adel memalingkan pandangannya dari Bara, dan menampilkan senyuman kecilnya pada Rani dan Fram. “Aku masuk dulu Pa, Tan.” Ucap Adel. Tak ada yang ingin menahan Adel untuk tetap di ruangan itu, karena mereka jelas mengetahui bagaimana perasaan Adel. Adel berjalan lemah menaiki undakan tangga. Rasanya seperti membawa beban berat dalam kakinya. Tatapannya kosong dan penuh luka. Adel masuk ke dalam kamarnya, ia menoleh ke arah meja sudut dimana di terdapat beberapa pigura juga di dinding bagian atasnya tergantung berbagai foto dengan jepitan kecil indah. Adel memang menyukai fotografer dan ia sering memotret berbagai hal, juga menyimpan beberapa foto kekasih juga sahabat-sahabatnya. Adel berjalan lemah mendekati meja sudut dan mengambil pigura putih dimana terpajang foto dirinya bersama Bara. 2 tahun berlalu, dan inikah akhirnya. Tanpa sadar air mata Adel luruh membasahi pipinya. Kenangan demi kenangan saat bersama Bara terus terlintas dalam ingatannya. ‘Kenapa kamu melakukan ini, Bar? Kenapa kamu harus mengkhianatiku dan berselingkuh dengan adik sepupuku sendiri. Kenapa kamu sangat jahat padaku?’ batin Adel. Adel tak yakin apa dia akan menerima hubungan mereka, dan apa Adel bisa menerima kenyataan ini. Ꙭ
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD